Articles

Gaya Jokowi Menjawab Isu-isu Negatif


21 March 2018

Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

Johan Budi di Kantor Yayasan Perspektif Baru

Mengapa banyak isu-isu negatif yang dialamatkan kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo atau yang populer disebut Jokowi? Dan bagaimana Jokowi menanggapinya? Staf Khusus Presiden Johan Budi dengan santai berbagi perpektifnya kepada Wimar Witoelar ketika mendatangi kantor Yayasan Perspektif Baru pada Senin 19 Maret 2018.

 

Johan Budi yang sebelumnya menjabat Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku sering disalahpahami sebagai juru bicara presiden. “Sebenarnya tidak ada jabatan struktural juru bicara presiden. Keputusan presidennya adalah Staf Khusus Presiden. Tetapi tugas saya adalah menyampaikan apa yang dilakukan dan apa yang akan dilakukan oleh Presiden. Karena itu di publik dikenal sebagai juru bicara presiden.”

 

Johan mengakui ada banyak isu-isu negatif yang tidak benar yang disebarkan mengenai Jokowi seperti bahwa ia adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) dan dikuasai China. Ini juga disebabkan bahwa banyak apa yang dilakukan pemerintah tidak sampai kepada publik. Banyak orang lebih ramai terhadap hal-hal yang bombastis dan SARA.

 

“Misalnya seperti tuduhan PKI yang menurut saya juga tidak masuk akal. Karena Pak Jokowi lahir tahun 1961 kemudian dikatakan anggota PKI. PKI sendiri bubar tahun 1965. Jadi tidak mungkin.”

 

Isu-isu tersebut sengaja dan akan dimainkan oleh lawan-lawan politik Presiden di Pemilihan Umum berikutnya karena laku dan begitu digemari. Meskipun secara nyata Presiden itu bukan PKI tapi isu tersebut gampang sekali dikembangkan di masyarakat. Johan membagi menjadi masyarakat menjadi tiga kelompok. Pertama adalah haters yang melihat apa pun yang dilakukan Presiden selalu salah. Yang kedua lovers yang melihat apapun yang dilakukan Presiden selalu dibela. Yang ketiga ini kalau istilah Pemilu adalah massa mengambang yaitu silent majority yang jumlahnya sangat besarharus diberi informasi yang benar.

Johan Budi dan Wimar Witoelar

Jokowi memiliki gaya dan cara sendiri ketika menghadapi isu-isu negatif yang ditujukan kepadanya. Pertama ialah ia tetap bekerja sebagaimana seharusnya.

 

“Saya kira kita tahu bersama bahwa apa yang dilakukan Presiden Joko Widodo dalam kurun waktu 3-4 tahun adalah benar-benar menjalankan apa yang seharusnya seorang Presiden lakukan. Ia ini memfokuskan pada infrastruktur di tahun pertama dan kedua. Kita ingat dulu ada tol laut yang di awal-awal dicibir. Sekarang baru kelihatan apa sih fungsi dan keuntungan tol laut. BBM di Papua bisa dibuat sama dengan yang ada di Jawa. Kemudian sekarang sudah lebih dari 50-60% pertambahan jalur yang dibuat tol laut tersebut. Masyarakat-masyarakat yang berbatasan dengan negara lain itu benar-benar diperhatikan,” ujar Johan.

 

Selain tetap bekerja Jokowi juga tetap berupaya membangun komunikasi dengan cara dan gaya khasnya yang sederhana. Ia mendekati masyarakat dan menjelaskan dalam kunjungan ke pelosok-pelosok, kepada kelompok-kelompok agama yang tidak hanya Islam tapi juga agama lain.

 

Presiden juga menggunakan vlog dalam rangka menggunakan tools dalam berkomunikasi. Itu digunakan dalam rangka menjelaskan apa yang sedang dilakukan pemerintah. Juga dalam rangka menjelaskan ke kelompok silent majority. Tak hanya vlog tapi juga berbagai kegiatan dilakukan.

 

Johan bercerita pengalamannya bersama Presiden mengunjungi masyarakat mengatakan, “Saya beberapa kali mengikuti kunjungan kerja ke provinsi yang waktu Pemilu 2014 itu lebih banyak tidak memilih Pak Jokowi. Angka prosentasenya sekitar 30 persen untuk Pak Jokowi. Apa yang saya lihat jauh berbeda dengan gambaran Pemilu 2014. Mereka histeris dan berebut salaman. Pembangunan dirasa menyentuh mereka dan semakin banyak informasi yang masuk ke mereka. Presiden kalau ke masyarakat langsung bersentuhan dengan publik rakyat kecil. Masyarakat yang dulunya mendapatkan informasi yang salah akibat hoax atau fitnah sekarang sudah mulai terbuka.”

Print article only

0 Comments:

« Home