Articles

Pulang atau tidak? Pilihan pribadi, bukan sikap bersama PPI Amsterdam

Perspektif Online
12 June 2007

Bukan tergantung masa depan Indonesia, soal pulang atau tidaknya pelajar setelah belajar di luar negeri. Tapi apa masa depan yang seorang pribadi inginkan. Soal tempat, tidak terlalu jadi soal. Orang Cilacap mengadu nasib di Jakarta, boleh-boleh saja tinggal di Jakarta. Orang Indonesia mengadu ilmu di Belanda, boleh-boleh saja tinggal di Eropa.

sebagian difoto, sebagian menonton, semua asyik


Menunggu laporan yang sedang dikerjakan, silakan lihat foto-foto pilihan dari diskusi PPI Amsterdam bersama WW tentang Indonesia Masa Depan dalam perspektif pelajar yang sedang berada di negeri Belanda.

Sudah bukan jamannya untuk bicara tentang Indonesia dalam slogan simbolis. Setiap individu punya keterlibatan pribadi yang berbeda dengan dunia sekelilingnya. Jadi kita sesungguhnya harus mengenal kebutuhan kita sebagai pribadi, baru melihat apakah  urusan masyarakat, apalagi urusan negara, punya tempat dalam prioritas kita.

Lagipula, tidak ada satu ukuran untuk maju atau tidaknya Indonesia, karena itu tergantung aspek yang kita lihat. Tidak perlu juga memikirkan pembangunan bangsa, kalau masih ragu akan pengembangan diri. 

Dengan pengakuan yang jujur mengenai motivasi masing-masing, tinjauan mengenai Indonesia bisa berlangsung tanpa hipokrisi.

Masa depan anda tergantung anda sendiri, masa depan Indonesia tergantung orang yang mau mengurusnya.

Pulang atau tidak? Pilihan pribadi, bukan sikap bersama, karena tiap orang punya jarak masing-masing antara kepentingan pribadi dan perannya di masyarakat.

Update 13 Juni:

Sebelum "Indonesia Masa Depan",
Pikirkan "Saya di Masa Depan"

Pendahuluan diatas sudah mengundang banyak komentar. Terima kasih untuk itu, berarti diskusi berkembang membawa kita pada penghayatan masalah yang lebih luas.

Topik diskusi ternyata merangsang forum PPI masuk ke masalah yang lebih mendasar. "Indonesia Masa Depan" hanya istilah pembuka. Cepat terungkap bahwa jujur aja, tidak semua memikirkan masa depan Indonesia sebagai prioritas pribadi, dan menurut pembicara, memang tidak perlu juga. Kan bukan semua ingin dan bisa jadi Hatta dan Sjahrir yang dulu belajar di Belanda. Kita juga tidak tahu persisnya motivasi pribadi mereka dibalik ungkapan sejarah yang positif terhadap mereka (which is, probably they deserve, secara).

Kalau mau terus terang, prioritas pertama orang adalah "Saya di Masa Depan", dan bagaimana masa depan pribadi di Indonesia dalam masa depan. Dua masalah terpisah, masalah perkembangan nasional dan masalah perkembangan pribadi. Yang suka bikin kacau adalah kalau keduanya dicampur. "Demi bangsa dan negara" menjadi hampa kalau diwarnai oleh kepentingan karir, kecocokan, dan penghargaan masyarakat. Nanti muncul banyak retorik politik yang tidak fokus, membuat orang yang tidak sabar mengatakan "aku sebel sama politik", abis, cari konsensus pakai apa? Yang menyebalkan adalah penipuan politik, bukan politik.

Dengan pembuka komentar dari Ketua PPI Amsterdam Wiby dan seorang peserta, pecahlah kerancuan antara konsep IMD (Indonesia Masa Depan) dan keraguan mengenai masa depan masing2 orang kalau pulang ke Indonesia. Catatan Herdian Lasut memberikan beberapa pokok diskusi.

Penjelasan mengenai demokrasi di Indonesia

Bisa dijelaskan panjang lebar, tapi yang pokok adalah: Demokrasi sudah lahir di Indonesia, dengan segala kekurangan tapi satu kelebihan. Masyarakat Indonesia mulai terhindar dari kesewenangan negara. Tinggal masyarakat memaksa pemegang kekuasaan untuk tidak selalu melanggar batas wewenang. Kalau dibiarkan, ya pasti kambuh lagi para penguasa. Tapi sekarang koruptor bisa di-ekspose, penekanan bisa diberitakan, karena media sudah bebas. Tinggal orangnya, mau nggak pakai kebebasan. Seperti burung dalam kandang, mau nggak terbang ke luar sangkar?

