Articles

Calon Gubernur Ketiga: Permainan Baru Dimulai

Perspektif Online
16 March 2007

Tradisi Politik Kita Jadul Banget

Oleh Hayat Mansur

Kehadiran Koalisi Bersama yang didukung 17 Parpol dan mencalonkan Fauzi Bowo dinilai Pakar politik dan otonomi daerah Ryaas Rasyid karena tradisi politik kita belum modern alias jadul banget. Yang terpenting juga, ini bukan berarti Pilkada Jakarta sudah pasti hanya akan kancah Adang vs Fauzi. Menurut Sarwono Kusumaatmadja dan Abdul Razak Thamrin, dua bakal calon gubernur yang belum mendapat dukungan partai, justru pertempuran baru dimulai.

Acara Gubernur Kita live di Jak-TV pada Kamis malam (15/3) dengan tema "Bakal Calon Gubernur Meraih Dukungan" dimulai dengan informasi dari Host Effendi Gazali bahwa hari ini sejumlah partai mendeklarasikan Koalisi Bersama mendukung Fauzi Bowo.

Berdasarkan berbagai laporan, di dalam barisan Koalisi Bersama tergabung antara lain PDIP, Partai Golkar, PPP, PBR, PDS, PBB, dan sembilan partai gurem. Dua partai lainnya, PAN dan PKB meski diklaim mendukung koalisi tapi ternyata masih belum menentukan sikapnya.

Dalam episode ini Wimar Witoelar yang dinilai Effendi Gazali sebagai panelis yang ceria dan kritis tidak bisa hadir karena ada tugas ke Surabaya. Berikut beberapa nukilan percakapan Gubernur Kita yang menghadirkan tamu Sarwono Kusumaatmadja dan Abdul Razak Thamrin.

Permainan Baru Dimulai

Effendi: Adanya Koalisi Bersama, apakah Pak Sarwono senang atau sedih pada malam ini?

Sarwono: Biasa saja.

Effendi: Jadi, apa yang dirasakan dan akan dilakukan?

Sarwono: Saya mulai proses menjadi bakal calon gubernur di PDIP pada April tahun lalu dan termasuk orang yang rajin bertemu dengan para aktivis partai di akar rumput. Saya mendapat banyak persahabatan dan itu tidak akan hilang dengan saya tidak terpilih.

Effendi: Jadi Pak Sarwono sudah yakin tidak akan menjadi calon gubernur dari PDIP.

Sarwono: saat ini disebut calonnya Fauzi Bowo. Tidak apa-apa karena politik itu penuh dengan ketidakpastian.

Effendi: Apakah Pak Sarwono merasa sudah tertutup menjadi calon gubernur?

Sarwono: Ini awal dari permainan, masih ada dinamika. Saya termasuk orang yang hidup dalam dinamika. Sebelum itu didaftarkan ke KPUD masih ada kesempatan. Bagi saya, permainan baru dimulai.

Effendi: Pak Ryaas, betulkah masih ada peluang untuk menjadi calon gubernur?

Ryaas: Secara formal, pembentukan Koalisi Bersama dan penyebutan nama calonnya bukan tahapan Pilkada. Pilkada bagi seorang kandidat dimulai dengan didaftarkan namanya ke KPUD. Itu sekitar awal Mei.

Effendi: Sekarang saya ke Pak Abdul Razak, apakah Bapak senang atau sedih?

Abdul Razak: Bagaimana kelihatannya?

Mahasiswa: Senang

Effendi: Kelihatannya menantang

Abdul Razak: Biasa saja. Saya dari dulu menjadi aktivitas tapi memang main politik praktis baru sekarang. Dalam proses pencalonan memang ada ada yang menyenangkan dan menyedihkan. Namun yang perlu diingat, saya satu-satunya calon yang hanya melamar ke satu partai yaitu Partai Demokrat (PD). Saya tidak mencla-mencle. Saya konsisten. Deklarasi tadi ok saja sebagai proses demokrasi. Namun logikanya keempat calon dari PD seharusnya dipanggil satu-satu. Ternyata itu tidak pernah. Jadi saya bertanya-tanya kok begini. Kendati demikian saya tetap konsisten. I have nothing to lose karena saya tidak menghabiskan uang. Kalau kata Pak Sarwono, permainan baru dimulai, sedangkan bagi saya, pertempuran baru dimulai.

