Articles

Ketegasan Jokowi dan Kebablasan Trump


17 November 2020

Oleh: Wimar Witoelar

 

Potret peristiwa kerumunan yang sempat terjadi di tengah pandemi virus corona atau COVID-19 di Indonesia | Antara (sumber: akurat.co)

Potret peristiwa kerumunan yang sempat terjadi di tengah pandemi virus corona atau COVID-19 di Indonesia | Antara (sumber: akurat.co)

 

 

Keterangan Menteri Mahfud MD dengan didampingi para pimpinan penegak hukum di hadapan pers ibukota merupakan gerak yang menimbulkan kepercayaan, apalagi ada berita bahwa Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jawa Barat keduanya dicopot. Jadi lengkaplah gambaran bahwa ada sikap pemerintah yang tegas, tuntutan orang yang meragukan sikap pemerintah melawan intoleransi dan melawan pelanggar PSBB menjadi kurang dasarnya. 

 

Tidak kecil pula peran dari pada keberanian Nikita Mirzani untuk menampilkan dirinya sebagai tokoh anti intoleransi. Sudah lama memang intoleransi ini menghantui warga ibukota yang awalnya dimulai dengan pengangkatan Gubernur Anies Baswedan. 

 

Sekarang justru Anies sendiri yang dianggap atau diduga melakukan pelanggaran PSBB demi kesetiaannya kepada seorang pemimpin yang merupakan warga keturunan asing. Maka semboyan semula Gubernur bahwa Jakarta itu untuk orang asli menjadi semboyan hampa belaka. 

 

Kita tidak tahu bagaimana kelanjutannya sikap pemerintah yang berani itu, tapi bagaimanapun inisiatif ini merupakan isyarat yang sempurna dan yang masih akan berkelanjutan dengan tindakan. Apabila kita lihat berapa lamanya pemerintah berpikir sampai keluar dengan tindakan ini, maka kita bisa harapkan bahwa akan ada tindakan susulan di kemudian hari. Rakyat juga menginginkan negara ada di masa yang sulit, dan di sini negara ada tanpa disangsikan lagi. 

 

Walaupun kita lihat gambar kerumunan orang yang keterlaluan, tapi kita tahu justru itu melemahkan perjuangan kaum intoleran dengan menunjukkan bahwa mereka tidak memperhatikan pengamanan Covid, bahkan justru Gubernurnya sangat toleran terhadap para pelanggar PSBB. 

 

Walaupun dikatakan oleh Gubernur bahwa dia sudah mengirim surat, dan itu dipamerkannya sebagai suatu sikap yang berani, itu bukanlah keberanian melainkan sudah semestinya kewajiban Gubernur. Berani itu apabila menegur langsung dan mungkin menangkap beberapa pelanggar, sebab pelanggaran mereka terhadap kerumunan itu besar sekali, bukan hanya satu-dua, ini hal yang keterlaluan dan membuat malu kita di hadapan pers media asing. 

 

 

Mudah-mudahan di sini Presiden Jokowi bisa memulihkan kepercayaan rakyat kepadanya karena rakyat itu pada dasarnya percaya pada Jokowi, tetapi Jokowi seakan-akan tidak membalas kepercayaan itu dengan tindakan yang berani di pihak rakyat, ini adalah suatu saat yang penting untuk DKI dan untuk Jakarta. 

 

Sebaliknya berita dari Amerika Serikat menimbulkan kecemasan dan kekuatiran bahwa Trump bukannya keluar dengan tindakan yang bagus, tapi bahkan mengeluarkan keputusan yang mengkhawatirkan. Pertama, Trump mengumumkan penarikan pasukan sampai kira-kira setengahnya dari Afghanistan dan Irak, dan yang akan dilaksanakan dalam hari-hari terakhir masa kepresidennya. Ini artinya bukan saja dia akan melemahkan posisi anti-Taliban dan anti-Al Qaeda, tapi dia juga akan meninggalkan sesuatu kerumitan yang harus dihadapi Presiden Biden pada hari-hari pertama dia masuk gedung putih. 