Apakah belajar di luar negeri - di negara demokratis - akan membentuk karakter yang baik? atau mungkinkah apabila kembali ke Indonesia justru akan terjerumus ke dalam pengaruh sosial dan ekonomi Indonesia seperti korupsi? Bagaimana cara menghadapinya? WW menjawab, action anti korupsi akan kuat apabila melibatkan masyarakat, jadi tekanlah agar usaha pemerintah dilakukan dengan keterbukaan. Bagus kalau orang memberikan support dan menagih janji.

Tanya: apabila kembali dari luar negri, bagaimana menghadapi dunia dimana hanya sedikit tenaga ahli?
Jawab: Bagus dong, jadi lebih sedikit saingan

Wina: Bagaimana caranya agar kita bisa membangun Indonesia?
WW: Mulai dengan membangun diri sendiri dan memperluas pada orang sekitar

Wiby: Sebenarnya teman2 memiliki potensial yang banyak, tapi saya melihat kurang banyak yang menggunakan resources dan networknya masing2 yang ada di luar negeri

Bulan: Yang menjadi masalah, kadang kita memikir apabila kerja part-time disini bisa menghasilkan 300-400 euro per bulan, sedangkan di Indonesia tidak mungkin untuk mendapat seperti itu. Kami harus mulai dari mana?
WW: Mulai dari menghitung apa yang bisa dibeli di Belanda dengan 300-400 Euro dan berapa harganya di Indonesia, untuk berbagai barang. Untuk makanan, 20 Euro itu sedikit dibandingkan dengan Rp 20 ribu lebih. Terus hitung savings, sebab yang lebih penting dari jumlah pendapatan adalah jumlah tabungan. 300-400 Euro, tersisa berapa setelah bayar sewa, makan minum, dan transport? Kalau masih lebih menguntungkan di Belanda, lihat faktor lain diluar uang. Kalau masih lebih suka di Belanda, jangan pulang dan nggak usah merasa bersalah. Jangan juga menyalahkan kondisi di Indonesia, karena mungkin yang sedang dikembangkan di Indonesia bukan untuk orang seperti anda, tapi untuk orang yang less fortunate.

Tanya: Indonesia belum begitu mengenal blog, bagaimana kita bisa menunjukan siapa kita?
Jawab: Dengan menunjukkan pada orang yang sudah kenal blog. Terlalu lama kalau menunggu sampai semua orang punya blog.

MC: Kalau kita balik ke Indonesia, kita harus mulai dari mana?
Wimar: dari self-assessment: kita mau ngapain, mau jadi orang berguna untuk orang lain, atau mau meningkatkan nilai sendiri dulu?

Raja: Kadang kita sebagai orang Indonesia memiliki perasaan inferior, bagaimana cara mencegah ini?

Laura: Mengapa di Indonesia yang penting adalah siapa yang anda kenal?
WW: Disini sama aja. Punya kenalan bagus, nggak punya kenalan juga bisa maju. Lihat Tukul  nggak kenal elite, bisa kaya. BJ Habibie, cuman kenal satu orang, bisa jadi Presiden. Soalnya orang yang dia kenal namanya Soeharto.

Wibi: bagaimana cara pasar traditional memperkuat ekonomi di setiap kota?
WW: Wah susah tuh…

Yuli: Terasa banget sejarah kita banyak yang di sensor, apakah sekarang informasi sudah mulai terbuka untuk dapat dilihat oleh masyarakat Indonesia mengenai kenyataan2 di Indonesia lewat media?
WW: Indonesia adalah negara dengan media paling bebas di Asia, di dunia pasti masuk top 10.

Pertemuan di Diemen ini dilanjutkan dengan pertemuan lebih kecil di Groningen malam ini jam 18:00 di rumah Dewi, Dendi dan Rana.

Baca juga:

Print article only

21 Comments:

  1. From zen on 12 June 2007 16:23:11 WIB
    WW...

    Membaca tulisan anda yang ini, tidak bisa tidak saya ingat Hatta, Sjahrir, Iwa hingga Abdoel Rivai.

    Mereka memilih pulang.

