Articles

Demokrasi Sebagai Inti ke-Indonesia-an


28 May 2018

Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

 

Titi Anggraeni

 

 

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi Titi Anggraini menegaskan bahwa kita harus optimis terhadap demokrasi kita karena demokrasi sebenarnya adalah ke-Indonesia-an kita. Bagaimanapun demokrasi masih menawarkan sesuatu yang lebih baik dibandingkan alternatif-alternatifnya yaitu oligarki dan otoritarian. Kalau demokrasi tidak dipelihara maka kedua alternatif itulah yang akan kembali. Demikian diutarakan Titi ketika berkunjung ke Kantor Yayasan Perspektif Baru pada 4 Mei 2018.
Titi Anggraini mengatakan bahwa pelaksanaan Pemilu di Indonesia telah menjadi semakin secara prosedural. Dunia mengakui dengan menjadikan prosedur yang kita jalani dalam berdemokrasi sebagai rujukan pengorganisasian Pemilu. Hanya saja ini tidak berarti Pemilu kita sudah bersih dari kekurangan. Ada berbagai ekspektasi dari publik yang tidak terpenuhi dalam masalah hasil Pemilu di antaranya peningkatan pelayanan publik, dan bersihnya tata kelola pemerintahan. Dari sisi kualitas kandidat pun masih ada masalah. Dari kandidat-kandidat kepala daerah pada pemilihan Pilkada serentak 2018 sudah ada 8 yang ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) termasuk calon gubernur di Lampung dan Sulawesi Tenggara..
Isu yang terbaru muncul sekarang adalah pencegahan mantan napi koruptor untuk maju dalam pemilihan. Sebenarnya kalau ada political will yang baik dari para pemangku kepentingan maka mudah saja mengeluarkan Undang-Undangnya. Namun sekarang hal itu belum terwujud. KPU sedang berusaha melakukan langkah-langkah progresif untuk mencegah agar mereka para mantan narapidana tersebut tidak dapat menjadi calon dalam pemilihan. Masyarakat sipil harusnya mendukung upaya tersebut. 
Ikuti wawancara selengkapnya di :
http://www.perspektifbaru.com/wawancara/1156/

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi Titi Anggraini menegaskan bahwa kita harus optimis terhadap demokrasi kita karena demokrasi sebenarnya adalah ke-Indonesia-an kita. Bagaimanapun demokrasi masih menawarkan sesuatu yang lebih baik dibandingkan alternatif-alternatifnya yaitu oligarki dan otoritarian. Kalau demokrasi tidak dipelihara maka kedua alternatif itulah yang akan kembali. Demikian diutarakan Titi ketika berkunjung ke Kantor Yayasan Perspektif Baru pada 4 Mei 2018.

 

Titi Anggraini mengatakan bahwa pelaksanaan Pemilu di Indonesia telah menjadi semakin secara prosedural. Dunia mengakui dengan menjadikan prosedur yang kita jalani dalam berdemokrasi sebagai rujukan pengorganisasian Pemilu. Hanya saja ini tidak berarti Pemilu kita sudah bersih dari kekurangan. Ada berbagai ekspektasi dari publik yang tidak terpenuhi dalam masalah hasil Pemilu di antaranya peningkatan pelayanan publik, dan bersihnya tata kelola pemerintahan. Dari sisi kualitas kandidat pun masih ada masalah. Dari kandidat-kandidat kepala daerah pada pemilihan Pilkada serentak 2018 sudah ada 8 yang ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) termasuk calon gubernur di Lampung dan Sulawesi Tenggara..

 

Isu yang terbaru muncul sekarang adalah pencegahan mantan napi koruptor untuk maju dalam pemilihan. Sebenarnya kalau ada political will yang baik dari para pemangku kepentingan maka mudah saja mengeluarkan Undang-Undangnya. Namun sekarang hal itu belum terwujud. KPU sedang berusaha melakukan langkah-langkah progresif untuk mencegah agar mereka para mantan narapidana tersebut tidak dapat menjadi calon dalam pemilihan. Masyarakat sipil harusnya mendukung upaya tersebut. 

 

Ikuti wawancara selengkapnya di :

http://www.perspektifbaru.com/wawancara/1156/

 

 

Print article only

0 Comments:

« Home