Articles

Fokus pada COVID-19, Bukan Politik


12 July 2020

Oleh: Wimar Witoelar

 

Jangan Mengurus Politik Kecil 

 

Pertahankan fokus pada pandemi COVID-19. Satu hal yang kita amati selama COVID-19 berjangkit di Indonesia adalah fokus agenda media, agenda masyarakat, dan seluruh kegiatan ada pada masalah COVID-19, yaitu bagaimana menghindari penyebarannya, dan bagaimana mengatasinya. 

 

Bahkan selama bulan-bulan ini tidak terdengar pembicaraan politik yang biasanya memenuhi sosial media dan percakapan kita. Tidak ada lagi suara dari orang-orang yang punya ambisi politik yang menimbulkan kebisingan. Sebenarnya masih ada tapi sedikit. Ini bagus sekali karena sebetulnya kalau mau berpolitik, berpolitiklah berdasarkan isu. Satu-satunya isu yang sekarang patut dibicarakan adalah isu strategi menangani COVID-19.

 

Kapan orang mulai bekerja? Sektor mana yang boleh mulai bekerja? Aturan mana yang diterapkan pada waktu mulai bekerja lagi? Juga hal-hal yang merupakan kebijaksanaan dunia pasca COVID-19. Itulah yang patut dibicarakan. Politik yang lain hanya politik identitas atau politik beradu kekuasaan. Itu sangat kecil. 

 

Memang ada orang-orang yang tadinya tidak selalu aktif, sekarang mulai menyusun barisan dengan berkantor sendiri. Maksudnya mempunyai kantor khusus untuk ketemu orang-orang yang menyebarkan gosip - gosip politik di media. Karena kebetulan orang ini juga dekat dengan pemilik media. Ini kebetulan memang bukan orang jahat tapi dia juga yang mengalihkan perhatian dari COVID-19. Sedangkan yang paling perlu sekarang adalah jangan teralih perhatian dari penanganan COVID-19. 

 

Janganlah mengurus politik kecil, politik pribadi agenda perebutan kekuasaan. Biarkanlah seakan-akan orang Indonesia lupa berpolitik, dan biarkanlah sosial media hanya berisi soal-soal sehari-hari, soal bagaimana mengatasi kebutuhan karena tidak adanya kegiatan ekonomi, dan bagaimana memelihara kesehatan supaya terhindar dari COVID-19.

 

Tidak usah lagi bicara partai ini - partai itu, calon ini - calon itu, Pilkada, Pilpres. Itu nanti saja. Jangan mulai dari sekarang walaupun ada yang mulai dari sekarang sudah bicara politik, terutama dimulai dengan politik menyalahkan Jokowi. Kita lihat sudah pasti kalau ada orang mempersoalkan Jokowi itu orangnya sebetulnya tidak mengerti kebijaksanaan apa yang dijalankan Jokowi secara salah. Hanya saja mungkin orang tersebut kesal kenapa Jokowi berkuasa dan dia tidak. 

 

Saya juga pernah di wawancara sampai tidak ditayangkan wawancaranya. Itu karena saya menolak untuk ikut menjelekkan Jokowi. Saya pikir mengapa disalahkan ke Jokowi mengenai COVID-19? Di mana salah kebijaksanaannya? Itu tidak bisa dijawab. Jadi bagusnya kita tetap fokus pada strategi mengatasi COVID-19.

 

 

Politik Indonesia di Persimpangan

 

Sebetulnya politik Indonesia sedang di satu titik persimpangan arena sejak selesainya pemilihan presiden tahun lalu. Bola persekutuan itu tidak begitu jelas terutama dengan melihat bahwa Jokowi memilih Prabowo untuk bersekutu dalam satu kabinet. Jadi prinsip dari pemilihan presiden lalu itu menjadi kabur atau hilang. Siapa melawan siapa tidak jelas karena keduanya berkumpul di satu tempat. Jadi yang dikhawatirkan adalah orang di luar dua orang itu, terutama orang-orang yang aktif dalam pemilihan gubernur, dan perusahaan - perusahaan serupa yang sekarang sedang giat. 

 

Itu karena gubernur DKI pun sebetulnya secara teknis adalah anak buah presiden. Jadi ada kesempatan orang untuk konsentrasi pada urusan mengatasi pandemi. Itu sudah bagus, politik ditangguhkan saja mengingat masa kerja Jokowi masih lama. Jadi baru pada 2024 harus berpikir mengenai presiden baru.