    Tapi saya tidak tahu apakah akan mengikuti jejak mereka jika sekarang saya sedang berada di Belanda.
  2. From modjo on 12 June 2007 17:35:27 WIB
    sangat menarik acara kemarin. Meskipun sayang sekali waktunya terbatas :) Kalaupun acara itu dikemas ber jam-jam, saya yakin semua teman2 tidak ada yang bosan..
    Dan diskusi kemarin percaya atau tidak masih kami bicarakan di metro perjalanan pulang ke amsterdam...
    Sepertinya beberapa dari kami sedang mengalami demam WW akut :)) *maaf, garingnya tidak tertolong*

    Sampai jumpa lagi Pak Wimar!
  3. From redi on 12 June 2007 17:56:42 WIB
    Emang pulang ato tidak itu pilihan pribadi. Ada tkw2 yg bekerja meras keringat di LN dgn membayangkan anak, suami di kampung... mereka walo susah tetap tujuan utama adl pulang berkumpul dgn keluarga. mereka gak sekolah tinggi2 dan bukan org2 kaya. Impiannya sederhana juga... Kepada para tkw yg membanting keringat dan seringkali mengadu nyawa serta dihina dinakan, di acuhkan KBRI..aku menundukkan kepala penuh hormat...
  4. From Patrick AMP Manurung on 12 June 2007 18:11:37 WIB
    Pendapat berikut tentu saja personal banget.

    :)

    Ketemu temen-temen PPI di kampus Inholland kemarin emang asik ditambah ada WW yang obrolannya enak dibacem & perlu.

    Senang sekali bisa ketemu orang tua macam WW yang walaupun tentu saja jauh lebih tua tapi tetap 'muda' alias menyegarkan.

    All the best buat WW Dkk, Perspektif & semua aktifitasnya bersama siapa saja.




  5. From Patrick AMP Manurung on 12 June 2007 18:24:11 WIB
    Komen lagi karena baru baca komentar No. 3 dari Redi.

    Cuma mau ikut simpatik & hormat buat TKI (:TKW) yang kenyataannya juga sering dilecehkan oleh bangsanya sendiri.

  6. From doni on 12 June 2007 18:47:41 WIB
    Makanya diperangi donk hak mereka sebagai TKI...
  7. From Yuli on 12 June 2007 19:13:01 WIB
    Terima kasih Pak Wimar untuk acara diskusi nya kemaren, sayang waktunya terbatas, tetapi sungguh Pak Wimar berhasil memasukkan semua pikiran-pikiran saya ke dalam context dan kata-kata. Salut deh, Bapak sepertinya an eternal optimist, tipe yang dibutuhkan untuk mewujudkan impian-impian. Saya benar-benar setuju soal pluralisme dan hak pribadi masing-masing, lah kok orang lain mau dipaksa nurut sama pemikiran sendiri? Sepanjang nggak melukai atau merugikan orang lain yah suka-suka deh (makanya nih saya lumayan betah di Belanda). Kalau semuanya sama kan jadi robot, nggak seru donk. Saya sangat berharap suatu hari komunitas utopia itu bisa tercapai, nggak cuma Indonesia loh, karena banyak juga orang-orang di luar negeri yang berpikiran sempit, maunya maksain kemauan mereka (liat aja si Bush). Jadi panjang lebar yah, sekali lagi terima kasih untuk diskusinya. Pertanyaan terakhir Pak Wimar, sebagai double minority (perempuan dan keturunan etnis), menurut Bapak kesempatan untuk saya ada nggak sih untuk berkarir di bidang komunikasi secara maksimal di Indonesia? Habisnya kalau dari penampilan saja sih kalah, nggak ada darah bule buat main sinetron.

    Salam,
    Yuli (the one with the Schindler's List question)
  8. From ina on 12 June 2007 20:31:57 WIB
    Sependapat banget dng Modjo. Demam akut WW :D
    Nanti kalo di Belanda lagi, mampir2 pak kalo waktu mengijinkan.
    Mengenai diskusi kemarin, fokusnya lebih ke arah pengembangan diri masing2 dan saya setuju sekali dng bapak kalo orang itu harus berani keluar dari comfort zone kita.
    Saya kemarin habis diskusi sempat berkontemplasi sebentar dan saya pikir langkah pertama utk pembangunan diri adalah dng menghadapi rasa takut kita. Terima kasih pak utk pencerahannya kemarin. Sampai ketemu lagi. :D
  9. From Laura on 12 June 2007 21:00:44 WIB
    Pak Wimar, saya sangat berterima kasih untuk kesempatan yang Bapak berikan kemarin pada kami semua. Diskusi singkat dan padat yang berhasil membuka cakrawala baru dalam cara pandang pemberian kontribusi bagi Indonesia.

    Satu horizon baru bagi saya dan teman-teman semua yang saya rasa dapat ditarik dari diskusi kemarin : to think about our future is not a selfish action, it is a smart one.

    Membangun Indonesia harus dimulai dengan membangun diri kita sendiri, karena sebenarnya Indonesia adalah kita dan kita adalah Indonesia.

