Articles

Para Relawan Kebangsaan Berkumpul


08 August 2017

Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

 Satu Indonesia bersama Wimar Witoelar

Senin siang, 7 Agustus 2017. Arief A. Soedjono, inisiator perkumpulan relawan kebangsaan yang bernama Satu Indonesia, dengan semangat menceritakan perkumpulan yang digagasnya di Studio Yayasan Perspektif Baru. Tidak tampak kelelahan yang lazimnya muncul pada orang yang baru saja melakukan perjalanan dari Bandung ke Jakarta yang dengan ditambah dengan waktu macet yang tidak biasa hingga membutuhkan 7 jam perjalanan.

“Kalau kita melihat sejarah kita sudah jelas fitrahnya negara kita ini lahir dengan keberagaman. Karena itulah di bawah burung Garuda itu ada pita dengan tulisan yang sangat jelas Bhinneka Tunggal Ika. Itu yang tidak boleh kita lupakan,” tutur Arief.

Menurutnya memang terkadang sikap eksklusivitas ada pada setiap kelompok dan hal tersebut manusiawi saja dan tidak akan berdampak besar bagi negara. Namun ketika sikap tersebut membesar menjadi fanatisme ini kemudian berbahaya. Sayangnya inilah yang mulai berkembang di masyarakat.

“Itu juga yang menjadi dasar kita memakai nama Satu Indonesia. Sebetulnya dasarnya ialah selain ini isi dari Sumpah Pemuda yaitu satu nusa, satu bahasa, satu bangsa dan yang paling penting ialah satu Indonesia. Ini adalah pengikat dari itu semua. Kebetulan kita yang berkumpul banyak yang beragam yang ikut bersama-sama. Beragam dari sisi usia. Kawan-kawan yang berkumpul dari usia 25 sampai dengan 75 tahun,” lanjutnya

Ia beranggapan fanatisme yang menjadi intoleran sebetulnya sudah mulai terasa di 20 tahun terakhir dari sejak tahun 1998. Karena itulah tahun lalu 30 Oktober 2016 ia dan teman-teman yang awalnya di Bandung membuat Deklarasi Bandung untuk NKRI dengan target diikuti 10 ribu masyarakat Bandung di Stadiun Siliwangi.

Kini Satu Indonesia telah memiliki anggota di berbagai provinsi seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Anggotanya pun tidak hanya di level nasional namun juga termasuk berbagai diaspora Indonesia di luar negeri di hampir setiap negara.

Satu Indonesia tidak bermaksud menjadi satu kelompok organisasi dengan berbagai aktivitas rutin seperti layaknya organisasi lain. Perkumpulan relawan kebangsaan ini dimaksudkan menjadi tempat berintegrasinya berbagai kelompok relawan yang ada.

“Setiap kelompok memiliki gerakan masing-masing. Gerakan untuk kemasyarakatan, sosial, tapi sifatnya sporadis dan masing-masing tidak terintegrasi. Inilah yang sebetulnya kita inginkan. Kekuatan kita kan akan menjadi sangat bagus kalau sama-sama bergerak toh niatnya sama. Kalau kita bicara sosial, bicara kebangsaan, kita bicara budaya, kita ingin menyadarkan masyarakat pentingnya Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 1945. Itu kan kalau kita bergerak bersama-sama tentu hasilnya lebih memuaskan dibandingkan masing-masing dengan biaya yang tentunya jauh lebih besar tapi hasilnya diakui atau tidak akan lebih sedikit. Jadi silahkan di organisasi masing-masing tapi di tempat kitalah berkumpul. Satu Indonesia ini,” jelasnya. 

Intoleransi pada dasarnya muncul dikendarai oleh kepentingan sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politik teruma pada Pilkada serentak di tahun 2018. Karena itu Satu Indonesia bergerak di tingkat lokal dengan menggandeng berbagai pihak seperti Nahdlatul Ulama untuk berusaha menurunkan tensi intoleransi dengan salah satunya mengingatkan pentingnya Pancasila.

“Karena memang diakui atau tidak dulu kan kita ada pendidikan P4 yang paling tidak kita masih diingatkan dengan sila-sila yang tercantum di Pancasila. Nah ini yang sekarang kita mulai turun lagi. Kita ingatkan kembali. Ini mudah-mudahan bisa merangkul dan memang tujuan kita mengingatkan kembali pada rasa kebangsaan,” kata Arief.

Print article only

0 Comments:

« Home