Articles

Silakan pilih wakil, asal Gubernurnya Fauzi Bowo

Perspektif Online
23 March 2007

Cawagub Ditentukan Publik, Cagub Jatuh dari Langit

Oleh Hayat Mansur

Setelah masyarakat tiba-tiba disodorkan calon gubernur (Cagub) yang seperti jatuh dari langit, kini masyarakat ditawarkan wacana sistem primary untuk menentukan calon wakil gubernur (Cawagub). Masyarakat yang diminta menentukan calon wakil gubernur bagi calon gubernur yang telah dipilih partai. Bukankah seharusnya calon gubernur yang memakai sistem primary?

Kendati sudah diumumkan menjadi calon gubernur dari Koalisi Bersama pada pekan lalu, Fauzi Bowo masih tetap belum mau hadir ke acara Gubernur Kita di Jak-TV yang telah digelar sejak November tahun lalu. Sikap ini juga dilakukan Adang Daradjatun yang menjadi calon gubernur dari PKS.

Pada episode Kamis malam (22/3), Fauzi Bowo mengirim kawan dekatnya yaitu pakar politik Cecep Effendi yang mantan Rektor Universitas Islam 45 Bekasi dan kini Direktur program The Indonesian Institute, Center for Public Research. Cecep mengulirkan wacana primary seperti di AS. Hadir dalam acara ini tiga bakal Cawagub yaitu Mayjen (Pur) Abdul Wahab Mokodongan (mantan Kapuspen ABRI yang kini staf pengajar di Lemhanas), Achmad Suaedy (politisi PPP yang kini Ketua Komisi A DPRD DKI), dan Mayjen (Pur) Asril Tanjung (mantan Kepala Staf Kostrad).


Calon wakil Fauzi Bowo

Seharusnya untuk Cagub

Effendi Gazali: Bagaimana dengan konsep primary ini?

Wimar: Kalau konsep primary seperti di AS adalah untuk memilih Capres. Setelah Capres terpilih lewat konvensi maka dia yang menentukan sendiri Cawapresnya. Kalau konsep itu untuk calon wakil saya tidak tahu meniru negara mana. Mungkin meniru Botswana.

Effendi: Mungkin Republik Banana. Tapi boleh donk Cawagub DKI juga meniru sistem primary seperti di AS. Bagaimana pendapat para Cawagub yang hadir di sini?

Achmad Suaedy: Nama tetap diajukan oleh partai-partai tapi harus dapat bekerja sama dengan gubernur. Dalam hal ini Cawagub juga harus mempunyai dukungan massa yang jelas. Ini tidak mutlak hanya dilihat dari survey tapi bisa juga dilihat dari berbagai aspek.

Effendi: Kalau bukan survey, bagaimana cara mungukurnya?

Achmad: Kita bisa mendengar dari suara para tokoh-tokoh masyarakat. Itu juga bisa dijadikan ukuran

Wimar: Saya belum dapat memahaminya karena bapak-bapak para Cawagub datang ke acara ini untuk sosialisasi tapi kenyataannya Cagub yang tidak pernah datang sosialisai di sini sehingga kita tidak tahu programnya, malah dipilih. Jadi seolah-olah jatuh dari atas langit. Karena itu saya tidak tahu Adang dan Fauzi merepresentasikan siapa. Satu sibuk mengurus donor darah dan satunya lagi sibuk mengurus Narkoba. Jadi, siapa yang mengurus persoalan seperti banjir?

Effendi: Sekarang saya ke Pak Asril Tanjung. Bagaimana kalau Bapak ditantang untuk mengikuti sistem prilimary bagi Cawagub?

Asril: Dalam sistem demokrasi kita, partai-partai juga harus berperan. Kendati demikian calon harus mempunyai basis dukungan yang kuat. Jadi sah-sah saja.

Effendi: Apa ukuran terakhirnya untuk dapat dipilih?

Asril: Saya sama seperti pendapat Pak Achmad Suaedy.

Fenny Rose: Apa mekanisme penilaiannya?

Asril: Bisa dari survey-survey di media massa yang bukan partai melakukannya.

Effendi: Bagaimana pendapat Pak Abdul Wahab Mokodongan?

Abdul Wahab: Saya setuju dengan Pak Wimar. Memang di AS tidak dikenal untuk pemilihan wakil. Setelah Capres menang di konvensi maka dia langsung menunjuk wakilnya. Namun sebagai orang yang mempunyai niat untuk membangun Jakarta, saya sudah mencoba untuk sosialisasi diri. Dalam hal ini berapa lama waktu yang diberikan untuk sosialisasi?

Ryaas Rasyid: Ide itu bagus. Tapi kalau kita harus meminta pendapat rakyat maka harus ada kesempatan fair bagi para Cawagub. Jangan saat ini diumumkan lalu besok sudah survey. Selain itu, para pemimpin partai juga harus duduk bersama menyepakati sistem ini. Juga Cagub diminta pendapat jika tidak bisa bekerja sama maka akan berkelahi setelah terpilih.

Belum Terlambat

Effendy: Batas waktu untuk pendaftaran ke KPUD pada 3 Mei. Jadi masih ada waktu bagi partai untuk menentukan Cawagub. Tapi dalam hal ini, apa mekanisme yang paling cocok untuk memilih Cawagub?

Wimar: Rakyat tidak konsern dengan Cawagub. Sekarang mereka resah karena tiba-tiba disodorkan Cagub. Jadi yang penting adalah Cagub.

Ryaas Rasyid: Apakah itu berarti Cawagub tidak penting?

Wimar: Tidak berarti tidak penting tapi harus mempunyai skala prioritas. Bagi saya adalah publik yang memilih Cagub kemudian Cagub memilih Cawagubnya.

Penelpon (Effendi di Jakarta Timur): Saya sangat mendukung sistem primary agar masyarakat jangan salah pilih seperti dalam pemilihan gubernur sekarang untuk periode kedua. Akibatnya, jalanan macet, banjir. Dalam hal ini yang penting adalah Cagub yang berkualitas dan amanah. Karena itu saya mendukung Pak Wimar. Kalau untuk Cawagub terserah pada Cagubnya tapi yang berkualitas dan amanah juga.

Atasi Kemacetan

Ketiga bakal Cawagub sempat menyampaikan visi mereka terhadap satu persoalan kota Jakarta yaitu kemacetan dan sarana transportasi. Berikut pandangan mereka

Lala (mahasiswi Universitas Pamulang): Gubernur sekarang sudah membuat program monorel yang sudah mulai dibangun tiangnya dan membuat jalanan macet tapi kemudian terhenti. Lalu bagaimana kebijakan bapak-bapak untuk mengatasi kemacetan dan monorel ini?

Abdul Wahab: Monorel hanya salah satu cara untuk mengatasi kemacetan. Kalau pemerintah pusat memang terlibat juga dalam pembangunan monorel ini maka kalau program ini macet maka kita tanya ke pusat mengapa dananya tidak keluar. Itu yang harus dilakukan seorang gubernur

Asril Tanjung: Sistem transportasi yang harus kita buat adalah transportasi massal yang nyaman dan terjangkau rakyat. Dalam ini sistem transportasi juga harus terpadu. Pemerintah sekarang sudah memulainya jadi kita tinggal melanjutkannya. Pembangunan memang memerlukan pengorbanan. Saat pembangunan memang akan membuat jalan macet tapi ketika sudah selesai maka akan lancar.

Achmad Suaedy: Siapa pun gubernur dan wakil gubernurnya harus melanjutkan program transportasi saat ini seperti busway dan monorel. Itu program jangka panjang Pemda Jakarta. Jika itu tidak dilanjutkan maka Jakarta akan menjadi kota macet nantinya.


Create polls and vote for free. dPolls.com

Pada kalimat penutup, Wimar mengatakan setuju Cawagub dipilih sesuai keinginan rakyat. Tapi alangkah baiknya Cagub juga dipilih sesuai keinginan rakyat. Kalau itu belum terlambat sebaiknya dipertimbangkan. Kalau sudah terlambat, partai sebaiknya memilih wakil yang sudah dikenal publik. Jadi tumbuhlah calon-calon lainnya.

Tambahan WW:

Dua hal yang SANGAT membedakan primary di USA dengan yang dibahas tadi malam adalah
  1. Primaries (biasanya serangkaian di beberapa negara bagian) mengukur popularitas calon untuk dijadikan bahan voting di Convention.
  2. Setiap primary negara bagian itu dilakukan dengan pemilihan umum langsung, seperti Pemilu. Jadi bukan dengan polling atau pengumpulan opini.
Jadi Cecep Effendi itu sangat tidak tahu atau sengaja mengelabui JakAudience, sambil menimbulkan kesan demokratik modern bagi Fauzi Bowo. Padahal Fauzi Bowo sangat tidak modern dengan ngumpet terus.

Kehebatan Pemilihan Gubernur DKI 2007 dibandingkan dengan yang dulu-dulu adalah bahwa rakyat langsung memilih. Tapi calon untuk dipilih sebaiknya juga muncul dari suara rakyat. Yang sekarang terjadi adalah, ada beberapa bakal calon yang aktif bersosialisasi dengan visi dan program masing-masing, tapi yang diumumkan sebagai calon partai adalah justru yang belum pernah muncul dalam dialog publik.

Bagus saja kalau rakyat ikut memilih calon wakil Gubernur, tapi artinya kecil apabila calon Gubernur tidak merefleksikan aspirasi rakyat. Kebanyakan rakyat masih harus mempelajari siapa calon Gubernur, dan kecil sekali minatnya untuk mengenal calon wakil Gubernur.

Kualitas pemerintahan DKI akan sangat ditentukan oleh Gubernurnya. Mencari Wakil Gubernur yang kompeten tidak terlalu susah. Tapi yang susah adalah mendapatkan Gubernur yang bukan saja kompeten tapi bisa dipercaya. Menurut istilah WW kita perlu 'good guy' yang tidak korup, tidak arogan, dan sangat mendengar keinginan rakyat banyak.


Create polls and vote for free. dPolls.com

Baca juga:

Print article only

20 Comments:

  1. From sandy on 23 March 2007 14:12:23 WIB
    ketiga cawagub ga da yg meyakinkan...
    Bang Wimar mau ga? oya saya lupa, target Bang Wimar Cawapres 2009 yah heheheh
  2. From moh toha on 23 March 2007 16:12:34 WIB
    Kata salah satu iklan obat rambut, kalo' bisa jangan jadi follower, tapi jadilah trend setter...terlepas dari bagus atau nggak, pokoknya banyak yang ikut..........
    mungkin pilkada betawi ini ingin menjadi trend setter bagi daerah atau mungkin negara lain (kalo ada yang mau ikut)...
    (ikut prinsip Gus Dur) Kalo saya sih gampang aja, nggak ada pilihan lain ya nggak usah milih...lagian siapapun yang kepilih, lha orangnya itu-itu juga, hasilnya pasti sama saja...gitu aja kok repot!
  3. From ARIA(Aku Rakyat Indonesia Asli) on 23 March 2007 21:08:10 WIB
    Assalamualaikum wr.wb.
    Saya juga manusia kadang suka khilaf euy beri salam, abis RAKYAT bingung juga kenapa harus dia lagi dia lagi..dia itukan???? hm... daripada sidia (Fauzi) mening sutiyoso lagi...abis sama juga bo'ong..bobrok ko dipiara...y.. mudah2an babe2,nyak2,abang2 and none2 jakarte ni tau ... kedua calon tu kaga ada yang baek nyang satu katanya manusia biasa saja yang nembak juga wajar saja karena ya namanya juga manusia ntar kalo jakarta tetep banjir, semprat/prit merajalela y sudahlah...dag gitu nyang atunya uda pernah ngrasain gimane kepala batu BOS-nya yang smua terjadi di betawi cuma gejala alam nyang ampe skarang masih juga banjir, ngebangun tanpa perencanaan yang ngga jauh2 dari Bos-nya yang klo lengser..trus kena masalah ya sidia (FB) y kena juga ... so milih FB y kapok deh... siapa yang jadi .. hmmm... om.. uda Rano Karno aj yang jadi Gubernurnya.....VOTE RANO KARNO..Mantappppppppppp
  4. From ambar wahyudi on 24 March 2007 10:01:16 WIB
    Siapapun Gubernur atau siapapun wakilnya????



    Jakarta tetap saja Jakarta......
    Sekali Banjir tetap Banjir.....
    Namanya juga DKI, alias Daerah Kumuh Ibukota.

    Makanya yang tinggal di Jakarta Siapapun Gubernurnya tetaplah SEDIA DAYUNG SEBELUM HUJAN.
  5. From Rizka A Putranto on 24 March 2007 10:20:13 WIB
    Saya sgt setuju dg penutup tulisan ini, "Kualitas pemerintahan DKI akan sangat ditentukan oleh Gubernurnya. Mencari Wakil Gubernur yang kompeten tidak terlalu susah. Tapi yang susah adalah mendapatkan Gubernur yang bukan saja kompeten tapi bisa dipercaya".

    DKI perlu sebuah figur yang mampu turun kebawah bersama rakyat,naik keatas bersama elite, dan duduk bersama dengan sekitarnya. tetapi DKI juga perlu sebuah figur yang mampu menjaga stabilitas serta keamanan. Stabilitas adalah kunci dari kesinambungan jalan nya sebuah peta kemakmuran. intinya adalah, Gub dan Wagub harus saling melengkapi utk menyukseskan cita2 rakyat bersama.
  6. From Aming on 24 March 2007 12:21:50 WIB
    Gue rasa kita seakan-akan disetir untuk milih antara fauzi dan adang. Malah yg kita ributkan cawagubnya aneh2...Ini mah dasar maenan politik aje. Calon2 yg laen mana, yg S3 ato Prof.
  7. From febianto on 25 March 2007 12:29:32 WIB
    Menurut saya kenapa Fauzi Bowo tidak ingin maju dengan cawagub, karena FB dan partai pendukungnya ingin menggolkan strategi 4 wakil gubernur, sehingga kalau menang partai pendukung (yang besar2) akan dapat jatah masing2 satu kursi. sementara Rano Karno (Cawagub dr PKB) juga tidak bisa digaet.

    Namun Pilkada masih dini dan masih perlu cagub ketiga untuk meramaikan hajatan ini, dan pilihannya antara Bp.Agum dan Bp. Sarwono.

    Menurut saya, Bp. Agum ingin lebih fokus ke bisnisnya, dgn demikian partai yang belum mendukung salah satu cagub dpt mendukung pasangan Sarwono-Rano Karno utk Pilkada dki kali ini and so with the people.

    So, buat pasangan Sarwono-Rano Karno, Maju Terus!!!
    Hidup Gusdur!!!
    Gitu aja repot..:)))
  8. From gubrak on 25 March 2007 19:00:20 WIB
    buat ambar, pasti minumnya teh botol soro hehehe

    aku juga baca di media kalau gus dur minta sarwono didukung oleh semua pihak.. tp dak dirinci pihak yg mana??
    apa sabda gus dur akan diamini pkb dki??
    apa masih ada peluang???.. MASIH

    rano katanya juga nunggu kepastian hanya dari pkb...santun.

    om ww, barangkali cagub yg tidak bisa dtg ke acara GK bukannya pengecut dan pecundang (dak enak mengatai org yg udah jelek tar dosanya bisa dobel hehehe)... mungkin mereka sdg merancang tema kampanye beserta manajer EO kampanyenya..

    mungkin ada yg muncul sebagai titisan wali dan mungkin yang satunya lagi muncul sebagai titisan pitung.. nah pasti asik buat tontonan nih..

    harap maklum,... just kidding
  9. From miscell on 26 March 2007 08:56:44 WIB
    Di posting "calon gubernur ketiga...." saya mengeluh sama om WW, gimana cara menyalurkan suara orang biasa/perspektifners ke good guy, karena belum ada partai yang mencalonkan para good guys. Tapi pagi ini saya baca good news di detik.com: bahwa Gus Dur & katanya "beberapa partai" resmi mencalonkan Sarwono Kusumatamaja & Rano Karno (biasanya suara Gus Dur Mewakili PKB secara resmi).

    Rupanya doa saya dikabulkan Yang Maha Kuasa (juga doa temen2 yg lain kali yee..). Walaupun belum tentu memenuhi ekpektasi sebagian orang biasa (Faisal Basri belum ada yg mencalonkan), tapi setidaknya kriteria duet ini memunculkan perspektif baru pilkada khususnya di DKI yang biasanya didominasi koalisi partai besar berdana besaarrr yang itu2 juga.

    Wish our Jakarta will be a better place & Clean government in the future

    PS: Om WW ngelobi Gus Dur kali ya...??
  10. From wimar on 26 March 2007 09:28:25 WIB
    haha nggak lah, saya jarang ketemu Gus Dur. Tapi beliau sering sama pikiran dengan saya, aneh juga. Mohon diketahui bahwa tidak orang yang saya dukung untuk Gubernur, tapi kami di acara 'Gubernur Kita' merasa bertugas untuk membantu kebersihan kampanye Pilkada. Jadi kalau ada yang bersikap kurang terbuka, kami pertanyakan.

    Waktu saya suka mempertanyakan Adang Dradjatun kenapa nggak datang aja, orang ada yang menganggap saya pendukung Fauzi Bowo. Sekarang malah dua-duanya tidak senang karena saya selalu minta saya datang ke acara GK. Padahal yang minta bukan saya sendiri, tapi banyak calon pemilih yang ingin lihat para calon dalam forum yang terbuka, bukan rekayasa.

    Karena ada gejala pilihan terbatas pada dua orang yang sama-sama tertutup, jadi banyak yang menginginkan calon ketiga.

    Semua calon mempunyai kans yang sama asal dia tahu bagaimana meraih kepercayaan pemilih.
  11. From gambler on 26 March 2007 13:14:48 WIB
    saya berharap, pak Sarwono mau tetap berusaha utk menembus preman2 partai, spy bisa masuk sebagai calon ketiga, dan kemudian mengajak rano karno sbg wakil.


