Articles

Keragaman Adalah Kekuatan Kita


23 August 2017

Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

Para relawan kebangsaan Satu Indonesia melakukan deklarasi di Hotel Hemangini,

Bandung (Kamis, 17 Agustus 2017)

Bandung pada 71 tahun yang lalu yaitu tepatnya 23 Maret 1946, terjadi peristiwa heroik bersejarah di sana yang hingga kini dikenal dengan Bandung Lautan Api. Para warga berkorban membakar rumah-rumah mereka agar kota mereka tidak ditempati para pasukan kolonial.

Kini setelah lama kita merdeka dan melewati berbagai rezim zaman telah berubah. Namun semangat kebangsaan menjaga keragaman tetap terlihat pada 17 Agustus 2017 tahun ini pada acara Deklarasi Relawan Kebangsaan Satu Indonesia yang digagas Satu Indonesia yaitu kelompok relawan kebangsaan yang diinisiasi olh Arief Soedjono, edi Hotel Hemangini. Hadir sebagai pembicara di acara tersebut pendiri Yayasan Perspektif Baru yang pernah menjabat sebagai Juru Bicara Mantan Presiden Gus Dur Wimar Witoelar, politisi senior yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup ke-2 Sarwono Kusumaatmadja, Astronom senior Karlina Leksono Supelli, dan aktivis politik Hendarmin,

Sarwono mengatakan, “Saya senang berada di sini karena bertemu kawan lama seperti Wimar Witoelar. Dari dulu di ITB kita sama-sama ke mana-mana dan dibilang angka sepuluh karena Sarwono kurus dan Wimar bulat.” Pernyataan yang kemudian segera ditanggapi dengan seloroh oleh Wimar bahwa sepuluh berarti Sarwono angka satu berisi dan ia adalah angka kosong yang tidak berisi namun beruntung bisa diisi teman-teman seperti Sarwono.

Pendiri Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar

Bersama Para Pembicara Deklarasi Relawan Kebangsaan Satu Indonesia

Menurut Sarwono yang menghabiskan masa kecilnya di negara yang kini telah pecah Yugoslavia, kekuatan Indonesia adalah pada keragamannya atau kebhinnekaannya yang terdiri dari berbagai macam unsur yang kuat. Berbeda dengan Yugoslavia yang terdiri dari Serbia, Bosnia dan lainnya. Masing-masing negara berlatar belakang berbeda dengan sejarah dan agama berbeda. Mereka meskipun satu namun tidak merasa bersatu dan hanya dipersatukan oleh pahlawan mereka Josip Broz Tito. Sewaktu di sekolah, Sarwono mengalami anak-anak yang berbeda latar belakang tersebut saling mengejek. Begitu Tito meninggal dalam waktu dua setengah minggu pecah perang di antara mereka.

Kalau negara yang satu unsur saja malah rapuh. Disentak sedikit jatuh. Misalnya Jerman terbawa Hitler hancur. Sarwono dibesarkan di Yugoslavia negara yang pecah. Mengapa negara itu bisa pecah. Kita sampai sekarang tidak pecah meskipun ada ancaman dari Aceh dan Papua.

Ini berbeda dengan Timor Timur. Timor Timur merupakan proyek politik di mana Amerika Serikat dan Australia menggunakan Indonesia untuk membendung perluasan komunisme pada perang dingin. Begitu geopolitik berubah dan perang dingin tidak ada karena soviet pecah dan lain-lain, maka ditinggalkanlah Indonesia bahkan disalah-salahkan. Jadi Timor Timur tidak dihitung sebagai wilayah yang memisahkan diri dari Indonesia karena memang bukan wilayah Indonesia.

Namun kejadian-kejadian lain di mana ada tuntutan memisahkan diri selalu tidak jadi dan bukan dari bantuan asing dan dari dalam sendiri. Aceh tidak jadi lepas. Papua katanya minta lepas tapi ternyata cuma minta dihormati sebagai budaya.

Menurut Wimar ia sendiri tidak mensakralkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau perayaan 17 Agustus. Namun hal-hal tersebut perlu dipertahankan karena hal tersebut common sense saja yaitu rasa normal yang ada pada diri kita mengenai kemerdekaan. Ia sendiri tidak menganggap Pancasila sebagai hal yang agung namun Pancasila adalah konsensus politik jadi perlu dihargai. Terlebih lagi dengan konsep tersebut masyarakat bisa rekat dan damai maka hal itu adalah hal yang bagus.

Namun kita sebaiknya tidak menggunakan solusi masa lalu untuk masa sekarang. Karena kita sebenarnya punya kearifan dalam diri kita yang merupakan masalah solusi-solusi perpecahan bangsa yaitu keragaman yang kita miliki. “Kampanye keragaman buat diri saya sangat pribadi. Saya waktu kecil senang karena memiliki teman-teman yang beragam yaitu ada orang Cina, Ambon, Arab dan ‘it’s fine’. Ini berbeda dengan waktu saya tinggal di Swedia di mana kebanyakan ialah orang-orang kulit putih. Hal itu kurang asik,” ujar Wimar.

 

Print article only

0 Comments:

« Home