Articles

Mengabaikan Pesan-pesan Bohong dan Ajak Teman-Kerabat Ikut Memilih


21 January 2019

Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

maskot pemilu

Maskot Pemilu 2019 (sumber: http://kab-pidie.kpu.go.id)

 

“Pemilu 2019 akan dimenangkan di bilik suara, tidak perlu memberikan perhatian pada hoaxes dan ajak teman-teman maupun kerabat untuk memilih,” ide Wimar Witoelar pendiri Yayasan Perspektif Baru yang juga pernah menjabat sebagai juru bicara Presiden Republik Indonesia ke-4.

 

Benar bahwa perkembangan politik akhir-akhir ini begitu meresahkan. Kenapa begitu banyak kebohongan (hoax) yang beredar. Dan kenapa juga banyak orang di masyarakat yang terpedaya ikut percaya bahkan ikut menyebarkannya. Padahal ide demokrasi adalah pemerintahan berada di tangan rakyat. Kita sangat perlu masyarakat yang cerdas jika ingin maju dan berkembang dengan demokrasi yang sehat.

 

Tapi memang tidak realistis berharap bisa mendidik masyarakat menjadi cerdas sedangkan pemilihan umum 2019 sudah di depan mata. Mau tidak mau kita lebih perlu realistis agar agenda besar tersebut bisa berjalan baik untuk tujuan bersama. Kalau kita mengejar yang ideal saja maka entah kapan bisa tercapai, sedangkan waktu Pemilu yang tinggal beberapa bulan lagi sudah harus ada keputusan bersama.

 

Sehingga ajakan sederhana yang realistis sebagaimana yang dikemukakan Wimar Witoelar menjadi jelas. Pemilu 2019 yang sudah di depan mata akan dimenangkan di bilik suara, karenanya kita perlu ajak semua orang untuk (1) mengabaikan informasi-informasi bohong yang banyak beredar dan (2) ajak teman-kerabat untuk ikut memilih.

 

Kesederhanaan pada pesan tersebut adalah kuncinya. Sederhana berarti pesan-pesan tersebut bisa mudah dipahami semua kalangan. Sehingga berarti juga pesan-pesannya mudah diterima dan dilakukan oleh semua kalangan. Ini lebih efektif dibandingkan argumen-argumen ilmiah yang rumit dengan menyajikan berbagai macam data, teori, bahkan angka-angka statistik. Kalau kita sebarkan 2 ajakan sederhana ini maka cukuplah untuk menjadi solusi suksesnya Pemilu 2019.

“Pemilu 2019 akan dimenangkan di bilik suara, tidak perlu memberikan perhatian pada hoaxes dan ajak teman-teman maupun kerabat untuk memilih,” ide Wimar Witoelar pendiri Yayasan Perspektif Baru yang juga pernah menjabat sebagai juru bicara Presiden Republik Indonesia ke-4.
 
Benar bahwa perkembangan politik akhir-akhir ini begitu meresahkan. Kenapa begitu banyak kebohongan (hoax) yang beredar. Dan kenapa juga banyak orang di masyarakat yang terpedaya ikut percaya bahkan ikut menyebarkannya. Padahal ide demokrasi adalah pemerintahan berada di tangan rakyat. Kita sangat perlu masyarakat yang cerdas jika ingin maju dan berkembang dengan demokrasi yang sehat.
 
Tapi memang tidak realistis berharap bisa mendidik masyarakat menjadi cerdas sedangkan pemilihan umum 2019 sudah di depan mata. Mau tidak mau kita lebih perlu realistis agar agenda besar tersebut bisa berjalan baik untuk tujuan bersama. Kalau kita mengejar yang ideal saja maka entah kapan bisa tercapai, sedangkan waktu Pemilu yang tinggal beberapa bulan lagi sudah harus ada keputusan bersama.
 
Sehingga ajakan sederhana yang realistis sebagaimana yang dikemukakan Wimar Witoelar menjadi jelas. Pemilu 2019 yang sudah di depan mata akan dimenangkan di bilik suara, karenanya kita perlu ajak semua orang untuk (1) mengabaikan informasi-informasi bohong yang banyak beredar dan (2) ajak teman-kerabat untuk ikut memilih.
 
Kesederhanaan pada pesan tersebut adalah kuncinya. Sederhana berarti pesan-pesan tersebut bisa mudah dipahami semua kalangan. Sehingga berarti juga pesan-pesannya mudah diterima dan dilakukan oleh semua kalangan. Ini lebih efektif dibandingkan argumen-argumen ilmiah yang rumit dengan menyajikan berbagai macam data, teori, bahkan angka-angka statistik. Kalau kita sebarkan 2 ajakan sederhana ini maka cukuplah untuk menjadi solusi suksesnya Pemilu 2019.

 

 

 

Print article only

0 Comments:

« Home