Calon Gubernur Ketiga: Permainan Baru Dimulai
Perspektif Online
16 March 2007
Tradisi Politik Kita Jadul Banget
Oleh Hayat Mansur
Kehadiran Koalisi Bersama yang didukung 17 Parpol dan mencalonkan Fauzi Bowo dinilai Pakar politik dan otonomi daerah Ryaas Rasyid karena tradisi politik kita belum modern alias jadul banget. Yang terpenting juga, ini bukan berarti Pilkada Jakarta sudah pasti hanya akan kancah Adang vs Fauzi. Menurut Sarwono Kusumaatmadja dan Abdul Razak Thamrin, dua bakal calon gubernur yang belum mendapat dukungan partai, justru pertempuran baru dimulai.
Acara Gubernur Kita live di Jak-TV pada Kamis malam (15/3) dengan tema "Bakal Calon Gubernur Meraih Dukungan" dimulai dengan informasi dari Host Effendi Gazali bahwa hari ini sejumlah partai mendeklarasikan Koalisi Bersama mendukung Fauzi Bowo.
Berdasarkan berbagai laporan, di dalam barisan Koalisi Bersama tergabung antara lain PDIP, Partai Golkar, PPP, PBR, PDS, PBB, dan sembilan partai gurem. Dua partai lainnya, PAN dan PKB meski diklaim mendukung koalisi tapi ternyata masih belum menentukan sikapnya.
Dalam episode ini Wimar Witoelar yang dinilai Effendi Gazali sebagai panelis yang ceria dan kritis tidak bisa hadir karena ada tugas ke Surabaya. Berikut beberapa nukilan percakapan Gubernur Kita yang menghadirkan tamu Sarwono Kusumaatmadja dan Abdul Razak Thamrin.
Permainan Baru Dimulai
Effendi: Adanya Koalisi Bersama, apakah Pak Sarwono senang atau sedih pada malam ini?
Sarwono: Biasa saja.
Effendi: Jadi, apa yang dirasakan dan akan dilakukan?
Sarwono: Saya mulai proses menjadi bakal calon gubernur di PDIP pada April tahun lalu dan termasuk orang yang rajin bertemu dengan para aktivis partai di akar rumput. Saya mendapat banyak persahabatan dan itu tidak akan hilang dengan saya tidak terpilih.
Effendi: Jadi Pak Sarwono sudah yakin tidak akan menjadi calon gubernur dari PDIP.
Sarwono: saat ini disebut calonnya Fauzi Bowo. Tidak apa-apa karena politik itu penuh dengan ketidakpastian.
Effendi: Apakah Pak Sarwono merasa sudah tertutup menjadi calon gubernur?
Sarwono: Ini awal dari permainan, masih ada dinamika. Saya termasuk orang yang hidup dalam dinamika. Sebelum itu didaftarkan ke KPUD masih ada kesempatan. Bagi saya, permainan baru dimulai.
Effendi: Pak Ryaas, betulkah masih ada peluang untuk menjadi calon gubernur?
Ryaas: Secara formal, pembentukan Koalisi Bersama dan penyebutan nama calonnya bukan tahapan Pilkada. Pilkada bagi seorang kandidat dimulai dengan didaftarkan namanya ke KPUD. Itu sekitar awal Mei.
Effendi: Sekarang saya ke Pak Abdul Razak, apakah Bapak senang atau sedih?
Abdul Razak: Bagaimana kelihatannya?
Mahasiswa: Senang
Effendi: Kelihatannya menantang
Abdul Razak: Biasa saja. Saya dari dulu menjadi aktivitas tapi memang main politik praktis baru sekarang. Dalam proses pencalonan memang ada ada yang menyenangkan dan menyedihkan. Namun yang perlu diingat, saya satu-satunya calon yang hanya melamar ke satu partai yaitu Partai Demokrat (PD). Saya tidak mencla-mencle. Saya konsisten. Deklarasi tadi ok saja sebagai proses demokrasi. Namun logikanya keempat calon dari PD seharusnya dipanggil satu-satu. Ternyata itu tidak pernah. Jadi saya bertanya-tanya kok begini. Kendati demikian saya tetap konsisten. I have nothing to lose karena saya tidak menghabiskan uang. Kalau kata Pak Sarwono, permainan baru dimulai, sedangkan bagi saya, pertempuran baru dimulai.
Tradisi Politik Modern
Ryaas: Saya melihat Abdul Razak maju menjadi bakal calon gubernur berangkat dari suatu kunci isu yang kita sekarang alami yaitu kesehatan dan pendidikan. Dia berhasil membuktikan dengan kinerja yang baik. Jadi seharusnya partainya mempertimbangkan ini dengan sangat serius kalau menurut tradisi politik modern. Jadi ini berarti kita belum modern. Sedangkan Sarwono berangkat dari konsep solusi berbagai masalah tapi ternyata itu tidak dilihat partai juga.
Effendi: Kalau begitu, darimana sebenarnya datangnya calon yang akhirnya maju saat ini?
Ryaas: Saya kira ini karena dominasi cara pandang dari pemimpin masing-masing partai politik. Jadi paternalisme itu masih hidup.
Effendi: Bagaimana solusinya? Apa yang harus kita lakukan?
Ryaas: Dalam Pilkada, publik yang menentukan. Jadi publik dapat menyampaikan suaranya ke partai atau memprotesnya. Dengan adanya wacana publik tersebut maka partai akan mengetahui ada penolakan.
Fenny Rose: Apakah itu bisa mengubah nama calon gubernur?
Effendi: Ya, apakah masih bisa berubah?
Ryaas: Secara logika dan rasional masih bisa berubah karena belum didaftarkan ke KPUD.
Jika Tidak Terpilih
Fenny Rose: Jika tetap tidak terpilih menjadi calon gubernur, apakah akan tetap mendukung calon dari partai Bapak?
Abdul Razak: Saya akan tetap konsisten jka tidak keluar dari partai yang sekarang. Sedangkan untuk pendukung saya, terserah hati nurani mereka.
Sarwono: Setiap kali kita berpolitik dan dilakukan dengan baik, maka menang atau kalah akan tetap selalu menambah kawan dan memiliki lebih banyak informasi. Jadi tinggal mengorganisirnya. Kalau menang maka menjadi calon gubernur. Sedangkan kalau kalah maka pilihannya banyak, malah jangan-jangan pilihannya lebih banyak lagi. Perjalanan hidup saya begitu. Kalau mendapat jabatan, saya gembira dan melaksanakannya dengan gembira karena ini amanah. Kalau tidak jadi pun tetap gembira karena ini dunia baru.
Ryaas: Apakah program-program yang telah Bapak susun akan diberikan kepada partai atau calon terpilih?
Sarwono: Saya akan melihat individunya bukan pada partainya
Abdul Razak: Program saya sudah dibuat dalam sebuah buku dan saya berikan kepada siapa saja. Konsep itu sebagai ilmu. Siapa pun mau silahkan memakainya karena bagi saya itu akan menjadi amal ibadah. Saya tidak mempunyai referensi nama.
Tips bagi Publik
Saat menutup acara Gubernur Kita, Host Effendi Gazali kembali mengingatkan tips yang disampaikan Sarwono Kusumaatmadja bagi masyarakat terutama generasi muda untuk Pilkada Jakarta ini, yaitu "Jangan hanya membaca satu surat kabar saja, tapi baca banyak surat kabar. Bandingkan juga pemberitaan surat kabar lokal dan nasional."
Baca juga:




23 Comments: