Articles

Pandemi Jadi Momentum Tepat Tingkatkan Energi Bersih


25 November 2020

 

Jakarta, 25 November 2020 – Pandemi COVID-19 menjadi momentum tepat untuk mengembangkan energi bersih di sektor kelistrikan untuk mendukung pemulihan ekonomi hijau saat ini. Penggunaan energi terbarukan seperti PLTA memberi peluang untuk tetap produktif dan sehat karena terbebas dari polusi karbon pada saat bersamaan.
Kajian dari International Hydropower Association (IHA) menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga air (PLTA) adalah produsen energi yang memiliki ketahanan tinggi di tengah pandemi COVID-19. PLTA juga memainkan berperan penting menyediakan energi bersih dan terjangkau dalam krisis pandemi yang sekarang melanda dunia.
Kajian IHA menunjukkan di tengah Pandemi COVID-19 PLTA menjadi penyedia energi bersih dan terjangkau yang memiliki ketahanan tinggi. Selain itu PLTA juga baik untuk penanganan perubahan iklim.
the Hydropower Status Report menunjukkan produksi llistrik dari pembangkit listrik tenaga air mencapai rekor 4,306 terawatt hours (TWh) pada 2019. Ini merupakan kontribusi sumber energi terbarukan terbesar dalam sejarah. Penambahan gas-gas rumah kaca yang bisa dihindari di tahun lalu juga mencapai 80 – 100 juta metrik ton.
Pakar komunikasi hijau Wimar Witoelar mengatakan pandemi COVID-19 sebaiknya menjadi momentum transisi kepada penggunaan energi terbarukan yang lebih masif. Pengembangan energi terbarukan seperti PLTA memiliki banyak nilai positif. Antara lain, mendukung pemulihan ekonomi dunia akibat dampak pandemi dengan ekonomi hijau, dan mempercepat transisi ke energi bersih untuk mengurangi emisi karbon.
Dalam hal ini Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar mencapai 442 GW, dengan salah satunya berupa energi air mencapai 75 ribu MW. Salah satu upaya pemanfaatan energi terbarukan di program strategis nasional adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 MW di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Pengembangan energi terbarukan sangat penting untuk upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan mengurangi emisi karbon dari sektor energi. Selama ini penggunaan energi fosil untuk menghasilkan energi listrik menjadi salah satu sumber emisi terbesar dunia yang menjadi menjadi pemicu perubahan iklim.
Indonesia memiliki komitmen nasional untuk berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim termasuk melalui sektor energi, dengan salah satunya memiliki target 23% energi terbarukan dari total campuran energi primer nasional pada 2025. Saat ini pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia sekitar 10% dari bauran energi nasional.
Info tentang Yayasan Perspektif Baru lihat situs www.perspektifbaru.com
Dua kajian IHA yaitu the 2020 Hydropower Status Report dapat diunduh di hydropower.org/statusreport dan IHA COVID-19 policy paper dapat diunduh di hydropower.org/covid-19.

Jakarta, 25 November 2020 – Pandemi COVID-19 menjadi momentum tepat untuk mengembangkan energi bersih di sektor kelistrikan untuk mendukung pemulihan ekonomi hijau saat ini. Penggunaan energi terbarukan seperti PLTA memberi peluang untuk tetap produktif dan sehat karena terbebas dari polusi karbon pada saat bersamaan.

 

Kajian dari International Hydropower Association (IHA) menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga air (PLTA) adalah produsen energi yang memiliki ketahanan tinggi di tengah pandemi COVID-19. PLTA juga memainkan berperan penting menyediakan energi bersih dan terjangkau dalam krisis pandemi yang sekarang melanda dunia.

 

Kajian IHA menunjukkan di tengah Pandemi COVID-19 PLTA menjadi penyedia energi bersih dan terjangkau yang memiliki ketahanan tinggi. Selain itu PLTA juga baik untuk penanganan perubahan iklim.

 

The Hydropower Status Report menunjukkan produksi llistrik dari pembangkit listrik tenaga air mencapai rekor 4,306 terawatt hours (TWh) pada 2019. Ini merupakan kontribusi sumber energi terbarukan terbesar dalam sejarah. Penambahan gas-gas rumah kaca yang bisa dihindari di tahun lalu juga mencapai 80 – 100 juta metrik ton.

 

Pakar komunikasi hijau Wimar Witoelar mengatakan pandemi COVID-19 sebaiknya menjadi momentum transisi kepada penggunaan energi terbarukan yang lebih masif. Pengembangan energi terbarukan seperti PLTA memiliki banyak nilai positif. Antara lain, mendukung pemulihan ekonomi dunia akibat dampak pandemi dengan ekonomi hijau, dan mempercepat transisi ke energi bersih untuk mengurangi emisi karbon.

 

Dalam hal ini Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar mencapai 442 GW, dengan salah satunya berupa energi air mencapai 75 ribu MW. Salah satu upaya pemanfaatan energi terbarukan di program strategis nasional adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 MW di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

 

Pengembangan energi terbarukan sangat penting untuk upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan mengurangi emisi karbon dari sektor energi. Selama ini penggunaan energi fosil untuk menghasilkan energi listrik menjadi salah satu sumber emisi terbesar dunia yang menjadi menjadi pemicu perubahan iklim.

 

Indonesia memiliki komitmen nasional untuk berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim termasuk melalui sektor energi, dengan salah satunya memiliki target 23% energi terbarukan dari total campuran energi primer nasional pada 2025. Saat ini pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia sekitar 10% dari bauran energi nasional.

 

 

 

 

 

Info tentang Yayasan Perspektif Baru lihat situs www.perspektifbaru.com

 

Dua kajian IHA yaitu the 2020 Hydropower Status Report dapat diunduh di hydropower.org/statusreport dan IHA COVID-19 policy paper dapat diunduh di hydropower.org/covid-19.

 

Print article only

0 Comments:

« Home