Articles

Keragaman Indonesia Harus Dirawat Dengan Sikap Positif


18 July 2017

Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

  

 Keriangan “Pluralisme Kekuatan Positif Indonesia”, 17 Juli 2017

Sore hari yang mendung sejuk di restoran Tjap Toean The Breeze, BSD City, semakin hangat ketika penyanyi Titi Joe mulai memainkan lagu “Pancasila Rumah Kita”. Lagu yang dinyanyikan Titi yang namanya melejit setelah membintangi film dokumenter internasional “Jalanan” tersebut sangat pas sekali membuka acara diskusi Merawat Keragaman bertema “Pluralisme Kekuatan Positif Indonesia” yang diselenggarakan Yayasan Perspektif Baru (YPB) pada Senin 17 Juli 2017. Dengan santai namun mendalam lagu tersebut mengajarkan keragamann kepada kita semua yaitu bahwa Indonesia adalah untuk kita semua dan kita semua harus saling berbagi.

Kemeriahan santai kemudian berlanjut dengan tampilnya kelompok musik remaja Harmoni 8 yang mulai muncul dalam Festival Lagu Anak Nusantara beberapa tahun lalu. Kelompok ini kembali mengingatkan kita semua untuk mencintai Indonesia dengan membawakan lagu-lagu lokal Indonesia seperti “Manuk Dadali” dan “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”.

 

 Harmoni 8 menyemarakkan keragaman

Ketua YPB Hayat Mansur kemudian membuka diskusi dengan memaparkan latar belakang diskusi keragaman ini yaitu bahwa kita khawatir terhadap ancaman-ancaman keragaman yang bisa membahayakan kesatuan bangsa kita. “Kita pendukung pluralisme harus saling berkomunikasi, saling menguatkan dalam mengawal keragaman, karena Indonesia dibuat berdasarkan keragaman,” ujar Mansur.

Wimar Witoelar di “Pluralisme Kekuatan Positif Indonesia”, 17 Juli 2017

 

Pendiri YPB Wimar Witoelar, yang juga sempat menjadi juru bicara simbol keragaman mantan Presiden Gus Dur, menekankan bahwa keragaman harus diperjuangkan dengan sikap positif karena sikap tersebutlah yang bisa memenangkan hati sanubari orang-orang, “Habis tenaga kalau negatif dilawan dengan negatif. Kita di sini orang positif semua.”

Menurut Wimar gerakan keragaman yang ada di The Breeze tersebut mungkin bukan aksi masa namun dengan cerdik memanfaatkan berbagai instrumen yang ada sehingga bisa berkomunikasi menjangkau orang-orang hingga tingkat internasional. Ini contohnya ialah seperti penggunaan facebook live sehingga yang bisa menjangkau berbagai tempat seperti Canberra, Singapura, dan bahkan hingga sudut kota Jakarta. Dan dalam kondisi inilah saatnya orang-orang baik muncul.

Pakar dan Pegiat Lingkungan Hidup Agus Sari juga melihat pentingnya keragaman dijaga, “Keragaman tidak lagi dirayakan. Saya kira itu harus dirubah.” Dalam pengalamannya bergelut dengan isu-isu lingkungan hidup memaparkan bahwa alam mengajarkan pentingya keragaman.

Pakar Lingkungan Hidup Agus Sari

di “Pluralisme Kekuatan Positif Indonesia”

Alam penuh dengan keragaman yang luar biasa. Jika salah satu spesies yang merupakan unsur keragaman hilang maka terjadi gangguan terhadap keseimbangan keseluruhan unsur-unsurnya. Ini terjadi bahkan ketika yang hilang itu adalah salah satu jenis binatang pemangsa yang dianggap buas. Hilangnya satu spesies pemangsa bisa menimbulkan tidak terkontrolnya pertumbuhan spesies yang secara alami dimangsa spesies tersebut dan mengganggu keseimbangan alam.

Inilah pelajaran pentingnya keragaman dari alam yang harus kita pahami bersama. “Dari kaca mata lingkungan hidup maupun sosial, keragaman Indonesia harus dilestarikan,” kata Agus Sari.

 

Print article only

0 Comments:

« Home