  12. From ganang on 27 March 2007 10:40:59 WIB
    kasian banget warge betawi, dari dulu entah ampe kapan trus dipimpin ame orang laen (emangnya gur dur...). udah saatnya jalan sendiri, tuuh liat riau aje bise kenape nggak ade nyang bise...siiih (kalo nyang mau siiih banyak). makenye pilih pimpinan nyang asli betawi dan tentunye mikirin warge betawi. jangan pilih orang nyang ngaku-ngaku betawi atau janji-jani bo'ongan dari parpol
  13. From Yon Cahyadi on 27 March 2007 13:48:45 WIB
    Calon Gubernur Jakarta idealnya memang harus Putra Daerah. Kenapa, karena diasumsikan sebagai putra daerah calon tersebut akan lebih tahu kebutuhan atau keinginan dari warga jakarta.

    Namun, masalahnya selalu klasik. Kita harus jujur kalau Sang Putra Daerah itu tidak mendapatkan dukungan dan kesempatan yang luas dari parpol.

    Dan sistim pemilihan di negara ini tidak mengenal calon independent makin membuat calon2 dari Putra Daerah semakin terpojok.

    Jadi....keputusannya...WASPADALAH..WASPADALAH....
  14. From Murtado on 28 March 2007 10:24:22 WIB
    Kita saat ini sebenarnya sedang krisis pemimpin yang memang benar-benar pro rakyat, demikian juga untuk orang nomor satu di DKI. Kebijakan-kebijakannya lebih banyak pro kapitalis, gak berani dan beromitmen total untuk rakyat terutama rakyat yang termarginalkan. Apakah akan terus seperti ini Jakarta?. Calon Gubernur yang gak berani tampil ke publik dan membuktikan komitmen kerakyatannya sebaiknya perlu dicermati oleh seluruh warga Jakarta.Inilah saatnya warga Jakarta memilih Gubernur yang berani miskin alias berani tidak kaya, tidak korupsi. Sebaiknya PAN dan PKB segera bersikap menentukan calon alternatif selain Adang dan Fauzi, setuju putra daerah
  15. From ina on 28 March 2007 18:43:47 WIB
    duet sarwono + rano karno sepertinya OK punya.
    Meski kursi PKB cuman dikit di DPRD tapi dengan mencalonkan mereka kans mereka untuk menang cukup besar. Jadi, buat pkb semoga ini didengar!!!
    Jangan takut, pks menang di pemilu kemaren bukan berarti menang di pilihan gubernur.
    Ayo pkb maju terus membela yang benar. Pak sarwono orang pintyar rano cukup dikenal n rakyat tahu siapa yang dia pilih.
  16. From rx-80 on 31 March 2007 09:15:51 WIB
    mendingan pilih cagubnya oran bisu aja jadi dia gak bisa janji - janji gombal. kan kalo gak kesampean keingginan RAKYATNYA JADI GAK KEKI SOALNYE KAN DIE GAK PERNAH JANJI-INI-JANJI-ITU.
  17. From indra on 03 April 2007 12:48:32 WIB
    saya pribadi ingin pasangan agum-rano untuk maju...sepertinya mereka bisa menciptakan perubahan
  18. From abdi_El on 04 April 2007 22:32:32 WIB
    Kalo milih bang Adang, saya ga kenal sama sekali..Milih Bang Foke juga kurang sreg, abis kayanya promosinya terlalu banyak sih. Biasanya kaya gitu kurang bagus kerja dan niatnya...Ga ada pilihan lain nih?
  19. From QOWIE on 08 May 2007 21:41:16 WIB
    Betul.... aku juga gak kenal ADANG, tapi aku percaya kepadanya. Alasannya:
    1. Beliau ber-ETIKA. Buktinya mau mundur dari Wakapolri, sementara abang wakil Gubernur, malah memanfaatkan (baca: CURANG...!!!)
    2. Diusung partai yang BERSIH dan PEDULI, sementara yang lain...(????)
    3. Dia PD hanya dengan satu partai, dan ini ciri pemimpin. Lainnya... beraninya KEROYOKAN.
  20. From Melissa on 27 July 2007 11:36:49 WIB
    Klo aye siy pilih Bang Foke aza d....
    dibanding pilih Cagub yg isi sticker kampanyenya cm janji2
    yg menurut aye, sang Cagub sendiri tdk bisa merealisasikan janjinya itu :(
    So Guys, nyok rame2 kita pilih Fauzi Bowo & Priyanto

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home