Tradisi Politik Modern

Ryaas: Saya melihat Abdul Razak maju menjadi bakal calon gubernur berangkat dari suatu kunci isu yang kita sekarang alami yaitu kesehatan dan pendidikan. Dia berhasil membuktikan dengan kinerja yang baik. Jadi seharusnya partainya mempertimbangkan ini dengan sangat serius kalau menurut tradisi politik modern. Jadi ini berarti kita belum modern. Sedangkan Sarwono berangkat dari konsep solusi berbagai masalah tapi ternyata itu tidak dilihat partai juga.

Effendi: Kalau begitu, darimana sebenarnya datangnya calon yang akhirnya maju saat ini?

Ryaas: Saya kira ini karena dominasi cara pandang dari pemimpin masing-masing partai politik. Jadi paternalisme itu masih hidup.

Effendi: Bagaimana solusinya? Apa yang harus kita lakukan?

Ryaas: Dalam Pilkada, publik yang menentukan. Jadi publik dapat menyampaikan suaranya ke partai atau memprotesnya. Dengan adanya wacana publik tersebut maka partai akan mengetahui ada penolakan.

Fenny Rose: Apakah itu bisa mengubah nama calon gubernur?

Effendi: Ya, apakah masih bisa berubah?

Ryaas: Secara logika dan rasional masih bisa berubah karena belum didaftarkan ke KPUD.

Jika Tidak Terpilih

Fenny Rose: Jika tetap tidak terpilih menjadi calon gubernur, apakah akan tetap mendukung calon dari partai Bapak?

Abdul Razak: Saya akan tetap konsisten jka tidak keluar dari partai yang sekarang. Sedangkan untuk pendukung saya, terserah hati nurani mereka.

Sarwono: Setiap kali kita berpolitik dan dilakukan dengan baik, maka menang atau kalah akan tetap selalu menambah kawan dan memiliki lebih banyak informasi. Jadi tinggal mengorganisirnya. Kalau menang maka menjadi calon gubernur. Sedangkan kalau kalah maka pilihannya banyak, malah jangan-jangan pilihannya lebih banyak lagi. Perjalanan hidup saya begitu. Kalau mendapat jabatan, saya gembira dan melaksanakannya dengan gembira karena ini amanah. Kalau tidak jadi pun tetap gembira karena ini dunia baru.

Ryaas: Apakah program-program yang telah Bapak susun akan diberikan kepada partai atau calon terpilih?

Sarwono: Saya akan melihat individunya bukan pada partainya

Abdul Razak: Program saya sudah dibuat dalam sebuah buku dan saya berikan kepada siapa saja. Konsep itu sebagai ilmu. Siapa pun mau silahkan memakainya karena bagi saya itu akan menjadi amal ibadah. Saya tidak mempunyai referensi nama.

Tips bagi Publik

Saat menutup acara Gubernur Kita, Host Effendi Gazali kembali mengingatkan tips yang disampaikan Sarwono Kusumaatmadja bagi masyarakat terutama generasi muda untuk Pilkada Jakarta ini, yaitu "Jangan hanya membaca satu surat kabar saja, tapi baca banyak surat kabar. Bandingkan juga pemberitaan surat kabar lokal dan nasional."


Create polls and vote for free. dPolls.com

Baca juga:

Print article only

23 Comments:

  1. From Johnny Tjea on 16 March 2007 11:33:24 WIB
    Bagi saya kalau calon yang digodok oleh partai-partai tidak menarik mengapa kita harus mempergunakan hak pilih kita ini kan demokrasi.
    Terima kasih.
  2. From Alfanny on 16 March 2007 12:51:36 WIB
    Pilkada Jakarta, The First Step to Ideology Conflict

    Oleh: Alfanny

    Intelektual Barat, Daniel Bell usai Perang Dingin menyatakan bahwa inilah “the end of ideology”. Saya mengatakan tidak. Di Indonesia, beberapa tahun mendatang panggung politik kita akan diwarnai oleh haru birunya konflik ideologi seperti yang pernah kita alami di era Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin.

    Dan itu semua, sudah terlihat gejalanya dalam Pilkada Jakarta. PKS, partai Islam (ideologis) yang sangat terinspirasi oleh Ikhwanul Muslimin Mesir tampil percaya diri sendirian mengusung kandidat gubernurnya, Adang Daradjatun, seorang perwira tinggi polisi. Di seberang PKS, ada koalisi partai-partai politik yang mencalonkan Fauzi Bowo, seorang incumbent, birokrat karier yang cenderung pragmatis non ideologis.

    Menarik untuk dicermati, mengapa belasan partai politik sepakat bersatu mengeroyok PKS. Seorang kader muda PDIP, Budi Aris Setiadi mengatakan bahwa PKS adalah musuh ideologis bersama. Sementara kader muda PKS, Zulkieflimansyah menolak pernyataan tersebut dan mengatakan bahwa PKS digerakkan oleh mantan aktivis kampus yang telah menyadari pluralitas Indonesia sehingga tidak mungkin memaksakan ideologinya. (Baca: ideologi Islam).

    Saya kenal Zulkieflimansyah. Ia adalah ketua senat mahasiswa pertama di UI (SMUI) awal 1990-an yang berasal dari kalangan gerakan tarbiyah (cikal bakal PKS). Sejak Zul menjadi ketua SMUI, sejak saat itulah hingga kini SMUI (Kini BEM UI) didominasi tanpa pernah henti oleh gerakan Tarbiyah/ PKS. Di sejumlah fakultas pun, terutama fakultas-fakultas medis dan exact, mahasiswa-mahasiswa yang berafiliasi ke Tarbiyah pun mendominasi organisasi intra kampus. Organisasi ekstra kampus yang telah mapan seperti HMI, PMII dan GMNI dibuat impoten di UI.

    Kini sejumlah mantan aktivis UI dari Tarbiyah terjun menjadi leader dan manajer mesin politik PKS. Sebut saja Selamat Nurdin, Ketua SMUI 1996 yang menjadi anggota DPRD DKI Jakarta. Rama Pratama, Ketua SMUI 1998 yang menjadi anggota DPR. Fahri Hamzah, Mustafa Kamal dan lain sebagainya. Mereka semua adalah aktivis tarbiyah yang sangat terinspirasi dengan Ikhwanul Muslimin Mesir (Ikhwan).

    Memang, apa salahnya dengan Ikhwan? Ikhwan yang didirikan Hasan Al-Banna di Mesir tahun 1920-an adalah organisasi Islam revivalis (revivalis, ingin kembali pada kejaaan di masa lampau) yang berjuang mendirikan Negara Islam (Khilafah) di Mesir. Persaingannya dengan partai-partai sekuler, kiri, militer dan agen-agen kolonial di Mesir dalam memperebutkan kursi kekuasaan di Mesir menyebabkan Ikhwan “terprovokasi” melakukan serangkaian tindakan kekerasan yang memicu aksi saling balas dari musuh-musuh politik Ikhwan yang berujung pada gugurnya dua tokoh utama Ikhwan, Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb (Tafsir Quran Quthb yang laris adalah Fii Zilalil Quran yang ditulisnya dalam penjara sebelum ia dihukun gantung oleh pemerintah sekuler Mesir). Pembunuhan Anwar Sadat pasca Camp David 1979, diduga kuat juga dilakukan oleh Ikhwan yang menyusup ke militer Mesir. Pelarangan Ikhwan di Mesir telah menyebabkan para aktivisnya bertambah radikal dan mendirikan sebuah organisasi sempalan, Jamaah Islamiyah (JI). JI inilah yang dituding pihak Barat sebagai jaringan teroris internasional yang terkait dengan Al-Qaeda, organisasi yang (lagi-lagi) dituding Barat sebagai otak tragedy 9/11 WTC.

    So, Zul memang mengklaim bahwa para aktivis muda PKS adalah mantan aktivis kampus yang menyadari bahwa Indonesia majemuk, maka sikap toleransi dan moderasilah yang harus dikemukakan. Namun, seingat saya, ketika saya menjalani proses kuliah di UI dari 1995 hingga 2001, saya tidak merasakan hal sedemikian. Yang saya temui, para aktivis tarbiyah di UI cenderung fasis dan memaksakan kebenaran ideology Islamnya pada pihak lain. Ketika meletus kerusuhan komunal di Ambon menjelang pemilu 1999, para aktivis tarbiyah pun “terprovokasi” dan menempel pamflet, selebaran maupun berita serta opini yang memojokkan pihak Kristen dalam konflik komunal di Ambon. Pihak mahasiswa Kristen pun hampir “terprovokasi” oleh aksi para aktivis Tarbiyah. Hampir saja, konflik komunal Ambon pindah ke tempat kuliah saya di Fakultas Sastra UI. Untung, masih ada mahasiswa “poros tengah” seperti PMII, HMI dan “sayap kiri” yang mendamaikan mereka.

    Jadi, Pilkada DKI adalah pertarungan (semi) ideologis antara PKS (Ideologi Islam) dengan Koalisi Partai (Persekutuan aneh antara Nasionalis Sekuler, “Islam tradisional” ala PPP, “sektarian Kristen” ala PDS dan sejumlah partai gurem yang (pasti) bermotivasi pragmatis. PKS sudang menjalankan strategi Mao, desa mengepung kota. Jakarta kini dikepung oleh kemenangan PKS di Depok dan Bekasi. Bila Jakarta sudah “futuh”, maka tinggal tunggu saatnya Indonesia akan “futuh” (Futuh adalah istilah yang menggambarkan kemenangan kaum muslim atas kaum kafir seperti “Futuh Mekkah” atau direbutnya Mekkah oleh kaum muslim dari kafir Quraisy)

    Anda boleh tidak setuju dengan opini saya. Kita bisa berdialog dan berdiskusi. Trims kepada Perspektif Online dan bung WW. Keep Indonesia Plural!!

    Alfanny, alumni ilmu sejarah UI, 1995-2001. Mantan Presidium Kesatuan Aksi Keluarga Besar UI (KA-KBUI)*, 1998. Kini mengajar di sebuah bimbingan belajar. HP: 081384651706. E-mail: alfanny99@yahoo.co.uk

    *KA-KBUI adalah aliansi 4 senat mahasiswa fakultas (SMF) di UI yaitu FS, FISIP, FT dan FE yang dibentuk sebagai “perselisihan ideologis” dengan SMUI yang saat itu diketuai Rama Pratama (aktivis tarbiyah, mantan ketua Forum Studi Islam FEUI). Informasi dari saya tentang konflik ideologis di UI, 1990-an bisa Anda compare dengan teman-teman anda yg kuliah di UI pada masa itu.

  3. From Alex Maffay on 16 March 2007 13:00:19 WIB
    Wah, calon Gubernur pilihan saya koq nggak terpilih ya dalam Koalisi itu? Apakah calon Gubernur pilihan saya itu tidak punya banyak duit untuk di 'isi Kuali'nya. Maka yang terjadi adalah pembunuhan aspirasi bila calon saya tidak terpilih dan yang jelas mereka akan kehilangan satu suara.
    Untuk itu, hendaknya Koalisi itu seharusnya tidak gegabah diumumkan karena hanya akan membuat miris para pendukungnya. Lagian hasil koalisi itu khan belum didaftarkan di KPUD. Wakakaka......., Hiks...Hiks....Hiks...
    Udah dulu ah gue lagi pusing nih, Pusiiiiinnnnggggg.....

