Articles

Mundurnya Amerika Serikat dari Paris Agreement serta Dampaknya terhadap Perubahan Iklim Dunia


11 June 2017

Mundurnya Amerika Serikat dari Paris Agreement serta Dampaknya terhadap Perubahan Iklim Dunia

 

oleh: Linda Yanti Sulistiawati, Ph.D.


Tanggal 1 Juni 2017 waktu Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengumumkan bahwa negaranya memutuskan keluar dari Paris Agreement.  Beberapa alasan yang dikemukakan oleh Trump dalam press conference-nya di muka White House tersebut, antara lain bahwa ‘the Paris Accord is very unfair at the highest level, to the United States…’


Keputusan Trump untuk keluar dari Paris Agreement, sebuah perjanjian internasional untuk menurunkan emisi dan menurunkan temperatur bumi, yang ditandatangani oleh 195 Negara di dunia, membuat kepala Negara dari berbagai penjuru bumi muntap.  Pasalnya, AS adalah Negara penghasil emisi ke-2 terbesar di dunia setelah Cina.  Dan dengan AS keluar dari perjanjian Paris, tujuan Negara-negara di dunia untuk bersama-sama mengurangi emisi dan menjaga temperatur bumi dibawah 2 derajad Celcius menjadi makin sulit untuk dicapai.


Ia juga menyebutkan bahwa AS akan melakukan negosiasi untuk mendapatkan ‘deal’ yang lebih baik daripada deal yang ada dalam Paris Agreement. Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa climate deal dalam Paris Agreement akan mengakibatkan ekonomi AS kehilangan keuntungan dan lapangan pekerjaan, berdasarkan penelitian (yang disanggal berbagai kelompok lingkungan), sebesar 2,7juta lapangan pekerjaan pada tahun 2025 (nytimes.com 1/6/17).


Para ahli di AS banyak yang menyangsikan ketulusan dari langkah Trump ini.  Mereka menganggap, perilaku grusa-grusu Trump untuk keluar dari perjanjian iklim dunia ini sebagai alat untuk menarik kembali simpati para pemilihnya.  Dalam 100-an hari administrasi Trump, ia telah melakukan beberapa kesalahan komunikasi (baik melalui pidato-pidatonya yang berlawanan dengan janji-janji kampanye dulu), maupun fakta bahwa saat ini dirinya sedang dalam penyelidikan FBI (Federal Bureau Investigation) karena dugaan kerjasama dengan Russia saat kampanye lalu.


Beberapa pernyataan Trump ini tidak masuk akal, pertama, tentang renegosiasi ‘deal’ dalam Paris Agreement.  Jelas tidak mungkin untuk melakukan renegosiasi perjanjian internasional secara unilateral, apalagi dalam hal ini agar Negara-nya bisa mendapatkan ‘deal’ yang lebih baik. Sesi negosiasi untuk Paris Agreement telah berakhir, disetujui para Pihak perjanjian, dan perjanjian internasional tersebut telah berlaku sejak 2016.  Menurut nytimes.com dan siaran CNN, dalam hitungan menit setelah Trump mengumumkan keluar dari Paris Agreement, pemimpin Negara Perancis, Jerman, dan Italia mengeluarkan keputusan bersama yang menyatakan bahwa perjanjian iklim Paris adalah sebuah perjanjian yang ‘irreversible’ atau tidak dapat diubah/dibatalkan, serta tidak dapat direnegosiasikan.


Kedua, terlihat jelas Trump tidak mempertimbangkan nasib masa depan dunia, ketika ia mengatakan bahwa dirinya dipilih oleh warga Pittsburgh, dan bukan oleh warga Paris.  Dalam hal ini Trump mengecilkan arti hubungan internasional AS dengan Negara-negara lain, dan memfokuskan diri terhadap kebutuhan AS dalam negeri, tanpa memperdulikan kebutuhan Negara lain.  Inipun masih sangat debatable, apakah dengan keluar dari Paris agreement, AS tidak akan mendapatkan masalah perdagangan internasional untuk berbagai produknya.  Apabila AS mendapatkan masalah di bidang perdagangan internasional, maka Trump justru memperburuk situasi ekonomi AS dengan langkahnya ini.


Ketiga, Trump juga menyatakan bahwa lebih penting bagi AS untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga Negara AS daripada mengikuti trend dunia mengurangi emisi gas rumah kaca.  Ini merupakan logical fallacy yang diterapkan Trump.  Karena ia mengatakan bahwa dengan mengurangi emisi gas rumah kaca AS, maka akan banyak lapangan kerja yang hilang.  Kenyataannya, tahun 2015 AS menetapkan National Determined Contributions (NDC) di Paris Agreement secara sukarela, atas perhitungannya sendiri.  Para ahli di AS menyatakan di tahun 2015-2016, lapangan kerja baru yang terbesar adalah lapangan kerja untuk sektor energy terbarukan (renewable energy) dengan jumlah lebih dari 780ribu pekerjaan.  Jumlah tersebut berlipat ganda dari jumlah pekerjaan dari sektor batubara.  Beberapa ahli bahkan yakin bahwa tidak ada trade off antara jumlah pekerjaan yang bisa ditawarkan sektor-sektor yang ada, dengan pengurangan emisi.


