Articles

Indonesia, do something!


16 May 2017

Oleh : Panji Kharisma Jaya 

Indonesia saat ini sedang berada dalam tahap waspada. Waspada akan isu yang bisa memecah belah kesatuan bangsa ini, isu yang sudah pernah digunakan dan terbukti berhasil dalam menggulingkan pemerintahan. Isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antar-golongan).

Isu SARA dapat dengan sekejap memecah belah persatuan bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan faktor demografis dan Geografis Indonesia yang terdiri dari banyak etnis masyarakat yang tersebar diantara ribuan pulau Nusantara. Dengan sentuhan tangan-tangan jahat, isu SARA dapat menjadi senjata ampuh untuk memecah belah NKRI dan mengacaukan tatanan pemerintahan. Isu SARA secara umum diterjemahkan dalam tindakan dan paham yang sifatnya Intoleran.

Sayangnya, keadaan berbahaya ini tidak disadari sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia. Pergolakan politik dalam tatanan pemerintahan memiliki dampak yang berdampak panjang bagi masyarakat, dan seluruh lapisan masyarakat akan terkena dampaknya tidak peduli kaya atau miskin. Perubahan kestabilan tatanan pemerintah dapat menyebabkan tertundanya sejumlah agenda prioritas pemerintah, salah satu yang paling terasa dampaknya adalah proyek infrastruktur.

Sebagian besar proyek infrastruktur didanai oleh investasi luar negeri dan swasta dalam bentuk kredit konstruksi. Karena itulah pemerintahan Jokowi melakukab banyak komunikasi dan kerja sama bilateral yang salah satu tujuannya adalah menarik minat investor. Dan salah satu negara yang terdepan dalam proyek infrastruktur adalah China. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena bahkan Amerika Serikat pun membutuhkan bantuan China untuk proyek Infrastruktur mereka. Belum lagi negara-negara berkembang di Asia dan Afrika.

Ketidakstabilan politik di Indonesia tentu akan membuat Investor Asing dari Negara lain ragu untuk menginvestasikan dana mereka di Indonesia. Keraguan akan membuat kelangsungan proyek-proyek ini tertunda, yang pada akhirnya kita semua tahu muaranya : distribusi terhambat-kelangkaan barang-kenaikan harga-lapangan kerja minim-peningkatan angka kemiskinan.

Dampak dari situasi ini akan langsung terasa ketika segala kemudahan yang sudah kita rasakan saat ini perlahan-lahan mulai hilang. Kekacauan tata kota, kemudahan akses birokrasi, dan jaminan sosial perlahan-lahan akan hilang. Dan kita akan mendapati pemandangan yang sama di setiap kota : puing-puing dan kerangka bangunan yang batal dibangun karena investasi bodong.

Presiden Joko Widodo berusaha keras mencegah kondisi ini dengan terus menggiatkan kerja sama bilateral, dan melalui KSP, beliau menyampaikan pesan bahwa seluruh rakyat Indonesia bersatu untuk melawan isu SARA. Jika kita semua menutup mata dengan apa yang terjadi sekarang, jangan heran jika sejarah tahun 1966, 1998, dan 2001 terulang, yaitu ketika Presiden menyatakan mundur.

Rakyat akan kuat jika semua bersatu. Tidak perlu saling memusuhi karena kita berbeda, karena perbedaan akan selalu ada. Bukankah Bhinneka Tunggal Ika menyeru kita untuk tetap kuat seperti filosofi sapu lidi?

Lupakan perbedaan, lupakan permusuhan. Satukan tekad dan kekuatan untuk melawan kezaliman para koruptor yang campur tangan dalam pemerintah, melawan tangan-tangan kotor yang mempermainkan persatuan bangsa dnegan kekuatan uang dan kekuasaan. Semua kekuatan ada di pihak rakyat. Kepolisian, TNI, dan Presiden sendiri ada di pihak kita semua yang menginginkan persatuan.

Print article only

0 Comments:

« Home