Articles

Semua Menang pada Debat Calon Wakil Presiden, Kecuali Donald Trump


06 October 2016

Oleh : Benjamin Wallace-Wells, 5 Oktober 2016

 

Selasa malam, Tim Kaine menjadi seorang wakil yang efektif bagi Hillary Clinton, sedangkan Mike Pence adalah perwakilan yang efektif bagi para penganut konservatif.


ILUSTRASI FOTO OLEH OLIVER MUNDAY; SUMBER: MANDEL NGAN / AFP / GETTY (PENCE); ANDY CROSS / THE DENVER POST/GETTY (KAINE)

Tim Kaine mengenakan dasi merah pada debat calon wakil presiden di Virginia, Selasa malam. Mike Pence mengenakan dasi biru. Warna-warna tersebut lucunya juga menunjukkan suasana emosi malam itu: Kaine emosional sedangkan Pence tenang.

Pada pernyataan pembukaannya, si demokrat menunjukkan berbagai gaya yang tidak beraturan: dia berusaha memperkenalkan diri secara terburu-buru, mengutip tokoh lokal hak-hak masyarakat, memuji pasangan kampanyenya, menyinggung ketidakstabilan Donald Trump, dan pesan-pesan itu semua tercampur baur dalam ekspresi kegelisahan.

Pence tampak berpengalaman dan lebih jelas. Dia secara cepat menyusun alasan sederhana mengapa ia dan pasangan kampanyenya mencalonkan diri, mengatakan bahwa negaranya kurang sejahtera dan dunia juga kurang aman dibandingkan delapan tahun yang lalu, dan memilih Hillary Clinton berarti melanjutkan kebijakan-kebijakan yang ada sekarang. Kaine mencoba menyerang balik. “Gubernur Pence tidak menganggap dunia dalam keadaan baik, dan menurut dia itu kesalahan semua orang,” ujar Kaine. Pence memotong tajam. “Apakah kamu menganggap demikian?” tanyanya.

Kemudian tampak sekilas adanya debat alternatif. Debat yang diharapkan orang-orang Republikan lama sebelum Trump terlibat, di mana mereka bisa melawan Clinton dengan melawan status quo. Di awal Pence menuduh Clinton berada di balik “perang melawan industri batu bara” sebanyak empat kali - yang kemungkinan untuk mendapatkan dukungan penduduk Ohio selatan. Namun minat Pence terhadap pendekatan ini bersifat sementara saja dan tidak lama kemudian debat alternatif ini memudar.

Di kubu Demokrat, sebelumnya ada kandidat-kandidat potensial lain sebagai pasangan kampanye Clinton -misalnya Elizabeth Warren- yang bisa memberikan argumen lebih tajam ketimbang Kaine dalam menunjukkan bahwa keadaan dunia sebenarnya memang baik-baik saja. Tapi Kaine dari dahulu seorang loyalis. Dalam mempersiapkan debat, ia mengambil cuti 5 hari dari kampanye dan menyendiri dengan pengacara handal dari Washington Bob Barnett. (Kandidat-kandidat dari partai Demokrat bukanlah siapa-siapa jika tidak mau berusaha keras)=

Namun meskipun Kaine telah menceritakan kisahnya secara lebih baik sebelumnya di malam-malam lain dan di tempat-tempat lain, dia tidak datang untuk bercerita mengenai kisahnya sendiri malam itu. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Gubernur Pence bisa membela gaya Donald Trump yang penuh penghinaan, egois selalu mendahulukan diri sendiri,” ucap Kaine sebelumnya. Kaine secara terbuka menantang Pence untuk “membela” Trump sebanyak sembilan kali malam itu, dengan hanya menggunakan taktik pengulangan untuk mengarahkan debat ke pertanyaan-pertanyaan yang diharapkan pihak kampanye Clinton. Di balik taktik berduel tersebut, ada pemantauan lebih dalam ke arah seberapa jauh Partai Republik, dan Pence sebagai tokohnya, akan berusaha membela si milyader pengusaha tempat judi.

Pence handal dalam menyerang liberalisme. Dia menyebutkan kerasnya Clinton berpendapat bahwa ada bias tersembunyi dalam kasus-kasus penembakan oleh polisi, dan menimbang apakah polisi Amerika kulit hitam yang baru-baru ini menembak Keith Scott di Charlotte juga mungkin bersalah memiliki bias tersembunyi. Dia juga handal dalam mengganggu Kaine. Dia bisa menangkap nada suara terlatih dalam serangan-serangan si demokrat. “Apakah kamu latihan lama untuk mengatakan hal itu?” tanya Pence, setelah Kaine bertubi-tubi melontarkan rangkaian kritik yang panjang. (Jawabannya tentu saja iya) “Karena di pernyataan tadi ada banyak kalimat yang tersusun baik.”

