Articles

Menkominfo (sebagai pribadi): Jangan Mengolok Kepemimpinan

Wimar's World
08 March 2007

Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan A. Djalil menyatakan bukan zamannya lagi untuk melarang atau mensensor suatu program TV. Bahkan dia juga setuju tidak ada dasar hukum untuk mensomasi tayangan Republik Mimpi. Kini dia melemparkan wacana mengenai kepemimpinan (leadership) seperti lembaga kepresidenan tidak boleh menjadi bahan lawakan. Apakah ini fungsi Menkominfo?

Berikut ini beberapa petikan wawancara antara Wimar Witoelar selaku host Wimar's World dengan tiga narasumber tamu yaitu Butet Kartaredjasa, Sofyan A. Djalil, dan Riza Primadi mengenai Sensor Politik Dulu dan Sekarang di Jak-TV pada Rabu malam.


Riza, Wimar, Sofyan, Butet

Hanya Sofyan Djalil

  • Wimar: Dalam pengalaman Anda sewaktu meniru suara Pak Harto dan juga pernah suara Pak Habibie, apakah Anda pernah mendapat reaksi negatif dari mereka yang suara dan gayanya pernah ditiru?
  • Butet: Saya belum pernah konfirmasi kepada Pak Harto, jadi saya tidak tahu reaksinya. Untuk Pak Habibie, dari informasi rekan wartawan yang pernah wawancara dengan dia, Pak Habibie happy aja dan tertawa. Sedangkan untuk Pak SBY, Andi Mallarangeng pernah menelepon menyampaikan salam Pak SBY dan ingin bertemu
  • Wimar: Apakah Anda sadar bahwa dalam melakukan peniruan suara mungkin akan ada orang yang tidak senang?
  • Butet: Sadar. Ada kemungkinan orang tidak senang.
  • Wimar: Apakah memang semestinya begitu atau itu suatu hal yang ingin Anda hindari?
  • Butet: Justru banyak orang yang senang. Yang tidak senang justru hanya Pak Sofyan Djalil. (Hahaha.. Sofyan ikut ketawa)
  • Wimar: Jadi selama ini pada umumnya belum pernah ada orang yang suaranya Anda tirukan marah kepada Anda.
  • Butet: Saya bocorkan di sini, pada zaman Orde Baru saya pernah diundang Pak Wismoyo ke sebuah apel Kostrad di Cilodong. Seluruh prajurit apel pada tengah malam dengan semua cahaya dimatikan dan hanya tinggal audio untuk suara saya saja. Saya bersuara seperti Soekarno, Sudirman, dan Soeharto untuk memotivasi prajurit Kostrad. Semua prajurit yang sekarang sudah banyak yang menjadi jenderal percaya bahwa Pak Harto datang. Artinya ada manfaatnya di situ.
  • Wimar: Kalau somasi itu melayang, apakah bagi Anda itu masalah besar atau biasa? Bagaimana sikap Anda mengenai kemungkinan adanya somasi?
  • Butet: Itu masalah biasa saja. Itu bagian dari risiko pekerjaan. Kita sangat percaya hukum bisa ditegakkan. Dalam hal ini daripada membredel lebih baik somasi dan nanti pengadilan yang menguji kebenarannya.
  • Wimar: Antara 1998 sampai sekarang, apakah Anda pernah mendapat tekanan mental yang berat dari penampilan Anda di panggung?
  • Butet: Saya penuh percaya diri karena saya tidak pernah melanggar hukum. Itu yang membuat saya mempunyai nyali untuk melakukan semua itu. Saya juga sempat bertanya ke mentor saya, ternyata yang saya lakukan tidak melanggar hukum.
  • Wimar: Apakah yang Anda lakukan di Republik Mimpi tidak melanggar hukum juga?
  • Butet: tidak
  • Wimar: Apakah itu melanggar selera baik, maksudnya, kurang bagus, kurang sopan, atau murahan.
  • Butet: Itu sangat santun karena kita tidak pernah menyerang pribadi, tidak pernah mengejek cacat fisik orang. Kita justru menyajikan suatu refleksi yang parodi. Saya tampil di Republik Mimpi dalam tafsir seni peran. Saya tidak pernah citra itu diplesetkan menjadi hal-hal yang murahan tapi tetap dalam suatu citra sesuai karakter.
  • Wimar: Jadi Anda tidak mempunyai agenda untuk menjerumuskan SBY.
  • Butet: Oh tidak. Disiplin saya adalah aktor. Jadi saya menafsirkan suatu peran.


Ketawa terus...

Trauma Harmoko

  • Wimar: Sekarang saya tanya kepada Pak Menteri Sofyan Djalil. Kalau dulu Pak Harmoko (menteri penerangan masa Pak Harto – Red) ditanya mengapa melakukan itu selalu dijawab oh itu atas petunjuk Bapak Presiden. Apakah Pak Sofyan melakukan ini atas pentunjuk Pak SBY atau tidak?
  • Sofyan: Tidak sama sekali.
    Ceritanya begini, sehabis rapat kerja di DPR, saya ditanya rekan-rekan wartawan mengenai program Republik Mimpi. Saya menjawab saya mendapat banyak SMS termasuk surat yang mengirim surat kepada saya mengenai apakah program ini ada atau tidak manfaatnya, apakah program ini tidak mengolok-olok kepemimpinan?
    Pak Presiden sebenarnya tidak terganggu dengan acara ini cauma dengan ada SMS seperti itu, saya mengatakan mari kita diskusikan. Ada yang mengatakan bagaimana kalau disomasi saja, saya jawab, "That's a good idea. Kita akan pikirkan." Tapi saya tahu secara hukum tidak ada alasan untuk mensomasi mereka. Pertama, tidak zamannya lagi kalau menutup program suatu acara televisi. Kedua, secara hukum tidak ada pelanggaran hukum.
  • Wimar: Jadi somasinya belum dibuat
  • Sofyan: Belum dibuat. Setelah pengacara saya mempelajarinya, tidak ada dasar hukumnya. Saya juga sepakat dengan Pak Butet bahwa program ini tidak melanggar hukum. Ini bagian dari kebebasan berekspresi. Tapi yang menjadi masalah adalah mengolok-olok kepemimpinan sehingga apakah itu banyak mudharat atau manfaatnya.


Jadul bgt...

Who Controls Morality?

  • Wimar: Bagaimana Anda yakin bahwa orang itu tidak senang sehingga Anda sampai melakukan sesuatu, yang bagi seorang menteri tentu sangat berarti?
  • Sofyan: Jadi begini. Saya ingin ini menjadi wacana publik karena ada pro dan kontra. Acara ini ada benefitnya tapi tentu juga ada mudharatnya. Ini juga karena melihat kepemimpinan di semua level perlu dihormati. Misal, lurah perlu dihormati agar bisa memimpin desanya. Kalau di negara demokrasi konstitusional, raja ditempatkan begitu terhormat karena raja semacam guiding light yaitu menjadi orang yang bisa memberikan harapan pada masyarakat dalam keadaan distress. Di negara demokrasi republik tidak ada raja. Karena itu presiden seharusnya menjadi guiding light tadi.
  • Wimar: Ada yang tulis komentar perspektif.net dengan mengutip ucapan terkenal bahwa pemimpin yang besar adalah pemimpin yang bisa mentertawakan dirinya. Misal, Presiden AS John F Kennedy dan PM Inggris Winston Churchill memiliki rasa humor yang tinggi dan kalau dilawakan juga senang. Anda menganggap Indonesia tidak boleh begitu sehingga presiden itu harus angker, tidak boleh dilawakan.
  • Sofyan: Bukan seperti itu. Bagi saya kritik dan lelucon itu bagus sekali. Tapi kalau kemudian itu menjadi olok-olok walaupun Pak Butet mensyaratkan itu tidak boleh tapi orang menafsirkannya demikian. Kalau mengolok-olok berarti kita mengajarkan kepada bangsa ini untuk tidak ada penghormatan kepada kepemimpinan.
  • Wimar: Apakah Pak Menteri sanggup untuk menjadi guru bangsa dalam menetapkan standar leadership dan etika kesantunan.
  • Sofyan: Oh tidak, saya tidak menyatakan diri saya. Saya menjadikan ini wacana publik karena orang banyak yang suka termasuk saya menyukai program ini. Tapi banyak orang suka karena ini mengolok-olok kepemimpinan.
  • Wimar: Apakah ini memang tugas Menkominfo, seperti Menteri Penerangan di jaman Soeharto? Bukankah Menkominfo itu tugasnya mengatur internet dan sistem komunikasi?
  • Sofyan: Ya betul, itu main job saya. Saya mengajukan wacana ini sebagai seorang pribadi, bukan sebagai Menteri. (Hmm...???)

Saya sebagai pribadi...

Hak Mendapat Kesenian

  • Wimar: Bagaimana cara mengukur bahwa itu mengolok-olok kepemimpinan?
  • Sofyan: Karena itu saya mengatakan kepada Pak Efendi Gazali yang saya anggap sebagai aktor intelektualnya untuk kita mencoba untuk ruginya dari acara tersebut.
  • Wimar: Saya kira perlu dibuat angket atau referendum apakah acara tersebut bagus atau tidak. Saya bukan membela Efendi walau dia teman saya tapi ini terkait prinsip kebebasan berekspresi.
  • Butet: Saya kira bukan semata-mata kebebasan berekspresi tapi juga hak publik untuk mendapat informasi yang bersifat artistik. Publik punya hak untuk mendapatkan itu.

Lihat Rating

  • Wimar: Sewaktu pertama kali saya masuk TV 10 tahun lalu, Anda sudah menjadi produser senior. Anda juga sudah bekerja di TV dari zaman Soeharto sampai sekarang. Apakah yang kita bicarakan sekaran ini hal yang mengkhawatirkan atau tidak?
  • Riza: Zaman sekarang jauh berbeda dengan dulu. Kalau dulu sebagai wartawan sering ada telepon dari Puspen, "Tolong ini jangan diberitakan." Kalau sekarang sangat Ok Kalau saya cermati dari pemberitaan media. Ini ada problem karena orang baru berbicara sudah dijadikan fakta akan dilakukan.
  • Wimar: Berkaitan kondisi sekarang Ok tadi, ini ada SMS yang mengatakan hati-hati dengan kebebasan karena bisa hilang atau direbut lagi. Jadi ini mungkin orang takut atau paranoid.
  • Riza: Iya betul. Dulu setelah 1998 pers bebas sekali. Sekarang sudah mulai ada keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.
  • Wimar: Jadi kondisi Ok karena proses masyarakat, bukan karena digiring.
  • Riza: Iya, bukan digiring. Karena itu seperti kata Pak Sofyan, biarkan saja ini bergulir menjadi wacana. Tapi secara TV, ini sangat menguntungkan Pak Butet dan kawan-kawan karena menjadi promosi gratis. Kalau di TV ada yang namanya program cycle dan itu cepat sekali. Jadi kalau suatu program dibiarkan saja akan mati sendiri. Itu alami.
  • Wimar: Karena itu kalau Pak Sofyan tidak suka bukan begini caranya. Itu membuat acara tersebut lebih populer seperti acara saya dulu Perspektif yang setelah dibredel malah menjadi populer. Apakah Pak Sofyan tidak takut terjadi seperti itu?
  • Sofyan: Saya tidak melihat dalam perspektif seperti itu walaupun dari segi ini Pak Butet tentu akan berterima kasih
  • Butet: Iya. Kalau bayar, berapa yang harus dikeluarkan?
  • Sofyan: Ini karena ada banyak orang mengirim SMS dan meminta perhatian
  • Wimar: Apakah itu betul. Ini bukan karena saya meragukan keabsahannya tapi saya menerima SMS sebaliknya.
  • Sofyan: Betul, banyak. Saya mau menjadikan ini wacana publik. Ini kesannya seolah-olah dari awal hingga akhir tokohnya hanya itu saja.
  • Butet: Kalau saya mempercayai kearifan dan kecerdasan publik. Kalau faktanya publik tidak suka maka tidak akan ditonton dan tidak akan ada iklan sehingga akan mati sendiri. Jadi kita kembalikan ke publik.
  • Wimar: Kalau Pak Riza menjadi direktur di stasiun televisi yang menyiarkan Republik Mimpi, apakah akan mempertahankan acara tersebut?
  • Riza: Saya akan melihat rating. Rating sebagai ukuran.


Somasi, so what? Terima kasih, promosi gratis...

SMS Penonton

+62817077xxxx
Katanya bangsa Indonesia,mempunyai mslh multidimensi,salah 1nya ttg budaya. Sebetulnya,apakah budaya bangsa Indonesia itu? Apakah membuat konyol simbol2 negara termasuk sbg budaya kita? Ataukah kebebasan bertindak/pikir/ekspresi t'masuk didalamnya? Mirip sex bebas dong,atas nama nilai2 humanis smua boleh,walau d agama manapun dilarang. Apa ngga ada cara lain yg lebih kreatif dan sesuai dg norma yg biasa qta anut? Dan tidak sekedar urusan bisnis semata. –

+628138023xxxx
Diskusi yg luar biasa, benar2 jadi jelas, terutama sikap sofyan djalil. Congrat ww, saya yakin w'w akan dpt rating 1 lagi.

+628193299xxxx
Acara republik mimpi Teruskan

+628588076xxxx
Citra Pemimpin kita Bpk.SBY takan turun krn kritik,Beliau tetap penuh kasih,toleran & anti K.K.N.kita tetap mendukungnya & bersyukur bisa dipimpin Beliau.thanks

+62816112xxxx
Kalo masuk soal moral, selera, kualitas, siapa yg bisa kontrol sinetron yg membodohkan? Menkominfo, KPI, atau badan lain?

+628158600xxxx
Pro & Kontra adalah proses pembelajaran DEMOKRASI pada masyarakat & Bangsa Indonesia, mari kita tunggu bentuk lain dari wujud DEMOKRATISASI, dari BF JAPPAR.

+62816137xxxx
begini, yg harus diurus itu yg korup bukan somasi, jalan terus Republik BBM.

+628180808xxxx
Pak Menteri,alasan anda terdengar mengada-ada. (diana)

+62815888xxxx
Pak somasi tuh play boy bukan republik mimpi. Macam enggak ada kerjaan saja.

+62812915xxxx
Aneh. Acara sinetron yg juelek, kasar dan biadab diluruskan tayangannya. Kenapa Newsdotcom malah diutak atik?

+62812202xxxx
Effendi kapan kau mengajar kami mhswmu kalau tiap hari muncul di tv. Apa ini bukan korupsi waktu ...

+628521777xxxx
Dari syahrul di ciputat.yg mensamosi acara BBM msh masa orba skrg masa reformasi Bung !!

+62815888xxxx
Pak Sofjan, parodi is OK. It is to make the world more colorful. Do not take it so hard. In fact it is very good to give a different perspective on how the government govern this country. Do not bring Aceh perspective in this matter.

+62812812xxxx
Jaman sdh berubah pak menteri! Berjiwa bsr dong kl rakyat meniru spy pejabat sadar slm ini kelakuannya mmg spt itu, jd cpt berubah kearah yg lbh baik. Melia

+628588076xxxx
Hanya pemimpin yg fasis & komunis yg tak sudi dikritik krn mereka antidemokrasi,alias diktator.kita bersyukur Yth.Bpk.SBY bukan diktator,dia Pancasilais sejati.

Siaran Ulang: Senin (12 Maret) 15.00

Baca juga komentar2 seru di:

Print article only

62 Comments:

  1. From Rudi on 08 March 2007 09:44:52 WIB
    He.he.. mas Wimar kalah cerdik.
    Pengin ngundang Menkominfo.. eh yang datang sofyan jalil.
  2. From Pudjiastuti on 08 March 2007 10:00:58 WIB
    Republik Mimpi sebetulnya hanya untuk mengingatkan kita untuk perbaikan bangsa Indonesia, bukan untuk mengkritik pemerintah. jadi tolong jangan disomasi, apalagi dibreidel. Mendingan kita somasi dan kita breidel sinetron2 yg mengumbar aurat dan kekerasan.
  3. From Madis on 08 March 2007 10:05:03 WIB
    Ooo, jadi bukan menkominfo toh yang mau mensomasi, cuma seorang sofyan djalil berdasarkan sms dan bisikan yang beliau terima. Tapi menurut saya menkominfo ataupun sofyan jalil kalau mau mensomasi silahkan saja, biar nanti hukum yang menentukan, apakah tayangan tersebut melanggar hukum atau tidak. Caranya (proses)sudah benar toh, perkara hasil urusan lain.
    Teruskan Republik Mimpi.
    Teruskan Sofyan Djalil (pribadi lho).

    Hidup Wimar's World
    Hidup Hukum.
    Hidup Demokrasi.
    Hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia
    God Bless Us.
  4. From Satya on 08 March 2007 10:06:21 WIB
    pengen ngundang menteri urusan internet, yg datang menteri urusan moralitas.. hahaha
  5. From Klementius on 08 March 2007 10:08:53 WIB
    ACARA TADI MALAM, MENURUT SAYA, ADALAH YANG TERBAIK DARI SEMUA EPISODE YANG PERNAH DITAYANGKAN.
    KEDEWASAAN KETIGA NARASUMBER MENUNJUKKAN BAHWA SEMUA PERBEDAAN PENDAPAT DAPAT DISELESAIKAN DENGAN BERDIALOG.
    SEMUA MASALAH ISU SOMASI REPUBLIK MIMPI AKHIRNYA TERJAWAB DI WIMAR'S WORLD.
    >>>>>>>>>>>> AH.....INDAHNYA DEMOKRASI..<<<<<<<<<<<<<<<<
    DARI SEMUA PEJABAT DG KOMENTAR2 TERHADAP MASALAH BANGSA (YANG SELALU MEMBUAT HATI JENGKEL), TERNYATA ADA TERSELIP ORANG SEPERTI PAK SOFYAN DJALIL. WALAUPUN SAYA BERBEDA PENDAPAT DG PAK SOFYAN (SAYA TERMASUK BARISAN TERDEPAN PEMBELA ACARA REPUBLIK MIMPI), ISI PIKIRANNYA YANG DIKEMUKAKAN TADI MALAM BENAR2 MEMBUAT HATI LEGA.
    PAK PRESIDEN SBY (SUSILO BAMBANG YUDHOYONO) YANG SELAMA INI SAYA KIRA MEMILIH ORANG2 YANG SALAH UNTUK MENJADI MENTERI-NYA TERNYTA TEPAT MEMILIH PAK SOFYAN YANG INTELEK DAN MODERAT, JUGA MERAKYAT (MASIH INGAT PAK SOFYAN YANG MENGANGKAT KARDUS BAHAN MAKANAN UNTUK KORBAN BANJIR JAKARTA BEBERAPA WAKTU LALU). SEJAUH INI, SELAIN PAK SOFYAN BELUM ADA SATU ORANGPUN MENTERI YANG MENCERMINKAN DIRINYA PANTAS SEBAGAI PEJABAT. SEMUA KEKANAKAN DAN SELALU MENCARI KAMBING HITAM.

    Note u/ Pak Effendi:
    Mohon kembalikan format republik mimpi seperti semula, jangan pakai kerajaan2 segala. mahkota2 dan sebutan raja dan perdana menteri sangat tidak membuat nyaman.
    Sebelumnya terima kasih.
  6. From moh toha on 08 March 2007 10:18:20 WIB
    Saya rasa apa yang disampaikan oleh Pak Sofyan selaku pribadi ada juga benarnya, bahwa seorang pemimpin haruslah menjadi sosok yang disegani dan dihormati. Pemimpin juga harus merupakan seseorang yang dapat dijadikan panutan bagi orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya, terutama bila itu seorang Presiden atau kepala negara.
    Tetapi,…bahwa menjadi sosok yang disegani dan dihormati…secara moral, bukan secara hukum atau tatakrama dsb…..tidak dapat dicapai dengan misalnya mentabukan parodi atau bahkan olok-olok tentang Presiden. Itu hanya bisa dicapai apabila sang pemimpin telah membuktikan dirinya memang layak menerimanya, melalui pencapaian-pencapaian yang diharapkan oleh rakyatnya.
    Tanpa ada pun parodi atau olok-olok yang ditayangkan, kewibawaan dan rasa hormat dari rakyat akan luntur dengan sendirinya apabila sang pemimpin tidak mampu membuktikan hal itu. Sebaliknya, sesering atau sebanyak apapun parodi atau olok-olok, tidak akan melunturkan rasa hormat dan wibawa bila dia memang telah membuktikan dirinya.
    Jadi, Pak Sofyan tidak perlu risau memikirkan hal itu, karena itu merupakan proses yang alamiah yang bisa terjadi pada siapapun dan dimanapun. Rakyat kita tidak sebodoh apa yang bapak fikirkan kok. Mungkin hanya seorang Bapak yang kadang kurang memahami anak-anaknya.
    Khusus untuk Republik Mimpi (news dot com), menurut saya di dalamnya sama sekali tidak ada unsur-unsur pelecehan, atau hal-hal yang barangkali bisa melunturkan wibawa seorang SBY dan JK. Justeru, dalam beberpa hal, malah akan mempopulerkan SBY dan JK dan meningkatkan penghargaan masyarakat terhadap mereka. Seorang Presiden, pemimpin tertinggi sebuah negara besar bernama Indonesia, mau menerima kritikan (bukan hanya pujian) dengan lapang dada. Bukankah itu suatu hal yang sangat membanggakan dan patut dijadikan teladan?
    Justeru wacana Pak Sofyan Jalil tentang somasi acara tersebut malah akan menimbulkan kesan buruk terhadap kelapangan dada yang selama ini telah ditunjukkan tersebut? Lebih baik Pak Sofyan pikirkan saja bagaimana caranya agar rakyat Indonesia bisa memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan lebih mudah dan murah.
    Gitu aja kok repot…..?! That’s right brother?
  7. From sondang s. on 08 March 2007 11:23:06 WIB
    Sdr.Sofyan tidak paham bedanya olok-olok dan seni peran/parodi. Wibawa kepresidenan maupun presiden bukan untuk dipupuk pupuk biar subur, tetapi wibawa dan kehormatan orang diperoleh sendiri dari masyarakat. Gak usah repot dijaga-jaga Sdr.Sofyan. Menyerang Butet/news.com akan merugikan Sdr Sofyan dan presiden sendiri.
  8. From denim lover on 08 March 2007 12:01:22 WIB
    Sofyan Jalil is polishing an apple.. :-)
  9. From Harjono on 08 March 2007 12:30:54 WIB
    Acungan 2 jempol untuk bung WW.
    Ternyata dialog dan diskusi dari kejujuran hati menunjukkan bahwa kita ini sebenarnya mempunyai keinginan yang sama untuk membangun bangsa ini.
    Pemimpin yang hebat justru tidak pernah minta untuk diagungkan, dan masyarakat yang santun juga tidak akan mengolok olok pemimpin yang dia segani ( tentu karena prestasi dan hasil kerja pemimpin itu ).
    So, sekarang semua sudah jelas, dan buat rekan2 republik mimpi, jangan pernah ragu dengan hasil karya yang besar ini.
    Hidup Republik mimpi,
    We welcome you to the dreaming country....
  10. From Dennis on 08 March 2007 12:36:44 WIB
    Udah Deh, gak usah pake somasi segala... begitu aja koq repot! rakyat kita udah pinter koq... saya dulu mendukung SBY-JK tapi dengan adanya tayangan Republik mimpi, tidak juga berkurang respect saya terhadap beliau2... semua asik2 aje...

    mbok ya kalo mau bertindak harus yang relevan dan significant dong bapak menkominfo...!!

    dan tolong supaya formasinya kembali lagi jadi REPUBLIK MIMPI... BUKAN KERAJAAN MIMPI!!!

    HIDUP REPUBLIK MIMPI..!!!

    Atas nama anak2 kost
    daerah grogol (semeru raya)
  11. From suTha on 08 March 2007 12:57:00 WIB
    semua tergantung otak kita, kalo kita mau berfikir positif ya positif hasilnya. kalo saya sih menganggap justru parodi RM merupakan bahan penyampaian apa yang menjadi kebijakan para tokoh, baik yg masih aktif maupun yg sudah purna bakti. karena saya melihat semua yang disampaikan pada acara RM isinya hanya tentang kebijakan2 yg pernah dan sedang mereka jalankan. hanya cara penyampaiannya dengan cara parodi. gak ada yang perlu dicekal atau disomasi. dan sekali lagi tergantung cara kita menyikapinya.
  12. From h. pandiangan on 08 March 2007 13:04:23 WIB
    hari gini mau somasi Republik BBM...gak laku apalagi yang somasi bukan Menteri melainkan rakyat biasa yang namanya Sofyan Jalil.

    Sebaiknya News Dot Com mencari orang yang mirip Sofyan Jalil...tampilkan setiap minggu di Republik Mimpi sebagai SOPI NAN JAHIL dan Tanyaken...Apa? dan siapa? dalang dibelakang upaya somasi ini?....gitu aja kok repot!

    salam, H. Pandiangan
  13. From bapakeghozan on 08 March 2007 13:43:45 WIB
    hehehe..
    agak lucu aja, Pak Sofyan atas nama pribadi kok yah baju batiknya yang buagus di tempeli lencana apa logo itu.

    ndak ngerti..kok ya refort.
    lah gaweannya sendiriaja nggak kelar-kelar.

    wah super duper lucu alias dagelan semalam.

    wassalam
  14. From Andhika on 08 March 2007 13:45:23 WIB
    Saya adalah salah satu dari jutaan penggemar "Republik Mimpi". Menurut saya Republik Mimpi harus tetap dipertahankan, jangan sampai "dihilangkan".

    Pak Sofyan sebaiknya anda "legowo" saja lah...karena saya yakin acara tersebut benar2 diminati masyarakat kita.

    Gimana kalo kita mempersoalkan sinetron2 remaja yang ada di TV saja? Itu lho Pak, masa' siswi2 SMA pergi ke sekolah memakai rok "super mini", berdandan lengkap (memakai bulu mata palsu, eye liner, lipstick tebal, bedak yang tebal), kancing baju atas dibiarkan dilepas satu dsb. dsb. Wah pokoknya memprihatinkan sekali. Nah...sinetron2 itu saja pak yang di somasi....Gimana pak? OK dong? hehehehe....

    Salam,
  15. From yusuf on 08 March 2007 15:06:21 WIB
    Terus maju Republik Mimpi. Utk Pak Sofyan, lebih baik bapak fokus kepada bagaimana menyediakan internet murah, dan cepat. Jangan seperti kura-kura utk membuka acess internet. Biar bangsa ini semakin maju. Pak Sofyan tidak usah kwartir, yang nonton republik bbm adalah kelasa sosial ekonomi yang berbeda dengan rakyat kebanyakan. contoh pembantu saya nonton dangdut TPI, sinetron, dan cerita tentang hantu dan setan. Tidak pernah nonton Metro TV. Yang nonton atau senang dengan Repbulik bbm mempunyai tingakt kecerdasan yang lebih, jadi jangan kwartir, mereka tahu cara menghormati President. Yang nonton pasti sangat menghormati presiden yg dipilih rakyat. Yang nonton kalau ketemu presiden pasti senang dan akan sedikit gugup, ketemu menteri aja juga demikian. Pasti mereka akan sangat menghormati Presiden yang bisa dan mau kerja. Bukan Presiden yang suka menghabiskan uang rakyat dan jalan-jalan ke luar negeri bawa sanak famili. Tenang saja pak Sofyan, kalau producer republik mimpi tidak kreative pasti ditinggalkan penonoton nya. Remote control sangat powerfull pak.
    Terima kasih. Maju terus republik Mimpi
  16. From Morin on 08 March 2007 15:16:51 WIB
    Wah,ternyata Pak Sofyan bisa akting juga ya,sebagai pribadi dan sbg Menkominfo.Kita semua bingung dan kecele lho...
    Kalau Butet,siapapun juga tau bedanya kalo dia sedang akting atau ga,sangat lucu dan menghibur!!

    Hidup Wimar's World

    Hidup repiblik Mimpi

    kami sekeluarga sangat suka!!!

  17. From Alit on 08 March 2007 16:08:48 WIB
    Kasian Pak SBY, buat jaga wibawa dan leadership aja perlu dibantuin orang lain dengan menjaganya, padahal kan kalo orangnya bener (good guy kaya WW) dan nyata kerja buat rakyatnya serta pencapaiannya okeh punya, pasti itu wibawa datang dengan sendirinya.
  18. From gambler on 08 March 2007 17:02:43 WIB
    That's right ,brother!
    ini adalah hal yg sangat tdk significant n tdk relevan.
    No case, krn orang2 yg di-parodikan tdk keberatan.
    krn orang2 yg di-parodikan bukan orang yg men- somasi.

    No further question.
  19. From the magician on 08 March 2007 18:38:26 WIB
    Hahaha pak sofyan ini koq ada ada saja sih pake acara mensomasi segala acara mendidik begitu koq, jangan jangan anda takut jadi bahan parodi karena sebenarnya banyak kesalahan kesalahan yang anda perbuat yang mungkin merugikan negara yah? kalo mau mensomasi acara acara sinetron aja pak karena banyak yang merusak moral bangsa betul banget tuh komentarnya pak andhika. untuk pak butet teruslah berkarya anda patut di juluki si muka seribu daripada si muka rata alias tak tahu malu. untuk pak wimar non comment HIDUP PAK WIMAR I LOVE U OM HEHEHEHE
  20. From mita on 08 March 2007 19:52:35 WIB
    Saya selalu ngikutin acara BBM. Kalo diperhatiin, justru peran SBY disitu adalah peran yg paling aman dan menunjukkan leadership beliau yang khas TNI, sementara Gusdur dan Habibie diperankan dengan menonjolkan kekhasan mereka yang bisa membuat ketawa. Dari segi kata-kata, NOT EVEN ONCE muncul kalimat yg memojokkan pemerintah, saya lebih memandangnya sebagai MENGINGATKAN saja (mis: soal BLBI).
    Yang pernah saya pelajari leadership/kepemimpinan itu berbeda dengan pemimpin. Seorang manager adalah seorang pemimpin dari sebuah divisi misalnya, tapi gak berarti dia punya jiwa leadership. Kepemimpinan bisa karena bakat/ bawaan (karisma yg terbentuk karena sikap tanggung jawab), bisa juga karena dipelajari.Yang saya tangkep dr penuturan Bp. Menteri kepemimpinan itu adl image yg dibentuk dengan sistem ketundukan dan ketakutan pada kekuasaan yg pd akhirnya mengarah pd diktatorisme. Kalo emang kaya gitu berarti sistem demokrasi kita old fashion (gk model lagi). Padahal di era global dgn teknologi komunikasi dan informasi yg udah pesatttt bgt, mengakibatkan sistem sosialisasi didasarin atas kebebasan dan kepercayaan yg juga berdampak pd sistem kepemimpinan saat ini. Seorang Gusdur dan Habibie yg memiliki kekhasan yg bisa ditertawakan saja tetap memiliki kharisma pemimpin dgn caranya sendiri, karena sampai kapanpun mereka akan selalu dianggap panutan unt dimintai pendapat.Jadi mohon Pak Menteri agar makna kepemimpinan/leadership itu tidak mnjadi salah nantinya.
    Saya saat ini adl mahasiswi FIKOM di salah satu univ swasta jkt, jurusan PR. Melalui acara BBM saya belajar bagaimana menyatakan pendapat/ berkomentar yg BERMAKNA/ ada isinya(bukan omong kosong belaka yg cuma unt memuaskan media massa dan Tebar Pesona).
    Dan tambahan lagi, mungkin maksud Bp. Menteri adl unt menyelamatkan leadership Bp. SBY tapi pada akhirnya yg jelek malah Bp. SBY karena terkesan Pak SBY tidak bisa dikritik dan tidak memiliki leadership. Padahal sampai saat ini saya menganggap Bp. Presiden adl sosok pemimpin yang Kebapak-an yg cukup bisa diandalkan dan rendah hati (bahkan tidak takut unt meminta maaf pd rakyatnya). Saya berharap anggapan saya ini tdk pernah salah.
    Kesimpulan dari komentar saya yg panjang ini adl. bahwa Program BBM itu adl program pendidikan yg patut unt dipertahankan. Kalo BBM gk ada, berarti berkurang deh acara yg bisa saya tonton selain Liputan 6, Empat Mata, Wimar's World, City View, Gubernur Kita. Berarti saya bakalan kehilangan satu 'mata kuliah' penting yg membuat saya care ttg dunia politik (yg sebenarnya saya gk pernah suka) dan yg membuat saya tertarik unt baca koran...;)
  21. From gangsters on 08 March 2007 20:55:44 WIB
    pak sofyan yg terhormat kok pak SBY yang diparodikan malah jadi anda yang sewot.apa jangan jangan anda cemburu ya karena anda tidak diparodikan ? toh buktinya pak SBY ok ok aja tuh tidak pake acara somasi segala. saya punya saran,kalau anda ingin mengurusi tentang pembawaan "leadership" sebaiknya anda berkaca pada diri sendiri apakah anda sudah benar dalam memimpin departemen anda. buktinya masih banyak tuh sinetron2 yg pk seragam sekolah sebagai media aktingnya dan jauh lebih tak berguna daripada republik mimpi. ok dech makasih ya sudah diberi kesempatan mengeluarkan pendapat

    HIDUP W.W
    rambutnya makin keren aja deh om W.W
  22. From wendi wijarwadi on 08 March 2007 21:57:51 WIB
    entah hal apa lagi yang akan pemerintah dengan kehidupan privasi seseorang.dulu, mmalui RUU RPP nya mengatur cara berpakaian seseorang,kini selera nonton pun diatur aatur oleh negara.LUCU...HAAAAAAHAAAAHAAAA....
    Alasan pak Djalil untuk mensomasi kan katanya karena banyaknya sms dari warga yang resah dengan adanya tayangan republik mimpi,tapi warga yang mana PAk? jangan2 yang SMS SMs san ama bapak tuch para pejabat sendiri yang merasa tersinggung dan tersungging dengan acara itu karena botoknya takut tercium masyarakat umum. aduh pak, jangan jadi paranoid gitu, anggap aja acara ini sebagai salep yang kali aja bisa mengobati borok ataupun luka yang terdapat di jiwa para pesohor bangsa.....
    selama tidak ada keberatan ataupun sebuah penelitian ilmiah (tapi yang independen lo ya,bukan yang titipan negara) yang menyatakan bahwa acara RM itu "useless'" jangan maen hentikan atau mensomasi sebuah acara dengan alasan demi kewibwaan negara. masyarakat sekarang sudah sangat sangat sangat pintar dalam menetukan acar yang akan mereka pilih....nda lagi ndeso dan katro/....
    Ok pak menteri..........
    Hidup pak wimar.............
    hidup perspektif...........
  23. From desmi avicena medina on 08 March 2007 22:18:35 WIB
    saya yakin benar Republik BBM yang digawangi oleh effendi ghazali mengerti benar arah dari somasi yang ditujukan dan mudah-mudahan itu sebagai pembelajaran bersama untuk yang mengkritisi dan dikritisi mudah-mudahan semuanya dapat mengambil hikmah dari semuanya
  24. From denim lover on 09 March 2007 16:24:02 WIB
    Waduuh..bung Wimar gimana sih? Masak pendukung Republik mimpi disuruh sms ke Pak Sofyan Djalil.
    Tidak lama setelah Presiden membuka sms hotline, kan semua pemegang nomer HP diwajibkan mendaftarkan diri dengan nama dan alamat lengkap berikut nomer KTP.
    Nah..kalau sms ke Pak Sofyan menyatakan mendukung Republik Mimpi apa nantinya tidak menjadi masalah karena identitas sipengirim sms lengkap.
  25. From Bee on 09 March 2007 17:21:28 WIB
    Setuju dengan pendapat bahwa "tindakan = program acara = pementasan" harus disesuaikan dengan "budaya = tingkat pendidikan / sosial = audiens".
    Contoh: Kalau dalam Srimulat: Gaplokin dan ngelecehin lawan main dengan "sumpah serapah + kebon binatang" adalah "keharusan (?!!)

    Tetapi dalam The Seinfeld ini adalah pelecehan dan aneh karena (Seinfeld ngebayolnya sendirian, hee,,hee,)

    Kalau ada kalimat seperti ini: Anj...!, Gue dikadalin!
    dan kalimat Anj... luh!, ya kalau ngomongnya dalam pergaulan antar teman, MUNGKIN ndak apa-apa. Tapi dalam forum ini (walau dalam bentuk tulisan, tetap harus disensor, bukan begitu bung WW :)).

    Dalam suatu budaya Salaman adalah penghinaan dan Memegang Kepala adalah tanda kasih. Jadi?....

    Jadi sangat tergantung kepada target audiens dan budaya masing-masing. Silakan KPI menterjemahkannya dalam aturan konkret. Tetapi mungkin ada komentar ekspresi artist koq diatur-atur.

    Catatan: kalau ndak salah dulu jaman awal-awal Reformasi, Mas Butet pernah ngomong, nggak mau meniru suara orang yang dihormatinya, bener nggak, jadi....

    Salam.
  26. From johnytamaela on 09 March 2007 18:27:37 WIB
    Saya sangat concern mengenai comment Bp Sofjan Djalil...dia diundang sebagai Menteri atau individu (Warga Negara Indonesia) yang memiliki hak2 aspirasi-nya?!Membingungkan!!.But the important thing adalah bagaimana cara "gojek-an"nya om Wimar tercinta..."good point...good point"...om wimar bisa membuat pak sofjan pusing tujuh keliling mengenai kapasitasnya di acara Wimar's world...sampai2 di pertengahan acara pak sofjan bilang bahwa statement-nya sbg Warga masyarakat...bingungkan??!!dan pak sofjan pakai emblem (pin) kabinet lg di baju batiknya (berarti dia hadir mewakili Pemerintah dlm arti posisinya sbg Menko bukan individu).Padahal sudah di pertengahan acara, lebih baik pak sofjan bilang dari awal biar warga jakarta tdk bingung!!
    okay...but saya ber-terima kasih atas kepolosan pak sofjan krn dia udah mau hadir ngerumpi bareng om wimar, pak riza, dan mas butet....
    Setiap aspirasi baik itu melalui gaya-nya mas butet, dkk...biarkan saja mengalir asalkan pada jalur komunikasi yg jelas dalam seni dan masyarakat sekarang sudah pintar2 kok dlm menilai konsep2 yg ada.Ini jelas sekali agar pak SBY bisa menjadi seorang Presiden yang mencintai rakyatnya, mau dikritik yg membangun dan menggelitik.Agar pak SBY menjadi seorang Presiden berjiwa besar dan bisa menyelesaikan setiap program2, menegakkan Hukum, memberantas korupsi, setiap departemen2 yg diasuhnya menjadi lebih transparan.Bukan hanya itu saja...belajar dari kesalahan2 yg pernah terjadi dlm kepemimpinan Presiden2 sblumnya.Tujuannya Masyarakat, Bangsa&negara kita sama2 bisa menghadapi krisis2 kepercayaan&masalah2 yg bertubi2 datang buat kita.caaaayoooo pak SBY....

    maju trus om Wimar...jgn pantang menyerahh....
  27. From Gedubrak on 09 March 2007 21:31:15 WIB
    Walaupun saya sudah merasa acara Republik Mimpi mulai membosankan, saya pikir masih lebih bermanfaat daripada pada acara2 pocong, adegan belatung, konsultasi Feng Shui yg membodohi orang, gosip yg dibungkus dengan nama keren infotainment dan sinetron2 tolol yang menjengkelkan. Jadi Tolong mas Djalil urusi saja acara2 tengik itu dari pada ngurusi Republik Mimpi.
  28. From trusata on 10 March 2007 13:03:48 WIB
    i love good point from riza...
    kadang-kadang mas butet itu gak lucu juga, bahkan membosankan.
    tiap minggu saya sih lebih menunggu Wimar's World dari pada acara parodi yang garing.
  29. From rony on 10 March 2007 14:09:26 WIB
    wah satu pr yang nih buat episode depan, banyak acara Tv yang kacau coba deh liat dari pagi sampai malam , mistik-sex-kekerasan rumah tangga, dll
  30. From daisy on 10 March 2007 16:33:44 WIB
    menurut saya, parodi2 politik itu bisa menjadi media pembelajaran bagi masyarakat yang ngga suka politik, jadi mau mengerti politik... jadi, kita lihat sisi positif-nya aja kan :)
  31. From Ria Wibisono on 10 March 2007 16:50:20 WIB
    Kalau yang ditakutkan dari parodi politik adalah tercorengnya citra pemimpin, memang ada benarnya. Tapi positifnya, pemimpin kita jadi bisa mengevaluasi diri dan terpacu untuk meningkatkan citra yang baik di hadapan publik. Harapan saya, pemimpin tidak sekadar berusaha memoles citra saja, tapi juga benar-benar punya hati untuk melayani rakyat dengan baik. Pemimpin seperti itu sangat langka saat ini....
    Anyway, memparodikan pemimpin bangsa oke oke aja, asal kita tetap bisa menaruh hormat pada mereka. Tunjukkan bahwa kita juga mau mendukung mereka. Kalau rakyat dan pemimpinnya bisa bersinergi dengan baik, masa depan negeri ini akan lebih cerah kan?
  32. From M. Iqbal on 10 March 2007 17:03:37 WIB
    "Keliek Bilang Orang UI itu T.K (kotoran)"

    Perkenalkan saya M. Iqbal, salah seorang penggemar setia Wimar's World, Sukses untuk tayangan yang berhasil jadi Top Rating di JakTV ini. Perkenankan saya menambahkan informasi pada kronologis yang dibuat arbitarily oleh ANTON yang saya yakini adalah orang suruhan atau staf dari nama-nama tertentu yang dia sebut dalam emailnya (atau jangan-jangan Anton itu samaran Keliek sendiri kali ya?). Ini perihal sdr. Keliek Pelipur Lara yang sangat dipuji oleh Anton.

    Saya adalah salah satu saksi yang hadir di situ (VIP room Grand studio MetroTV). Ada juga Program Director Acara, Rachmayanto (MetroTV), ada Suko Widodo (Direktur Pusat Kajian Komunikasi Universitas Airlangga), dan ada delapan orang lagi yang bisa menjadi saksi di depan pengadilan atau ekspos publik sekalipun. Jadi, Sdr. Anton, sama seperti Anda, Keliek memiliki MASALAH MORAL dan ETIKA dengan menyebut semua orang UI di belakang Effendi adalah "T.K" (maaf, artinya kotoran hewan).

    Pada waktu selesai LIVE Newsdotcom (jam 21:30) dengan episode narasumber Kadirlantas Polri, Keliek beralasan harus bergegas ke SCTV untuk acara Sana-Sini Sahur (jam 03:00). Maklumlah ketika itu dia naik daun jadi sangat sibuk sampai tidak pernah bisa menyisihkan waktu untuk latihan dan ”reading” bersama tim secara cukup maupun berdiskusi banyak dengan Newsdotcom. Entah kenapa Keliek bisa emosi dan tiba-tiba mengucapkan: ”Semua orang UI di belakang Effendi Gazali adalah: ”T...K......” (empat huruf dari T yang artinya kotoran )!!”

    Dengan sangat arogan waktu itu Keliek merasa dirinya yang paling hebat yang paling bisa membuat Newsdotcom jadi populer dengan lawakan plesetannya. Padahal dia lupa, basis elementer dari Parodi Politik adalah Updating News yang dianalisis secara cerdas, kritis, faktual dan terkadang jenaka dengan kehadiran TOKOH-TOKOH Besar Nasional (Berkat jaringan sosial akademisi UI) seperti Prof. Amien Rais, Hidyat Nur Wahid, Gus Dur, Ikrar Nusa Bhakti, Kwik Kian Gie, Bambang Widjoyajnto, Andi Mallarangeng, bahkan Wapres Jusuf Kalla yang mau dua kali ikut dalam bagian Newsdotcom. Sedangkan lawakan plesetan cenderung terjebak pada pengulangan-pengulangan yang "garing" meski bisa saja penonton hanya sedikit terhibur bila benar2 baru memperoleh lawakan itu.

    Begitulah, waktu itu Keliek dengan arogan mengancam akan keluar dari Newsdotcom dan menganggap Newsdotcom bakal sepi tanpa dia. Saya rasa, jika Sdr. Keliek dan Anton sekarang masih melihat Newsdotcom yang ternyata malah "dianggap" menggerus kewibawaan kekuasaan oleh penguasa, maka sebenarnya makin menjungkirbalikkan arogansi Keliek itu. Bahkan tayangan ini telah membuat Jaringan TV Al Jazeera, French TV, Netherlands TV, koran besar The Asahi Shimbun, The Yomiuri Shimbun, The Straits Times (Singapura) secara khusus meliput Newsdotcom. Tentu apalagi liputan khusus dari media-media nasional kita seperti Kompas, Majalah Tempo, Republika, Pos Kota, Koran Tempo, Warta Kota, Rakyat Merdeka, Jawa Pos, Media Indonesia, Detik.com, dll, makin memposisikan Newsdotcom sebagai suguhan alternatif yang membuat pemirsa merindukannya (Berbagai polling media secara khusus tanpa kami tahu menunjukkan dukungan 80%-90% pemirsa dan masyarakat kepada Newsdotcom !!) Fakta ini, bagi saya adalah harapan sekaligus kenyataan bahwa Media Literacy untuk pemirsa telah dimulai dengan hadirnya Republik BBM lalu Republik Mimpi di ranah publik industri penyiaran kita.

    Saya berharap semoga penjelasan ini dibaca oleh Anton, Keliek, para penonton Newsdotcom, warga UI dan semua yang perlu tahu. Jadi masalahnya jangan di-twist oleh Anton ke soal Diktator dan Tafsir-tafsir itu, tapi sekali lagi: Orang-orang UI di Newsdotcom dihina sebagai "T.K" (kotoran hewan) oleh Keliek, sehingga mereka tidak lagi mau menerima Arogansi Keliek !

    Orang bisa berbeda visi seperti apa pun tapi menyatakan kelompok orang lain (akademis) kotoran adalah cermin dari diri Keliek dan Anton sendiri!

    Om Wimar, terima kasih atas klarifikasi untuk manipulasi data dan wacana oleh Anton ini, semoga yang benar selalu muncul ke permukaan berkat acara-acara dan situs Om Wimar ini!

    Salam Demokrasi,
    Hidup Om Wimar!!

    M.Iqbal, M.Si.
  33. From herru usmanto on 10 March 2007 19:52:24 WIB
    somasi ini tentu ada asal muasalnya. sebelum muncul somasi dari pak menkoinfo,saya sudah pernah membaca di salah satu media indo pos edisi pebruari 2007 (tanggal saya lupa karena tidak interest awalnya) kolom China Town di situ ada laporan tentang beberapa perkumpulan tionghoa yang akan mensomasi acara news dot com, tetapi setelah muncul somasi dari pak menteri pikiran saya kembali ke laporan media tersebut. Dan yang paling meresahkan saya adalah bahwa acara news dot coom khan sudah berjalan lama dan tidak ada masalah, tetapi begitu ada muncul tokoh SUHARTO, maka banyak kalangan yang merasa terganggu dengan munculnya tokoh tersebut. Sehingga saya berpikir bahwa somasi ini datangnya karena adanya tokoh SUHARTO.
  34. From Arie-Cimanggis on 12 March 2007 16:22:05 WIB
    Sofyan Jalil perlu belajar dan melatih sense of humor-nya. Kalau dilihat raut wajahnya kok ya beliau memang memerlukan banyak kelakar dalam kehidupannya. Hidup seharusnya dijalani dengan ringan agar yang berat tidak jadi bertambah berat.
    Pertanyaan mendasar:
    - siapa para pengirim SMS yang membuat Sofyan Jalil jadi begitu kebakaran jenggot (hehehe lupa saya beliau tidak pakai jenggot).
    - sebegitu beratkah Republik Mimpi bagi rakyat Indonesia? Janganlah mengukur rakyat dari tingkat pendidikannya untuk mengerti apa yang menjadi materi dari Republik Mimpi. Tidak perlu jadi "parno" bahwa kepemimpinan akan terserang oleh Republik Mimpi.
    - kalau demikian "concern"nya seorang Sofyan Jalil yang ex mahasiswa FHUI, semestinya beliau lebih memperhatikan sosialisi berbagai peraturan hukum sampai ketingkat aturan pelaksana-nya kepada rakyat banyak supaya tingkat intelektual mereka lebih terangkat. Misalnya melalui "mading" di kelurahan-kelurahan atau malah POSYANDU. INI LEBIH MULIA daripada sekadar "kuatir akan terdegradasinya lembagai kepemimpinan" oleh Republik Mimpi.

    Hehehehe.... santai lah Sofyan.... Jangan terlalu tegang seperti itu... KOK DARI DULU ndak berubah ya....

  35. From Arief M on 13 March 2007 03:32:35 WIB
    Orang meng-olok2 bak sudah merasa dirinya sudah benar. Pintar kritik tanpa solusi. Apakah sudah pernah jadi presiden? Apakah sudah pernah jadi menteri? hehehe... jadi merasa seperti yang paling tahu dalam mengurus negara dan bangsa. 'Atas Nama Seni', 'Kebebasan Mengutarakan Pendapat', begitu kilahnya.
    Cobalah berkaca, apa yang anda2 (bagi yang pintar berolok) sudah perbuat untuk bangsa ini. Dan masih bisa menjawab 'Sebagai Aktor', 'Memberikan hiburan kepada masyarakat'. Mungkin kalau para pengolok (maaf) telanjxxx, masyarakat lebih terhibur.
    Bangun! mari kita lebih bertanggung jawab dalam bersama-sama membangun bangsa ini. Jangan membuat suatu acara yang tidak ada bedanya dengan Sinetron kacangan yang membuat bangsa ini cengeng, suka teriak dan maki, suka kritik kosong. Positiflah berpikir dan bertindak. Jangan pesimis dengan menebar kebencian.
    Bantu para penyelenggara negara kita, berikan solusi terbaik tanpa memaksakan kehendak. Kembalikan rasa ke-Indonesia-an kita. Terima kasih.
  36. From robert segara on 13 March 2007 12:44:48 WIB
    waduh...gayanya pak sofyan tuh jadul nian..gak jamannya sekarang ngatur2 gitu pak...wah paradigma kuno kk masih ada ya... sama aja anak kecil kalo mo tidur ditakut-takutin setan biar tidur... kalo presidennya bagus trus deket ama rakyat gak pilih2 pasti responsibility public pasti bagus..jadi jangan ke GR an dong,..kalo saya setuju dia harus banyak turun ke rakyat biar tau yang dialami rakyat sesungguhnya,orang diatas pasti takut turun..trus kalo udah turun pasti bingung naik ke atasnya..kalo saya salut ama KAKANG saya Kang Butet, tapi apa yg nyata diperbuat pak sofyan? ini bukan jamannya ABS pak..sekali lagi buat pak Sofyan coba turun di bawah lihat kondisi yg terjadi..kalo perlu nanggalin atribut pemerintahan barang sehari aja pak...kalo berani..saya benar2 salut ama pak sofyan
  37. From Tjut Fidelia on 13 March 2007 12:51:54 WIB
    Republik Mimpi atau Kerajaan Mimpi menampilkan banyak hal yang perlu kita ketahui.Seperti ada seorang wanita yang mengembangkam penggunaan air (turbin) untuk listrik di puluhan desa, ada seorang atase negara lain yang justru lebih peduli terhadap saudara kita ketika banjir dan mempersilahkan rumah nya ditempati penduduk, dll. Banyak berita dan kenyataan di sekitar kita yang memang membuat gusar hati rakyat, yang kita tunggu-tunggu untuk diangkat. Dan Republik Mimpi mengangkatnya dengan gaya khas. Penuh humor, nyentil, dan mengena.
    Saya mendukung acara ini.
  38. From ambar wahyudi on 13 March 2007 13:23:04 WIB
    Kalau pak Sofyan mengatasnamakan pribadi bisa mau ngasih somasi, berarti saya juga bisa dong bos Wimar?? Piye to pak?? kepentingan pribadi kok disamakan ama kepentingan rakyat.... yo jelas beda to yo!!!!Pokoke hidup Butet, Hidup Pak Bambang Yudhoyono, Hidup Demokrasi.


    Maaf nih, Mungkin Pak Sofyan seleranya sinetron kali ya??
  39. From gambler on 13 March 2007 14:54:46 WIB

    masalahnya pak arief......para penyelenggara negara kita itu, sudah diberikan solusi, juga masih memikirkan, apakah menguntungkan dirinya atau tdk? kalau iya, dijalankan...kl tdk, ya tdk.

    wong para penyelenggara negara juga sdh tdk ada rasa indonesia.....(contoh: mau2nya tergantung dgn negara luar)gimana rakyatnya juga mau begitu?

    para penyelenggara negara sekarang , hanya memikirkan karirnya saja & gengsi/harta keluarganya. lihat saja kalau anggota2 partai sudah kumpul. lihat saja anggota2 DPR.
    Mereka tdk lagi melihat kepentingan rakyat, tapi yg penting karir politiknya tetap maju, jadi partai apapun dilobi. liat aja Agum gumelar. skr join partai demokrat, utk kepentingan cagub. harusnya dia malu, krn telah gagal jadi apapun selama ini.

    rano karno yg saya harapkan, bilang salah satu misinya, tarik Investor. wah... ga salah tuh...bukannya investor malah menekan pengusaha2 kecil, spt petani, nelayan, pasar tradisional..... apa artinya masih mau trus bangun mall, hypermarket dll ?

    jumlah partai yg siap ikut di next pemilu, makin banyak jumlahnya. apa tuh artinya?
    harusnya lebih sedikit partai, lebih kompak satu sama lain, bukannya jalan sendiri2.

    correct me if my perspektif is wrong.
  40. From widodo on 13 March 2007 16:25:31 WIB
    Pak Arief M, PNS ya? orang Partai yg mendukung buta pemerintah ya?
    Wong situ yang memerintah, situ yang biang munculnya kritikan kok situ yang minta ORANG LAIN CARI SOLUSINYA?
    Situ yang makan kok rakyat yang disuruh bayar?

    Waktu dulu mau jadi pemerintah, waktu kampanye apa gak mikir bahwa kesulitan memang banyak,
    kalau sudah tahu gitu masih maju ya cari solusinya sendiri;
    LAGIAN RIBUAN SEMINAR SUDAH KASIH SOLUSI kok gak ada yang dipakai; apa kurang baik solusi FAISAL BASRI, KWIK KIAN GIE, DRAJAT WIBOWO, dll (dibanding Anda yang cuma kritik juga gak kasih solusi)

    KRITIK SAJA SAH
    SOLUSI SAJA SAH
    KRITIK PAKAI SOLUSI JUGA SAH (lagian siapa yang jamin solusi yang dikasih memang mujarab, kalau kacau
    gimana????)

    Gitu aja deh Pak Arief ORBA
    Ingat kan dulu ada semboyan:
    UNTUK JADI PRESIDEN HARUS PUNYA PENGALAMAN SEBAGAI PRESIDEN hehehe....
    persis kayak kata-kata di atas
    (kalau gak mau nonton pindah channel aja Pak...)
  41. From handika aditya on 13 March 2007 19:25:00 WIB
    sofyan djalil itu lucu, di Wimar's World dia bicara soal moralitas, tapi yang mau disomasi malah News Dot Com, bukannya SINETRON-SINETRON yang ga jelas itu... Masyarakat dan remaja zaman sekarang khususnya semakin kurang ajar moralnya gara-gara SINETRON tuh...

    masyarakat (orang-orang miskin khususnya) justru lebih menyukai acara-acara seperti ini karena mereka bisa mendapatkan informasi dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti. bisa dibayangkan kalau News Dot Com tidak ada, masyarakat jadi semakin malas untuk melihat berita, karena sajian berita secara konvensional justru membuat mereka semakin pusing.

    silahkan saja kepada bpk Sofyan Djalil untuk melakukan somasi terhadap News Dot Com, tetapi siap-siap juga untuk tidak 'kebakaran kumis' kalau nanti masyarakat men somasi anda karena membatasi masyarakat untuk mendapatkan informasi.

    trim's
  42. From Arief M on 13 March 2007 22:38:27 WIB
    Terima kasih atas unek2 yang dilontarkan Pak Widodo dan Pak Gambler.. saya bukan orang pemerintah dan tidak ada keluarga saya yang di pemerintahan baik saat orla, orba, dan reformasi sekarang ini.. saya independen... freelancer.. tidak menunggu gaji setiap bulan dari kantor (apalagi gaji buta, terus sering protes)... mencari nafkah atas usaha sendiri... lihat kan... Pak Widodo tanpa tahu permasalahan tanpa melihat yang sebenarnya langsung 'menunjuk' saya orang pemerintahan... hehehe.. apa benar tindakan demikian?
    Maaf kalau tidak sepaham dengan saya, tidak semua 'orang pemerintahan' berlaku negatif.. banyak yang bekerja dengan benar dan tertib demi kepentingan bangsa dan negara, nah individu2 ini 'jarang bahkan cenderung tidak akan' diekspose oleh media.. mungkin media akan 'rugi' jika mengekpose mereka alias 'tidak ada nilai berita'...
    coba deh renungkan.. apakah bangsa ini akan maju jika bertengkar terus... dan semua merasa paling benar...
    Beri kesempatan kepada Pemerintah untuk mengurus negara ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya.. Saya yakin bangsa kita akan segera pulih dari segala 'bencana' yang menyakitkan dan memalukan dengan memajukan intelektualitas individu2 anak bangsa terpilih.. tidak asal bicara tanpa dasar bukti nyata di depan mata (cuma kata orang, kata media)...
    Terima kasih.
  43. From Radja J.H on 14 March 2007 18:20:10 WIB
    Saya sependapat dengan apa yang dimaksud oleh Sofyan Jalil bahwa ditinjau dari sudut pandang manapun kita tidak layak untuk memperolok kepala negara beserta instrumen-nya, namun ada baiknya biarkan masyarakat yang menilai dan atau menentukan suatu acara itu baik atau tidak menurut nalar masyarakat kita. Kalo memang masyarakat menilai acara tsb tidak baik maka rating dari acara tsb turun & dengan sendirinya akan berakhir, tapi jika masyarakat menilai acara tsb bagus ya itu nalar masyarkat kita. Yang menjadi tugas Sofyan Jalil dan kita semua untuk membenahinya. dengan cara ...................?
  44. From Arif on 14 March 2007 23:17:08 WIB
    Wah, Pak Sofyan ingin mengembalikan lembaga kepresidenan sebagai sebuah kursi sakral tak tersentuh. Kasihan Gus Dur yang sudah mendesakralisasi lembaga kepresidenan.
  45. From Pandi Supandi on 15 March 2007 07:31:40 WIB
    Saya 100% mendukung News Dot Com, dari sekian banyak acara TV hanya sedikit yang bisa menghibur saya dan mendidik salah satunya News Dot Com dan Wimar's World, Om Wimar tolong teruskan ke Metro TV usulan saya agar jam tayang News Dot Com hari Minggu dimajukan jam 20:00, supaya lebih banyak lagi masyarakat yang menonton dan menilai mutu tayangan tsb. sekalian untuk persiapan referendum...supaya banyak yang ikutan dong. tks Om Wimar. salam
  46. From Abdi Dalem on 15 March 2007 12:08:28 WIB
    Hargailah setiap niat baik anak bangsa untuk memberikan pendidikan politik terhadap masyarakatnya. Metode dan cara boleh bermacam-macam, asal satu tujuan yaitu tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat melalui pemerintahan yang bersih dan kedewasaan pola pikir rakyat. Rakyat adalah pemegang saham terbesar berdirinya sebuah negara, jadi penuhilah hak-hak rakyat.

    MAJU TERUS REPUBLIK MIMPI
    TUHAN BERSAMA KITA
  47. From gambler on 15 March 2007 13:49:59 WIB
    siapa blg media tdk mengekpose penyelenggara negara yg benar2 bekerja? sdh ada tuh di metrotv n tvri.(biografi, metrofiles,kickandy dll) bahkan seorang istri yahya zaini diexpose sbg inspiring woman. ( masa sih...?)
    memang ada yg diblowup oleh media, tapi rakyat hrs filter. rakyat jg tdk akan menelan bulat2 apa yg disuguhkan media. mereka kan bisa mikir, itu benar/tdk.
    Kl soal rakyat kecil yg rentan, saya rasa tdk significant. Malah rakyat kecil ini yg dimanfaatkan partai2 tuk menang dlm pemilu dgn janji2 kosong. Harusnya pemerintah cepat tanggap dlm menghadapi kritikan media dgn menjawab secara jelas n spesifik.

    kenapa rep mimpi bisa disamakan dgn Sinetron kacangan? (yang membuat bangsa ini cengeng, suka teriak dan maki, suka kritik kosong).?)
    mereka yg cengeng bukan disebabkan rep mimpi. sebelum repmimpi ada, yg cengeng sdh banyak. itukan krn pemerintah yg tdk bisa tegas di bidang hukum dlm menghadapi org yg main teriak n maki.(spt di aceh n poso dll)

    de pendi tdk menebar kebencian. malah dia menyampaikan informasi (yg memang sdh ada dimedia, bukan dia yg buat) dgn cara yg mudah dimengerti. dan dia sdh sering menyertakan solusinya juga. rep mimpi juga sering menampilkan penyelenggara pemerintah yg ber-prestasi(pak arief ini mungkin nontonnya 1/2 1/2).


    de pendi tdk merasa yg paling benar, dia hanya bertanya kenapa? seharusnya s. jalil Menjawab satu per satu kasus yg dibicarakan di rep mimpi, jd rakyat bisa menilai siapa yg benar. bukannya ingin somasi. (tapi akhirnya s jalil sendiri mengakui tdk ada yg bisa disomasi, dia cuman ingin jd wacana publik, katanya). ya....s.jalil ini berhasil. buktinya dia diundang tukul semalam.

    kl dulu, kita ga nyangka kan bisa pilih presiden/gubernur langsung? sekarang jd bisa. itukan krn besar peranan dr pengamat/pengritik yg sering bicara di media.

    gusdur, megawati,kwik kian gie, amien rais n SBY sdh membuktikan tdk bisa merealisasikan janji2 kampanyenya. kenapa kita tdk memilih saja org 2 yg sring kritik di media, contohnya spt efendi gazali dll ini utk duduk di pemerintahan. spt SBY yg memilih Pangestu & Sri Mulyani (yg dulunya pengamat).
    coba deh jadikan efendi sbg mentri transportasi. kan kita jd bisa membuktikan apa memang dia hanya bisa kritik?

    atau seorang faizal basri yg tukang kritik jg. saya akan memilih dia, tapi katanya....dia mundur jd cagub ya?

    dgn tdk mendengarkan keinginan publik, itu berarti memang banyak penyelenggara pemerintah yg ngotot mempertahankan kedudukannya.


    kl efendi diblg olok2, spesifiknya yg mana? apa dia ga boleh becanda? bahkan di rep BBM, hanya dia yg selalu memecahkan olok2, supaya kembali ke ILMIAH. N skr terbukti, penyampaiannya masih ilmiah dan suka memberikan solusi.

    padahal diatas, wimar tlh bertanya:

    "Wimar: Bagaimana cara mengukur bahwa itu mengolok-olok kepemimpinan?
    Sofyan: Karena itu saya mengatakan kepada Pak Efendi Gazali yang saya anggap sebagai aktor intelektualnya untuk kita mencoba untuk ruginya dari acara tersebut. "


    ga ngerti saya jawaban dr sofyan....ada yg tau maksudnya?
  48. From Refly on 15 March 2007 14:08:05 WIB
    Untuk apa juga Republik Mimpi disomasi. Pemimpin yg bisa jatuh hanya karena dikritik (meskipun itu kritik yg mengarah ke olok-olok) itu bukan pemimpin sejati namanya. Pemimpin yang benar, harusnya mau menerima kritik demi membangun dirinya dan lembaga yg dipimpinnya.

    Terus terang, saya suka dengan acara News Dot Com ini. Soalnya dari acara ini saya mendapat banyak informasi mengenai keadaan bangsa kita dan pemerintahan kita. Kalau pemerintah merasa tersinggung dengan apa yang ditampilkan oleh acara ini, teruslah berusaha biar tidak ada lagi yg bisa disinggung oleh acara ini mengenai pemerintah. Jangan karena merasa tersinggung lalu mau dihentikan acaranya (Itu namanya melarikan diri dari masalah, bukan menghadapi masalah. Masalah itu harus dihadapi....!!)

    Terakhir, untuk orang-orang yang tidak suka dengan acara republik mimpi, itu kan tergantung selera masing-masing orang. Saya termasuk orang yang tidak suka dengan sinetron-sinetron yang sekarang tayang di TV, karena selain ceritanya monoton, ceritanya juga tidak orisinil (menjiplak drama luar). Tapi, toh saya tidak pernah mengkritik stasiun TV untuk tidak menampilkannya lagi, karena saya tahu ada orang-orang yang suka menontonnya (berpikirlah terbuka).
  49. From Arief M on 15 March 2007 20:46:29 WIB
    Oke lah... mungkin ini comment saya terakhir...
    Yang pasti saya tetap mendukung pemerintah
    agar dapat menjalankan tugas sucinya dengan baik...
    dengan segala kekurangan dan kelebihannya,
    yang akan menjadi pelajaran baik dan buruk...

    Untuk yang suka kritik atau protes baik
    langsung maupun tidak langsung, ya silakan saja...
    itu juga proses demokrasi, asal diikuti oleh
    tindakan nyata... jangan cuma mulut 'komat kamit'..
    kalau memang pekerjaannya mengkritik terus dibayar,
    ya silakan saja... lumayan buat 'uang baso'... hehehe...

    yang penting mari kita sama-sama memajukan bangsa ini
    sesuai tingkatan intelektualitas dan kualitas
    masing-masing...
    kalau merasa bisa mengatur negara ini,
    ya silakan saja segera daftar jadi rt,rw,lurah,camat,bupati,walikota,gubernur,atau presiden....
    (itu juga kalau ada dukungan)...
    daripada cuma pintar bicara... action!
    atau coba dulu mengatur diri sendiri dan keluarga...
    dan kemudian berkacalah,
    apakah sudah berhasil?
    apakah anak-anak kita (yang kita atur) sudah taat kepada peraturan rumah, negara dan agama?

    jadi rekan2 sebangsa dan setanah air...
    mari kita majukan bangsa dan negara kita yang tercinta ini...
    yang telah susah payah dipertahankan oleh para pahlawan...
    btw, paham kan nilai-nilai Pancasila?
    Terima kasih.
  50. From Yadi on 16 March 2007 09:20:31 WIB
    Buat Oom Sofyan Jalil...

    Oom yg perlu ditertibkan dan di"somasi" itu sinetron atau acara-acara TV yg menyesatkan: horor, gaib, kekerasan, esek-esek (mendingan sex education sekalian - yg mendidik gitu lho, jadi mencerdaskan bangsa).

    Kalo cuma buat keuntungan perusahaan/komersial saja yg penting rating-nya tinggi, mendingan stasiun TV-nya di"somasi" - itu baru SETUJU dan SALUT buat Oom, supaya kita menjadi bangsa yg beradab, damai dan sejahtera gitu lho Ooom... Wassalam, dari keponakan Oom.
  51. From F Manurung on 17 March 2007 11:25:20 WIB
    Denger-denger hampir semua politisi RI yang dijadiin banyolan cuma senyam-senyum aja denger kritikan Rep Mimpi. Tapi kenapa lebih banyak politisi yang memerintah yang "kupingnya panas" ya kalo dikritik?
    Ah...mungkin itu karena memang karena mereka lagi berkuasa aja. Biasanya yang berkuasa gak pernah mau dikritik (siapapun orangnya).
    Saya cuma mau mengingatkan aja, siapapun yang memerintah baik yang sedang berjalan atau yang akan datang, jangan cuma bisa "omong kosong", "janji belaka", "gak tau diri", "suka berkhianat", "menjilat ludah sendiri", "pintar berkelit", "mempermainkan hukum dengan logikanya sendiri", dan "gak percaya ada neraka yang siap menampung mereka".

    www.ini-hak-anda.cjb.net
  52. From Dewi on 17 March 2007 13:10:05 WIB
    emang sih... Republik mimpi bisa membantu masyarakat menjadi tahu kenyataan yang sebenarnya tentang perjalanan pemerintahan indonesia. Republik Mimpi emang siiip dah dalam mengkritik. Tapi ada satu yang sangat saya sayangkan, yaitu Republik Mimpi tidak sekaligus mengupas tuntas tentang solusi yang harus dilaksanakan, baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat kita. Jadi dengan kata lain, acara ini tidak seimbang alias berat sebelah, hanya mengkritik namun tidak dapat memberi solusi... Thanx
  53. From Tommy Andres on 17 March 2007 16:26:41 WIB
    Sebagai tontonan layar kaca,REPUBLIK MIMPI adalah OUTLET dari segala perasaan yang berkecamuk dalam masyarakat awam yang lelah menanti perubahan keadaan politik, ekonomi dan sosial mengarah perbaikan yang didambakan.
  54. From rio on 18 March 2007 00:11:43 WIB
    aku tuh sebenernya kasihan sama pak sofyan djalil karena sebenernya beliau itu kurang ngerti di bidang komunikasi dan informasi yang menurutku harusnya banyak concern ke masalah sistem komunikasi di indonesia yg amburadul cthnya tarif internet yg masih terbilang sangat mahal eh sekarang malah mau ngesomasi acara yang amat sangat mendidik. saya ngga butuh bapak komen masalah2x acehlah dll, bapak bukan biang gosip kan jadi ngapain bapak nerusin berita2x mengenai aceh dan GAM ? itu kan bukan bidang menkominfo. atau jangan2x bapak pikir kalo menkominfo itu karena ada kata komunikasi dan informasinya tugasnya sebagai sumber berita ya? rasanya bapak bakal kalah cepet dan bagus deh dibanding kantor2x berita yg dimiliki stasiun2x televisi kita. Menurut saya bapak tuh harusnya ngedukung kita2x ini untuk lebih maju dan berpikir kritis, kalo ada acara sepert republik mimpi harusnya bapak bersyukur karena ternyata masih ada acara yang baik disaat sinetron2x murahan dan bikin generasi muda mencontoh yang gak karuan.
  55. From Cak Iqbal on 20 March 2007 18:33:09 WIB
    Penjelasan Resmi kenapa KELIEK PELIPUR LARA Dikeluarkan dari Newsdotcom (Republik Mimpi)

    Penjelasan ini adalah penjelasan resmi atas nama Muhammad Iqbal, Staf Litbang Newsdotcom, Kantor Berita Republik Mimpi.
    Saat ini juga merupakan mahasiswa program doktoral Ilmu Komunikasi FISIP UI, email: republik_mimpi@yahoo.com serta HP: 08170000060

    Mengingat banyak sekali komentar-komentar di media massa serta internet yang sangat manipulatif tentang kenapa Sdr. Keliek Pelipur Lara tidak lagi bersama dengan Newsdotcom/Republik Mimpi, maka dengan ini saya sampaikan keterangan sebagai berikut:

    Keliek Pelipur Lara yang tiba-tiba melambung lagi setelah mendapat peran sebagai UCUP KELIEK Wapres Republik BBM, atas usulan dan bahkan dengan nama pemberian Effendi Gazali, ternyata sejak di Newsdotcom sudah tidak mampu lagi membagi waktunya untuk berkumpul dan berlatih bersama dengan Tim Newsdotcom.

    Puncaknya di tengah tergopoh-gopohnya Keliek mengambil JOB Newsdotcom yang sangat mepet dengan persiapan SAHUR-SAHUR (SCTV), maka setelah EPISODE LIVE dengan DIRLANTAS POLRI, Keliek marah-marah di RUANG GANTI METRO TV, dengan mengatakan:
    ”Apa itu orang-orang UI!? T..K KUCING SEMUA (maksudnya KOTORAN KUCING)”

    Yang dimaksud orang-orang UI adalah Staf Litbang dan Produksi Newsdotcom dari Universita Indonesia. SAKSI pada peristiwa ini adalah saya sendiri, MUGI dari UI, SUKO WIDODO (yang juga Dosen UNAIR), RACHMAYANTO (Program Director Newsdotcom dari Metro TV) dan sejumlah talents serta Staf lainnya.

    Apa pun keberatan Sdr. Keliek Pelipur Lara, dia tidak pantas menghina institusi mana pun, termasuk UI (Acara Newsdotcom memang kerjasama dengan Asosiasi Pascasarjana Komunikasi UI; dan penghinaan Keliek ini berarti juga ditujukan kepada Effendi Gazali, Ph.D., Dedy N. Hidayat, Ph.D., Pinckey Triputra, Ph.D., DOSEN UI yang merupakan Penasehat Newsdotcom).

    Saya dan semua saksi siap dikonfrontir dengan Keliek, bahkan DI DEPAN PERS. Janganlah kesombongan sesaat karena tiba-tiba terkenal lagi, dan sudah sibuk dengan janji tampil di sana-sini, menjadikan seseorang bisa melupakan serta menghina teman-teman lain yang mensupportnya apalagi menghina institusi! Jangan pula menggunakan segala daya dan upaya di berbagai media untuk MEMANIPULASI APA YANG SESUNGGUHNYA KELIEK LAKUKAN DAN KATAKAN!

    Saya berharap PENJELASAN INI TERSEBAR KE PERS, juga kepada teman-teman UI, serta segera mendapat TANGGAPAN dari KELIEK PELIPUR LARA!

    Maret 2007



    Effendi Gazali, Ph.D.
  56. From gambler on 21 March 2007 12:21:41 WIB
    Back to Lap.................top!
    Back to Paro.................di!
  57. From azwar on 23 March 2007 17:54:09 WIB
    Pesan Moral dan Etika Mengkritik

    Belakangan ini bangsa kita – Indonesia, seperti terkena syndrome ‘latah’. Mereka begitu reaktif dan kritis terhadap hal – hal yang terjadi disekeliling kita. Gejala ini sangat terkait erat dengan perkembangan perilaku dan budaya (peradaban) di masyarakat.
    Implementasi yang baik dan tepat atas ajaran agama, nilai moral, etika dan ilmu, adalah standard mutlak suatu peradaban yang tinggi dan kuat. Doktrin dari kelompok yang dominan (mayoritas) ataupun yang berkuasa dan berpengaruh, belum tentu menjamin peradaban yang tinggi. Tergantung pada kemuliaan dari muatan doktrinnya.

    Peradaban sangat ditentukan oleh proses indoktrinasi yang terus-menerus dan alamiah yang dilakukan (baik yang terencana maupun tidak) oleh individu - kelompok – lingkungan yang dominan, berpengaruh, berkuasa dan disukai masyarakat. Mereka saling berinteraksi dengan membawa doktrin / falsafah pribadi masing-masing, yang dibentuk oleh ajaran agama, etika, nilai moral, dan ilmu yang diperoleh dari keluarga dan lingkungannya. Bentuk peradaban dapat diarahkan pada bentuk yang diinginkan dengan cara proses indoktrinasi yang sistematis.

    Di era globalisasi ini ‘para pengendali’ mass media electronic – khususnya TV, sangat berperan ‘mewarnai’ peradaban bangsa. Media TV dapat mengarahkan opini , mind set, dan paradigma masyarakat. Apalagi struktur masyarakat kita, sebagian besar adalah masyarakat miskin, dan berpendidikan rendah. Lebih parah lagi saat ini program indoktrinasi yang sistematis oleh negara tidak lagi optimal, dikarenakan adanya ‘tekanan’ semangat reformasi dan demokrasi.
    Maka muluslah ‘program’ TV menjalankan misinya, masyarakat ‘di-input memory otaknya dengan doktrin-doktrin yang ditayangkannya’ melalui berbagai mata acara.

    Acara Wimar Witoelar di Jak TV tanggal 07 Maret 2007, dialog interaktif dengan MenKomInfo-Sofyan Jalil dan si Butet Yogya, perihal : News.dot.com. Sdr Wimar terkesan subjective dan memihak kepada si Butet Yogya. Padahal pembawa acara seharusnya independent. Perbedaan pendapat kedua pihak adalah dinamika yang perlu dicermati, dan dievaluasi mengacu pada standard norma-moral dan etika yang tepat.
    Mengkritik jika mekanismenya benar dan sesuai adalah sehat. Imam yang salah dalam sholat berjamaah juga boleh di ‘kritik’, namun dengan mekanisme dan etika yang benar. Satu hal lagi yang subjective adalah dalam acara tsb ditayangkan video clip acaranya Sdr Wimar yang di ‘segel’ pemerintah pada tahun 1995 di SCTV. Terkesan seperti ‘berbalas pantun’, menggalang opini bahkan konotasinya distorsi.

    Para pemimpin kita adalah orang – orang yang patut dimuliakan, jika mau mengkritik pakai aturan main ( etika dan norma-norma ), sehingga anak bangsa ini mencernanya dengan positif.
    Tingkatkan martabat bangsa, mulailah dari media TV, sebarkan keteladanan kepada masyarakat dan bangsa. Saling memuliakan adalah cermin bangsa yang berbudaya dan bermoral tinggi.
    Demikian, jika ada khilaf, boleh pula di kritik.
  58. From nIkoZzz on 27 March 2007 22:03:51 WIB
    paK menteri.. pliz donk agH...
    sebelumnya saya saLut abis ama acaranya wimar world's.. saya sempet kaget waktu nonton.. pak sofyan bisa ngobrol bareng Si Butet Yogya kita..
    paK sofyan, sebenernya bapak ini banyak ditertawakan masyarakat luas lho.. kenapa acara yang membuat kita menjadi ter-"update" terhadap negara, malah di ancam somasi..???? suatu negara akan menjadi kuat,bila pemimpin beserta rakyatnya bersatu lho.. melalui Republik BBM ini kita jadi bisa lebih cepat menyampaikan kehendak dan aspirasi,begitu juga sebaliknya khan?? negara melalui acara favorit ini dapat menyampaikan kehendak dan perubahan - perubahan yang ingin dicapai oleh pemerintahnya.. daripada rakyat menjadi bisu karena bingung harus kemana menyampaikan aspirasinya.. akibatnya pemerintah yang sekarang akan di 'cap' pemerintah tanpa telinga.. banyak hal -hal kecil yang sangat sensitif bagi masyarakat tetapi tidak tersentuh lembaga - lembaga pemerintah... karena anggota dewan tersebut sibuk sendiri segh.. apalagi ngomngin soal LAPTOP.. ugh.. rakyat di lupakan dhe...
    jadi mo hi-tech ato low-tech, yang penting rakyat menginginkan pemikiran pemerintah yang maju.. dan berkesamaan.. jangan hanya pribadi doang yha pak...
  59. From Jalil on 30 March 2007 10:27:58 WIB
    Semua pasti tahu
    Pak Sofyan yang menteri dan Pak Butet yang Aktor Persefsinya jelas beda dong, menteri tanggung jawabnya sebagian kita ngertilah.., Aktor yang saya tahu tanggung jawabnya kebanyakan melulu popularitas N Duit.
    Sebagai orang Indonesia saya hanya berharap jangan sampai ada sebagian/kelompok orang yang berbugil ria di tempat umum dg alasan kebebasan dan demokrasi.
    Ngeri rasanya... Musibah kayanya belum cukup dinegeri ini
  60. From indra on 01 April 2007 15:17:26 WIB
    " lebih baik mengsomasi produk - produk film yang bersifat mistis , seks , kekerasan ."
  61. From ahen on 09 April 2007 23:07:58 WIB
    yang real aja . zaman skr zaman iptek , masyarakat malah dikasih tontonan yang gak berbobot terutama sinetron(ngibul semua)
    sedangkan di BBM kita bisa mengetahui info2 penting yang di balut dgn joke2 yang oke.
    buat pak sofyan ... mana pentingnya masalah sms dan minta perhatian (jawaban pak sofyana ttg BBM) dgn BBM yang membuat masyarakat lebih cerdas dan kritis ....
    karena menurut saya , BBM bisa membuat masyarakat lebih pintar dan kritis dgn topik2 dari BBM .

  62. From iwan on 21 June 2007 12:38:50 WIB
    duhhhhh cape dehhh
    Pak Sofyannnnnn merem apa melek ya pak?
    Tuh tayangan Dangdut , Sinetron, Infotainment ga ada yang mendidik, bahkan seringkali ga bermoralllll, pusat maksiatt. ehhh malah acara yang bagus dan mendidik mau di somasi. duhhhh cape deh bapakk. tolong dong pak sofyan jangan cari muka deh d dpn SBY, yang ada jg ama SBY bapak dicuekin dan ama rakyat Indonesia dibenci.... nah mau hidupdmn kalo gitu. (sorry ya pak)

« Home