Articles

Banjir 2007: Mencari Pengertian Jernih

Perspektif Online
06 February 2007

Keprihatinan Krisis Banjir

Tragedi kemanusiaan mendominasi seluruh aspek banjir besar 2007. Kami kehabisan kata-kata untuk menyatakan simpati pada korban ratusan ribu kehilangan rumah, puluhan kehilangan nyawa dan kerugian materi luarbiasa akibat kerusakan  dan kehilangan mata pencaharian.

Kami bersyukur termasuk kelompok orang yang tidak menderita secara langsung dari amukan banjir. Mungkin ini mempertajam perasaan tidak berdaya, menghadapi kepahitan hari-hari ini. Kemampuan kami terbatas pada membantu aliran informasi dan pembentukan sikap melalui acara-acara kami, khususnya 'Talk About Nothing', 'Wimar's World' dan tulisan-tulisan di blog ini.

Inti sarinya, banjir disebabkan dua hal: kurang resapan air, dan kurang saluran air. Tinggal dipicu hujan deras. Masalah hutan gundul, banjir kiriman, tumpukan sampah, kanal yang belum dibangun, pelanggaran tata kota merupakan perwujudan dari dua masalah itu: kurang resapan air, dan kurang saluran air.

Penyebab teknis ini sudah lama diketahui oleh para ahli dan pimpinan pemerintahan daerah dan pusat. Gubernur bisa lancar bicara mengenai permasalahan banjir, termasuk menutupi salah kebijaksanaan. Dampak banjir tidak akan sehebat ini kalau tidak ada salah kebijaksanaan. Pada gilirannya, salah kebijaksanaan disebabkan kepentingan yang serakah, terlihat pada korupsi dan salah proritas.

Sementara kami berhenti disini dalam menyalahkan pemerintah. Pembaca PO bisa menyimpulkan sendiri. Sebagai salah satu sarana komunikasi publik, saat ini kami memilih untuk membantu penghayatan publik daripada menyalahkan siapa-siapa. Di saat krisis, kita meredam kritik. Nanti pada waktu tenang, kami akan turut mengajukan kritik dan protes secara selektif.

Karena hal-hal ini, agenda komunikasi kami bergeser dari rencana semula, menajamkan fokus pada 'Banjir 2007: Mencari Pengertian Jernih.'

---

Update 7 Feb: Saksikan Wimar's World malam ini

Sudah banyak komentar masuk mengenai Banjir Besar 2007. Yang paling populer:

  1. Ini semua salah pemerintah
  2. Jangan salahkan orang lain, salahkan diri sendiri

Semua tahu sebenarnya gabungan 1 dan 2, tapi mungkin 90% salah pemerintah dan 10% salah diri sendiri. Pemerintah pun yang salah hanya satu dua oknum saja, tapi kalau oknum itu kebetulan orang yang paling bertanggungjawab mengurus daerah banjir, beginilah jadinya. Walaupun dilepaskan tanggung jawab dengan menyatakan ini "banjir sih biasa, dimana-manapun ada. evakuasi siap, cuman orangnya nggak mau. banyak yang meninggal, termasuk anak-anak yang tidak dikontrol orang tuanya," tetap saja jelas letak tanggung jawab itu.

Tapi orang bilang sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan, dan itu betul. Suasana sedang panas, harus didinginkan. Nanti kalau sudah dingin, kalau krisis sudah lewat, maka harus dihangatkan oleh dialog.

Susahnya, orang punya "sindrom dokter gigi": kalau sakit, pergi ke dokter gigi. kalau sakitnya lewat, orangnya malas ke dokter gigi. padahal penyakit tidak bisa dirawat kalau lagi sakit. makanya sakit gigi muncul kembali, dan dengan cara sama banjir muncul kembali terus menerus.

Sekarang waktunya untuk mengerti dengan sesederhana mungkin, apa yang membuat banjir itu semakin parah. Sebetulnya banjir itu kombinasi dua hal yang kurang lebih:

  1. resapan tanah
  2. saluran air mengalir

Kedua hal itu tinggal menunggu hujan besar, jadilah banjir seperti Banjir Besar 2007. Hujan tidak bisa diapa-apakan, tapi resapan dan saluran ada dalam jangkauan masyarakat, asal diberikan prioritas semestinya.

Malam ini kita bahas dua hal itu, plus prediksi hujan, untuk mendapat pengertian jernih mengenai banjir, bersama tiga ahli yang kompeten di bidang masing-masing (bukan asal orang lewat):

  1. ahli tata kota: Marco Kusumawijaya
  2. ahli kanal, dsb: Budi Harianto (wakil ka din PU DKI)
  3. ahli cuaca: Harry Tirto (prakiraan sr. BMG)

Oh ya, sekarang acara 'Wimar's World' diajukan jam tayangnya menjadi 21:30, tetap di JakTV tiap Rabu.

Print article only

35 Comments:

  1. From Isan on 06 February 2007 10:10:55 WIB
    Mudah-mudahan buat penduduk yang merasakan musibah banjir bisa tetap tabah.
    Mudah-mudahan penanggulangan pasca-banjir tidak terlambat dan tidak salah, untuk mengurangi dampak-dampak negatif yang timbul seperti demam berdarah, muntaber, dll.
  2. From chiphie on 06 February 2007 10:52:02 WIB
    Menyalahkan pemprov maupun pemerintah pusat saat ini sepertinya juga akan buang-buang energi, karena bencana sudah terjadi, jadi suka atau tidak suka ataupun mau tidak mau harus dihadapi dan membantu sesuai kemampuan masing-masing untuk yang tertimpa banjir. Bisa memberi sumbangan dalam bentuk apapun ke lembaga2 maupun posko2 resmi.

    Karena itu harapan kita saat ini hanyalah semoga gubernur berikutnya bisa mengingat moment ini untuk dapat dimasukkan dalam daftar prioritas jika nanti sudah terpilih.

    Dan untuk WW, terima kasih sudah merangkum semua komentar kita dalam satu topik "Mencari Pengertian Jernih" ini. Aku percaya, WW bisa menyampaikan aspirasi ini.

    Semoga..semoga 5 tahun lagi kita tidak harus menghadapi bencana seperti ini lagi. Kasihan orang-orang yang tertimpa banjir..mengumpulkan rupiah demi rupiah membeli tempat bernaung..tapi sekarang harus kehilangan tempat tinggal dan hasil jerih payah bertahun-tahun untuk sementara waktu karena musibah ini.
    Dan semoga Gubernur berikutnya punya nurani dan tergugah untuk memperbaiki semua ini dan rakyatpun pasti bersedia membantu untuk DKI Jakarta yang lebih baik, karena kita adalah bagian dari Jakarta kota Metropolitan ini



  3. From Ramon on 06 February 2007 11:40:24 WIB
    Bukannya pesimis,tapi kalau cuma ganti gubernur kok rasanya jakarta masih tetap kebanjiran. Yang menjalankan kegiatan operasional dan mengimplementasikan kebijakan dan peraturan kan aparat pemda yang levelnya beberapa tingkat di bawah gubernur. Apa yang dimaui gubernur belum tentu jalan di lapangan. Jadi inget konsepnya mahasiswa waktu reformasi 98, POTONG SATU GENERASI. Ekstrim sih, tapi kalau lagi kondisi kayak gini ide itu kayaknya jadi boleh juga ya ?
  4. From Billy on 06 February 2007 11:48:47 WIB
    Tidak habis pikir, banjir merupakan musibah/bencana rutin Jakarta. Sejak lama Pemprov sudah mengingatkan akan ancaman ini dan berkumandang siap dalam menghadapi musim penghujan yang akan segera datang tambah lagi siklus 5 tahunan juga sudah diperidiksi. Tetapi hasilnya sama saja, Pemprov tetap saja kewalahan dalam mengatasi permasalahan ini, apalagi dalam mengangani korban bencana. Semuanya relatif kacau, bantuan yang lebih cepat datang bukannya dari pemerintah melainkan dari masyarakat atau lembaga-lembaga swasta.

    Gubernur Sutiyoso dalam beberapa komentarnya mengenai masalah ini sungguh mengecewakan buat saya pribadi dan mungkin ke masyarakat DKI Jakarta, tampaknya tidak ada keseriusan dari Pemprov dan Gubernur dalam pencegahan, serta penyelesaian dari musibah rutin ini.

    Semoga Para korban dapat diberi ketabahan dan semoga musibah rutin ini segera tidak menjadi rutinitas lagi.
  5. From Bobby on 06 February 2007 16:09:35 WIB
    How about looking in the mirror before you start pointing fingers? Donít be childish, citizens of Jakarta!
    Kenapa hanya Pemprov dan Gubernur yang disalahkan, sementara sebenarnya kita sendiri juga ada yang salah?
    Orang yang membangun atau membeli perumahan di daerah resapan, yang main suap IMB, yang buang sampah di kali dan selokan, yang nggak peduli dengan asal kayu dan pasir yang dibelinya, yang enggan bayar pajak, yang boros air dan energi, yang tidak pernah pakai kendaraan umum, yang suka ngeset ACnya dingin-dingin, yang tak pernah peduli dengan lingkungan di luar pekarangan sendiri.... harus siap mengkritik diri sendiri juga, jangan hanya mengkritik pemerintah.
  6. From pengamat on 06 February 2007 23:18:32 WIB
    Memang Bobby betul kalau bilang banyak kesalahan "kita sendiri" dan ini jangan dilupakan.
    Tetapi tidak betul kalau kita diam saja dan tidak melihat/menulai/ membahas kesalahan kesalahan dalam penanganan banjir oleh yang berwewenang seperti memilih skala prioritas pemakaian dana (untuk prevensi banjir dulu atau untuk membangun busway dulu dll dll). Sehingga kita jadi membenarkan tang salah.

    Asal saja jangan cari kesalahan hanya untuk cari kesalahan.

    Mari kita terima ajakan WW untuk "menajamkan fokus pada 'Banjir 2007: Mencari Pengertian Jernih.'"
  7. From Agung Fajar on 07 February 2007 02:06:16 WIB
    Kalah jadi arang menang jadi abu
    yang menang atau yang kalah....
    Tetep aja banjir mulu......

    Ya, janji tinggal janji....
  8. From dos on 07 February 2007 03:37:38 WIB
    Banjir....

    Satu kata yang menyebabkan banyak kesengsaraan terhadap banyak orang. Tidak bisa dipungkiri kalau Jakarta berkembang ke arah yg kurang memperhatikan bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia.

    Sudah saatnya masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jakarta untuk mengkoreksi diri masing2 bagaimana bisa mencegah banjir dari dirinya sendiri dengan semisal membuang sampah pada tempatnya agar saluran air yg sudah ada (dan masih kurang) tidak semakin dangkal.

    Kita tahu bahwa pemprov DKI Jakarta yang paling bertanggungjawab atas banjir besar tahun 2007 tapi bukan saat yang tepat untuk saling menyalahkan sekarang dan ini bukan 100% kesalahan pemprov DKI Jakarta.

    Simpatiku kepada masyarakat Jakarta khususnya yang tidak bisa nginap di hotel berkelas ketika banjir datang.

  9. From kaka on 07 February 2007 11:04:56 WIB
    Aku berjanji :
    1. Tidak akan membuang sampah sembarangan. Kalo belum ketemu tempat sampah , masukin tas atau saku baju/celana dulu.
    2. (Bila nanti jadi "pejabat yang berwenang",) akan berdoa dulu sebelum memulai setiap kegiatan apapun itu.
    3. Akan mengajak seluruh masyarakat untuk berdoa dulu sebelum memulai setiap kegiatan apapun itu agar kita bisa bekerja bersama-sama, saling bahu membahu.
    4. Tidak akan takut lagi melakukan sesuatu yang benar dimata masyarakat-dan di mata Tuhan (satu paket loh).
    5. Tetap disiplin, ramah (terutama thd lingkungan) dan positive thinking he...he....
  10. From Ook Nugroho on 07 February 2007 13:35:09 WIB
    Kalau sudah kejadian begini, semua orang -- dari tukang parkir sampai menteri dan pakar -- pada berebutan omong. Segala teori dipamerkan, tapi coba tunggu sebentar lagi, semua orang itu sudah pada lupa. Coba lihat soal asap hutan itu, dari dulu, dari tahun ke tahun, soalnya kagak beres-beres juga kan. Padahal teorinya canggih banget.

    Saya khawatir, kita ini selain dikenal sebagai bangsa dengan ingatan "pendek", juga bangsa yang bisanya cuma ngomong doang, alias "Om Dong".
  11. From Rian Triharyana on 07 February 2007 14:22:59 WIB
    Sedikit oleh2 photo dari kawasan Rawajati-Dewisartika

    http://www.flickr.com/photos/iyay/sets/72157594521593339/

    Bencana memang meninggalkan banyak penderitaan dan semangat baru!
  12. From Franky on 07 February 2007 15:21:43 WIB
    Saya cuma mau kasih masukan sedikit. Masalah banjir pasti tidak lepas dari masalah tatanan kota. Mau disalahin pemkot periode sekarang? Susah juga pastinya. Meskipun pemkot tahu bahwa banjir bakal melanda jkt, tidak semudah membalik telapak tangan untuk memperbaiki tatanan kota yang sudah salah atur dari pemkot sebelumnya. Saya salut ama Bang Yos akan ketegasannya mengatur JKT. Saya berharap agar pelayanan publik bisa di tingkatkan. Contoh: pas banjir, listrik pada mati demi alasan keamanan. Inilah bentuk jeleknya monopoli suatu perusahaan BUMN. Belajarlah dari negara lain dalam memberikan pelayanan publik tanpa suka "excuse".Pertamina yang sudah dibuka dari monopoli minyak. Akhirnya berbenah diri. Bagaimana dengan perusahaan BUMN lain dalam melayani publik. Akhir kata, jangan menambah beban rakyat yang sudah ditimpa bencana. Ok bos?
  13. From WiLLy Da\' KiD on 07 February 2007 16:06:50 WIB
    yah.....
    pesan untuk semua orang :
    buat apa menunggu kebijakan pemerintah, toh tidak pernah ada tindakan yang realistis, hanya janji-janji belaka. Lebih baik dari lubuk hati kita yang paling dalam memiliki komitmen untuk menjaga + melestarikan lingkungan yang kita tinggali. khan ada semboyan, "Dari kita, Oleh kita dan Untuk kita". menurut saya itu semboyan yang sangat wajar dan realistis.ibarat "kita" buang sampah sembarangan, lingkungan memberi kita musibah banjir, tapi kalau "kita" tertib dalam hal kebersihan, toh pasti secara otomatis lingkungan kita juga akan memberi kita sesuatu hal berharga yang tidak ternilai.kalau "kita" tidak mau dapat musibah, lakukanlah sesuatu untuk alam, karna kita hanya menumpang padanya.

    disini saya mengutip kata "Kita" karna kata2 ini juga berlaku untuk saya.......

    Sekarang ini percuma kalau hanya berkomentar.saya hanya rakyat kecil yang sedang menjerit mewakili ribuan orang diluar sana yang emosinya sedang labil tatkala tertimpa runtuhan air dari langit dan menenggelamkan kami dalam kesengsaraan.kami perlu tindakan kongkrit, bukan hanya sekedar ucapan manis dari mulut penguasa yang membuat kita terbuai sesaat kemudian tersesat.

