Articles

Sensor Politik Dulu dan Sekarang

Wimar's World
07 March 2007

Rencana Menkominfo untuk mengajukan somasi terhadap 'Republik Mimpi' membangkitkan Mimpi Buruk Pengekangan Ekspresi. Sensor selalu ada, walaupun berubah rejim, beda gaya. Dulu dan sekarang begitu-begitu juga dalam versi lain. Pencabutan izin, telepon misterius, tekanan terhadap pemilik media, panggilan, himbauan, somasi.

Hanya Presiden Wahid yang tidak pernah menindak media, padahal serangannya bertubi-tubi. Ia mengingatkan bahwa pemimpin dan bangsa yang kuat itu adalah yang mampu menertawakan dirinya sendiri.

Apapun namanya dasarnya sensor adalah adalah penguasa tidak nyaman dengan kritik sosial. Buktinya kalau tidak menyinggung pemerintah, jarang ada acara televisi kena tindakan pemerintah.

Di lain pihak publik senang humor dan senang kritik, lahirlah parodi politik. Mereka tidak senang kalau ada tindakan sensor. Bagaimana publik sekarang memberi respons?

Sedangkan pihak yang kena sensor punya pilihan susah di jaman sekarang. Tunduk dan menyesuaikan diri pada sensor supaya bisa tetap survive, atau mempertahankan sikapnya dan dihilangkan dari layar televisi?

Simak dulu cuplikan tulisan Adhie Massardi dalam rubrik 'Politisiana' di harian Rakyat Merdeka, nanti dilanjutkan pembahasannya dalam Wimar's World, JakTV jam 21:30.

Parodi memang bisa diartikan kritik. Tapi kritik yang kehilangan greget karena tujuannya memang hanya olok-olok. Tapi benarkah kata-kata Gus Dur pada Effendi Gazali yang terancam disomasi berbagai pihak gara-gara tayangan parodinya di Metro TV, bahwa pemimpin dan bangsa yang kuat itu adalah yang mampu menertawakan dirinya sendiri?

Kalau pernyataan Gus Dur itu benar, berarti pemimpin dan bangsa yang bisa menertawakan orang lain yang menertawakan dirinya adalah pemimpin dan bangsa yang sangat kuat. Dan itu berarti pemimpin dan bangsa kita termasuk dalam kategori ini, karena selalu ikut tersenyum (tidak pernah tersinggung) dijadikan tertawaan orang-orang di negeri seberang.

Apa komentar anda soal Sensor Dulu dan Sekarang?

Baca juga:

Print article only

27 Comments:

  1. From Satya on 07 March 2007 09:09:10 WIB
    persamaannya: cara paling efektif masih dg telepon pemilik stasiun

    bedanya:
    dulu, berpendapat di TV adalah perjuangan, nothing to lose
    sekarang, ada urusan duit dan pegawai, jadi mending nurut
  2. From wimar on 07 March 2007 09:20:38 WIB
    Meng-klik 'baca juga' diatas seperti kilas balik sejarah Perspektif dan sejarah kita-kita.

    Dari jaman 'axed' dan dibilang 'provokator' yang 'berbahaya', sekarang ww jadi orang yang Smile, Hell Yeah dan Talk About Nothing.

    Dunia sudah lebih ramah dan media sucah lebih bebas. Itu karena ribuan orang media dan jutaan penonton televisi dan pembaca koran berani bebas dan saling melindungi hak untuk ekspresi.

    jangan sampai hilang lagi, kebebasan itu. kalau mau pakai bahasa perjuangan, disaat kita lengah, kebebasan mudah sekali direnggut oleh kekuasaan.
  3. From mansur on 07 March 2007 11:39:56 WIB
    Dalam pandangan saya, somasi atau teguran dalam bingkai hukum bukan merupakan bentuk sensor. Siapa saja boleh melakukan somasi asal sesuai aturan. Saya justru ingin melihat apakah pemerintah berani melakukan somasi ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terhadap tayangan Republik Mimpi. Jadi kita bisa menilai juga kredibilitas dan indipendensi lembaga KPI.

    Saya malah lebih khawatir pemerintah melakukan praktek-praktek di luar kerangka hukum dari bersifat kasar seperti Bung Wimar katakan melalui tekanan lewat telepon atau secara halus dengan meminta pihak tv atau produser tidak memperpanjang kontrak acara Republik Mimpi. Apalagi kalau dilihat dari rating, acara Republik Mimpi kalah dari Wimar's World. Itu bisa saja menjadi alasan untuk tidak memperpanjangnya.

    Yang terpenting adalah mari kita jaga kebebasan berekspresi dengan juga mau menerima kritik.
  4. From yosafat on 07 March 2007 13:59:01 WIB
    Kritik ada yang membangun, ada juga yang menghancurkan. Namun, setiap kritik tentunya ada dasar dan alasannya. Sebuah acara televisi yang mengkritik pemerintah, pasti ada apa2 di pemerintahnya. Tidak mungkin asal-asalan. Karena acara TV itu ditonton oleh banyak orang.

    Kritik yang membangun dan menghancurkan itu sebenanya tinggal orang yang mendapat kritikan. Kalau bisa menerima kritikan dengan jujur terutama pada diri sendiri, maka kritikan itu bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk improvement. Tapi kalau tidak bisa menerima kritik, ya sebenarnya orang itu sedang menghancurkan dirinya sendiri. Karena dia tidak bisa improve apa yang orang lain pikir kurang di diri pihak yang dikritik.

    Jadi, sifat membangun dan menghancurkannya sebuah kritikan, itu ada pada orang yang dikritik.

    Terlebih lagi, saya yakin, tidak selamanya seseorang akan bisa menutup dirinya dari segala bentuk kritikan.

    Tidak selamanya pak menteri bisa berbuat demikian. Mungkin cuma dalam kasus ini saja pak menteri bisa sensor kritik-kritik pada dirinya dan pemerintah. Tapi itu tidak akan selamanya.

    Yak, jangan pernah lelah memberikan feedback ke pemerintah kita.
  5. From anton on 07 March 2007 16:25:57 WIB
    Parodi sekali-kali yah boleh tapi kalo terus menerus dan merasa bebas kemudian terjebak pada pelecehan ya... pantas disomasi-lah, keputusan tergantung pengadilan...kalo pihak pendi merasa tidak puas terhadap somasi ya...balik somasi...itu saja... kan begitu logikanya demokrasi...

    terlepas dari keputusan pengadilan saya pribadi berharap acara ini segera diperbaiki mutunya....tapi saya yakin acara ini tinggal sebentar lagi, akan tergilas hukum alami rating, udah nggak laku kok....

    Apa sih yang tersisa dari kebanggaan nasionalisme kita? saya sering mau nangis kalo lihat foto Bung Karno, dulu kita bangga banget punya pemimpin seperti dia, kalo liat dia kata orang-orang dulu tua ada perasaan bangga, masak sih kita nggak menjadikan pemimpin kita dihormati, kalo kita saja nggak hormat, bagaimana negara lain?

    Iwel bilang, Ratu Inggris aja bisa diparodikan, tapi parodi yang dilakukan MR.Bean parodi gerak dan tidak menyentuh substansi kepemimpinan, di Republik Mimpi saat ini yang tersentuh adalah substansi kepemimpinan, salah satunya adalah karakter pemimpin kita, saya pribadi tidak begitu menyukai JK tapi kalo dibunuh karakternya seperti ya saya marah karena ini melukai perasaan nasionalisme saya, bagaimanapun Kalla adalah pemimpin negara ini, apa kita tidak mau menghormati pemimpin kita sendiri?

    Demokrasi bukan berarti sak mau-maunya mengekspresikan pikiran kita dengan melanggar hak orang lain. Somasi pemerintah adalah hak pemerintah terhadap pelecehan kepemimpinan nasional, dan biar pengadilan yang memutuskan, ...beberapa bulan lalu kita ramai karena ada indikasi negeri ini mau 'di arabkan' kini dengan jargon demokrasi kebablasan, ada segelintir orang mau 'meng-amerika-kan Indonesia' walaupun Amerika Serikat nggak gitu-gitu amat melecehkan pemimpinnya, tapi ada orang atas nama demokrasi berkiblat ke negara barat setelanjang-telanjangnya, kita lupa bahwa kita punya kepribadian nasional, etika indonesia, dan estetika orang timur. Jangalah budaya luhur kita dilupakan atas nama demokrasi yang sesungguhnya adalah pelecehan demokrasi.