 

Tetapi ada juga yang mempersoalkan presiden baru sekarang-sekarang ini, yaitu dengan meminta Jokowi untuk turun. Tidak jelas untuk apa tetapi ada isu-isu yang dibuat-buat, dan ini bisa juga memengaruhi orang-orang yang tidak puas, orang yang bodoh. Jadi perhatian orang mulai terbagi, apalagi kalau kita mulai sudah siap - siap untuk mengaktifkan kembali ekonomi dan mengurangi berbagai pembatasan sosial, maka akan ada satu dunia baru dimana pilihan itu masih bebas.

 

Kita harus perhatikan di sini bagaimana dunia baru ini. Apa yang akan jadi perhatian di situ dan bagaimana kita menyusun strategi. Jika kita bukan pemain strategi, bagaimana kita menjalankan hidup kita agar kita tidak terjerembab lagi dalam perpolitikan. Ya konsentrasi lah kepada urusan pandemi karena tidak mudah untuk mengaktifkan kembali kegiatan ekonomi. Semua sektor  susah pulihnya, misalnya, sektor usaha kecil susah untuk memulainya lagi karena barangkali modal sudah tidak ada. Usaha besar sudah PHK dimana-mana. Proyeksinya sekitar 5,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Jadi tidak mudah bagi orang untuk aktif kembali.

 

Yang bagus kalau kita bisa memelihara fokus sehingga kesehatan kita terawat.  Ikutilah protokol kesehatan yang sangat masuk akal yaitu pasang jarak dengan orang lain, social distancing,  pakai masker, cuci tangan, dan ikut menjaga hidup yang lebih baik. Jadi itu saja, tidak usah ikut memikirkan politik. Tapi memang ada orang yang sengaja itu mengairi air keruh, menarik perhatian orang, dengan iming-iming bahwa kalau mengikuti gerakanan orang itu akan cepat bisa maju, atau selamat dari kehancuran.

 

Di sinilah kita harus pelihara fokus kepada pandemi. Jangan lagi memikirkan ideologi, pertikaian sejarah politik, apalagi pertikaian agama karena agama itu satu untuk semua orang. Agama itu diberikan oleh Tuhan untuk mencari jalan yang benar. Fokus pada urusan pandemi karena urusan pandemi itu tidak akan selesai bertahun-tahun. Itu karena Indonesia itu negara besar, disiplinnya begitu lemah, sehingga kalau orang berhasil menghentikan wabah di satu tempat, dia pasti muncul lagi di tempat lain. Ada gelombang kedua, lalu gelombang ketiga.

 

Sebetulnya kalau ada pimpinan negara atau pimpinan politik yang menawarkan satu strategi melawan pandemi, maka sebaiknya itu diikuti saja. Jangan membuat strategi sendiri-sendiri karena ini bukan pekerjaan orang  amatir, tapi ini pekerjaan para ahli. Kita juga kalau mau ikut memikirkan politik, maka harus tahu sejarah politik di Indonesia seperti apa.

 

Sekarang ini kalau orang berpolitik, kalau kita lihat mau ada orang mau bikin kumpul-kumpul walaupun virtual atau ada orang ingin membuat webinar, itu banyak sekali yang ujungnya ingin menyalahkan kebijakan pemerintah. Soalnya mencari kesalahan itu lebih gampang daripada bicara kebijakan atau policy.

 

Kalau saya diwawancara dan ditanya, apakah kebijakan pemerintah ini sudah bagus? Saya jawab kalau saya melihatnya bagus karena memang ada protokolnya, ada arahnya. Lalu ditanya apa tidak salah koordinasi dan Jokowi kurang wibawa? Saya tidak merasakan, jadi saya mengatakan  tidak tahu dimana kurangnya, dimana salahnya. Namun karena pewawancaranya tidak begitu pintar dia berhenti saja. Dia tidak lagi mewawancara dengan arah garis negatif ke Jokowi. Tapi karena tidak jadi wawancara dengan garis itu, maka sampai sekarang tidak dimuat.

 

Jadi saya pikir mengapa channel TV ini yang biasanya bisa diajak diskusi yang obyektif, sekarang seperti TV One zaman Aburizal Bakrie sedang kampanye. Semua wartawannya diarahkan ke satu tujuan. Sekarang juga ada beberapa media yang seperti itu dengan beberapa outlet, yang cenderung melemahkan kebijakan Jokowi dalam menangani COVID-19.