Pasal 28 dalam Paris Agreement (2015), dinyatakan bahwa Negara Pihak dapat mengundurkan diri dari perjanjian dalam 3(tiga) tahun setelah perjanjian ini berlaku di Negara tersebut, dengan memberikan notifikasi tertulis kepada Depositary.   Artinya, apabila AS telah mengirimkan notifikasi tertulis kepada Depository Paris Agreement di tahun 2017 ini, maka pengunduran diri itu mulai berlaku pada tahun 2020.


Dampak bagi dunia

Dampak utama bagi Indonesia dan Negara-negara pihak yang termasuk dalam kategori ‘negara membangun/developing countries’ dapat segera terlihat.   Salah satu hal yang membuat Paris Agreement menarik bagi Negara membangun, adalah komitmen Negara-negara maju untuk bantuan pendanaan untuk pelaksanaan kegiatan pengurangan emisi Negara membangun.  Hal ini dapat dilihat di pasal 2 butir c, pasal 9 ayat 3, dan pasal 11 ayat 1.  Dalam pasal-pasal tersebut, komitmen Negara maju dalam memberikan financial support kepada Negara membangun untuk bersama-sama menekan naiknya temperatur bumi disebutkan secara jelas.


AS menyatakan sebagai bagian dari implementasi Paris Agreement, berkomitmen untuk memberikan bantuan keuangan untuk Negara miskin dan membangun sebesar 3 milyar dollar AS hingga tahun 2020 (theguardian.com 1/6/17).   Artinya, akan berkurang support pendanaan sebesar 3 milyar dolar AS bagi kegiatan Negara-negara membangun di bidang pengurangan emisi, termasuk untuk Indonesia.  


Selain itu, AS sebelumnya juga berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kacanya sebesar 26 sampai 28 persen dibawah level tahun 2005.  Sekarang, setelah menyatakan keluar dari Paris Agreement, AS tidak perlu memenuhi komitment tersebut mulai tahun 2020.  Ini memberikan beban lebih kepada Negara-negara Pihak dalam Paris Agreement, termasuk Indonesia.  


Secara geo politik, terdapat vacuum dimana tadinya AS merupakan salah satu mesin penggerak dalam kegiatan perubahan iklim.  Sekarang, dengan keluarnya AS dari Paris Agreement, Negara-negara Pihak yang merupakan pemain-pemain utama dapat berebut untuk mengisi vacuum tersebut dan penjadi leader dari gerakan perubahan iklim.  Beberapa Negara besar tersebut antara lain adalah Cina, Jerman, dan Perancis, yang terlihat sangat ambisius untuk memenuhi target dalam Paris Agreement.


Now what?

Selanjutnya, harapan Trump agar perjanjian iklim ini akan hancur setelah AS keluar, harus berhenti sampai disini.  Sejak pernyataan AS mundur dari Paris Agreement Negara-negara Pihak Perjanjian Paris malah justru terlihat semakin solid.  Pemimpin Negara-negara besar, melakukan siaran pers yang mengecam langkah AS, misalnya, Perancis menyatakan siap untuk mengundang tenaga-tenaga ahli dan ilmuan iklim AS untuk bekerja di Perancis; Kanada dan Jerman  menyatakan tetap mendukung Paris Agreement.  


Di pihak swasta, perusahan multi nasional pun menyatakan tetap mendukung Paris Agreement.  Bukan hanya perusahaan energi terbarukan, perusahaan industri software, bahkan perusahaan-perusahaan energy fosil seperti minyak bumi dan batu bara pun menyatakan kecewa bahwa Trump mundur dari Paris agreement, dan bahwa mereka tetap mendukung Paris Agreement.  nytimes.com,theguardian.com, dan independent.co.uk mengutip kekecewaan yang diutarakan oleh beberapa pengusaha besar AS, antara lain Mark Zuckerberg (Facebook) dan Sundar Pichai (Google).  Elon Musk (Tesla) dan Robert Iger (Disney) bahkan mundur dari kursi dewan penasihat Trump karena hal ini.  Immelt dari General Electric seperti yang dikuitp oleh nytimes.com menyatakan bahwa perubahan iklim adalah suatu kenyataan, dan industri (AS) sekarang harus menjadi pemimpinnya, dan tidak bergantung kepada pemerintah.


Artinya, walaupun AS keluar dari Paris Agreement, Negara-negara dunia penandatangan Paris Agreement, pihak perusahaan multinasional, organisasi-organisasi internasional, dan stakeholders lain tetap mendukung Paris Agreement.  Sehingga, walaupun keluarnya AS akan membuat masalah, namun tetap akan bisa diatasi bersama. Nasib dan masa depan bumi ini bukan ditentukan oleh AS saja, melainkan oleh 146 Negara Pihak perjanjian Paris yang telah meratifikasinya, dan pihak-pihak terkait perubahan iklim, serta tentu saja oleh kita semua, warga dunia.



Yogyakarta, 2 Juni 2017

Linda Yanti Sulistiawati, PhD

Dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Negosiator RI untuk Paris Agreement 2015

Print article only

0 Comments:

« Home