  4. From angga on 16 March 2007 14:03:17 WIB
    koalisi lagi,,,
    ini benar2 status quo,,
    menandakan masyarakat belum terlalu tanggap dengan seruan2 para tokoh selama ini, koloni good guy memang blum mendapat dukungan,,
    tapi masyarakat yang masih mau mendukung bisa berbuat dengan lebih nyata dengan memberikan dukungan yang nyata bagi para bakal calon gubernur,,
    padahal saya berharap duet agum gumelar dan rano karno bisa lolos menjadi calon gubernur DKI,,
    menurut saya mereka sangat memiliki integritas secara global, yang satu berkenan di hati rakyat, dan satu lagi tentara yang santun dan tegas,,
    di DKI jakarta perlu orang yang mampu melibas lawan2 politik yang menghamabat jalanya pembenahan pembangunan jakarta,,,

    ayo kita sadari sama2 perang memang baru dimula, kita doakan saja koalisi tersebut bubar dengan segera,,,

    agar cita2 kita semua buat birokrasi, dan masa depan jakarta yang lebih baik dapat terwujud,,,

  5. From Ayu Primantari on 16 March 2007 14:18:44 WIB
    wadoouuhh ... sakit juga, oi rasanya kebanting! kemarin2 udah berharap kita bisa melakukan sesuatu yang berbeda. eh, sekarang harus menghadapi kenyataan pahit (meskipun pil nya belum ketelen). engga kepilih rakyat jadi gubernur sih ga apa2, tapi ini mau maju buat dicalonin aja kok syusye banget kayaknya. kita bisa apa, ya? bener2 hopeless kah? :-(
  6. From febianto on 16 March 2007 14:36:28 WIB
    saya penggemar gusdur
    jadi saya dukung bp.sarwono utk jadi gub dki
    soal menang ato kalah itu biasa dalam dalam demokrasi, yang paling penting rakyat harus terus diingatkan tentang demokrasi, keterbukaan, kejujuran, pluralisme, pemerataan dan sebagainya.
    warga jakarta tentunya sangat aware dengan kejadian banjir yang baru lalu dan bagaimana penanganan dari pemda dki dimana fauzi bowo ada didalamnya. Belum lagi masalah kependudukan dan tata kota jakarta yang semakin idiosyncratic.
    Dan saya setuju jika tulisan dari hernando de soto menjadi alternatif jalan keluar bagi pemerintahan daerah dki yang berikutnya dalam menata ibukota ini.
    Maju terus pak sarwono, you have thousands possibility to win the election.
    tks,
    febianto
  7. From wimar on 17 March 2007 05:36:41 WIB
    Kalau calon ybs saja tidak pesimis, kita sebagai pemilih juga harus tetap optimis. Walaupun anda termasuk orang yang tidak senang dibatasi pada dua calon itu saja, tapi sampai tanggal resmi pencalonan di KPU, politik masih cair.

    Perhatikan kata-kata sarwono, katanya 'Saya mendapat banyak persahabatan dan itu tidak akan hilang dengan saya tidak terpilih.' Kita juga mendapat banyak persahabatan di perspektif online dan tidak akan hilang dengan calon kita tidak terpilih.

    Dunia tidak ambruk dengan hasil pemilihan diluar kehendak kita, asal lebih banyak yang perhatikan proses politik seperti anda dan tidak masuk untuk sekedar complain.

    Kalau Orang Biasa berfungsi, masih banyak saluran ekspresi politik seperti badan legislatif, LSM pers dan tentunya PO.

    Bad guy boleh terpilih, tapi good guys jangan menyerah dengan manja. Jaman Soeharto saja kita bisa berbuat banyak, apalagi jaman sekarang dimana kita punya semua kebebasan.