 

Amerika adalah negara hukum, tetapi seringkali hukumnya dipakai oleh orang-orang yang tidak baik. Misalnya belum pernah ada Presiden yang kalah pemilihan lalu diam saja seperti Trump, tidak mengucapkan selamat kepada Presiden terpilih, tidak juga menunjukkan rasa penyambutannya, bahkan tidak mengizinkan orang-orang dalam pemerintahannya untuk menyediakan fasilitas serah-terima. 

 

Biden mengambil jalan untuk tidak bereaksi langsung terhadap sikap Trump itu, karena dia tahu masalah Trump itu adalah masalah ego, dan masalah ego lebih baik dibiarkan rusak sendiri. Sayangnya ego Trump itu begitu besarnya sehingga malah menimbulkan demonstrasi ribuan orang yang kita tidak tahu spontanitasnya. 

 

Hal ini menunjukkan bahwa dukungan massa terhadap Trump itu ada, sehingga kalaupun dia ini kalah dan suatu saat mengaku kalah, dengan dukungan yang nyata turun di jalan dan yang turun ke bilik suara yang waktu itu berjumlah 71 juta, maka modal untuk pemilihan Presiden 2024 itu sudah ada. Oleh karena itu, politisi kaum Republik tidak ada yang berani untuk melawan Trump secara terbuka walaupun secara pribadi banyak tidak yang suka pada dia. Jadi perkembangan pemerintahan di Indonesia positif, sedangkan di Amerika mengkhawatirkan.

Oleh: Wimar Witoelar

 

Potret peristiwa kerumunan yang sempat terjadi di tengah pandemi virus corona atau COVID-19 di Indonesia | Antara (sumber: akurat.co)

Potret peristiwa kerumunan yang sempat terjadi di tengah pandemi virus corona atau COVID-19 di Indonesia | Antara (sumber: akurat.co)

 

 

 

Keterangan Menteri Mahfud MD dengan didampingi para pimpinan penegak hukum di hadapan pers ibukota merupakan gerak yang menimbulkan kepercayaan, apalagi ada berita bahwa Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jawa Barat keduanya dicopot. Jadi lengkaplah gambaran bahwa ada sikap pemerintah yang tegas, tuntutan orang yang meragukan sikap pemerintah melawan intoleransi dan melawan pelanggar PSBB menjadi kurang dasarnya. 
Tidak kecil pula peran dari pada keberanian Nikita Mirzani untuk menampilkan dirinya sebagai tokoh anti intoleransi. Sudah lama memang intoleransi ini menghantui warga ibukota yang awalnya dimulai dengan pengangkatan Gubernur Anies Baswedan. 
Sekarang justru Anies sendiri yang dianggap atau diduga melakukan pelanggaran PSBB demi kesetiaannya kepada seorang pemimpin yang merupakan warga keturunan asing. Maka semboyan semula Gubernur bahwa Jakarta itu untuk orang asli menjadi semboyan hampa belaka. 
Kita tidak tahu bagaimana kelanjutannya sikap pemerintah yang berani itu, tapi bagaimanapun inisiatif ini merupakan isyarat yang sempurna dan yang masih akan berkelanjutan dengan tindakan. Apabila kita lihat berapa lamanya pemerintah berpikir sampai keluar dengan tindakan ini, maka kita bisa harapkan bahwa akan ada tindakan susulan di kemudian hari. Rakyat juga menginginkan negara ada di masa yang sulit, dan di sini negara ada tanpa disangsikan lagi. 
Walaupun kita lihat gambar kerumunan orang yang keterlaluan, tapi kita tahu justru itu melemahkan perjuangan kaum intoleran dengan menunjukkan bahwa mereka tidak memperhatikan pengamanan Covid, bahkan justru Gubernurnya sangat toleran terhadap para pelanggar PSBB. 
Walaupun dikatakan oleh Gubernur bahwa dia sudah mengirim surat, dan itu dipamerkannya sebagai suatu sikap yang berani, itu bukanlah keberanian melainkan sudah semestinya kewajiban Gubernur. Berani itu apabila menegur langsung dan mungkin menangkap beberapa pelanggar, sebab pelanggaran mereka terhadap kerumunan itu besar sekali, bukan hanya satu-dua, ini hal yang keterlaluan dan membuat malu kita di hadapan pers media asing. 
Mudah-mudahan di sini Presiden Jokowi bisa memulihkan kepercayaan rakyat kepadanya karena rakyat itu pada dasarnya percaya pada Jokowi, tetapi Jokowi seakan-akan tidak membalas kepercayaan itu dengan tindakan yang berani di pihak rakyat, ini adalah suatu saat yang penting untuk DKI dan untuk Jakarta. 
Sebaliknya berita dari Amerika Serikat menimbulkan kecemasan dan kekuatiran bahwa Trump bukannya keluar dengan tindakan yang bagus, tapi bahkan mengeluarkan keputusan yang mengkhawatirkan. Pertama, Trump mengumumkan penarikan pasukan sampai kira-kira setengahnya dari Afghanistan dan Irak, dan yang akan dilaksanakan dalam hari-hari terakhir masa kepresidennya. Ini artinya bukan saja dia akan melemahkan posisi anti-Taliban dan anti-Al Qaeda, tapi dia juga akan meninggalkan sesuatu kerumitan yang harus dihadapi Presiden Biden pada hari-hari pertama dia masuk gedung putih. 
Amerika adalah negara hukum, tetapi seringkali hukumnya dipakai oleh orang-orang yang tidak baik. Misalnya belum pernah ada Presiden yang kalah pemilihan lalu diam saja seperti Trump, tidak mengucapkan selamat kepada Presiden terpilih, tidak juga menunjukkan rasa penyambutannya, bahkan tidak mengizinkan orang-orang dalam pemerintahannya untuk menyediakan fasilitas serah-terima. 
Biden mengambil jalan untuk tidak bereaksi langsung terhadap sikap Trump itu, karena dia tahu masalah Trump itu adalah masalah ego, dan masalah ego lebih baik dibiarkan rusak sendiri. Sayangnya ego Trump itu begitu besarnya sehingga malah menimbulkan demonstrasi ribuan orang yang kita tidak tahu spontanitasnya. 
Hal ini menunjukkan bahwa dukungan massa terhadap Trump itu ada, sehingga kalaupun dia ini kalah dan suatu saat mengaku kalah, dengan dukungan yang nyata turun di jalan dan yang turun ke bilik suara yang waktu itu berjumlah 71 juta, maka modal untuk pemilihan Presiden 2024 itu sudah ada. Oleh karena itu, politisi kaum Republik tidak ada yang berani untuk melawan Trump secara terbuka walaupun secara pribadi banyak tidak yang suka pada dia. Jadi perkembangan pemerintahan di Indonesia positif, sedangkan di Amerika mengkhawatirkan.
Keterangan Menteri Mahfud MD dengan didampingi para pimpinan penegak hukum di hadapan pers ibukota merupakan gerak yang menimbulkan kepercayaan, apalagi ada berita bahwa Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jawa Barat keduanya dicopot. Jadi lengkaplah gambaran bahwa ada sikap pemerintah yang tegas, tuntutan orang yang meragukan sikap pemerintah melawan intoleransi dan melawan pelanggar PSBB menjadi kurang dasarnya. 
Tidak kecil pula peran dari pada keberanian Nikita Mirzani untuk menampilkan dirinya sebagai tokoh anti intoleransi. Sudah lama memang intoleransi ini menghantui warga ibukota yang awalnya dimulai dengan pengangkatan Gubernur Anies Baswedan. 
Sekarang justru Anies sendiri yang dianggap atau diduga melakukan pelanggaran PSBB demi kesetiaannya kepada seorang pemimpin yang merupakan warga keturunan asing. Maka semboyan semula Gubernur bahwa Jakarta itu untuk orang asli menjadi semboyan hampa belaka. 
Kita tidak tahu bagaimana kelanjutannya sikap pemerintah yang berani itu, tapi bagaimanapun inisiatif ini merupakan isyarat yang sempurna dan yang masih akan berkelanjutan dengan tindakan. Apabila kita lihat berapa lamanya pemerintah berpikir sampai keluar dengan tindakan ini, maka kita bisa harapkan bahwa akan ada tindakan susulan di kemudian hari. Rakyat juga menginginkan negara ada di masa yang sulit, dan di sini negara ada tanpa disangsikan lagi. 
Walaupun kita lihat gambar kerumunan orang yang keterlaluan, tapi kita tahu justru itu melemahkan perjuangan kaum intoleran dengan menunjukkan bahwa mereka tidak memperhatikan pengamanan Covid, bahkan justru Gubernurnya sangat toleran terhadap para pelanggar PSBB. 
Walaupun dikatakan oleh Gubernur bahwa dia sudah mengirim surat, dan itu dipamerkannya sebagai suatu sikap yang berani, itu bukanlah keberanian melainkan sudah semestinya kewajiban Gubernur. Berani itu apabila menegur langsung dan mungkin menangkap beberapa pelanggar, sebab pelanggaran mereka terhadap kerumunan itu besar sekali, bukan hanya satu-dua, ini hal yang keterlaluan dan membuat malu kita di hadapan pers media asing. 
Mudah-mudahan di sini Presiden Jokowi bisa memulihkan kepercayaan rakyat kepadanya karena rakyat itu pada dasarnya percaya pada Jokowi, tetapi Jokowi seakan-akan tidak membalas kepercayaan itu dengan tindakan yang berani di pihak rakyat, ini adalah suatu saat yang penting untuk DKI dan untuk Jakarta. 
Sebaliknya berita dari Amerika Serikat menimbulkan kecemasan dan kekuatiran bahwa Trump bukannya keluar dengan tindakan yang bagus, tapi bahkan mengeluarkan keputusan yang mengkhawatirkan. Pertama, Trump mengumumkan penarikan pasukan sampai kira-kira setengahnya dari Afghanistan dan Irak, dan yang akan dilaksanakan dalam hari-hari terakhir masa kepresidennya. Ini artinya bukan saja dia akan melemahkan posisi anti-Taliban dan anti-Al Qaeda, tapi dia juga akan meninggalkan sesuatu kerumitan yang harus dihadapi Presiden Biden pada hari-hari pertama dia masuk gedung putih. 
Amerika adalah negara hukum, tetapi seringkali hukumnya dipakai oleh orang-orang yang tidak baik. Misalnya belum pernah ada Presiden yang kalah pemilihan lalu diam saja seperti Trump, tidak mengucapkan selamat kepada Presiden terpilih, tidak juga menunjukkan rasa penyambutannya, bahkan tidak mengizinkan orang-orang dalam pemerintahannya untuk menyediakan fasilitas serah-terima. 
Biden mengambil jalan untuk tidak bereaksi langsung terhadap sikap Trump itu, karena dia tahu masalah Trump itu adalah masalah ego, dan masalah ego lebih baik dibiarkan rusak sendiri. Sayangnya ego Trump itu begitu besarnya sehingga malah menimbulkan demonstrasi ribuan orang yang kita tidak tahu spontanitasnya. 
Hal ini menunjukkan bahwa dukungan massa terhadap Trump itu ada, sehingga kalaupun dia ini kalah dan suatu saat mengaku kalah, dengan dukungan yang nyata turun di jalan dan yang turun ke bilik suara yang waktu itu berjumlah 71 juta, maka modal untuk pemilihan Presiden 2024 itu sudah ada. Oleh karena itu, politisi kaum Republik tidak ada yang berani untuk melawan Trump secara terbuka walaupun secara pribadi banyak tidak yang suka pada dia. Jadi perkembangan pemerintahan di Indonesia positif, sedangkan di Amerika mengkhawatirkan.

Print article only

0 Comments:

« Home