Banjir 2007: Mencari Pengertian Jernih
Perspektif Online
06 February 2007
Keprihatinan Krisis Banjir
Tragedi kemanusiaan mendominasi seluruh aspek banjir besar 2007. Kami kehabisan kata-kata untuk menyatakan simpati pada korban ratusan ribu kehilangan rumah, puluhan kehilangan nyawa dan kerugian materi luarbiasa akibat kerusakan dan kehilangan mata pencaharian.
Kami bersyukur termasuk kelompok orang yang tidak menderita secara langsung dari amukan banjir. Mungkin ini mempertajam perasaan tidak berdaya, menghadapi kepahitan hari-hari ini. Kemampuan kami terbatas pada membantu aliran informasi dan pembentukan sikap melalui acara-acara kami, khususnya 'Talk About Nothing', 'Wimar's World' dan tulisan-tulisan di blog ini.
Inti sarinya, banjir disebabkan dua hal: kurang resapan air, dan kurang saluran air. Tinggal dipicu hujan deras. Masalah hutan gundul, banjir kiriman, tumpukan sampah, kanal yang belum dibangun, pelanggaran tata kota merupakan perwujudan dari dua masalah itu: kurang resapan air, dan kurang saluran air.
Penyebab teknis ini sudah lama diketahui oleh para ahli dan pimpinan pemerintahan daerah dan pusat. Gubernur bisa lancar bicara mengenai permasalahan banjir, termasuk menutupi salah kebijaksanaan. Dampak banjir tidak akan sehebat ini kalau tidak ada salah kebijaksanaan. Pada gilirannya, salah kebijaksanaan disebabkan kepentingan yang serakah, terlihat pada korupsi dan salah proritas.
Sementara kami berhenti disini dalam menyalahkan pemerintah. Pembaca PO bisa menyimpulkan sendiri. Sebagai salah satu sarana komunikasi publik, saat ini kami memilih untuk membantu penghayatan publik daripada menyalahkan siapa-siapa. Di saat krisis, kita meredam kritik. Nanti pada waktu tenang, kami akan turut mengajukan kritik dan protes secara selektif.
Karena hal-hal ini, agenda komunikasi kami bergeser dari rencana semula, menajamkan fokus pada 'Banjir 2007: Mencari Pengertian Jernih.'
---
Update 7 Feb: Saksikan Wimar's World malam ini
Sudah banyak komentar masuk mengenai Banjir Besar 2007. Yang paling populer:
- Ini semua salah pemerintah
- Jangan salahkan orang lain, salahkan diri sendiri
Semua tahu sebenarnya gabungan 1 dan 2, tapi mungkin 90% salah pemerintah dan 10% salah diri sendiri. Pemerintah pun yang salah hanya satu dua oknum saja, tapi kalau oknum itu kebetulan orang yang paling bertanggungjawab mengurus daerah banjir, beginilah jadinya. Walaupun dilepaskan tanggung jawab dengan menyatakan ini "banjir sih biasa, dimana-manapun ada. evakuasi siap, cuman orangnya nggak mau. banyak yang meninggal, termasuk anak-anak yang tidak dikontrol orang tuanya," tetap saja jelas letak tanggung jawab itu.
Tapi orang bilang sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan, dan itu betul. Suasana sedang panas, harus didinginkan. Nanti kalau sudah dingin, kalau krisis sudah lewat, maka harus dihangatkan oleh dialog.
Susahnya, orang punya "sindrom dokter gigi": kalau sakit, pergi ke dokter gigi. kalau sakitnya lewat, orangnya malas ke dokter gigi. padahal penyakit tidak bisa dirawat kalau lagi sakit. makanya sakit gigi muncul kembali, dan dengan cara sama banjir muncul kembali terus menerus.
Sekarang waktunya untuk mengerti dengan sesederhana mungkin, apa yang membuat banjir itu semakin parah. Sebetulnya banjir itu kombinasi dua hal yang kurang lebih:
- resapan tanah
- saluran air mengalir
Kedua hal itu tinggal menunggu hujan besar, jadilah banjir seperti Banjir Besar 2007. Hujan tidak bisa diapa-apakan, tapi resapan dan saluran ada dalam jangkauan masyarakat, asal diberikan prioritas semestinya.
Malam ini kita bahas dua hal itu, plus prediksi hujan, untuk mendapat pengertian jernih mengenai banjir, bersama tiga ahli yang kompeten di bidang masing-masing (bukan asal orang lewat):
- ahli tata kota: Marco Kusumawijaya
- ahli kanal, dsb: Budi Harianto (wakil ka din PU DKI)
- ahli cuaca: Harry Tirto (prakiraan sr. BMG)
Oh ya, sekarang acara 'Wimar's World' diajukan jam tayangnya menjadi 21:30, tetap di JakTV tiap Rabu.




32 Comments: