Polisi Saling Tembak: Salah Sistem atau Wajar?
Wimar's World
22 March 2007
Oleh Maro Alnesputra
DOR DOR DOR DOR DOR... dan berkali-kali peluru dari sebuah pistol ditembakkan oleh seorang polisi ke tubuh atasannya. Entah apa yang dipikirkannya pada hari itu, namun di hari itu dia telah melakukan dua hal yang benar-benar tidak diduga: menembak atasannya dan menyandera seorang personil kepolisian wanita lainnya selama ia berteriak-teriak 3 jam.
Bukan... cerita ini bukan diambil dari film-film atau pun sinetron-sinetron Indonesia. Cerita di atas merupakan kejadian nyata yang terjadi minggu lalu di kota Semarang. Ironis memang, bahwa senjata yang seharusnya merupakan pilihan terakhir, malah sebegitu mudahnya untuk dipergunakan. Kejadian di atas bukan pertama kalinya. Tercatat telah terjadi 18 kali kasus penggunaan senjata yang tidak resmi sejak tahun 2001, dimana 8 di antaranya terjadi antara sesama petugas kepolisian. Tiga diantara peristiwa itu merupakan pembunuhan anak buah terhadap atasannya yang sama-sama polisi! Hal ini tentu saja merupakan suatu permasalahan yang harus segera ditanggulangi.
Episode Wimar's world kali ini membahas mengenai polisi dan senjata. Hadir sebagai nara sumber adalah Aryanto Sutadi (Staf Ahli Kapolri), Ratna Sugeng (Psikiater) dan Bambang Widodo Umar (Pengamat Kepolisian).
Simak!
Kronologis
WW : Bagaimana sebenarnya kronologis kejadian di S emarang itu?
Aryanto Sutadi: Mudah saja, seorang prajurit sersan dipindahkan karena mutasi. Merasa tidak dapat menerima keputusan tersebut, dirinya pun mengajukan keberatan, tapi kemudian tidak mendapatkan tanggapan apa apa. Keberatan utama si prajurit ini adalah ia terbebani oleh jumlah keluarganya yang banyak sehingga dia takut kehilangan rumah dinasnya dan sebagainya. Dalam kekalutannya, dia mencari orang yang paling bertanggung jawab atas proses mutasi dirinya. Sehingga dia kemudian menyandera seorang personil kepolisian wanita dan melakukan penembakan ke atasannya.
WW: Itu ada saksinya?
Aryanto Sutadi : Ya saksi yang disandera oleh prajurit itu
WW: saksi itu melihat bahwa prajurit itu langsung menembak atau telah terjadi dialog dulu sebelumnya?
Aryanto Sutadi : Sampai saat ini detail masih belum bisa diceritakan karena saksinya masih sress dan trauma sampai saat ini. Yang jelas prajurit tersebut membawa sebuah polisi yang telah berisi peluru. Dia kemudian mengajak personil kepolisian wanita itu ke ruangan atas dan mengganjal pintu dari dalam. Kemudian terjadilah penembakan tersebut.
WW: Lalu?
Aryanto Sutadi: Sebenarnya setelah penembakan tersebut, sudah dicoba dicari jalan negosiasi yaitu dengan dialog dari komandan dan bahkan dengan orang tua dari prajurit tersebut. Akhirnya untuk mengalihkan perhatian kita dobrak pintunya dan kemudian sebelum didobrak, ditembak tapi tidak melihat tembakan dari luar pak.
WW: prajurit itu sudah tau lama bahwa akan dipindahkan?
Aryanto Sutadi: Sudah tahu dari sebulan sebelumnya. Tapi mungkin dia merasa terbebani karena dia tulang punggung keluarganya, apalagi dia tinggal di rumah dinasnya dengan orang tuanya, 4 kakaknya yang sudah berkeluarga dan tidak punya pekerjaan tetap dan dengan istrinya. Kalau dia dipindah kan berarti rumah dinas itu akan dicabut kan, sehingga itu lah yang membuat dia mengajukan keberatan karena merasa keadaan akan jadi susah kalau pindah
WW: Pada waktu memutuskan untuk memindahkan prajurit, faktor seperti itu dipertimbangkan tidak ya?
Aryanto: ya belum sih pak, karena kalau berdasarkan faktor itu, ya tidak ada personil yang bisa dipindahkan donk pak. hahahaha..
WW: Maju kena mundur kena yah jadinya hahahaha (DONO donk ?)
Memory Loss
WW: Apa pendapat ibu Ratna mengenai peristiwa ini?
Ratna Sugeng : Sepertinya penembakan itu tidak direncanakan ya ?
Aryanto Sutadi : Kami belum bisa mengatakan begitu ya. Tapi yang jelas dia datang ke situ untuk menyerahkan senjata. Semua anggota yang dimutasikan diwajibkan menyerahkan senjata, dan semua sudah melakukannya kecuali dia. Hari itu dia bilang bahwa dia akan datang menyerahkan senjata.
WW: tadi bapak katakan saksinya kejadian ini adalah….?
Aryanto Sutadi: betul ibu Lily namanya
WW: Ibu Lily sekarang masih perawatan ?
Aryanto Sutadi: ya masih
WW: itu wajar dirawat sampai selama itu ?
Ratna Sugeng: iya sangat wajar ya karena dia sangat shock dan tidak pernah melihat peristiwa seperti itu dan mungkin tidak pernah menduga akan mengalaminya. Dalam waktu singkat dia harus melihat atasannya dibunuh oleh orang yang mungkin juga cukup dikenalnya. Selain itu kejadian ini mungkin sangat impulsive. Jadi karena dia mendapatkan keterangan tidak jelas kemana mana tentang mutasi dirinya. Dia menjadi marah dan kebetulan ada yang dibawa, akhirnya yang dibawa itu yang digunakan untuk menumpahkan kemarahannya,s ementara ibu yang menjadi sandera ini begitu melihat orang yang sangat marah ini mengisi pistol dengan peluru mungkin merasa bahwa dirinyalah yang akan menjadi sasaran tembak berikutnya
Aryanto Sutadi: itu dia disandera 3 jam
WW: Ada harapan gak suatu saat nanti dia akan carita atau akan memory loss ?
Ratna Sugeng: yang jelas harus ditemani psikiater. Sekarang harus ditenangkan dulu dan setelah ditenangkan baru saat dia punya back up baik dan support dari psikiaternya, dia akan digali. Baru pada saat itu memorinya akan bisa digali, khusus untuk memori yang sangat traumatik, pendampingannya harus kuat.
WW: mungkin ngga dia ingin melampiaskan karena dia punya pistol lalu dia tembak? Kalau mungkin dia tidak punya pistol, mungkin dia akan melampiaskan dengan mukul dan kemudian selesai pelampiasannya.
Ratna Sugeng: Mungkin saja dia akan mengangkat meja atau banting kursi sih, tapi kebetulan yang dipegang itu sesuatu yang mematikan.
Masalah Organisasional
WW: saya punya dua pertanyaan:
- apakah kejadian ini wajar bahwa orang punya keadaan stress dan punya senjata banyak? apakah ini ada sesuatu yang di luar prosedur?
- apakah ini sistemik atau ini random ya? Kebetulan saja terjadi ?
Bambang Widodo: saya mencoba mengamati dari beberapa kasus sebelumnya.
- Kasus ini saya lihat sebagai suatu puncak ketidakdisiplinan seorang bawahan dari atasannya
- Sekaligus ketidakmampuan seorang pimpinan dalam membina bawahannya.
Jadi jelas ada korelasinya. Di satu sisi tugas-tugas di kepolisian sangat memungkinkan adanya strain atau ketegangan, selain itu juga masalah potensi stress yang sangat tinggi karena tugasnya cukup berat, ditambah sistem sentiment seperti like dan dislike di kepolisian.
WW: Jadi?
Bambang Widodo: faktor-faktor tadi mungkin disebabkan masalah sistem organisasional. Misalnya pada proses peminjaman dan pemakaian senjata api. Kemungkinan prosedurnya ini kurang mengikuti peraturan yang benar. Selain itu pengawasan internalnya mungkin kurang kuat baik dari prospannya maupun pimpinannya. Yang terakhir ada juga kemungkinan bahwa mutasi itu memang terjadinya tidak fair.
WW: kalau begitu apa memang sekarang sedang ada sesuatu yang unik dalam kepolisian?
Bambang Widodo: Ada suatu perubahan di dalam diri kepolisian. Kalau dulu di dalam konteks ABRI itu lengkap sekali. Memang ada suatu lembaga yang memang melapisi dari system hirarki di kepolisian. Tapi sekarang dengan polisi sudah berdiri sendiri harusnya akan lebih baik. Di sisi lain, sekarang beban tugas polisi sangat tinggi. Masalah-masalah social yang dihadapi kepolisian sudah overload sepertinya.
Siapa yang boleh pegang senjata api?
WW: Kalau orang tingkat kompetensi rendah, apakah akan lebih besar kecenderungan untuk membunuh ?
Ratna Sugeng: Sebenarnya bukan kecendurungan untuk membunuh tapi kecenderungan untuk frustasi kepada diri sendiri karena keterampilan yang tidak dimiliki begitu banyak sementara persoalan yang ada demikian besar.
WW: Ada policy tertentu ngga siapa yang boleh pegang senjata dan siapa yang tidak boleh. Dan apa mereka matang secara psikologis
Aryanto Sutadi : Tidak semua polisi itu boleh bawa senjata.
- akan dipilih mana yang pantas menggunakan senjata
- akan dites dulu, psikonya apakah memenuhi syarat atau tidak dan ini bukan sekedar test tapi juga ada observasi langsung
- yang terakhir dilakukan adalah pengawasan
Saya juga ingin mengatakan kalau ada yang bilang bahwa sistemnya itu salah, harus dilihat bahwa tidak seluruhya salah. Harus dilihat dari 240.000 orang dan hanya terjadi 18 saat ini, itu saya kira bukan sistemnya yang salah tapi itu adalah kejadian yang memang sudah menjadi resiko.
Stress meningkat?
WW: menurut bapak, stress di kalangan kepolisian meningkat atau tidak dengan adanya perubahan status
Bambang Widodo: kalau melihat kondisi beban tugas, saya yakin meningkat
WW: mengapa? kan dari dulu juga banyak yang dikerjakan oleh polisi
Bambang Widodo: Tapi potensinya berbeda, dulu polisi bersama dengam militer. Sementara sekarang sudah mandiri. Contohnya di kepolisian hubungan antara atasan dan bawahan masih bersikap sub-ordinate bukan partnership. Komunikasinya sistemnya mono-dialogue. Ini yang menyebabkan bawahan tidak bisa bebas mengungkapkan masalahnya pada atasannya. Sehingga menyebabkan perasaan tertekan bagi mereka. Pelampiasannya bisa ke masyarakat dalam kondisi demikian.
WW: Wah kalau gitu sekarang masyarakat harus mulai hati hati ya...
Solusi?
WW: Bagaimana menanggulangi masalahnya? Misalnya pembatasan pengguna senjata api atau bagaimana gitu?
Aryanto Sutadi: Sebenarnya Pak Kapolri sudah menganjurkan beberapa hal. Kalau kapolda-kapolda yang baik akan melakukan check in ulang psikologi tiap 6 bulan sekali, namun ada yang melakukan ada yang tidak.
WW: ada perubahan menangani masalah mutasi supaya tidak terjadi lagi kasus seperti ini?
Aryantio Sutadi: Ada, dan itu meliputi:
- Perbaikan sistem pengamatan
- Peningkatan disiplin
- Pembinaan personil
WW: menurut bapak komunikasi antara kepolisian dengan masyarakat sedang menjauh atau membaik?
Aryanto Sutadi : itu sudah dilakukan dengan melakukan reformasi di 3 bidang: instrumental, struktural, dan kultural. Instrumental dan struktural itu mudah pak. Yang susah itu kultural karena kita 35 tahun berada di bawah pendidikan militer, dan itu sudah menjadi suatu kebiasaan dan kita berusaha mengubah menjadi gaya yang berbeda. Untuk para perwira di atas mungkin agak lebih mudah, tapi untuk yang lain akan sangat butuh waktu untuk merubah itu. Kita juga selalu berusaha membuat slogan bahwa polisi adalah mitra masyarakat dan bukan sok menjadi penguasa, namun itu semua masih membutuhkan waktu yang panjang.
-
Yah dan mudah-mudahan tidak lagi terjadi kasus-kasus seperti ini. Karena kalau ngga, jangan-jangan semua orang harus mulai beli jaket anti peluru nih kalau kemana mana hehehehe...
kalau anda jadi kapolri apa yang bakal anda lakukan untuk mencegah hal ini terjadi lagi?




36 Comments: