Articles

WIMAR WITOELAR : kita adalah masyarakat yang plural dan akan tetap begitu!


10 October 2017

Menjelang kedatangannya, Wimar Witoelar memberi kesempatan kepada FMIA untuk berbincang-bincang tentang pandangan dan keinginannya bertemu masyarakat di Melbourne. Melalui sambungan telepon dengan Putu Pendit di Bali, ia mengungkapkan keyakinannya tentang kebhinekaan Indonesia sebagai modal sosial yang akan membawa Indonesia ke gemilangan. Ia juga yakin bahwa Pemerintah saat ini di bawah kepemimpinan Jokowi akan mampu mengatasi semua upaya untuk merusak kehidupan masyarakat yang sudah menerima pluralisme sebagai keniscayaan.

Berikut inti sari perbincangan itu.


Dalam konteks kehidupan berbangsa, apa yang sedang terjadi saat ini?

Yang terjadi adalah bahwa banyak orang sengaja melupakan atau mengingkari dasar Indonesia yang bhineka, yang pluralis. Padahal Indonesia tidak mungkin menjadi negara seperti saat ini jika tidak didasarkan pada paham pluralisme. Sejak Sumpah Pemuda sampai Proklamasi selalu ditekankan bahwa warga negara Indonesia adalah semua golongan, semua agama, semua etnis. Tidak ada keinginan menonjolkan satu golongan atau mengecilkan golongan lain, dan ini sudah difahami oleh semua orang. Namun untuk kepentingan politik sesaat, ada orang mencoba menciptakan situasi urgent.

Masyarakat sebenarnya berjalan biasa saja, kehidupan normal, Pemerintah berjalan biasa saja, bahkan lebih baik daripada yang lalu. Tetapi karena harus ada isu untuk Pilkada dan Pemilu, mereka mencoba mengkobarkan kebencian, keragu-raguan, terhadap Pemerintah yang sekarang. Jadi memang ada orang yang mencari gara-gara.

Bagaimana merespon gejala ini?

Setelah lima kali bertemu dengan masyarakat, kami berpendapat bahwa kami tidak perlu melawan mereka. Melainkan kita perlu menegaskan keragaman kita, merawat keragaman kita. Tidak mencari musuh, melainkan mempertahankan kayakinan bahwa kita ini beragam. No reason to be alarmed, dan tidak perlu ikut tertarik ke dalam pertengkaran yang mereka ciptakan.

Urusan kami adalah mensyukuri keragaman dan menyebarluaskan keyakinan itu.

Tetapi lalu ada saja yang “termakan” oleh isu?

Ya memang ada. Bukti pertama adalah menangnya Anies Baswedan yang jelas tidak berjalan di atas paham pluralisme, dan masuknya Ahok ke penjara tanpa alasan yang jelas. Itu adalah bukti “sukses” kelompok yang menyebar kebencian, dan itu yang ingin mereka ulangi di Pilkada, walaupun sekarang kekuatan mereka sudah jauh berkurang. Ini berkat kesabaran dan peran strategis Jokowi dan kawan-kawannya.

Bahkan kini mereka jadi bahan tertawaan di kehidupan sehari-hari. Kecuali saat demonstrasi memang ada yang menyiapkan dana untuk menyewa orang agar mau turun ke jalan.

Sebenarnya tidak ada drama, tidak ada yang perlu didramatisir. Kita sudah menjadi negara yang normal. Kita bahkan lebih normal daripada Amerika Serikat, kok!

Jika memang faham kebangsaan sudah ada dan negara sudah normal, mengapa masih bisa timbul kisruh?

Saya melihat semua hal itu dari sisi pandang masyarakat biasa, orang baik-baik, yang tidak punya waktu untuk mendalami inti-masalahnya. Tetapi mereka punya modal kuat, yaitu keyakinan akan kebenaran gaya hidup mereka sehari-hari.

Saya tidak melihat ada persoalan dalam kebangsaan. Bagi saya kebangsaan itu abstrak, nasionalisme itu abstrak. Yang tidak abstrak adalah kecintaan kita kepada manusia dari berbagai golongan. Dengan kata lain, ini adalah keragaman.

Orang-orang saat ini tidak lebih lemah dalam kepercayaan satu sama lain, dan tidak lebih mudah dikecohkan. Persoalannya sekarang adalah untuk pertama kalinya pihak-pihak tertentu menggunakan uang dalam jumlah besar dari hasil korupsi, menggunakan teknologi media sosial, dan kemudian mencontoh penggorengan isu yang dilakukan di tempat-tempat lain.

Menurut saya orang-orang sekarang tidak lebih mudah dibodohi. Upaya pembodohannya yang lebih banyak. Orang bodoh tidak bertambah, tetapi lebih bertambah orang pintar yang berniat jahat.

Orang-orang ini pada awalnya berhasil, sebagaimana yang terjadi dengan kejatuhan Ahok. Tetapi semakin lama pengaruh mereka semakin berkurang. Sebaliknya orang-orang yang biasa-biasa saja, orang baik-baik, semakin banyak bersuara. Mereka tidak saja dari kalangan mahasiswa, tetapi juga ibu rumah tangga, yang dulu tidak pernah bicara politik. Sekarang kita bicara politik dalam dimensi paham-paham keragaman. Sehingga sebenarnya sekarang masyarakat lebih berdaya, empowered.

Analoginya, kolam ini sekarang banyak ikannya, dan ada orang-orang yang mencoba memancing tetapi ikan-ikannya semakin pintar.

Apakah gaya komunikasi politik Jokowi berperan dalam meredam dampak provokasi ini? Bagaimana jika dibandingkan dengan gaya komunikasi Gus Dur di mana Bapak pernah ikut aktif?

Gaya komunikasi Jokowi sangat berperan, walau tidak sama dengan gaya Gus Dur. Dua-duanya kontekstual, sesuai kebutuhan zamannya. Gus Dur memenangkan opini publik, walaupun jabatannya (sebagai Presiden) hilang. Ia menanamkan pengertian pluralisme yang kita kenal sampai sekarang. Faham kebhinekaan berhasil berkembang di masanya.

Di zaman Jokowi, banyak orang bilang dia orang bodoh, tetapi dia mungkin orang bodoh yang membuat rakyat menjadi pintar. Sebaliknya di masa lalu, zaman Suharto sampai zaman Habibie, banyak orang pintar yang membuat rakyat bodoh. Di masa kini Jokowi “menyumbangkan” dirinya (untuk jadi bahan cemooh) agar masyarakat menjadi pintar. Dengan membiarkan lawan-lawan politiknya melakukan blunder, Jokowi sebenarnya membuat mereka terlihat tidak-masuk akal atau bahkan lucu. Menggunakan permisalan dalam bahasa Inggris: kepada lawan politiknya, Jokowi memberikan tali yang cukup panjang untuk gantung diri!

Masyarakat yang pintar dan plural ini apakah juga dapat dikatakan masyarakat multikultural?

Menurut saya lebih dari multikultural, sebab orang tidak perlu memahami kultur untuk menjadi plural, yaitu kalau kita menghargai (perbedaan) orang lain. Konsep multikultural mungkin bagus untuk orang yang mengerti betul, apa itu kultur. Tetapi banyak orang yang mungkin tidak mempersoalkan ini sebab dari kecil mereka sudah multikultural. Waktu saya kecil, dan sampai sekarang, saya nggak terlalu mau tahu apa agama atau suku tetangga saya, yang penting hidup bersama dengan baik. Dan seperti pohon-pohon di hutan, masyarakat kita punya keragaman yang amat tinggi tanpa harus mempersoalkannya. Kita tidak mempersoalkan bagaimana, misalnya, orang Cina bisa rukun bersama orang Ambon, yang penting kita bisa mentolelir perbedaan satu sama lain.