 

Momentum ini oleh orang-orang politik itu bisa digunakan untuk mempersiapkan politik pemilihan presiden empat tahun lagi dengan berbagai pilihan nama yang orang sudah ditandai untuk menjadi kemungkinan calon. Tetapi itu tidak ada gunanya untuk diikuti orang awam. Untuk orang yang biasanya mengikuti perkembangan politik, tidak ada gunanya juga mencari kendaraan politik pada hal ini karena dengan normal baru ini semua akan berbeda dari yang kemarin

 

Ada juga yang membantu kita untuk fokus terhadap pandemi, yaitu dengan mengingat kembali untuk jangan silau oleh orang keturunan tertentu yang terdengar berbunyi idealis, tetapi sebelumnya punya sejarah bikin onar. Kita malah seperti dikuasai oleh keturunan tertentu yang bukan keturunan China, tapi justu yang terkena diskriminasi di Indonesia masih keturunan China. Padahal mereka justru berbaur dan kelakukannya tidak berbeda dengan pribumi.

 

Isu rasial yang berbahaya ini sering dimainkan, dan kenapa orang mudah terbawa karena isunya gampang dibuat, kemudian gampang dibawa orang. Kalau orang kurang pintar maka mereka akan ikut saja dengan isu tertentu karena landasan ketidakpuasan atas isu yang sekarang. Masalahnya, kalau kita tidak puas dengan keadaan sekarang, apa keadaan lain yang mungkin ditawarkan? Apakah akan mencapai ke situ?

 

Pada akhirnya politik sebetulnya diukur dari kemampuan organisasi, orang atau partai dalam membawa kehidupan yang lebih baru. Kalau tidak jelas maka tunggu saja sampai pemilu berikutnya. Jangan terlalu percaya sama orang keturunan yang banyak bicara. Kalau dia banyak bikin onar maka tidak perlu diikuti.

 

 

Penyelesaian COVID-19 Tidak Mudah

 

Lalu, ada lagi alasan praktis mengapa kita harus fokus pada penyelesaian pandemi COVID-19, dan tidak menambah - nambah isu lain karena ada kesan bahwa ini sudah mulai mau dikurangi rekstriksinya, dan orang sudah memulai berbagai hal. Jadi barangkali sekarang mengurus COVID-19 tidak perlu terlalu intensif. Mungkin ada perasaan begitu, jadi orang mulai teralih perhatiannya pada isu politik dan soal-soal sampingan lainnya. Kalau di negara-negara lain ada keresahan seperti itu.

 

Kalau bagi kita sebetulnya COVID-19 susah sekali menyelesaikannya karena kita kekurangan data. Kita tidak pernah tahu sebetulnya sampai mana COVID-19 sudah bisa di atasi, dan itu bisa kembali setiap saat. Jadi kita harus fokus untuk mengamati pada skala pribadi kondisi kita. Jangan langsung jalan ke sana-sini.

 

Juga kita harus fokus sebagai satu negara pada kebijaksanaan yang melawan pandemi, dan juga kebijaksanaan yang tidak memecah belah persatuan. Banyak sekali yang kita harus pelajari dari keadaan normal baru (new normal). Ini mulai dari travel. Yang sering dibicarakan adalah naik pesawat terbang dimana keadaan akan berbeda dengan sebelum pandemi, baik dari jumlah pesawatnya, waktu persiapannya, dan dari kemungkinan kondisi di tempat tujuan.

 

Naik kereta api juga harus betul-betul dijaga jarak. Semua penjagaan jarak itu akan mempengaruhi revenue dari transportasi, sehingga mereka akan bertambah lagi beban keuangannya untuk bisa bangkit lagi dari penutupan selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

 

Jadi kompleks sekali masalah bagaimana mengatasi pandemi itu dan menjamin tidak ada gelombang kedua dan ketiga. Jadi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jangan teralih fokus pada masalah-masalah lain masalah yang tidak penting. Tetap fokus kepada menjaga kesehatan diri, persatuan antara teman-teman, masyarakat dan kemudian juga fokus pada penjagaan hubungan dengan pengelola Pandemi COVID-19. Itu yang paling penting.

Print article only

0 Comments:

« Home