Articles

Fauzi atau Adang: Partai tidak kasih pilihan lain

Perspektif Online
09 March 2007

Koalisi Jakarta VS Non Koalisi Jakarta

Oleh Maro Alnesputra

Ketika akan bertempur, sangat disarankan untuk membaca peta. Peta disini bukan sekedar map yang berisikan informasi tentang lokasi, tapi juga merupakan barometer untuk mengukur kekuatan dan kehebatan rival kita di medan Perang.

Episode Gubernur Kita kali ini membahas akan peta persaingan dari partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Jakarta VS Non Koalisi Jakarta (PKS) dalam menyambut pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun ini.

Simak!

Koalisi?

Effendi Ghazali: Apa PKS tidak diajak untuk berkoalisi oleh yang lain?

Tri Wicaksana (PKS): Sebelumnya hanya ingin memberi tahu saja bahwa PKS itu bukan singkatan Punya Kita Sendiri, tapi Punya Kita Semua hahahaha. Kita memang tidak melakukan koalisi dalam bentuk formal


Triwisaksana (PKS)

Effendi Ghazali: namun kabarnya dari hasil pembicaraan apa benar akan maju bersama PAN?

Tri Wicaksana (PKS): Kebetulan calon dari PKS yaitu bapak Adang Daradjatun mendaftar juga ke beberapa partai lainnya. Kebetulan di PAN, nama bapak Adang Daradjatun masuk daftar mereka yang lolos ke babak berikutnya.

Effendi Ghazali: Mari kita coba tanya kepada bapak Iqbal Rais dari PAN. Apa benar bahwa PAN akan berkoalisi dengan PKS?

Iqbal Rais (PAN): Ya saat ini kami memang sedang bersilaturahmi dengan beberapa partai termasuk PKS


Iqbal Rais (PAN)

Effendi Ghazali: Apa bedanya silaturahmi dengan koalisi?

Iqbal Rais (PAN): Beda-beda tipis sebenarnya

WW: Kalau bedanya dengan somasi? hahahahahaha

Effendi Ghazali: Pak Constantin Ponggawa dari PDS, apa pendapat bapak tentang koalisi Jakarta.

Constantin Ponggawa (PDS): Sebenarnya tidak ada bentuk resminya, koalisi itu terbentuk karena punya visi dan misi yang sama. Jadi apabila ingin membandingkan antara yang koalisi dengan yang tidak koalisi, harus diingat bahwa dua-duanya baik. Jadi tingal

dilihat mana yang lebih punya nilai tambah.

Effendi Ghazali: Bagaimana pendapat bapak Sahat Siragih dari Partai Demokrat mengingat bahwa hasil dari Partai Demokrat akan sangat menentukan apakah koalisi Jakarta akan terus atau bubar?

Sahat Saragih (PD): Pada dasarnya prinsip dasar koalisi adalah kebersamaan. Koalisi akan terjadi apabila setiap pertemuan dengan pihak lain mempunyai makna yang sama.

Effendi Ghazali: Sejauh ini sudah mengadakan pertemuan dengan siapa saja?

Sahat Saragih (PD): Kami terbuka dengan siapa saja.

Kapan menentukan Calon?

Tri Wicaksana (PKS): Kami sudah resmi mencalonkan

Iqbal Rais (PAN): Akan diusahakan pada akhir bulan Maret nanti sudah ada keputusan

Constantin Ponggawa (PDS): PDS sudah resmi mencalonkan, tapi karena kami cuma ada 4 kursi di DKI Jakarta, jadi memang harus koalisi

Sahat Saragih (PD): Yah kami hamper sama dengan PAN lah, mungkin Akhir Maret nanti, tidak lama lagi

Effendi Ghazali: Kalau boleh tau siapa saja calonnya?

Sahat Saragih (PD): Ada 4 yaitu Agum Gumelar, Fauzi Bowo, Sarwono Kusumaatmadja, dan…….. (berusaha mengingat)

WW: Mungkin ga penting yah, makanya ga inget Hahahahahahaa

Siapa Calonnya?

Tri Wicaksana (PKS): Yang jelas program-program calon dari partai kami akan menitikberatkan pada tiga masalah di Jakarta yaitu:
1. kesejahteraan
2. keamanan
3. pendidikan dan kesehatan

Effendi Ghazali: Calon Gubernurnya ?