    pesan untuk pemerintah :
    Lebih baik bertindak daripada berbicara

    Wasalam, Tuhan MEmberkati Indonesia.....
  14. From TOTO on 07 February 2007 16:54:57 WIB
    Yang namanya bencana ya bencana... kita harus bisa mengambil hikmahnya.... jangan hanya menyalahkan orang lain. tapi yang penting lihat dulu diri kita sendiri. Apa yan telah kita lakukan untuk itu??... Banjir tidak bisa diatasi oleh seorang Gubernur saja. Tapi butuh kita semua untuk mengantisipasi dan menanganinya.
    katanya kan memang 40% wilayah jakarta di bawah permukaan laut... so memang riskan banjir... jadi yang ga mau kebanjiran ya pindah saja ke luar Jawa...(masih luas kok wilayah indonesia). kalo nantinya butuh dana puluhan/ratusan triliun hanya untuk mengantisipasi banjir hanya untuk wilayah jakarta apa tidak sebaiknya perlu dipikirkan lagi??Apakah ini adil (dengan sudut pandang bahwa wilayah indonesia bukan jakarta saja).
    Mungkin sebaiknya pusat pemerintah pindah saja ke luar Jawa. Nanti kan muncul kota kota besar lagi di indonesia.. Manfaatnya akan lebih banyak..
  15. From Buruh Migran on 07 February 2007 21:48:34 WIB
    Saya rasa, tidaklah salah untuk mengkritik pemerintah kalau memang ada yang salah dan perlu perbaikan mendasar- besar-besaran. Terutama bila pihak pemerintah yang punya akses atas eksistensi masalah. Siapa sih yang punya akses utama yang menentukan IMB atau rencana tata ruang kota? Lagipula, bencana ini tidak terjadi tanpa peringatan. LIMA TAHUN lalu sudah terjadi dan sekarang terjadi lagi dengan korban yang lebih besar dan mengorbankan NYAWA. Di negara saya tinggal saat ini, pejabat yang bersangkutan mungkin sudah mengundurkan diri bila ada kejadian seperti ini. Memalukan.

    Terakhir saya mengunjungi Jakarta di tahun 2005, saya sudah tidak tahan dengan macet dan polusi ditambah ngawur-nya konsep bus-way dan three in one. Dari berbagai kota yang pernah saya kunjungi, banyak kota di dunia ini yang tidak seburuk kota Jakarta. Akuilah itu. Itu fakta. Ironis-nya Jakarta adalah ibukota.

    Tentu saja, gaya hidup penduduk kota punya kontribusi besar terhadap kondisi fisik kota Jakarta saat ini. Mulai dari cara membuang sampah, ketergantungan kendaraan bermotor, ketergantungan MALL sebagai sarana rekreasi ketimbang rekreasi alam/nature, dan pastinya hidup konsumtif perkotaan.

    Tambahlah daftar selanjutnya gaya hidup orang Jakarta yang berkontribusi pada banjir dan kemudian jadi obyekan pemkot selanjutnya untuk kampanye tapi...lima tahun kemudian banjir lagi..haaaaaaaahhh..
  16. From hendry on 08 February 2007 01:48:30 WIB
    paling gampang ngomong "BENCANA ALAM" lapindo brantas-bakrie yang bikin gara-2 aja dibilang gitu, emank paling susah ngadapin tukang tipu - bisanya tipu sana tipu sini !
    HUJAN SEDERAS APAPUN ITU NAMANYA "PERISTIWA ALAM" kalo pemerintah tidak dapat mengantisipasi HUJAN DERAS itu jadi BANJIR itu namanya"NEGLIGENCE" bukan "DISASTER" jadi banjir dijakarta ini ya salah pemerintah yang lalai karena salah menerapkan policy yang mboten-2 nya.


  17. From Adi S on 08 February 2007 05:23:01 WIB
    Salam kenal...

    Menanggapi masalah banjir cukup menarik juga. Menurut saya, alangkah baiknya menuntaskan masalah dari akarnya. Jika banjir di Jakarta merupakan banjir kiriman dari Bogor, alangkah baiknya jika pemerintah menangani Bogor dahulu baru kemudian kembali menata jakarta. Kalo saat ini yang ditangani jakarta saja mungkin hanya sementara saja. Ditahun-tahun mendatang bukankah akan terulang kembali ?
  18. From dwi,retty,ambar on 08 February 2007 08:05:54 WIB
    banjir kali ini lebih parah dari banjir 2002.
  19. From Gerry_Koster on 08 February 2007 09:09:39 WIB
    ass.wr.wb

    Achhh,... sudahlah.. bisa terbawa bodoh rasanya kalau saya terus membahasnya..
    Hanya.. sebagai anak bangsa, yg dilahirkan sebagai putra jakarta, saya hanya bisa menyampaikan keprihatinan yg mendalam...untuk -nya ( "Penguasa Jakarta" ) :red.