Lalu bagaimana dengan radikalisasi dan fobia Islam yang dikuatirkan mengoyak masyarakat kini?

Betul bahwa radikalisasi di Indonesia adalah masalah besar, tetapi itu sebenarnya urusan pihak penegak hukum, keamanan, dan para ahli. Mereka memang cukup sibuk menangani hal ini. Sementara untuk orang-orang awam, masalahnya bukan radikalisasi, melainkan persoalan menjaga kewarasan, percaya kepada diri sendiri, dan bersikap positif.

Tergantung juga cara melihatnya. Radikalisasi mungkin terlihat besar karena kita memperhatikan anak-anak muda yang radikal saja. Padahal banyak yang tidak radikal, yang pergi ke pusat perbelanjaan dan tempat kumpul-kumpul lainnya seperti biasa. Di situ tidak ada radikalisme, mereka anak-anak muda yang baik walau pun tidak ada pula orang yang memperhatikan mereka.

Saya sebenarnya ingin datang ke Australia, ke Melbourne yang saya cintai, untuk meyakinkan masyarakat bahwa Indonesia itu indah, Indonesia itu menyenangkan. Sementara itu di media dan di kampus serta pusat-pusat ilmiah sinyalemennya selalu bernada alarmist (waswas, memberi peringatan). Ini bagus sebagai sebentuk pengingatan, tetapi sebaiknya tidak membuat takut masyarakat awam.

Bagaimana dengan ribut-ribut mengenai khilafah di Indonesia?

Sebagian besar orang Islam di Indonesia bukan penganut fanatik; mereka lahir dari orang tua yang Islam, dan memang keturunan keluarga Islam. Mereka tidak ingin menjadikan keislamannya sebagai alat kebencian. Tetapi memang ada saja sebagian orang yang menjadi ekstrim, dan sama sekali tidak mewakili orang Islam. Terlebih lagi Islam itu demokratis, sejuk, menerima siapa saja yang beritikad baik. Begitu juga agama-agama lainnya. Saya melihat kehidupan beragama di mana-mana di Indonesia itu indah. Saya tidak melihat ada persoalan.

Namun memang ada orang-orang tertentu yang kurang kerjaan dan pintar “main-main” di media sosial. Terlebih lagi mereka dibayar oleh politikus dan para koruptor untuk membuat keributan. Berbeda dari orang baik-baik yang tidak ada yang mau membayarnya. Tidak ada sumber dana untuk membiayai orang-orang yang ingin berbuat demi kebaikan (kehidupan antar umat beragama) di Indonesia. Dalam hal ini saya juga percaya bahwa kebaikan itu akan hadir dengan sendirinya. Kalau ada orang baik yang memiliki uang, pasti dia akan pakai untuk kebaikan, bukan untuk membuat kekacauan di Indonesia.

Apakah kehidupan di Melbourne dapat menjadi contoh pluralisme?

Saya pernah tinggal di Melbourne, dan sekarang melihat Melbourne masih seperti dulu, seperti pada umumnya Australia adalah masyarakat yang pluralis dan multikultural. Memang kalau dicermati lebih dalam, ada saja persoalan di masyarakat, termasuk misalnya pertentangan antar geng migran melawan geng kulit putih. Tetapi semua itu bisa diselesaikan secara baik-baik oleh anggota masyarakat biasa, tanpa memerlukan ribut-ribut yang melibatkan orang-orang bayaran.

Kita juga dapat melihat bahwa bahkan Amerika Serikat pun mengalami hal yang lebih buruk jika menyangkut toleransi dan kehidupan berdemokrasi. Sementara kita ini sebenarnya masyarakat pluralis yang terbesar di dunia, dengan potensi amat besar untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia seperti halnya Australia. Namun hal ini justru yang kurang mendapat pengakuan, sebab isi media massa dan media sosial tentang Indonesia selalu adalah tentang orang-orang ekstrimis.

 

Print article only

0 Comments:

« Home