Tri Wicaksana (PKS): Saat ini kami sudah resmi mencalonkan Adang Daradjatun sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, sementara untuk posisi wagub masih digodok.

Constantin Ponggawa (PDS): Kami sudah menentukan H. Fauzi Bowo sebagai calon Gubernur dari DKI Jakarta, karena kami percaya bahwa kota ini memerlukan orang yang sudah berpengalaman di masalah-masalah PEMDA Jakarta.

WW: Namun tidak berhasil kan ?

Constantin Ponggawa (PDS): Tidak bisa dibilang begitu, belum ada kesempatan buat beliau untuk bisa mengelola dengan baik


Constantin Ponggawa (PDS)

Effendi Ghazali: Itu betul sekali, apalagi jelas tugas Gubernur dan Wakil Gubernur jelas berbeda karena Wakil Gubernur tidak biasa diberi tugas banyak karena job functionnya lebih kepada memberikan asistensi. Wewenang Gubernur jelas jauh lebih besar bukan?

WW: Jadi intinya calon PDS akan menentang semua yang sudah dibuat sekarang?

Constantin Ponggawa (PDS): Bukan menentang tapi terus meneruskan semua kebijakan yang sudah ada

WW: Meneruskan? Ya tetap banjir dong, yang kemarin kan penanganannya buruk sekali

Effendi Ghazali: Good Point!

Effendi Ghazali: Siapa yang akan dipilih oleh Partai Demokrat ?

Sahat Saragih (PD): Sampai saat ini belum bisa diumumkan,


Sahat Saragih (PD)

WW: Kenapa susah banget ya? Toh cukup bilang saja?

Sahat Saragih (PD): Ada yang kita kejar dan ada yang kita tunggu, jadi memang mekanisnya saat ini belum bisa memutuskan, jadi tunggu sajalah.

Mana yang diinginkan? Lebih Banyak Calon? Lebih Sedikit Calon?

Effendi Ghazali: Mana yang diinginkan lebih banyak calon atau sedikit saja?

Tri Wicaksana (PKS): saya justru lebih ingin banyak

Effendi Ghazali: hahaha supaya suaranya terpecah dan PKS menang bukan

Constantin Ponggawa (PDS): Saya sih kalau bisa cukup dua saja

Fenny Rose: Ntar jadi ribet dong milihnya karena bingung

Constantin Ponggawa (PDS): Ah tidak dua justru tidak bingung

WW: Jauh lebih gampang dan gak bikin bingung milih pas jaman Soeharto, karena calon tunggalnya cuma satu hahahahaha

Sahat Saragih (PD): masih belum begitu jelas, namun saya secara pribadi melihat kemungkinan muncul 4 calon Gubernur Jakarta

WW & EG: Bagusss!

WW: Untunglah kalau memang akan lebih dari dua, karena saya tadinya sudah malas dan agak pesimis kalau calonnya hanya dua orang, tadinya mau ke acara ini cuma mau liat band –nya saja hahahaha

Penelpon Penggabung Dua Pilihan?

Ibu Indra – Depok:

Saya inginnya agar Fauzi Bowo menjadi Gubernur dan Adang Daradjatun sebagai Wagubnya. Terutama karena Fauzi Bowo orang yang sangat baik di PEMDA dan tidak pernah korupsi. Sementara Adang Daradjatun akan benar-benar dapat membersihkan Kepolisian di DKI Jakarta agar bersih dari segala bentuk korupsi , pencurian, dan lain-lain.Sehingga saya putuskan untuk menyatukan dua-duanya.

Yah begitulah episode Gubernur Kita malam ini. Mudah-mudahan kita semua bisa memilih mana yang paling baik menurut kita sebagai Warga Jakarta.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah pertanyaan tentang calon independent yang cukup membuat kening kita berkerut.

Perlukah kita Calon Independent?

WW: Perlu sekali, karena menurut saya di seluruh daerah di Indonesia harus ada yang namanya calon independent, kalau perlu dipilih berdasarkan sms yang masuk dari masyarakat

Effendi Ghazali: Sehingga membuat kita berteriak,,,…. Apakah salah kami sehingga Aceh boleh menampilkan calon independent….. tapi kami yang disini,,,,, tidak bisa ikut apa-apa ? mengapa ? apa salah kami?