    Dan sedikit pesan dari saya :

    - Bangunlah kota ini dengan Ilmu & akal sehat:study: , jangan dengan ilmu hayal & mimpi .... ( liat jalur busway...& bangunan Mall megah ditiap simpang jalur utama kota... yg bikin macet..)

    - Bangunlah kota ini dengan membuka kedua mata yang lebar , jangan dengan memicingkan/menutup sebelah mata ... ( ngebayangin PERDA diberlakukan, penggusuran & pembersihan PKL )

    - Terakhir... Bangunlah kota ini MURNI untuk kesejahteraan WARGA, jangan untuk kesejahteraan KELUARGA.... ( ngebayangin setelah pensiun dana mengalir terus dari bisnis yg menyengsarakan rakyat...)

    Salam Dingin..??!!

  20. From sunaryo adhiatmoko on 08 February 2007 09:40:40 WIB
    Saat banjir meluap menutup wajah Ibukota. Gubernur sampai Presiden mendadak berpikir keras. Jika saja kita bisa intip, mungkin tidurpun tak jenak. Kala malam semabri memijit-mijit keningnya mereka memutar akal dengan apa banjir bisa diatasi. Instruksi presiden pun datang bertubi-tubi ke jajaran menteri. Semua lini bergerak hingga terjun safari ke dalam air. Meski sekadar mesem yg dipaksa sambil merasai geli lantaran kaki menginjak bangkai tikus.

    Bahkan, pikiran memindahkan Ibukotapun sempat mencuat. Diskusi serius di media TV pun amat panas membahas ini dan itu, bagaimana banjir tak terulang. Kita pendengar, penonton, dan pembaca, serta masyarakat sekejap boleh lega. Lantaran banjir dipikirkan serius.

    Seiring hari, banjir surut. Hujan reda tinggal guntur yang bersahutan pertanada hujan akan segera usai. Bersama surutnya banjir itu pula, surut pula langkah mereka yg semula berpikir keras. Hasilnya mandul, tak mampu menelorkan apapun kecuali ramai diskusi. Terus berulang saban tahun.

    Selanjutnya, tahun depan drama semacam ini akan terulang. Lagi dan lagi. Itu pasti selama pemimpin kita mengonsep idenya berawal dari balik meja. Sulit untuk tidak yakin dan berprasangka baik, bahwa tahun depan banjir tak lagi menggenangi Jakarta. Dan, pasti lebih hebat lagi.
  21. From capchaykuah on 08 February 2007 10:13:56 WIB
    Untuk mengurangi sampah harus dimulai dari pendidikan me manage sampah di rumah.

    Contoh sederhana adalah mengggunakan kantong kain yg bisa setiap saat dicuci, dibandingkan dengan kantong plastik sekali buang.

    Contoh lain, menyortir sampah yg bisa dijadiin kompos, misal sisa makanan, kulit buah, etc. Ini adalah metode recycle yg paling mungkin.

    Tapi ya itu, ngomong gampang, ngejalaninnya susaaaahhhh
  22. From aang on 08 February 2007 10:35:05 WIB
    study banding ke singapura, hampir semua birokrat pernah..
    apa hasilnya.. duit nya dari pajak saya ?
    aturan bagus pelaksanaannya memble...

    pilih pemimpin mu dgn baik... jgn nyesel 5 tahun...
  23. From Turmudi on 08 February 2007 12:03:27 WIB
    Sebenarnya pada kebanyakan orang sudah tahu bahwa musim hujan itu terjadi pada bulan Oktober sd Maret. Masa puncak hujan terjadi pada bulan Desember sd Pebuari. Desember diartikan dalam bahasa Jawa dengan gede-gedenya sumber, kalau Januari diartikan hujan sehari hari. Namun pada kenyataan kebanyakan kita belum mampu mengambil berantisipasi dalam menyambut datangnya masa puncak hujan tersebut. Untuk itu perlu ada peringatan yang terus menerus kepada seluruh lapisan masyarakat. Saya mengusulkan agar dipasang peta bahaya banjir diseluruh wilayah Jabodetabek sesuai dengan wilayah masing-masing per kecamatan. Di peta juga diinformasikan langkah-langkah tindakan mengahadapi banjir pada saat dan pasca banjir serta tindakan preventif untuk mengurangi terjadinya banjir. Peta ditempelkan di kelurahan, RW, RT bahkan pos ronda. Mudah2 bisa untuk selalu ingat apa yang mesti dilakukan terhadap bencana banjir. Demikian Om WW.
  24. From Anton on 08 February 2007 14:34:59 WIB
    Banjir dan ketidakberesan manajemen infrastruktur kota, serta amburadulnya sistem tata sosial di masyarakat kita, menunjukkan kita masih bagian dari masyarakat berkebudayaan jaman batu, masyarakat yang gemar meneriakkan nama Tuhan dan mengayunkan kekerasan atas nama agama, suku dan rasial tapi tidak pernah berbuat satupun untuk kemashlahatan ummat manusia,
    Kitalah bangsa yang mempersetankan peradaban yang benar...

    Kitalah bangsa yang gemar mengklaim kebenaran yang menurut kita benar sehingga men'dosakan' orang di luar definisi kebenaran itu
    Kita lah bangsa yang senang menonton kuntilanak, pocong dan segala macam tahayul tapi melupakan rasionalitas
    Kita lah bangsa yang mempersetan-kan teknologi, menghentikan kebebasan berpikir dan menghambat alur-alur kebebasan dalam melihat bagaimana dunia bekerja dengan sistem fisika, kimia dan Bio yang jelas, tapi kita malah mengkaitkan dengan alam irrasionalitas

    Kita lah bangsa yang pejabatnya gemar pamer kekuasaan dengan seragam kebesaran tapi memiliki mental maling dan jauh lebih rendah dari pencopet Senen.


    Maka ketika Banjir datang silahkan berteriak
    Maka ketika Banjir datang maka dianggap ujian Tuhan
    Tak Tahulah kita, bahwa Tuhan bukan menguji tapi memberikan pelajaran kepada kita, bangsa yang tolol dan dungu, yang tak pernah mau belajar dari sejarah....

    Nikmatilah Banjir
    Dan rasakan akibat dari kebodohan kita..

    ANTON
  25. From gambler on 12 February 2007 12:35:04 WIB
    marco kusumawijaya jadi ada dimana2, tapi saya suka komennya yg gampang dimengerti & masuk akal. , meskipun kl jd gubernur, blm tentu bisa melaksanakan.

    yg serunya, di metro, diberitahukan bhw ketika sutiyoso diundang ke metro, sutiyoso keberatan kl ada marco juga disana. he he he....yg jelas memang kalau debat, kyknya sutiyoso kalah tuh...
  26. From sheva milandhino on 14 February 2007 13:39:11 WIB
    Tahun 2002 DKI Banjir. Nah Tahun 2007 Banjir lagi. Gubernurnya pun masih sama. Dalam kurun waktu lima tahun berarti sang penguasa DKI tidak berbuat apa-apa demi penanggulangan banjir yang katanya lima tahunan ini, tapi malah sibuk dengan proyek busway. Dan dengan tenang sang penguasa itu menjawab bahwa "siapa yang bisa melawan alam". Sebuah jawaban sangat 1000% tepat, anak kecil juga tahu. Kedua rakyat disalahkan karena tidak ikut mendukung pembangunan kanal timur, biaya pembebasan tanahnya sudah beres? jangan salahkan rakyat dong, rakyat sudah susah jangan ditambah susah.
    Saya yakin Bang Yos pasti tidak bisa diadili oleh 'komnas ham' misalnya, karena dalam kurun waktu lima tahun tidak ada upaya dalam rangka penanggulangan banjir tersebut. (siapa yang berani dengan orang no.1 di DKI ini?) Kalau gak bisa diadili di pengadilan bagaimana kalau bung wimar yang mengadili. Gimana bung wimar.
  27. From bodhi on 22 February 2007 11:52:06 WIB
    saya menulis ketika banjir sudah surut. karena saya percaya tren itu baik hanya untuk dunia fashion. banjir... what u can say... semua memang terjadi di kota brengsek ini tanpa merasa harus mencari yang salah. saya kok optimis bahwa banjir akan terus menjadi masalah yang besar bagi jakart hingga berpuluh puluh tahun mendatang.