    'This is the time you must keep on trying
    Smile what's the use of crying
    You'll find that life is still worthwhile
    If you just smile'
  8. From berlin simarmata on 17 March 2007 14:33:24 WIB
    sudah sejak lama saya mengagumi sarwono,bukan karena kami satu kampus,tetapi karena analisa politiknya tajam.kita lama mengenal dia sebagai sekjen golkar,tapi dia tersisih karena satu kelompok dengan akbar tanjung.di akhir suharto berkuasa,orang ingat ucapannya untuk mencabut gigi yang sakit,agar tidak merusak sistim.dia dekat dengan gus dur,namun dia keluar dari departeman kelautan dan pertanian(kabinet gus dur) yang kemudian bermasalah dengan tudingan korupsi.dia terpilih menjadi anggota dpd,namun gagal untuk menjadi pimpinannya termasuk jadi pimpinan mpr,walaupun dia dua kali jadi menteri pada zaman suharto.sayapun termasuk yang tidak mengerti,karena bukan anggota pdi-p,kenapa pdi-p tidak mencalonkannya,pada hal pendekatan yg dia lakukan sudah cukup intensif dan banyak anggota pdi-p yang bersimpati kepadanya.semoga ada perobahan dalam perjalanan waktu sampai menjelang mei 2007,dimana kpud menerima pendaftaran calon gubernur.teringat akan ucapan akbar tanjung,yang pernah jadi wakilnya sarwono di golkar,kalau pintu yang ini tertutup,carilah pintu yang lain.selamat berjuang bung sarwono.
  9. From gubrak on 17 March 2007 19:54:58 WIB
    aku dari padang.. kebetulan walikota pdg orgnya cukup kontroversial dg kebijakan yg kdg kurang pemikiran jangka panjang seperti kami tidak punya terminal dalam kota sehingga jalan yang selama ini cukup macet menjd makin kacau...

    dan yg plg membuat geram adalah untuk mencari dukungan akan kebijakanny, diselipkanlah isu2 bernuansa agamis seperti bantuan ke pesantren kilat, selama ramadhan setiap jumat semua siswa akan ikut pesantrenan, pewajiban jilbab dan celana pjg bg siswa sekolah negeri, dls... singkatnya mencari dukungan dari mayoritas muslim di kota padang..
    itulah bhyanya jk negara mulai masuk ke wilayah agama.. sentimen2 mudah dipicu dr sana..
    apalagi tingkat pendidikan warga kita masih kurang...

    inisialnya jg FB dan nama dpnnya jg fauzi...
    aku tidak tahu apakah ada korelasi antar sesama yg namanya berawalan fauzi... mgk orng2nya agk fauz(st)????

    ayo dong para perspektifners yg peduli jakarta tyt masih ada kesempatan sebelum mei untuk kita beri masukan ke partai2..
    aku barusan melakukannya.. terus terang aku dukung yg cerdas: bung sarwono... bg yg tdk setuju dg 2 nama yg sdh santer ayo banjiri website mereka dg nama2 calon yg besar peluangnya spt bung sarwono..

    JGN BIARKAN MEREKA MENGUASAI KITA!!! SAVE OUR JAKARTA...
    plis deh
  10. From QNOY on 17 March 2007 23:20:55 WIB
    JGN BIARKAN MEREKA MENGUASAI KITA!!! SAVE OUR JAKARTA...
    plis deh

    apa sih esensi dari kata ini?
    kenapa anda terlalu paranoid?
    jangan liat sesuatu dari luarnya saja, tapi secara keseluruhan.
  11. From wimar on 18 March 2007 07:52:00 WIB
    dialog yang menarik:
    Pak Abdul Radjak mengeluh bahwa Partai Demokrat lupa menyebut namanya sebagai calon, padahal dia satu2nya bakal calon yang mendaftar di satu partai.
    Iwel Wel nyahut, bahwa sebetulnya ia ingin menyebut, tapi lupa namanya.

    koreksi pada pemandu acara:
    Seruan "Baca koran dong!" itu adalah milik Pak Ryaas Rasyid, bukan ucapan saya.
  12. From wimar on 18 March 2007 08:06:09 WIB
    bagus sekali komentar Ryaas Rasyid di episode ini.

    A Radjak melancarkan kampanye berdasarkan issues, yaitu kesehatan dan pendidikan, dibarengi karya nyata. Sarwono KA adalah man of solutions. Dua-duanya tidak dipilih partai.

    Yang dipilih adalah dua orang tanpa issue, dengan sejarah dalam institusi yang tidak menguntungkan rakyat.

    Menurut Ryaas, rakyat masih bisa bicara untuk membela pilihan terbaik.
  13. From pengamat on 19 March 2007 06:28:22 WIB
    Ngeri kalau hasil Media ini terjadi

    MEDIA POLLING
    Pilkada DKI Jakarta tak lama lagi digelar, dan sejumlah partai besar pun sudah mencalonkan jagonya. Nama Wagub DKI Fauzi Bowo diusung PDIP, Demokrat dan Golkar, sementara PKS mengangkat nama Adang Daradjatun. Dari kedua nama itu, siapa menurut Anda yang paling layak dan pantas memimpin Ibukota ini?
    Fauzi Bowo
    16.45%
    Adang Daradjatun
    55.92%
    Tidak keduanya
    23.03%
    No comment
    4.61%
  14. From Jernihati on 20 March 2007 11:15:22 WIB
    Bung Alfanny...inilah demokrasi, silakan anda menikmatinya.
    Demokrasi yang dulu dilahirkan dari kepala kakek moyang ideologi anda sekarang akan membuat anda takut kalah...
    Sebarkan nilai-nilai yang anda pahami, kami pun akan menyebarkan nilai2 kami..rakyat yang akan menseleksi nilai2 tsb.

    Selamat menikmati Demokrasi....
    Salam kontemplasi
  15. From Lullu on 20 March 2007 16:51:21 WIB
    Memprihatinkan jika hanya Adang & Foke yang terus maju ke Pilkada. Sayang sekali di Jakarta belum bisa ada peluang untuk calon independen. Mungkin dulu harus ada Gerakan Jakarta Merdeka supaya ada peluang calon gubernur independen kali ya? Memprihatinkan
  16. From ira on 20 March 2007 17:56:46 WIB
    bung alfanny, anda yakin bahwa Fakultas SAstra UI secara resmi tergabung dalam KB UI? Seingat saya itu hanya klaim pribadi saja. Atau mungkin anda merasa sah-sah saja, mengingat saat itu anda menjabat sebagai ketua departemen pendidikan (atau kajian..CMIIW) di SMFSUI?
    Sependek ingatan saya... ketika Rama PRatama menjadi ketua SMUI, kepengurusan senat FSUI sedang tidak aktif ya...
    Bahkan seingat saya, ada pengurus SMFSUI yang jabatannya di atas level ketua departemen... yang mewakili SMFSUI untuk tergabung dalam Forum Salemba.
    CMIIW ya bung...
  17. From miscell on 21 March 2007 10:10:04 WIB
    Om WW, apa ada lembaga yg bisa tampung suara kita di "perspektif.net / orang biasa" bisa tersalur secara riil utk mendukung calon indepedent (Sarwono, Faisal Basri & Rano Karno).

    Bingung jg saya,,, daripada suara kita2 musnah ditelan angin trus sebagian jadi apatis pilkada & sebagian lagi putus asa.

  18. From Diapari on 21 March 2007 22:37:45 WIB
    Ini cerminan bangsa Indonesia yang menjalankan proses demokrasi melalui sistem kepartaian dimana yang menjadi tolak ukurnya mereka-mereka yang ada di partai itu sendiri. Setiap mengambil keputusan tidak lagi mengetahui siapa dirinya yang seharusnya partai Dari Rakyat Untuk Rakyat Oleh Rakyat. Partai telah jauh meninggalkan Rakyat ini berdampak terhadap kepercayaan mereka terhadap partai. Begitu juga yang terjadi hari ini pada Calon Gubernur DKI Jakarta. Partai harus mampu menampung aspirasi Rakyat Semaksimal mungkin bila di temukan permasalahan tidak separah hari ini. Bahwa banyak aspirasi yang tidak tertampung oleh partai. Yang diinginkan adalah kembalikan cara berpikir bahwa berpolitik adalah pengabdian pada Bangsa yang salah satunya melalui partai.
  19. From Andhika batistuta on 22 March 2007 17:07:22 WIB
    Apa sech yang golkar dan PDIP mau?dgn mencalonkan nama Fauzi bowo,,, kenapa bukan calon yg benar2 bersih suci lahir bathin,,,ada apa ini?????? Fauzi bowo itu berperan penting terhadap musibah di jakarta bersama bang yos....kenapa musti dipertahankan....APA YANG KAU INGINKAN GOLKAR,,,PDIP,,,n DEMOKRAT???? BERKACALAH?????
  20. From anton on 23 March 2007 19:48:36 WIB
    saya cederung memilih sarwono kusuma atmaja dan faisal basri, karena yang 1 punya jiwa pemimpin yang menonjol dan mengayomi (akrab dengan masyarakat bawah), dan yang satunya adalah seorang ekonom kritis, penuh inisiatif dan mempunya pendirian yang kuat, tetapi kemana mereka, kok yang jadi calon kuat kok saya tidak kenal baik secara kualitas maupun kapasitas
    Kenapa rakyat harus dipaksa untuk memilih wakil yang tidak sesuai dengan keinginannya, KENAPA DEMOKRASI TAPI MEMAKSA
    Yang saya tangkap selalu setelah gubernur yang diusung partai politik memenangkan Pilkada, pada akhirnya mereka berjemaah untuk melakukan tindakan yang menguntungkan diri sendiri maupun kelompoknya "BUKAN RAKYAT", rakyat cukup sebagai pelengkap penderita
    Berjemaah itu baik apabila untuk melakukan hal-hal yang positif
    Untuk Jakarta saya sedih, dan untuk Indonesia saya menangis karena kejadian ini terus2an berulang
  21. From Mungisa Rerasan on 26 March 2007 01:49:39 WIB
    Meskipun Pilkada diikuti seluruh penduduk sehingga kelihatannya seolah-olah demokrasi betulan, selama calonnya disodorkan dari partai politik hal ini sudah pasti terjadi.
    Karena yang dipikirkan oleh partai-partai politik itu ya kepentingan politis partainya tok.

    Harusnya, calon kepala daerah harus mulai bertarung memperebutkan suara rakyat mulai dari sektor - sektor terkecil. Masyarakatpun harus diberi kesempatan untuk mengajukan calon independen non partai.

    Model pemilihan yang sekarang ini, hanya mengakibatkan pentas didominasi para butho tanpa memberi kesempatan satrio - satrio piningit untuk naik panggung.
  22. From GA Sadjati on 28 March 2007 15:44:15 WIB
    Pilkada Jakarta harusnya jadi barometer untuk pilkada - pilkada di lain tempat, tetapi perilaku elit partai - partai besar memang memuakan, kandidat yang muncul pun tidak memberikan alternatif untuk sebuah pilihan yang cerdas,.Saya berharap ada calon usia dibawah 41 tahun yang betul - betul fresh.Jakarta harus membawa angin segar bagi daerah - daerah lain di Indonesia.
  23. From GUSTI ADITYA R on 01 September 2007 15:32:06 WIB
    Pilkada Jakarta selesai. Dua pasang pemimpin telah terpilih. Ya..!!? Tepat sekali! Fauzi-Bowo pemenangnya. Kami semua percaya kepada-mu. Kami semua berharap agar kalian berdua bener2 dapat merubah Jakarta seperti apa yang telah kalian janjikan dulu!! Dan saya juga ingin bukti dari kalian berdua, apa benar kalau "JAKARTA UNTUK SEMUA..."??? BUKTIKAN...!?! OCEEE....!

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home