Articles

Kesehatan untuk Pembangunan


20 March 2018

Oleh: Panji Kharisma Jaya 

Menjelang pelaksanaan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada April  - Mei 2018, terdapat beberapa topik yang menarik untuk diangkat menjadi highlight, salah satunya adalah penyakit menular dan tidak menular.

Berdasarkan keterangan Prof. Dr. Hasbullah Thabrany, penyakit tidak menular menjadi penyebab 2/3 kematian di Indonesia. Beberapa penyakit tidak menular tersebut adalah Diabetes, Kanker, dan Tekanan Darah Tinggi. Sayangnya, penyakit tidak menular justru lebih sulit dibasmi dibandingkan dengan penyakit menular.

Penyakit tidak menular erat kaitannya dengan pola hidup tidak sehat yang ironisnya menyerang sebagian besar masyarakat di kota besar. Konsumsi gula, lemak, dan karbohidrat yang tinggi tidak diimbangi dengan aktifitas fisik yang idealnya 3 jam dalam seminggu. Hal ini diperparah dengan konsumsi rokok yang tinggi.

Faktor stress menjadi salah satu alasan bagi masyarakat kota besar untuk menerapkan pola hidup tidak sehat. Konsumsi gula, lemak dan karbohidrat yang berlebihan dapat menyebabkan obesitas, yang akhirnya berujung pada diabetes dan tekanan darah tinggi. Konsumsi rokok pun menyebabkan lebih dari 40 penyakit, salah satunya kanker. Penyakit-penyakit tidak menular yang disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat ini baru dapat terasa dampaknya 20 hingga 30 tahun mendatang, sehingga akan sangat sulit untuk bisa dicegah, karena dampaknya belum terasa, masyarakat pun enggan untuk mencegahnya sendiri.

Masyarakat di kota kecil dan pedesaan juga tidak luput dari konsumsi rokok, justru belanja rumah tangga terbanyak nomor 2 setelah beras adalah rokok. Ditambah dengan harganya yang relatif murah dan bisa dibeli secara ketengan, perilaku konsumsi rokok menjadi sangat sulit untuk dihindari. Hal ini diperparah dengan pengaruh media, baik media sosial maupun media massa, yang kerap memuat konten rokok dalam iklan mereka. Peran tokoh masyarakat pun masih sangat minim, dapat dilihat dengan masih maraknya ulama dan kiai yang masih merokok secara rutin.

Berbeda dengan penyakit tidak menular, penyakit menular bisa dicegah dengan metode yang relatif lebih mudah. Penyediaan vaksin dan alat monitoring kesehatan yang menyeluruh ke puskesmas-puskesmas dapat menjadi senjata utama dalam memerangi penyakit menular.

Salah satu cara paling ampuh dalam memberantas penyakit, baik menular maupun tidak, adalah dengan deteksi sejak dini. Jika pembangunan puskesmas secara massal masih dirasa sulit, mempermudah izin praktek dokter akan menjadi solusi alterntif yang lebih mudah. Kehadiran dokter di tengah-tengah masyarakat tentu akan meningkatkan usaha pemberantasan penyakit. Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan pun akan lebih mudah terlaksana jika melibatkan tidak hanya peran pemerintah, tetapi juga masyarakat dan juga swasta.

Riskesdas 2018 akan diintegrasikan dengan Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Riskesdas akan mengukur Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) Indonesia. Riskesdas akan dilakukan serentak pada 34 Provinsi, yang mencakup 514 Kabupaten/Kota, 30.000 blok sensus, 300.000 rumah tangga, atau sekitar 1,2 juta jiwa. Hasil Riskesdas ini akan digunakan untuk merumuskan arah kebijakan di bidang kesehatan dalam skala nasional maupun daerah yang kemudian akan disusun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) untuk tahun 2019 – 2024. Karena itu, Prof. Hasbullah menghimbau kepada masyarakat untuk dapat berpartisipasi secara aktif dalam Riskesdas. Jawab pertanyaan yang diberikan secara jujur, sehingga nantinya kondisi kesehatan masyarakat dapat dipetakan dengan baik, dan arah kebijakan pun dapat dirancang dengan lebih akurat. 

Print article only

0 Comments:

« Home