    saya memandang masalah banjir dan masalah lain yang datang seperti saya memandang barang elektronik. ada saatnya memang rusak. dan masa kita harus menyalahkan perusahaan pembuatnya. masalah itu adalah esensi dari kehidupan. mengatasinya adalah tugas sehari hari kita. dan yang paling bodoh menurut saya ialah orang yang hanya bisa menunjuk hidung orang lain. mungkin ia tidak ingat jika ia merokok di luar ruangan, puntung rokoknya entah kemana.

    saya sangat bersalah terhadap banjir ketika saya, dalam keadaan tidak sadar membuang sampah sembarangan. daripada nyari kambing hitam mendingan gue aja yang jadi kambing hitam. biar semuanya bisa tidur nyenyak karena menjadi tidak bersalah.

    "if you ever had a problem to changing the world, maybe its time for you to changing yourself first".

  28. From Atrix on 06 March 2007 22:25:26 WIB
    Aku merasakan kedua kalinya banjir, dan kali ini benar2 kena, setelah lolos 2002 air gak masuk rumah, kali ini air benar2 genangi dalam rumah. Mau ngomel gimana, listrik mati, ke kantor gak bisa. Yah, kalo mau di ingat harus tabah, BKT ntah kapan selesainya, dan belum menjamin jakarta bebas banjir, ini kan metode Belanda, belum tentu efektif dibelakukan kini, apa tidak ada pemikiran lain?
  29. From RakaNda on 13 April 2008 13:15:00 WIB
    Banjir truz..
    BeTe deh,Bete,Bete,Beteee...
  30. From Nurul Falah on 18 September 2008 09:43:05 WIB
    BANJIIIIIR!!!!!!!!!!!!
    Begitulah kalau alam sudah murka dengan para manusia yang se enaknya melakukan pengrusakan-pengrusakan terhadap alam,kini alam pun sudah tida bersahaja.bumi menangis karena sudah tidak dipedulikan hingga air matanya dapat menenggelamkan para manusia dimuka bumi...Bukan saatnya saling menyalahkan!tapi kini saatnya kita berpikir!!untuk mengembalikan alam kita seperti dulu kala.lestarikan alam,jaga alam kita dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.STOP PENEBANGAN HUTAN>
  31. From irni on 01 November 2008 15:14:05 WIB
    banjir datang karna dari manusia juga,ketika tangan mereka salah untuk melangkah dan berbuat untuk suatu kesalahan... jika kita menyadari bahwa segalanya ada di tangan kita...
  32. From dAniE_ela on 18 February 2009 20:30:37 WIB
    popokX,,,eh pokokX banjir kali ini "SEREM" banget dech! aku harap,,bg smua masyarakat n terindividu diri saya sendiri sadar akan kesehatan n kebersihan lingkungan hidup SEKITAR. CAMkan itu.....
    Thanks 4 attention............
  33. From irma on 14 May 2010 18:51:30 WIB
    saya pikir, penyebab banjir tdk lain dan tdk bukan adalah manusia!! bukan pemerintah!
    tp, kebanyakan orang di jakarta sll menyalahkan pemerintah. padahal, jelas yg salah adl penduduk jakarta.
    ciliwung penuh dgn sampah, kan pendudukny...pemerintah sdh melakukan banyak hal untuk mengatasi banjir, tp tetap saja banjir msh terjadi... itu krn pendudukny tetap tdk sadar akan pentingya membuang sampah di tempatny.
    itu hanya satu contoh.
    so,, jelas penyebab banjir adl manusia!!!
  34. From ipunk on 02 February 2011 23:33:37 WIB
    kita budidayak saling tegur dalam buang sampah sembarangan
    \\\"saling mengingatkan\\\"
  35. From Kamal on 12 February 2012 18:56:27 WIB
    : Masa sih cbinnoig kebanjiran Jay?? Ampe semana Jay?@gemBul : Cuy gw aja ga sempet nengok keadaan kontrakan, apalagi nyelematin barang2 lu! Wah gmana kabarnya anak-anak FUSI nih.. Klo ampe banjir dah pasti 2 komputer depan kena, buku arsip di lantai.

« Home