Kalau kata Ruhut Sitompul sih: Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang.

Tanya gih? atau tunjukin aja opini bebas kita di Perspektif Online

Bingung? Baca latar belakangnya di:

Print article only

19 Comments:

  1. From Bee on 10 March 2007 12:50:47 WIB
    Tolong dibuatkan matriksnya, jadi lebeh mudah untuk melihat calon secara keseluruhan. Calon A didukung z, y, x. Calon B, dst. Trus maunya calon, ini..ini.. ini, 'kan lebih mudah...Ngomongnya daripada ...Bikinnya...hee...heee. Abis nggak bisa html sih aku. :))

  2. From wimar on 10 March 2007 15:12:09 WIB
    mungkin matriksnya harus n-dimensi... yang gampang sih kalau mau bikin ikhtisar programnya, yaitu nggak ada. yang ada pasang tampang di billboard dan iklan tv. yang satu asosiasi ke anti narkoba, yang satu donor darah. cukup mulia sih dua-duanya, tapi masak sih, itu tema kampanye mereka?
  3. From johnytamaela on 11 March 2007 19:33:48 WIB
    Pemilihan Gubernur DKI Jakarta sebentar lagiii....dan ini untuk pertama kalinya warga Jakarta memilih secara langsung.

    Paket-paket yang ditawarkan oleh Partai-partai menurut hemat saya sangat tidak menarik.Karena ada dua bakal calon Gubernur DKI Jakarta yang sudah starting kampanye secara terbuka dari Fauzi Bowo & Adang Dorodjatun...apa maksudnya??
    Harapan warga Jakarta agar Gubernurnya dapat berlaku secara adil & bijaksana dalam melaksanakan tugas&tanggungjawabnya.Seperti upaya2 mengatasi Banjir,pedagang2 liar,kemacetan lalu lintas,polusi udara di Jakarta (memasuki posisi ketiga di dunia sebagai kota ter-polusi), pemberantasan peningkatan kriminalitas dalam bekerja sama dgn POLDA Metro Jaya,peningkatan penyaluran pekerjaan bagi pengangguran,dll...berkaitan dengan kemajuan kota Jakarta bagi sumber daya manusianya, aparatur dan sistem hukumnya yang sehat.

    Saya sangat mendukung Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta yang memiliki komitmen yang pasti & jelas.Sesuai dengan keinginan dari warga masyarakat Jakarta.Setiap Calon2 yang ditawarkan berani untuk memberikan visi & misinya di depan publik, bukan JANJI tetapi BUKTI nyata...tujuannya hanya satu....bangun kota Jakarta!!
    Karena saya tidak ingin memilih sosok yang terkenal tetapi tidak jelas arah tujuannya, krn yang ditawarkan ke masyarakat-kan mereka bekas pangdam, bekas menteri, bekas pejabat POLRI, bekas Wagub, dan bekas2 yang lain...karena itu semua bekas orang2 penting, tetapi apakah di jabatan mereka sebelumnya berhasil??harus jelas "track recordnya" dulu donk!!...ini tugas dari partai2 mau dibuat koalisi terserah asalkan hanya untuk warga Jakarta bukan kepentingan Partai atau individu.

    Saya secara pribadi berdoa agar setiap proses dari awal penentuan dan terpilihnya Gubernur kita yang baru selalu disertai oleh kekuatan Tuhan Yesus (keyakinan saya) bukan dengan kekuatan & akal budi pikiran manusia.
    amin...


    "Siapa yang sanggup mengelola tekanan dia yang layak disebut Pahlawan"
    (FamilyDIScovery)
  4. From gambler on 12 March 2007 16:12:34 WIB
    saya tertarik dgn penelpon ibu indra-depok;
    kok yakin bowo tdk pernah korup? apa ibu ini salah satu keluarga besarnya yg bakalan kecipratan gengsi/rejeki.....ato teman arisan ibu bowo?

    saya yakin bowo telah menggunakan dana kantor dlm pembuatan spanduk2 yg banyak sekali skr di jkt, dr narkoba, idulfitri, imlek dll. memang bisa saja bowo blg , itu salah satu tugasnya skr, tapi please deh ah....jujur aja ....utk tujuan kampanye kan? kok spanduk2 dr sutiyoso malah jarang?
    jauh sekali dgn spanduk dr bibit waluyo, yg saya cuman liat SATU kemarin. btw, ada yg bisa kasih profil bibit?
    kok waluyo ada 2 ? bibit dan edy? abang adik ya?

    juga...ada yg bisa kasih profilnya .....rajak? saya lupa namanya...dia salah satu cagub jg yg lagi di-polling lewas sms.

    trus.....kok bisa2nya percaya bgt dgn daradjatun, krn bekas polisi? bukannya sutiyoso dulu juga bekas polisi?
  5. From OBE on 13 March 2007 13:07:31 WIB
    wah bagus juga kalo misalnya mereka diadu debat di depan publik misalnya di senayanm dengan catatan mereka tanpa embel-embel partai, biar sama2 imbang, trus ada dialog langsung ama rakyat jkt, jadi kita bisa tahu kualitasnya tapi saya juga tak yakin dari rakyat jakarta ini tahu profil calon mereka, yang saya tahu adalah profil dari calon2 gubernur dari propaganda yg mereka lakukan yang sifatnya cuman tebar pesona dan ngibul aja, jadi mereka melakukan sesuatu hanhya saat2 mereka mencalonkan diri saja bukan bener2 iklas dari hati, jadi saya berkomentar mereka semuanya hanya orang2 munafik yang memperebutkan kursi saja, dan masih banyak konspirasi2 politik didalamnya, jadi sama juga boong, akhirnya rakyat yang mati konyol, kalo perlu sebelum mereka mencalonkan diri di audit dulu kekayaannya, dan dipublikasikan di media massa kemudian rakyat dapat mantau dari aktifitas kampanye mereka yang biasanya hura2 itu menghabiskan dana berapa aja, dan yang terpenting bagi saya siapapun calonnya saya berharap mereka berangkat bukan karena beliau merasa mampu memimpin namun beliau mampu mengajak semua unsur masyarakat untuk merasa memiliki bangsa inidan memikirkan masalah2 bangsa ini dengan lepala yang jernih, ...kalo boleh usul kenapa di indonesia tidak seperti di negara cina yaitu bagi para koruptor udah jelah jelas hukumnya yaitu mati bahkan keluarganya pun yang ikut menikmatinya sengaja maupun tidak juga dihukum mati, saya berharap hukuman mati bagi para koruptor segera terwujud, jadi nantinya di balai sidang senayan akan sangat sepi yang ada paling hanya 'OB'sama satpam saja, karena para dewan terhormat sudah dipeti es kan,...jadi pengeluaran negara dapat di tekan..makasih, maaf agak emosional...
  6. From wildan hakim on 13 March 2007 15:37:40 WIB
    Wah menarik sekali obrolan Pilkada DKI Jakarta ini. Sayangnya, figur yang saya dukung kemungkinan tidak bisa ikutan Pilkada. Yang saya maksud adalah Faisal Basri. Beberapa teman bilang, Faisal punya popularitas yang bagus di mata warga DKI ketimbang calon lain. Cuma dia kalah amunisi. Kalau yang ikutan Pilkada masih Pak Agum, Pak Sarwono, Bang Foke, ataupun Pak Bibit, lantas kapan kaum muda punya kesempatan unjuk kemampuan dan kinerja memimpin /DKI. Masak yang itu-itu aja?
  7. From handika aditya on 13 March 2007 19:52:19 WIB
    ParPol yang haus kekuasaan buru-buru bikin KOALISI, masing-masing ParPol bikin skenario rahasia yaitu pura-pura bikin pemilihan bakal calon gubernur dalam rapat partai, padahal kita semua tahu, yang bakal jadi cagub orangnya pasti itu-itu juga.

    akhirnya masyarakat ga punya pilihan lagi... jadi udah bisa ditebak, gubernur yang baru nanti tetep aja kaya dulu lagi... cuma bisa bikin BUSWAY tapi ga bisa bikin BANJIRWAY...

    untung saya warga DEPOK... jadi ga bakal ikut dongkol kalo salah pilih calon di pilkada DKI...
  8. From Yon Cahyadi on 14 March 2007 09:29:12 WIB
    Sebenarnya yang dicari warga Jakarta dari seorang gubernur nya adalah bagaimana Gubernur itu bisa membuat Jakarta aman dan nyaman.

    Entah itu dalam bentuk berkurangnya tingkat kemacetan dan polusi udara, bebas banjir, keamanan beraktifitas, tersedianya fasilitas - fasilitas umum terutama untuk golongan orang cacat, dsb.
    Saya rasa kurang lebih itu semua adalah harapan warga Jakarta.

    Namun masalahnya adalah, apakah keinginan atau harapan warga tersebut sejalan atau sesuai dengan misi atau tujuan dari partai politik yang mendukung gubernur tersebut.

    Karena hampir bisa dipastikan bahwa si gubernur terpilih mau tidak mau gubernur terpilih itu akan "BALAS BUDI" ke partai yang mendukungnya.

    walaupun sebagian besar warga jakarta sudah mengetahui siapa - siapa aja calon gubernurnya namun sebagian besar dari mereka juga dipastikan tidak mengetahui apa agenda tersembunyi yang dilakukan partai politik dan calonnya.

    jadi kalau boleh mengutip pesan yang disampaikan oleh pembawa acara kriminalitas di salah satu TV swasta, warga Jakarta memang harus selalu...WAPADALAH...WASPADALAH....
  9. From Alex Maffay on 14 March 2007 14:01:02 WIB
    Partai Koalisi, Pasti ada maunya deh. Apalagi kalo bukan Kekuasaan dan Duit. Itu perkiraan saya aja loh sebagai orang awam. Kalo sudah begitu, kita benar-benar dalam Republik Mimpi yang bermimpi akan memiliki Gubernur yang peduli akan Grass Root. Semua yang dilakukan hanya akan menjadi bahan tertawaan saja. Entah siapa lucu dan siapa yang ditertawakan, kalo sudah begitu mari kita cari bantuan pada Kantong ajaib yang memiliki segala macam hal yang kita butuhkan.
    Dan mengenai kapan yang muda memimpin, orang muda kan kurang pengalaman. Untuk menjadi Gubernur itu kan perlu dana yang banyak. Dari mana orang muda punya dana, kalo tidak bekerja ekstra keras. Kalo orang tua itu kan yang punya dana dan banyak pengalaman tentu saja dia bisa menjadi Gubernur. Tapi karena sudah tua, tentu banyak pula penyakit yang dideritanya. Terutama penyakit kronis 'KKN' yang diwariskan dari Orde Baru.
    Tapi semua itu kita kembalikan saja pada Sanghyang Widhi empunya alam semesta ini. Biarlah semua terjadi atas Kehendak-Nya saja. Amin, Praise The Lord.
  10. From dr. M on 14 March 2007 15:55:12 WIB
    Topik pilkada DKI menjadi hangat karena warga Jakarta selama Orde Baru tidak pernah mengalami sistem pemilihan langsung sebelumnya. Selama ini mekanisme pemilihan gubernur dilaksanakan oleh wakil-wakil rakyat di DPRD.
    Kita perlu menyambut "pesta" ini dengan antusias sambil waspada akan segala potensi "permainan" politik tingkat tinggi. Sedikit tip memilih gubernur dari saya, "percaya pada hati kecil Anda, hati kecil selalu berkata benar (paling tidak untuk saya)."
  11. From gubrak on 14 March 2007 20:00:12 WIB
    emang mulai pesimis nih...tipis dan kecil kemungkinan ada good guy yg bisa membawa perubahan di jakarta...

    makanya skg sdg dibuat kampanye terselubung dg pernyataan2:
    1. persoalan jakarta tidak bisa diselesaikan oleh satu org gubernur saja.. mgk maksudnya satu org yg belum punya pengalaman di birokrasi DKI
    2. hidup di jakarta tidak nyaman dan aman... mungkin merujuk pada jendral pol yg pensiun dini itu...

    kenapa tidak ada yg mem blow up pernyataan mesti ada solusi cerdas dari persoalan jakarta: banjir, kemiskinan, kekayaan yg terlalu melimpah ruah, dls dst

