Articles

Hidup Baru dengan Energi Terbarukan


12 October 2020

Penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan sangat penting untuk mitigasi perubahan iklim 

 


Malang, 12 Oktober 2020 - Saat ini perubahan iklim sedang terjadi. Jika laju perubahan iklim tidak dihentikan atau diperlambat, maka yang akan paling merasakan dampaknya di masa depan adalah generasi muda. Karena itu mereka harus memahami perubahan iklim dan menjadi aktor utama untuk membantu memperlambat proses perubahan iklim.

 

Sebagai upaya sosialisasi dan edukasi publik ke generasi muda khususnya mahasiswa mengenai pentingnya pemanfaatan energi bersih untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, Yayasan Perspektif Baru (YPB) bersama Konrad Adenauer Stiftung (KAS) dan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya, Malang menggelar program Perspektif Baru Webinar dengan topik Hidup Baru dengan Energi Terbarukan pada Senin (12/10).

 

Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah Pendiri Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, Dosen Universitas Brawijaya Profesor Yenny Risjani, dan Direktur Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hariyanto sebagai keynote speaker.

 

Menurut Wimar, kita sekarang berada dalam keadaan yang banyak masalah. Ada yang fokus memilih antara ekonomi dan kesehatan masyarakat di kala pandemi. Sebenarnya masalah-masalah yang ada termasuk perubahan iklim saling berkaitan sehingga tidak bisa dipisah-pisahkan.

 

“Bicara dengan mahasiswa itu selalu optimis karena pasti akan ketemu solusinya. Anak-anak muda bisa ikut membantu dengan memahami masalah dari para pakar yang ada. Anak muda bisa membantu masyarakat untuk tidak kehilangan konsentrasi di tengah berbagai masalah yang ada,” kata Wimar.

 

Hariyanto memaparkan bahwa Indonesia memiliki komitmen nasional berkontribusi dalam kesepakatan global mitigasi perubahan iklim Paris Agreement. Komitmen nasional tersebut telah ada dalam UU No. 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement menurunkan emisi GRK untuk sektor energi sebesar 314 juta ton CO2 sesuai NDC pada 2030. Tindakan mitigasi tersebut dilakukan di antaranya melalui penerapan energi terbarukan yang ditargetkan mencapai 23% bauran energi nasional pada tahun 2025, penerapan efisiensi energi dan penerapan teknologi bersih lainnya.


Cadangan energi fosil sangat terbatas, sedangkan potensi energi terbarukan sangat besar di seluruh Indonesia sekitar 442 GWe. Trend pemanfaatan energi kedepan juga mengarah ke energi bersih seperti energi terbarukan. Untuk mencapai target penerapan energi terbarukan dan penurunan emisi GRK tersebut , Pemerintah melakukan upaya akselerasi penerapan energi terbarukan i energi terbarukan untuk energi nasional. Salah satunya melalui berbagai strategi di antaranya : pengembangan PLTS, PLTBm secara massive, pengembangan EBT melalui sinergi dengan rencana pembangunan ecotourime listrik secara sistematis, pengembangan.

 

Fabby mengatakan bahwa perubahan iklim jika tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan bencana ekologis yang lebih besar dan berdampak serius. Seluruh dunia telah sepakat mengambil tindakan dalam Paris Agreement beberapa tahun lalu termasuk Indonesia. Bagi negara-negara yang sedang membangun seperti Indonesia sektor energi memainkan peranan yang penting.

 

Target penurunan gas rumah kaca Indonesia masih masuk kategori “highly insufficient”. Indonesia masih menggunakan supply energi yang didominasi bahan baar fosil. Indonesia pada saat ini masih berada dalam lima besar negara dengan emisi CO2 per kapita terbesar di dunia. Dengan kondisi business as usual maka pada 2030 diproyeksikan emisi dari sektor energi Indonesia akan menjadi meningkat hampir 4 kali lipat (58,2% dari total emisi).