    Satu hal lagi yang salut dari Pak Wimar adalah kepiawaian Anda dalam menghantarkan topik. Anda tahu dan kenal benar target pendengar Anda dan Anda dapat menanamkan kesan yang dalam hanya dalam hitungan menit.

    Terima kasih pka WW. Sukses terus dengan karirnya. Sampai jumpa lagi di Belanda.

    :)
  10. From Inneke L.Kalangi on 13 June 2007 01:20:27 WIB
    Acara diskusi Jumat yang lalu dengan bapak WW menarik sekali..sependapat dengan mba Modjo...:):)walaupun cukup pendek waktunya..mungkin di lain kesempatan ya...banyak sekali masukan saat itu.En belum sempat saya melontarkan pertanyaan...:(
    Mengenai masalah mahasiswa Indonesia nantinya akan pulang or engga.. intinya tergantung dari diri masing-masing...seperti kata Pak WW " Apa yang anda ingin raih secara pribadi nantinya?" apa target dalam hidup mu selanjutnya.....
    Namun dari pribadi...yang saya dapatkan selama belajar di luar adalah merubah dan membangun kepribadian serta cara pandang saya...and one thing " Dare to speak out" freedom of speech, itu lah hak semua orang...yang kadang kala masih sulit bagi beberapa Indonesian students or Indonesian people..dikarenakan dari berbagai segi, perasaan tidak enak atau tidak pantas untuk mengungkapkan sesuatu,dan ini masih sering terjadi.
    Dengan berjalannya waktu dan keyakinan kita pasti bisa membangun diri masing-masing...the best for all..Untuk pak Wimar...terima kasih atas diskusinya.

    Salam
    Inneke
  11. From nataria on 13 June 2007 05:33:50 WIB
    Hai semua,
    terimakasih buat Pak Wimar dkk. yg udah sempet2in ke Amsterdam walopun singkat tapi padat, and finally someone yg bisa mewakili pikiran kita. No judgement...:D
    totally setuju kl improvement starts within. kalo kita aja gak beres gimana indonesia masa depan bisa bener :D :D .
    soo guys . keep up the good work and succes buat pak Wim. Jgn segan2 mampir ngobrol ama kita lagi ya Pak, kl sempet .
  12. From Z I on 13 June 2007 10:58:45 WIB
    Mestinya bikin rame sekalian,

    Misal ngundang juga mereka yg di Belgia, Swiss dll. Kalo ngga ya sekalian safari ajaaaa...
  13. From bulan on 14 June 2007 15:29:40 WIB
    terima kasih atas kedatangannya kemarin pak, saya buat tulisan di blog saya tentang kedatangan bapak kemarin :p
    http://bulan.blogspot.com/2007/06/wimar-di-amsterdam.html

    plus sedikit mimpi2 :)

    sering2 mampir ke Amsterdam ya pak :)
  14. From prima -MC on 14 June 2007 16:49:29 WIB
    pak kok nama saya disebut sebagai MC..nggak asik ah bapak..hehehehe..terima kasih pak sudah membagi pemikiran dan wawasan saya terhadap pandangan saya pribadi tentang cara membangun indonesia.setelah ngobrol ama bapak kemarin saya pengen cepet2 jadi orang yang berhasil (diterjemahkan sendiri2..)biar bisa berbuat lebih banyak..
  15. From wiby on 15 June 2007 04:51:54 WIB
    nanti kalau mampir lagi ke amsterdam, saya bawa pasukan lebih banyak lagi. maklum kemarin teman-teman lagi ujian. btw, pak wimar ternyata kocak juga. teman2 sampai terbahak-bahak.hihihihi....


    buat teman-teman di indo, ada usulan gak mengenai cara mengoptimalkan pasar tradisional untuk berkompetisi dengan pasar swalayan yang notabene punya kaum kapitalis.

    gimana kalau kita pake senjata mereka....bisa2 senjata makan tuan ya gak...
  16. From dos on 15 June 2007 06:16:21 WIB
    Salam,

    Diskusinya pasti menarik nih karena melibatkan WW yang kaya akan pengalaman dan orang yang realistik.

    Mengenai apakah perlunya mahasiswa Indonesia untuk balik ke Indonesia setelah lulus menurut hematku tidaklah perlu dipermasalahkan.

    Banyak cara untuk membangun Indonesia, tentunya tidak langsung dalam skala besar. Yang penting, kita tidak hanya semangat untuk mendiskusikannya tapi juga semangat untuk melakukannya.

    Mengunjungi www.perspektif.net sangat mendidik bagi saya.