  12. From alex on 15 March 2007 09:25:38 WIB
    sama dengan bung gubrak aye juga rade-rade pesimis nih same calon gubernur, dari militer lagi militer lagi??? kenapa mesti militer? karena bisa sinkron sama kegiatan korup yang udah jalan selama ini yee... kenapa jakarta dilarang judi tapi kasino banyak? kenapa prostitusi dilarang tapi tempat2 ini banyak dan marak di mangga besar kota? kenapa parkir liar aman2 aja? kenapa pungli warung2 lancar2 aja? jawabanya hanya satu semua karena otak sudah kotor and gubernur maunya isi kantong doang.. presiden juga kasih gebrakan dong! LP cipinang ada prostitusi, ganja, judi, premanisme. masuk TV lagi eh dicuekin.. kl kepala LP bilang ga tau itu bull shit justru dia yang kantongnya paling tebal bung wimar, what about your comment? do you agree with me?..

    Elex Fachrudin
  13. From calonnya sekarang cuma dua nie` on 15 March 2007 17:49:18 WIB
    om wimar, gimana dunks...calonnya sekarang cuma dua. bersedihlah dirimu. karena pertandingan tak lagi semenarik yang dikau bayangkan. kalo saya sih terus terang, agak heran dengan keengganan partai-partai mengusung calon lain di luar Fauzi Bowo dan Adang Daradjatun. Tokoh seperti Sarwono kan sudah jelas memiliki suara yang riil, bisa dilihat dalam pemilihan DPD DKI lalu. Tapi kenapa tak dipinang oleh partai yang punya suara signifikan.
    Atau apa ini memang benar seperti yang dikatakan PDIP dalam berita di detik.com, kalau PKS memang musuh ideologis yang harus diwaspadai untuk mempertahankan NKRI. Sedramatis itukah kenyataannya...?
    Padahal, semua orang sudah tau ketika Jakarta ditimpa musibah ada di mana partai-partai itu dan berada di mana pula PKS.
    Sekali lagi, saya cukup berduka cita atas pilihan 17 partai tersebut untuk hanya mengusung satu nama.
    Oh ya, saya salut dengan penampilan Ketua Umum PKS DKI yang terlihat jauh lebih siap ketimbang tiga nara sumber lainnya. Masih malu-malu, atau khawatir disamber Om Wimar kalau salah omong?
  14. From Alfanny on 16 March 2007 01:24:15 WIB
    Pilkada Jakarta, Pilih Status Quois Atau Fasis

    Oleh: Alfanny

    Para pemilih pro perubahan di Jakarta akan menghadapi dilema dalam Pilkada DKI Jakarta 2007. Mau memilih Fauzi Bowo yang “status quois” atau Adang Daradjatun mantan Wakapolri yang didukung PKS, partai Islam ekslusif yang cenderung fasis.

    Dilema seperti ini pernah dialami para pemilih pro perubahan di Perancis pada Pemilu Presiden 2002 silam. Saat itu, secara dramatis, kandidat Partai Sosialis yang pro perubahan, Lionel Jospin dikalahkan oleh kandidat dari partai sayap kanan, Jean Marie Le Pen pada Pemilu putaran pertama. Le Pen dalam kampanyenya dikenal fasis dan rasialis karena sering mengusung isu anti imigran. Le Pen bahkan pernah mengkritik tim sepakbola Perancis yang didominasi warga Perancis keturunan imigran Afrika.

    Walhasil, pada pemilu putaran kedua, warga Perancis yang pro perubahan “dengan terpaksa” memilih kandidat incumbent yang status quois, Jacques Chirac. Para pendukung Partai Sosialis jelas tidak akan memilih Le Pen yang fasis. Ideologi fasisme atau ultra-nasionalis sangat dikecam oleh para pendukung Partai Sosialis.

    Kini, warga Jakarta yang mendambakan perubahan pun terpaksa harus memilih Fauzi Bowo, seorang birokrat karier yang saat ini menjabat wagub. Fauzi Bowo sudah pasti akan cenderung meneruskan kebijakannya yang sudah dia susun bersama Sutiyoso. Sebagai seorang incumbent, sulit diharapkan Fauzi Bowo akan melakukan perubahan kebijakan pemerintahan di Jakarta.