 

“Sebenarnya Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar sekali yaitu mencapai 442,4 GW. Energi terbarukan juga merupakan sumber lapangan kerja bagi generasi muda. Namun hingga sekarang pemanfaatannya baru 2%. Ada berbagai hambatan dalam pemanfaatan energi terbarukan di antaranya ialah desain kebijakan yang buruk dan tidak transparan, ketiadaan institusi yang kuat dan berdedikasi, dan juga struktur harga yang tidak konsisten,” lanjutnya.

 

Menurut Yenny, algae bisa menjadi sumber energi terbarukan yang berasal dari laut. Algae lebih potensial dibandingkan dengan tanaman daratan karena pertumbuhannya sangat cepat yaitu mencapai 30 hingga 60 kali lebih cepat dibandingkan tanaman darat. Algae jenis microalgae bahkan bisa tumbuh menjadi dua kali lipat dalam beberapa jam. Tanaman ini juga bisa dipanen setiap hari.

 

“Algae sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam produksi biofuel. Potensi produksi biofuel dan biomassa-nya beberapa kali lipat lebih tinggi dibanding tanaman darat. Pemanfaatan yang tepat bisa menghasilkan 2.000 - 5.000 galon biofuel per hektar setiap tahunnya,” lanjutnya.

 

Yenny mengatakan peran generasi muda terutama mahasiswa sangat penting. Mahasiswa harus berpartisipasi dalam konservasi pengelolaan Lingkungan. Mahasiswa adalah pihak yang perlu menggerakkan konservasi dengan melibatkan seluruh stakeholders yang ada dalam konservasi yaitu pemerintah, NGO, dan masyarakat.

Penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan sangat penting untuk mitigasi perubahan iklim 

 

Malang, 12 Oktober 2020 - Saat ini perubahan iklim sedang terjadi. Jika laju perubahan iklim tidak dihentikan atau diperlambat, maka yang akan paling merasakan dampaknya di masa depan adalah generasi muda. Karena itu mereka harus memahami perubahan iklim dan menjadi aktor utama untuk membantu memperlambat proses perubahan iklim.

 

Sebagai upaya sosialisasi dan edukasi publik ke generasi muda khususnya mahasiswa mengenai pentingnya pemanfaatan energi bersih untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, Yayasan Perspektif Baru (YPB) bersama Konrad Adenauer Stiftung (KAS) dan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya, Malang menggelar program Perspektif Baru Webinar dengan topik Hidup Baru dengan Energi Terbarukan pada Senin (12/10).

 

Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah Pendiri Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, Dosen Universitas Brawijaya Profesor Yenny Risjani, dan Direktur Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hariyanto sebagai keynote speaker.

 

Menurut Wimar, kita sekarang berada dalam keadaan yang banyak masalah. Ada yang fokus memilih antara ekonomi dan kesehatan masyarakat di kala pandemi. Sebenarnya masalah-masalah yang ada termasuk perubahan iklim saling berkaitan sehingga tidak bisa dipisah-pisahkan.

 

“Bicara dengan mahasiswa itu selalu optimis karena pasti akan ketemu solusinya. Anak-anak muda bisa ikut membantu dengan memahami masalah dari para pakar yang ada. Anak muda bisa membantu masyarakat untuk tidak kehilangan konsentrasi di tengah berbagai masalah yang ada,” kata Wimar.

 

Hariyanto memaparkan bahwa Indonesia memiliki komitmen nasional berkontribusi dalam kesepakatan global mitigasi perubahan iklim Paris Agreement. Komitmen naional tersebut telah ada dalam UU No. 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement Menurunkan emisi GRK sesuai NDC pada 2030. Tindakan mitigasi tersebut dilakukan di antaranya dengan melalui target 23% energi terbarukan dari total campuran energi primer nasional pada tahun 2025.

 

Cadangan energi fosil sanggat terbatas, sedangkan potensi energi terbarukan sangat besar di seluruh Indonesia. Trend energi bersih juga mengarah ke energi bersih.Pemerintah terus menyempurnakan untuk mengakselerasi energi terbarukan untuk energi nasional. Salah satunya ialah dengan pengembangan pembangkit listrik secara sistematis.

 

Fabby mengatakan bahwa perubahan iklim jika tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan bencana ekologis yang lebih besar dan berdampak serius. Seluruh dunia telah sepakat mengambil tindakan dalam Paris Agreement beberapa tahun lalu termasuk Indonesia. Bagi negara-negara yang sedang membangun seperti Indonesia sektor energi memainkan peranan yang penting.

 

Target penurunan gas rumah kaca Indonesia masih masuk kategori “highly insufficient”. Indonesia masih menggunakan supply energi yang didominasi bahan baar fosil. Indonesia pada saat ini masih berada dalam lima besar negara dengan emisi CO2 per kapita terbesar di dunia. Dengan kondisi business as usual maka pada 2030 diproyeksikan emisi dari sektor energi Indonesia akan menjadi meningkat hampir 4 kali lipat (58,2% dari total emisi).

 

“Sebenarnya Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar sekali yaitu mencapai 442,4 GW. Energi terbarukan juga merupakan sumber lapangan kerja bagi generasi muda. Namun hingga sekarang pemanfaatannya baru 2%. Ada berbagai hambatan dalam pemanfaatan energi terbarukan di antaranya ialah desain kebijakan yang buruk dan tidak transparan, ketiadaan institusi yang kuat dan berdedikasi, dan juga struktur harga yang tidak konsisten,” lanjutnya.

 

Menurut Yenny, algae bisa menjadi sumber energi terbarukan yang berasal dari laut. Algae lebih potensial dibandingkan dengan tanaman daratan karena pertumbuhannya sangat cepat yaitu mencapai 30 hingga 60 kali lebih cepat dibandingkan tanaman darat. Algae jenis microalgae bahkan bisa tumbuh menjadi dua kali lipat dalam beberapa jam. Tanaman ini juga bisa dipanen setiap hari.

 

“Algae sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam produksi biofuel. Potensi produksi biofuel dan biomassa-nya beberapa kali lipat lebih tinggi dibanding tanaman darat. Pemanfaatan yang tepat bisa menghasilkan 2.000 - 5.000 galon biofuel per hektar setiap tahunnya,” lanjutnya.

 

Yenny mengatakan peran generasi muda terutama mahasiswa sangat penting. Mahasiswa harus berpartisipasi dalam konservasi pengelolaan Lingkungan. Mahasiswa adalah pihak yang perlu menggerakkan konservasi dengan melibatkan seluruh stakeholders yang ada dalam konservasi yaitu pemerintah, NGO, dan masyarakat.Penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan sangat penting untuk mitigasi perubahan iklim

 

Malang, 12 Oktober 2020 - Saat ini perubahan iklim sedang terjadi. Jika laju perubahan iklim tidak dihentikan atau diperlambat, maka yang akan paling merasakan dampaknya di masa depan adalah generasi muda. Karena itu mereka harus memahami perubahan iklim dan menjadi aktor utama untuk membantu memperlambat proses perubahan iklim.

 

Sebagai upaya sosialisasi dan edukasi publik ke generasi muda khususnya mahasiswa mengenai pentingnya pemanfaatan energi bersih untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, Yayasan Perspektif Baru (YPB) bersama Konrad Adenauer Stiftung (KAS) dan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya, Malang menggelar program Perspektif Baru Webinar dengan topik Hidup Baru dengan Energi Terbarukan pada Senin (12/10).

 

Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah Pendiri Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, Dosen Universitas Brawijaya Profesor Yenny Risjani, dan Direktur Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hariyanto sebagai keynote speaker.

 

Menurut Wimar, kita sekarang berada dalam keadaan yang banyak masalah. Ada yang fokus memilih antara ekonomi dan kesehatan masyarakat di kala pandemi. Sebenarnya masalah-masalah yang ada termasuk perubahan iklim saling berkaitan sehingga tidak bisa dipisah-pisahkan.

 

“Bicara dengan mahasiswa itu selalu optimis karena pasti akan ketemu solusinya. Anak-anak muda bisa ikut membantu dengan memahami masalah dari para pakar yang ada. Anak muda bisa membantu masyarakat untuk tidak kehilangan konsentrasi di tengah berbagai masalah yang ada,” kata Wimar.

 

Hariyanto memaparkan bahwa Indonesia memiliki komitmen nasional berkontribusi dalam kesepakatan global mitigasi perubahan iklim Paris Agreement. Komitmen naional tersebut telah ada dalam UU No. 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement Menurunkan emisi GRK sesuai NDC pada 2030. Tindakan mitigasi tersebut dilakukan di antaranya dengan melalui target 23% energi terbarukan dari total campuran energi primer nasional pada tahun 2025.

 

Cadangan energi fosil sanggat terbatas, sedangkan potensi energi terbarukan sangat besar di seluruh Indonesia. Trend energi bersih juga mengarah ke energi bersih.Pemerintah terus menyempurnakan untuk mengakselerasi energi terbarukan untuk energi nasional. Salah satunya ialah dengan pengembangan pembangkit listrik secara sistematis.

 

Fabby mengatakan bahwa perubahan iklim jika tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan bencana ekologis yang lebih besar dan berdampak serius. Seluruh dunia telah sepakat mengambil tindakan dalam Paris Agreement beberapa tahun lalu termasuk Indonesia. Bagi negara-negara yang sedang membangun seperti Indonesia sektor energi memainkan peranan yang penting.

 

Target penurunan gas rumah kaca Indonesia masih masuk kategori “highly insufficient”. Indonesia masih menggunakan supply energi yang didominasi bahan baar fosil. Indonesia pada saat ini masih berada dalam lima besar negara dengan emisi CO2 per kapita terbesar di dunia. Dengan kondisi business as usual maka pada 2030 diproyeksikan emisi dari sektor energi Indonesia akan menjadi meningkat hampir 4 kali lipat (58,2% dari total emisi).

 

“Sebenarnya Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar sekali yaitu mencapai 442,4 GW. Energi terbarukan juga merupakan sumber lapangan kerja bagi generasi muda. Namun hingga sekarang pemanfaatannya baru 2%. Ada berbagai hambatan dalam pemanfaatan energi terbarukan di antaranya ialah desain kebijakan yang buruk dan tidak transparan, ketiadaan institusi yang kuat dan berdedikasi, dan juga struktur harga yang tidak konsisten,” lanjutnya.

 

Menurut Yenny, algae bisa menjadi sumber energi terbarukan yang berasal dari laut. Algae lebih potensial dibandingkan dengan tanaman daratan karena pertumbuhannya sangat cepat yaitu mencapai 30 hingga 60 kali lebih cepat dibandingkan tanaman darat. Algae jenis microalgae bahkan bisa tumbuh menjadi dua kali lipat dalam beberapa jam. Tanaman ini juga bisa dipanen setiap hari.

 

“Algae sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam produksi biofuel. Potensi produksi biofuel dan biomassa-nya beberapa kali lipat lebih tinggi dibanding tanaman darat. Pemanfaatan yang tepat bisa menghasilkan 2.000 - 5.000 galon biofuel per hektar setiap tahunnya,” lanjutnya.

 

Yenny mengatakan peran generasi muda terutama mahasiswa sangat penting. Mahasiswa harus berpartisipasi dalam konservasi pengelolaan Lingkungan. Mahasiswa adalah pihak yang perlu menggerakkan konservasi dengan melibatkan seluruh stakeholders yang ada dalam konservasi yaitu pemerintah, NGO, dan masyarakat.

Print article only

0 Comments:

« Home