    Kepribadian Indonesia harus segera dihidupkan sebagai salah satu panji Trisakti-nya Revolusi Sukarno yang belum selesai...jangan kita buta pada antek-antek neo imperialisme dan penguasaan kapital oleh negara, perusahaan dan budaya asing....

    ANTON

  6. From rachman on 07 March 2007 16:35:24 WIB
    Bung Wim,
    Ternyata pergantian pemerintah di negeri kita, cuma orangnya saja, 'tabiat'-nya sama saja, bermental feodal, pemerintah tidak pernah salah, kritik adalah haram hukumnya Padahal tidak seperti itu yang kita harapkan. Bermilyar-rupiah kita keluarkan untuk memilih 'pemerintah' secara langsung oleh 'rakyat' dimaksudkan agar 'pemerintah' yang terpilih mempunyai 'utang-budi' pada rakyat. Harusnya 'pemerintah' seperti ini legowo mendengar omongan rakyat, mendengar 'grundelan' rakyat, bukannya malah tolak-pinggang,malah mengancam rakyat yang grundelan.
    Bung Wim, barangkali ini pe-er berat buat bung & kawan2, jangan biarkan tabiat demokrasi terpimpin, tabiat orba tumbuh & berkembang di negeri kita tercinta.
    Bung, 'somasi' pemerintah terhadap Republik BBM, sebenarnya satu saja dari gejala ke-arah tabiat lama tsb. Kita bisa lihat sebelumnya sudah ada 'serangan-balik' para koruptor di negeri ini. Manis memang langkah mereka.
    Semoga Allah SWT selalu memberi kekuatan pada Bung Wim dan kita semua untuk melawan !

  7. From fazlurrahman on 07 March 2007 18:28:33 WIB
    Bung Wim, tampaknya menteri kita, Sofyan Djalil nggak mau kalah lucu ama Effendi Ghazali dkk. Makanya dia mau buat lelucon dengan mau mensomasi Republik Mimpi. Asli Bung ini bener-bener lucu, makanya saya mempersilakan Bung Wim untuk ketawa, termasuk kepada khalayak untuk mari kita tertawa bersama-sama.
    Termasuk negeri ini kok akhir-akhir ini jadi lucu banget bung, termasuk pejabat-pejabatnya, anggota DPR, dll bener-bener sering buat lelucon. Saya jadi susah membedakan mana yang republik beneran sama yang republik guyonan.

    Saya serius ngajak Bung Wim tertawa, sebelum perspektif.net kena somasi... cepetan Bung ketawa...
  8. From Nur Sumintardja on 07 March 2007 22:10:24 WIB
    Namanya saja parodi. Gitu aja koq repot pak menteri!
    Saya rasa surat kabar yang banyak memajang gambar-gambar seronok lebih perlu perhatian.
  9. From adityayoga on 07 March 2007 22:47:28 WIB
    ayooooo kirim2 kayak kata bung wimar kasih sms ke sofyan djalil pandanganmu
    jgn lupa (0811854482)

  10. From Tari on 07 March 2007 22:49:37 WIB
    Pak Sofjan Jalil gak perlu khawatir bahwa News.com akan menurunkan wibawa pemimpin, karena pemirsa News.com mayoritas adalah kalangan berpendidikan (atau setidaknya mempunyai ketertarikan thd hal2 yg bersifat intelektual) dan bukan kalangan pemirsa yang emosional.

    Mereka adalah market pemirsa TV yang mendasari segala tindakannya dari pertimbangan logis melalui filter nilai2 pribadi yg dimiliki masing2, bukan semata2 atas keputusan emosional.

    Bagi pemirsanya, News.com tidak lain tidak bukan hanyalah media berekspresi yang menghibur, bukan media propaganda untuk memberontaki para pemimpin
  11. From Linda on 07 March 2007 23:05:25 WIB
    Ada kritik berarti ada perhatian. Ada perhatian berarti ada harapan. Ada harapan berarti ada peluang perbaikan.

    Kita sudah mengalami akibat pemasungan kebebasan berpikir dan berbicara pada masa lampau. Belajarlah dari sejarah!
  12. From udayul on 08 March 2007 05:58:40 WIB
    Kalau bang Efendi hadir juga dalam acara ini, mungkin Pak mentri tidak merasa argumennya saja yang paling benar.
    Semua orang dan warga negara ini punya hak yang sama untuk berpendapat, apalagi cuma parodi yang menurut saya banyak mengandung nilai positifnya, ditengah himpitan musibah yang tiada henti-hentinya ini.
    Kelihatannya banyak pemimpin di negeri ini yang terlalu ketakutan dengan kritikan dan sindiran. Padahal jelas-jelas acara seperti news.com sebuah acara menghibur yang kuat dengan nuansa untuk membangun pemerintahan yang lebih peduli terhadap kemauan, kehendah dan kepentingan rakyat.
    Kalau semuanya mau di somasi atau dihentikan lebih baik bredel saja semua televisi swasta, supaya hanya pemerintah yang bisa mengendalikan informasi....no way....
  13. From Imam on 08 March 2007 06:34:56 WIB
    Republik mimpi tidak akan menurunkan image lembaga kepresidenan serta leadership presiden. Image akan terbangun sendirinya dengan ada atau tidak ada acara republik mimpi.
  14. From Madis on 08 March 2007 08:16:12 WIB
    Inilah demokrasi, saya senang republik mimpi ya saya nonton, klo ada yg gak senang ya jangan nonton, gitu aja kok repot.
    Kalo Sofyan Djalil (bukan pemerintah lo, seperti yang semalem dia katakan) mau somasi ya silahken, hal itu toh masih dalam koridor hukum. Hasilnya bagaimana itu perkara lain, yang penting prosesnya benar.
    Betapa indahnya demokrasi itu.
    Betapa rindunya aku akan hal itu.
  15. From lan on 08 March 2007 08:45:41 WIB
    pak mentri kasi nomor hp supaya bisa sms, pak mentri bisa kasi daftar sms gak ya, siapa aja dan apa aja isinya sms beliau...?
  16. From Arif Rahman on 08 March 2007 09:15:09 WIB
    Kalo leadership ga boleh diparodikan, lalu apa yg harus diparodikan? Leadership itu mendominasi permasalahan negeri ini lho pak menteri....!
  17. From Arwat Marbun on 08 March 2007 09:20:19 WIB
    Saya rasa semua orang bebas berpendapat atau mengkritik. Yakh namannya juga manusia mahkluk sosial, hidup berdampingan. Wajar dong kalo saling kritik, ya sekarang tergantung orang yang dikritik mau terima dengan besar hati atau tidak. Kalaupun mau somasi ya silakan itu hak orang tersebut.
    Tetapi kalau berpendapat saja dilarang gmana mau maju bangsa ini. Seharusnya pemerintah dapat belajar atau mengambil hikmah dari acara Republik Mimpi. Kenapa rakyatnya begitu, ya seharus intropeksi diri, mungkin aja ada yang salah atau memang salah kali.
    Menurut saya, rakyat lebih gampang menerima atau meniru perbuatan ketimbang hanya besar omong saja liat saja republik mimpi.
    Semuanya tergantung Pemerintah. ya kalau emang gak seneng ya sekalian ajah semua tv swasta diblock yang ada cuma program dan siarannya pemerintah yang cuma OMONG KOSONG BESAR!!!.
  18. From M. Iqbal on 08 March 2007 14:25:41 WIB
    "Keliek Bilang Orang UI itu T.K (kotoran)"

    Perkenalkan saya M. Iqbal, salah seorang penggemar setia Wimar's World, Sukses untuk tayangan yang berhasil jadi Top Rating di JakTV ini. Perkenankan saya menambahkan informasi pada kronologis yang dibuat arbitarily oleh ANTON yang saya yakini adalah orang suruhan atau staf dari nama-nama tertentu yang dia sebut dalam emailnya. Ini perihal sdr. Keliek Pelipur Lara yang sangat dipuji oleh Anton.

    Saya adalah salah satu saksi yang hadir di situ (VIP room Grand studio MetroTV). Ada juga Program Director Acara, Rachmayanto (MetroTV), ada Suko Widodo (Direktur Pusat Kajian Komunikasi Universitas Airlangga), dan delapan orang lagi yang bisa menjadi saksi di depan pengadilan atau ekspos publik sekalipun. Jadi, Sdr. Anton, sama seperti Anda, Keliek memiliki MASALAH MORAL dan ETIKA dengan menyebut semua orang UI di belakang Effendi adalah "T.K" (maaf, artinya kotoran hewan).

    Dengan sangat arogan waktu itu Keliek merasa dirinya yang paling hebat yang paling bisa membuat Newsdotcom jadi populer dengan lawakan plesetannya. Padahal dia lupa, basis elementer dari Parodi Politik adalah Updating News yang dianalisis secara cerdas, kritis, faktual dan terkadang jenaka dengan kehadiran TOKOH-TOKOH Besar Nasional (Berkat jaringan sosial akademisi UI) seperti Prof. Amien Rais, Hidyat Nur Wahid, Gus Dur, Ikrar Nusa Bhakti, Kwik Kian Gie, Bambang Widjoyajnto, Andi Mallarangeng, bahkan Wapres Jusuf Kalla yang mau dua kali ikut dalam bagian Newsdotcom. Sedangkan lawakan plesetan cenderung terjebak pada pengulangan-pengulangan yang "garing" meski bisa saja penonton hanya sedikit terhibur bila benar2 baru memperoleh lawakan itu.
    Begitulah, waktu itu Keliek dengan arogan mengancam akan keluar dari Newsdotcom dan menganggap Newsdotcom bakal sepi tanpa dia. Saya rasa, jika Sdr. Keliek dan Anton sekarang masih melihat Newsdotcom yang ternyata malah "dianggap" menggerus kewibawaan kekuasaan oleh penguasa, maka sebenarnya makin menjungkirbalikkan arogansi Keliek itu. Bahkan tayangan ini telah membuat Jaringan TV Al Jazeera, French TV, Netherlands TV, koran besar The Asahi Shimbun, The Yomiuri Shimbun, The Straits Times (Singapura) secara khusus meliput Newsdotcom. Tentu apalagi liputan khusus dari media-media nasional kita seperti Kompas, Majalah Tempo, Republika, Pos Kota, Koran Tempo, Warta Kota, Rakyat Merdeka, Jawa Pos, Media Indonesia, Detik.com, dll, makin memposisikan Newsdotcom sebagai suguhan alternatif yang membuat pemirsa merindukannya (Berbagai polling media secara khusus tanpa kami tahu menunjukkan dukungan 80%-90% pemirsa dan masyarakat kepada Newsdotcom !!) Fakta ini, bagi saya adalah harapan sekaligus kenyataan bahwa Media Literacy untuk pemirsa telah dimulai dengan hadirnya Republik BBM lalu Republik Mimpi di ranah publik industri penyiaran kita.

    Saya berharap semoga penjelasan ini dibaca oleh Anton, Keliek, para penonton Newsdotcom, warga UI dan semua yang perlu tahu. Jadi masalahnya jangan di-twist oleh Anton ke soal Diktator dan Tafsir-tafsir itu, tapi sekali lagi: Orang-orang UI di Newsdotcom DIHINA, sebagai "T.K" (kotoran hewan) oelh Keliek, sehingga mereka tidak lagi mau menerima Arogansi Keliek!

    Orang bisa berbeda visi seperti apa pun tapi menyatakan kelompok orang lain (akademis) kotoran adalah cermin dari diri Keliek dan Anton sendiri!

    Om Wimar, terima kasih atas klarifikasi untuk manipulasi data dan wacana oleh Anton ini, semoga yang benar selalu muncul ke permukaan berkat acara-acara dan situs Om Wimar ini!