    Salam untuk WW dari eropa utara
  17. From iwan esjepe on 18 June 2007 18:13:15 WIB
    Wah, senangnya mendengar cerita WW di Holland.

    Mudah-mudahan sempat pakai di sana juga sempat pakai

    Tshirt Travel Warning : Indonesia, Dangerously Beautiful.

    WW, kami sekeluarga sedang urus Visa, mudah-mudahan kedutaan


    Belanda di Jakarta mengabulkan.

    Jika tak ada aral melintang, tgl 5 Juli kami sekeluarga ingin ke Den Haag.

    Mudah2 an juga ada teman di sana yang bisa saya temui.



    Selalu sehat WW!!!

    salam,

    Iwan dan Indah Esjepe
    Indonesia Bertindak

  18. From wimar on 19 June 2007 06:12:03 WIB
    Hallo Iwan esjepe

    Tshirt Travel Warning : Indonesia, Dangerously Beautiful. Tanpa mengurangi rasa terima kasih banyak, perlu dilaporkan bahwqa T-shirt itu terlalu kecil buat saya. This is my problem, not yours. Just one size too small hehe. But fear not, karena diberikan kepada somebidy in Groningen where it will be effective.

    Yang jelas your stickers are effective, sebab dibagikan di pertemuan-pertemuan negeri Belanda dan ditempel disana sini.

    At your request we have found someone who is eager to get in touch with you concerning your campaign. He is very well-connected and has authorized me to give you his address.

    Patrick Manurung in Groningen
    email godlob@hotmail.com

    He is a very good friend and an extremely good guy. Please email him and ask for his number, cause we don't want to announce it to the world on this site.

  19. From Ria Wibisono on 24 June 2007 21:38:53 WIB
    Saya suka pandangan WW. Pulang atau tidak ke Indonesia setelah studi di luar negeri, bagi saya kembali ke individunya. Kalau dia merasa lebih comfort di luar negeri, why not? Nggak adil ah kalau orang2 seperti itu lantas dicap nggak nasionalis. Toh banyak orang Indonesia yang tinggal di luar negeri dan sukses, dengan tetap membawa nama Indonesia. Contoh lah Anggun C.Sasmi. Toh dia tetap mengeluarkan album berbahasa Indonesia dan minum teh ala Indonesia. Orang mana bisa lepas dari akarnya, ya nggak?
  20. From syahrul on 30 October 2007 09:47:25 WIB
    orang-orang yang kuliah di luar negeri merupakan orang pilihan..hanya sedikt orang yang bisa dan mampu kuliah di luar negeri..klo kita bicara tentang kebebasan indivdu untuk kembali atau tidak kembali ke negerinya itu merupakan hak mereka..tapi kalo alasannya karena merasa dirinya sendiri belum berkembang dan g ga punya kewajiban untuk membangun bangsa ini,jelas ini konyol sekali..ekonomi kita boleh dijajah,tapi jangan biarkan pikiran kita ikut juga terjajah..men.,bangsa ini masih sangat membutuhkan orang-orang yang cerdas dan berhati nurani luhur..tegakah anda mendengar gunjingan dari bangsa lain tempat anda tinggal tentang kebodohan bangsa dan ketertinggalan bangsa indonesia
    dan anda mengamininya seraya berusaha menutup-nutupi jati diri anda yang asli indonesia.
  21. From Bhakti Dharma on 31 October 2007 05:14:01 WIB
    Beberapa waktu akhir ini belajar kenal melalui fotositenya Flickr dengan pak Wimar melalui putranya Satya, jadi ingat lagi atas keputusan pribadi untuk pulang atau tidak. Saya tinggal di Belanda sudah sejak SMP ikut keluarga jadi bukan pilihan sendiri. Tahun2 pertama saya betul tidak betah di Belanda dan ingin kembali terus, sampai mau pulang sendiri tanpa keluarga. Baru sesudah 10 tahun mulai biasa dan baru sesudah 20 tahun mulai menghargai penghidupan di Eropah. Sekarang pada usia 51 tahun mulai rindu lagi ke Indonesia tapi sadar bahwa sesudah tinggal terlalu lama di Belanda sudah tidak biasa dengan kehidupan se-hari2 di Indonesia, jadi ada dilemanya. Saran saya untuk anak2 muda yang belajar disini kalau dalam pertimbangan lebih dari 50% ingin kembali, pulanglah, sebab makin lama menetap di Belanda makin susah ambil keputusan untuk pulang karena cari alasan terus untuk tidak pulang. Tapi bagi yang memilih tidak pulang, teruskan penghidupan disini asal jangan menyesal nanti kalau akhirnya tidak pulang se-lama2nya.

« Home