    Namun, memilih Adang Daradjatun –yang dicalonkan PKS- juga belum tentu akan memberikan perubahan kebijakan pengelolaan Jakarta. Alih-alih melakukan perubahan radikal di Jakarta, kebijakan Adang cenderung akan lebih diwarnai oleh haluan ideologis PKS yang cenderung sektarian. Walaupun mengklaim sebagai partai Islam moderat yang inklusif, susah dipungkiri bahwa PKS sangat terinspirasi oleh ideologi Ikhwanul Muslimin Mesir yang bercita-cita mendirikan negara Islam. Kini, Pemerintah Mesir kerapkali menangkap para aktivis Ikhwanul Muslimin karena di masa lalu para aktivis Ikhwan mudah “terprovokasi” untuk melakukan kekerasan.

    Golput? Jelas, bukan solusi karena yang akan terjadi sama persis dengan kekalahan Jospin pada Pemilu Perancis. Saat itu banyak simpatisan Partai Sosialis yang golput karena menganggap Jospin sebagai tokoh Sosialis yang kurang memiliki agenda-agenda perubahan yang konkret. Hasilnya, yang diuntungkan adalah Le Pen yang berhasil maju ke putaran kedua walaupun kemudian dikalahkan Chirac.

    Bila warga Jakarta yang pro perubahan memilih golput, yang akan diuntungkan adalah Adang Daradjatun, karena massa PKS sangat solid sehingga suara untuk Adang dipastikan tidak akan berkurang. Dengan modal suara 26% pada Pemilu DPR 2004, PKS dipastikan mampu menggerakkan mesin politiknya untuk meraih capaian suara > 50%. Aktivitas social PKS yang konkret di tingkat massa akar rumput dipastikan akan menyebabkan banyak masyarakat –yang awam tentang akar ideologis PKS- akan bersimpati pada PKS dan kandidat yang didukungnya.
    Bencana banjir yang melanda Jakarta Februari 2007 lalu justru memberikan berkah bagi PKS, karena PKS dapat unjuk peduli (sekaligus kampanye) dengan mendirikan posko-posko bantuan banjir yang jumlahnya bahkan mengalahkan posko bantuan banjir milik Pemda.

    Itulah demokrasi, kita kadang-kadang harus memilih yang “terbaik di antara yang terburuk”. Di masa depan, para kandidat independen yang muncul dari aspirasi “arus bawah” seharusnya diberi peluang untuk mencalonkan diri tanpa melalui partai. Mekanisme pencalonannya mungkin bias meniru model pencalonan anggota DPD, dimana para calon DPD harus mengumpulkan ribuan tanda tangan dan fotokopi konstituen rakyat yang mendukungnya. Sudah terbukti, partai-partai politik gagal melakukan rekruitmen dan kaderisasi internal sehingga lebih memilih melakukan politik dagang sapi dengan para elit politik lama yang tidak pernah aktif di partai.

  15. From aria(aku rakyat indonesia asli) on 22 March 2007 21:21:47 WIB
    Om, au ah gelap..sampe kapan kebobrokan itu dipiara, saling menyelamatkan diri..ya serahkan smua kepada Allah SWT karena Allah SWT yang membalas tipu daya "mereka" yang ibarat kata "maling teriak maling"
  16. From Dadan.jr on 27 March 2007 03:12:13 WIB
    Status Quo atau fasis sama saja


    Kepada alfanny yang budiman saya rasa sah-sah ada orang atau organisasi massa yang membantu orang yang sedang ditimpa bencana, dan setahu saya pks ynag dulunya partai keadilan memang dari dulu sudah sering membantu masyarakat tanpa tunggu musim kampanye, dan soal pandangan politik pks saya rasa soal fasis dan tidaknyA PERLU DIBUKTIKAN kecuali kalau anda termasuk orang yang islamphobia,dan seperti yang anda sebutkan sebagai contoh pemilu di prancis bahwa masing masing calon merpertahankan ideologinya ada yang sosialis dan ada yang ultra nasionalis, sekarang tergantung pada pemilih mana yang menurut mereka layak tanpa harus curiga pada ideologi partainya.Dan saya rasa kalau pks termasuk islam yang radikal saya rasa akan hancur dengan sendirinya karena rakyat akan bisa menilai sesuatu yang benar-benar tulus dari dari dalam hati atau ada sesuatu maksud tertentu.

    sekarang tergantung kita semua mana yang kredibel , calon sudah jelas-jelas korup atau calon yang dipandang miring karena yang mencalonkannya partai yang dicurigai sebagai partai radikal ( perlu dibuktikan dan kalau terbukti dibubarkan saja )
  17. From Ozy... on 28 March 2007 11:31:01 WIB
    Bang Wimar,

    Salut ane sm ente bang, dapat mengkritisi setiap orang yang buruk menurut pandangn anda, dan hebatnya lagi ente memberikan inspirasi kepda orang2 untuk membuka web ini.
    Menurut ane bang yang memimpin Jakarta itu harus punya syarat minimal dua :
    1. Pragmatis
    2. Oportunis
    Karena yang dipimpin tuh orang2 model kaya' gini semua, apa buktinya pragmatis sama oportunis.
    Contoh Banjir, bukannya sadar, bersihin lingkungan sendiri, jangan buang sampah sembarangan, jangan tebang pohon dipinggir kali, jangan bikin bangunan dipinggir kali, eh ini malah maen salah-salahan, giliran dapat musibah bisanyalahin orang melulu, padahal awalnya dia2 sendiri yang bikin susah.
    Contoh ke dua : Macet, bukannya sadar ngurangin kendaraan, ini malah beli motor baru, beli mobil baru, main salip aja kalo di jalan, ngga tau rambu2 mesti berhenti atau jalan terus, gimana mau ngurangin macet, yang ada malah ngedumel sendirian, ngoceh sendirian, ujung2nya nih bang nyalahin orang lagi, bujug dah, padahal ane yakin salah satu yang bikin masalah, saudara2nya sendiri tuh bang.
    Jadi, nih bang ane saranin ke abang juga tolong dididik tuh mental2 orang Jakarta.
    Ane, yang katanya orang betawi asli tujuh turunan, jujur bang empet bnget ngelihat orang2 kayak gitu, yang maunya cari enak sendiri.
    Makasih ya bang...
  18. From gambler on 30 March 2007 13:11:14 WIB
    Bwt Ozy, he he
    ane juga empet tuh liat org2 spt itu, indonesia/jakarta memang no 1 di dunia, yg punya org2 "Taat kl ada yg liat" kan.

    kalau ane blg sih...utk mendidik mental2 org spt ini, ya balik ke pemerintah lagi. pemerintah kan yg punya kuasa. saya yakin kl hukum tegas, perlahan2 org2 akan mulai taat.
    contohnya: yg ketauan nyogok aparat, dua2nya (termasuk yg disogok) akan kena hukuman utk membersihkan toilet umum seumur hidupnya.
    pengendara yg tdk tertib dijalan , akan kena hukum cambuk 100x.
    Kita jadi jiper ga tuh...

    masalahnya pemerintah kita kurang tegas sih.....
    liat aje peraturan 'no smoking' dari sutiyoso. ABCD.
  19. From Evan on 02 July 2007 20:02:58 WIB
    Ada beberapa acuan bagi orang-orang Jakarte untuk memilih calon Guberner & Wakilnya, tapi ane pilih acuan yg gampang aje deh. Yaitu

    1. Lihat & pelajari partainya.
    Kalo kebanyakan partai berkoalisi untuk satu calon, nanti gimana bagi-bagi kekuasaannye, pasti ribet deh. Belum lagi tuh partai kan butuh duit juga, nah loh, duitnya dari mane? Sedangkan sumber duitnya cuman satu, tapi partainya banyak banget. he he he.

    2. Lihat pengalaman di kota-kota lain. Di depok misalnye.
    Waktu itu pernah ada pengambil-alihan hasil pemilu oleh sebuah partai ternama, nah partai yg kayak gini kagak usah dipilih lagi. Yah, kite sebagai manusia sudah bisa mikir kendiri lah.

    Udeh deh, segitu aja, simpel tapi mudah-mudahan bermanfaat untuk semuanye ye.

    Satu lagi pesen ane dalam PILKADAL Jakarta nanti, BE SMART.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home