    Salam Demokrasi,

    M.Iqbal, M.Si.
  19. From anonymous on 08 March 2007 17:06:12 WIB
    pak wim...
    saya masih belum ngerti apa itu somasi, terlalu sering denger di infotainment, jadi kedengeran seperti basa basi. ato lebih baik lagi bisa dimakan dengan sweet and sour souce? hehehe... maap ya pak wim, saya garing, tapi emang the whole thing sounds like a big joke to me... jangan2 bang pendi kerja sama ama pak mentri buat iklan gratis hohoho... abis mesra banget pake smsan segala (cemburu d)... tampilin juga donk nopena bang pendi ahahah
    emang bener ya ada pembunuhan karakter... kayak2nya rasa hormat saya kepada beliau2 yang parodikan yah segitu2 aja, tak lebih dan tak kurang... abis ga kenal secara pribadi siy...
    btw, saya ga suka parodiannya pak wim di rp, soalnya senyumnya ga secerah pak wim punya :D
    lagipula saya baru tau ternyata sekretaris kabinet yang asli sama sekali tidak cantik... apalagi kalo dibandingin sama skna rp... jauh... jadi bukannya harusnya bangga ya?
    katana sebenerna blm di somasi ya? mo ngobrol dulu sambil ngupi2? aduh... tambah sirik d... ajak2 ya...
    tolong bilangin pak anton supaya buat parodiannya bang pendi, laku tidak laku tolong dikirim ke saya dalam bentuk vcd atau dvd ahahaha...
    sekali lagi maaf atas kekurang ajaran saya
    salam hormat
  20. From Ny. Susilowati. R on 11 March 2007 13:25:57 WIB
    Pak Sofjan Djalil tenang saja, kalau SBY di Pemilu 2009 nanti menang lagi, pasti akan dijadikan menteri lagi. Saya sekeluarga & temen-teman saya sangat senang mengikuti tayangan Republik BBM & News.com karena isinya sangat menarik.

    Menurut saya News.com ini merupakan kreatifitas seni yang sehat yang orang jadi tidak bosan untuk melihatnya. Selamat kepada Pak Effendi Ghozalli.
  21. From Cak Iqbal on 20 March 2007 18:34:21 WIB
    Penjelasan Resmi kenapa KELIEK PELIPUR LARA Dikeluarkan dari Newsdotcom (Republik Mimpi)

    Penjelasan ini adalah penjelasan resmi atas nama Muhammad Iqbal, Staf Litbang Newsdotcom, Kantor Berita Republik Mimpi.
    Saat ini juga merupakan mahasiswa program doktoral Ilmu Komunikasi FISIP UI, email: republik_mimpi@yahoo.com serta HP: 08170000060

    Mengingat banyak sekali komentar-komentar di media massa serta internet yang sangat manipulatif tentang kenapa Sdr. Keliek Pelipur Lara tidak lagi bersama dengan Newsdotcom/Republik Mimpi, maka dengan ini saya sampaikan keterangan sebagai berikut:

    Keliek Pelipur Lara yang tiba-tiba melambung lagi setelah mendapat peran sebagai UCUP KELIEK Wapres Republik BBM, atas usulan dan bahkan dengan nama pemberian Effendi Gazali, ternyata sejak di Newsdotcom sudah tidak mampu lagi membagi waktunya untuk berkumpul dan berlatih bersama dengan Tim Newsdotcom.

    Puncaknya di tengah tergopoh-gopohnya Keliek mengambil JOB Newsdotcom yang sangat mepet dengan persiapan SAHUR-SAHUR (SCTV), maka setelah EPISODE LIVE dengan DIRLANTAS POLRI, Keliek marah-marah di RUANG GANTI METRO TV, dengan mengatakan:
    ”Apa itu orang-orang UI!? T..K KUCING SEMUA (maksudnya KOTORAN KUCING)”

    Yang dimaksud orang-orang UI adalah Staf Litbang dan Produksi Newsdotcom dari Universita Indonesia. SAKSI pada peristiwa ini adalah saya sendiri, MUGI dari UI, SUKO WIDODO (yang juga Dosen UNAIR), RACHMAYANTO (Program Director Newsdotcom dari Metro TV) dan sejumlah talents serta Staf lainnya.

    Apa pun keberatan Sdr. Keliek Pelipur Lara, dia tidak pantas menghina institusi mana pun, termasuk UI (Acara Newsdotcom memang kerjasama dengan Asosiasi Pascasarjana Komunikasi UI; dan penghinaan Keliek ini berarti juga ditujukan kepada Effendi Gazali, Ph.D., Dedy N. Hidayat, Ph.D., Pinckey Triputra, Ph.D., DOSEN UI yang merupakan Penasehat Newsdotcom).

    Saya dan semua saksi siap dikonfrontir dengan Keliek, bahkan DI DEPAN PERS. Janganlah kesombongan sesaat karena tiba-tiba terkenal lagi, dan sudah sibuk dengan janji tampil di sana-sini, menjadikan seseorang bisa melupakan serta menghina teman-teman lain yang mensupportnya apalagi menghina institusi! Jangan pula menggunakan segala daya dan upaya di berbagai media untuk MEMANIPULASI APA YANG SESUNGGUHNYA KELIEK LAKUKAN DAN KATAKAN!

    Saya berharap PENJELASAN INI TERSEBAR KE PERS, juga kepada teman-teman UI, serta segera mendapat TANGGAPAN dari KELIEK PELIPUR LARA!

    Maret 2007



    Effendi Gazali, Ph.D.
  22. From Nugroho on 02 April 2007 14:20:11 WIB
    Indonesia kan negara demokrasi, jadi wajar-wajar saja kalo mengkritik. asalkan kritik itu membangun..
    kalo dilihat dari kenyataan yg ada,pemerintahan yg sekarang harus banyak dikritik!!! cara penyampaian kritik lewat parodi kan bagus,jadi buat apa disomasi..
    kalo ada yg tersinggung, ya ngaca dulu lah??!!
    orang memberi kritik kan pasti ada alasanya, kalo gk mau dikritik ya kapaaannnn mmmaaaaajuuuunyaaaaa!!!!
  23. From ansori on 04 May 2007 11:13:44 WIB
    bapak menkoinfo yang terhormat. apa anda takut republik mimpi akan membuT RESAH pemerintahan. seharusnya anda berterima kasih kepada newsdotcom yang masih mau mengkritik pemerintah.dengan adanya newsdotcom di metro tv masyarakat jadi tahu apa yang terjadi di pemerintahan kita. apa anda mau mengalami rushafel seperti teman2 anda. news dotcom adalah gambaran bangsa ini.seandainya negeri ini tidak seperti sekarang ini, yang tidak menjun jung tinggi asa keterbukaan atau transparansi kepada rakyat mungkin saat ini tidak akan ada acara yang namanya newsdotcom. terima kasih
  24. From Sony Herdiansyah on 23 May 2007 18:07:24 WIB
    kritik politik yang dilancarkan oleh republik mimpi memang benar ko. jadi untuk apa disomasi kalau itu bisa jadi bahan pelajaran bagi pemerintah untuk menuju ke arah yang lebih baik.
    bukankah kita sama sama ingin membangun indonesia.
  25. From Lan\'z Apr 90 on 21 June 2007 23:16:17 WIB
    Saudara Anton yg terhormat:

    Saya tidak akan berbicara banyak, tetapi berpikirlah 2x sebelum berbicara. Jangan lupa bahwa acara News.Com juga memberikan kritik yang bersifat konstruktif. INGAT...!!! Bangsa yang besar bukan hanya dinilai dari bagaimana seorang pemimpin dihormati oleh rakyatnya, melainkan hanya seorang pemimpin yang dengan gentle menerima kritik dan mau berintrospeksi-lah yang akan dihormati oleh dunia.

    Kritik itu biasa......Manusia ada lemahnya.......
    Maju terus NewsDotCom

    Lan'z
  26. From Martono Wibowo on 07 January 2008 15:46:43 WIB
    Berpikir lah sebelum bicara, anda kan seorang yang berintelektual

    Kenapa news.com dilarang???
    News.com buat saya sangat mendidik....

    News.com selalu menggambarkan bagaimana negeri ini harus terbuka kepada rakyat.. dmn selama ini saya tak pernah hal itu...

    Di televisi lain acara2 nya masih byak yang perlu di koreksi.....

    Mendidik pa tidak???

    kenapa yang mendidik di kritik???

    Kritik itu biasa... Manusia ada lemahnya...

    Hidup dan Maju Terus

    NEWS.COM


  27. From pynokyo on 09 January 2008 12:10:56 WIB
    ya.,.,.,.,.,

    begitulah manusia.,...

    maunya ya pasti benar sendiri...jaran sekali ada orang yang mau menerima kritik atau cercaan ketika mereka memang salah..

    kalau nyatanya republik mimpi itu disukai pemirsa gimana???

    kalo republik mimpi stop tayang apa pemerintah bisa menggantikan acara yang lebih mendidik dari republik mimpi???

    apa pemerintah mengajak kita supaya kita melihat tayangan sinetron yang hanya berisikan masalah cinta dan kekayaan yang membuat masyarakat kita cuma bisa bermimpi lebih khayal lagi??

« Home