Articles

Tiada Imlek tanpa Gus Dur


14 February 2018

 

Gusdur, Pahlawan Pluralisme
Sejak masa kemerdekaan Indonesia, warga negara keturunan Tionghoa selalu dijadikan sasaran oleh
orang-orang yang tidak suka, lebih tepatnya tidak suka demokrasi. Hal yang berbeda terjadi pada
masa kolonial Belanda. Pada masa itu, warga keturunan Tionghoa menempati posisi yang istimewa
di masyarakat.
Padahal, para penguasa tertinggi di negara ini kerap melibatkan warga-warga keturunan Tionghoa
untuk urusan politik karena faktor kekayaan. Tidak jarang para konglomerat keturunan Tionghoa
menjadi sumber dana suatu kampanye politik, namun perlakuan terhadap mereka masih saja sama,
kerap dikucilkan dan diserang dengan isu rasis, dan tidak ada satu pihak pun yang menolong.
Saat roda kepemimpinan negara ini beralih ke K.H. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gusdur,
warga keturunan Tionghoa mulai mendapatkan pengakuan. Mereka dilindungi penuh oleh
pemerintah, dijamin hak nya sebagai warga negara, dan puncaknya, Tahun Baru Imlek diakui
menjadi Hari Raya Nasional.
Gusdur sadar, bahwa Indonesia didirikan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika, perbedaan yang menjadi
kekuatan bangsa, itu lah semangat Pluralisme yang diusung Gusdur. Gusdur sudah dikenal sebagai
pembela warga Tionghoa bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia.
Beliau membantu perjuangan para warga keturunan Tionghoa dengan berbagai cara, mulai dari
penelitian hingga dakwah, sehingga pada masa kepemimpinan beliau, warga keturunan Tionghoa
mendapat pengakuan dan perlindungan penuh.
Keberhasilan Gusdur dalam melindungi dan mengakui hak para warga keturunan Tionghoa menjadi
sebuah prestasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. negara-negara maju di seluruh dunia
banyak memuji keberhasilan Indonesia dalam menciptakan negara yang kondusif dengan dasar
Pluralisme yang kuat. Banyak negara yang maju yang memiliki banyak etnis namun masih sulit
menciptakan iklim yang harmonis. Di sinilah titik keberhasilan Gusdur. Setiap kunjungan kenegaraan
ke luar negeri, Indonesia selalu disambut baik, Ratu Belanda menyambut di rumahnya sendiri,
Presiden Clinton meluangkan waktu untuk berbincang meskipun tidak masuk dalam agendanya,
negara-negara Timur Tengah pun senang karena ada negara dengan mayoritas penduduk Islam yang
menghargai perbedaan masyarakatnya.
Pluralisme merupakan salah satu dari tiga produk pemerintahan selama kepemimpinan Gusdur. Dua
yang lainnya adalah Pengembalian Pemerintahan Sipil, yaitu pengelolaan lembaga pemerintah
dikembalikan ke rakyat sipil dan mengembalikan fungsi aparat ke fungsi asalnya, serta Anti Korupsi.
Pluralisme menjadi yang paling efektif diterapkan hingga sekarang karena mendapat dukungan dari
semua pihak. Karena seluruh rakyat Indonesia menghendaki kehidupan bernegara yang damai
ditengah kekayaan dalam keberagaman.
Dampaknya pun terasa hingga sekarang. Jalanan dipemukiman penduduk lebih beragam, pentas
seni dan budaya Tionghoa dipentaskan, dan semua orang menikmatinya. Generasi muda yang
keturunan Tionghoa pun tidak merasa dirinya sebagai orang Cina tetapi sebagai orang Indonesia.
Mereka menuntut ilmu ke luar negeri dan kembali ke Indonesia lalu membangun ekonomi
masyarakat. Perusahaan-perusahaan startup yang sukses diotaki oleh generasi-generasi muda
keturunan Tionghoa dan mereka bangga sebagai orang Indonesia.
Menyambut Tahun Baru Imlek ke-2569, mari kita tepiskan anggapan yang merendahkan warga
negara keturunan Tionghoa. Karena kita semua adalah Warga Indonesia, sudah saatnya untuk
menghilangkan istilah “warga negara keturunan Tionghoa”, karena kita satu Indonesia.

Tiada Imlek tanpa Gus Dur

oleh: Panji Kharisma Jaya

 

Sejak masa kemerdekaan Indonesia, warga negara keturunan Tionghoa selalu dijadikan sasaran oleh mayoritas yang tidak menghargai minoritas. Mungkin ada hubungannya dengan politik kolonial Belanda. Politik pecah belas itu memberikan warga keturunan Tionghoa pada posisi yang istimewa di masyarakat Hindia Belanda.

Sebaliknya pemerintah Indonesia membedakan keturunan Tionghoa dari keturunan yang disebut pribumi, walaupun sama-sama telah hidup di Indonesia bergenerasi lamanya. Padahal, pimpinan rezim Sukarno dan Suharto kerap melibatkan warga keturunan Tionghoa dalam urusan politik dengan memperkaya konglomerat Tionghoa untuk dijadikan sumber dana kekuasaan politik. Karena sifat absolut rezim lalu jarang yang menentang politik rasis yang melanggar hak azasi manusia.

Saat kepemimpinan negara beralih ke K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia langsung menerapkan pluralisme yang mengakui semua warga negara dengan hak yang sama, termasuk warga keturunan Tionghoa. Semua dilindungi penuh oleh pemerintah sesuai hukum, dijamin haknya sebagai warga negara.Puncaknya adalah pengakuan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Raya Nasional. Dasarnya sederhana. Gus Dur mengingatkan bahwa Indonesia didirikan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. Keragaman  adalah alasan negara Indonesia dibentuk. Gus Dur sudah dikenal sebagai pembela pluralisme jauh sebelum beliau diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia.

Beliau membantu perjuangan para warga keturunan Tionghoa dengan berbagai cara, mulai dari penelitian hingga dakwah, sehingga pada masa kepemimpinan beliau, warga keturunan Tionghoa dengan cepat mendapat pengakuan dan perlindungan penuh. Hari Raya Imlek yang sebelumnya tidak dirayakan secara terbuka menjadi simbol puncak persamaan hak. Sebelum Gus Dur, tidak ada Imlek di Indonesia. Generasi muda Indonesia banyak yang tidak menyadari ini dan mengira bahwa Imlek sudah diakui dari dulu.

Keberhasilan Gus Dur dalam melindungi dan mengakui hak para warga keturunan Tionghoa  contoh pluralisme yang dihargai negara maju di seluruh dunia dan memberikan kembali martabet yang sebelumnya hilang dalam rezim pelanggar hak azasi manusia.

Setiap kunjungan kenegaraan ke luar negeri, Indonesia selalu disambut dengan hormat. Ratu Belanda menyambut di rumahnya sendiri, Presiden Clinton meluangkan waktu untuk berbincang meskipun tidak masuk dalam agendanya, negara-negara Timur Tengah pun senang karena ada negara dengan mayoritas penduduk Islam yang menghargai perbedaan masyarakatnya.

Dampaknya terasa hingga sekarang. Generasi muda yang keturunan Tionghoa pun tidak merasa dirinya sebagai orang Cina tetapi sebagai orang Indonesia. Mereka menuntut ilmu ke luar negeri dan kembali ke Indonesia dan berkarya termasuk membangun bisnis.

Print article only

0 Comments:

« Home