Debatnya sendiri sebenarnya tidak banyak dinantikan baik oleh masyarakat maupun media, dan umumnya orang menganggap bahwa peristiwa itu adalah event yang tenang, penuh sopan-santun, di mana dua orang Kristen paruh baya menjabarkan perbedaan-perbedaan mereka sambil duduk-duduk. Tapi ekspektasi semacam itu tidak mengantisipasi ketajaman bahasa yang dipakai malam itu. “Saya ingin melihat bagaimana kamu membelanya,” ujar Kaine kepada Pence setelah menyindir pujian Trump bagi para diktator dan pembicaraannya yang santai mengenai perang nuklir.

Kenyataannya Pence tidak dapat membelanya. - atau paling tidak gagal membela sebagian besar darinya. Pada isu-isu tertentu, Pence menyampaikan pesan-pesan standar kelompoknya. Trump tidak menghindar membayar pajaknya selama bertahun-tahun, ujar Pence, dia hanya memanfaatkan pengurangan-pengurangan yang boleh ia ambil. (Dia mengatakannya seolah-olah membuat mengklaim ayah mertua sebagai dependent bisa membuat seseorang mendapatkan pengurangan pajak senilai sembilan ratus juta dollar). Tapi umumnya Pence tidak berusaha membela. Ketika Kaine mendesaknya membela Trump yang mengatakan bahwa perempuan yang melakukan aborsi harus dihukum, Pence hanya memberikan jawaban lemah, “dia memang bukan politisi terlatih seperti kamu dan Hillary Clinton.” Ketika Pence ditanya menjelaskan pernyataan kekaguman Trump terhadap Vladimir Putin, ia seolah meninggalkan pasangan kampanyenya dan membuat argumen pribadi dengan perspektif yang sangat berbeda mengenai Rusia. “Saya harus mengatakan kepada Anda,” kata Pence, “bahwa provokasi-provokasi Rusia harus dihadapi dengan kekuatan Amerika.”

Setelah debat berakhir, pesan yang muncul di Twitter adalah Pence telah berkontribusi banyak terhadap kampanye Pence 2020 - bahwa dia bekerja untuk kepentingan pribadinya. Namun kesetiaan politik sebenarnya lebih rumit dari itu. Pence yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dirangkul oleh pasangan kampanyenya. Ketika debat Selasa malam mulai, biografi Pence pun tidak ada di situs Trump. Namun walaupun jika Pence dianggap bisa dikorbankan oleh kandidat pasangannya, dia tetap sangat penting bagi pencalonan sang pasangan. Kampanye Trump membutuhkan entusiasme orang-orang biasa Partai Republik dan dana-dana dari para donaturnya. Dan bagi kelompok-kelompok ini keberadaan Pence berfungsi sebagai jaminan bahwa pemerintahan Trump kelak akan bersifat konservatif.

Melihat bahwa Pence menarik diri dari sebagian pernyataan-pernyataan Trump yang aneh dan kelam, dan mendesak Clinton karena gagal membuat persetujuan agar tentara Amerika bisa tetap di Irak, tentunya menyenangkan bagi banyak orang-orang Republican. Si Gubernur Indiana menyatakan posisi partai sebagaimana yang diharapkan. Dalam diri Pence, mereka melihat adanya sosok loyalis.

Debat calon wakil presiden dimulai dengan Kaine dan Pence saling beradu namun berakhir dalam dinamika yang lebih luas di mana Kaine adalah wakil yang efektif bagi Clinton dan Pence adalah wakil yang efektif bagi kekonservatifan. Satu cara untuk memandang ini adalah dengan kesimpulan bahwa semua menang kecuali Donald Trump. Bagaimana anda menafsirkannya mungkin akan sangat tergantung bagaimana anda berpikir tentang kesetiaan politik.

Benjamin Wallace-Wells mulai menjadi kontributor The New Yorker pada 2007, dan bergabung dengan majalah itu sebagai staff penulis pada 2015. Ia menulis banyak mengenai Politik Amerika dan sosial kemasyarakatan.

Catatan: tulisan ini telah dimuat di situs The New Yorker pada 5 Oktober 2016

url : http://www.newyorker.com/news/benjamin-wallace-wells/kaine-pence-vice-presidential-debate-everybody-won-except-trump

Print article only

0 Comments:

« Home