Articles

Faisal Basri: BBM Harus Sering Naik

Perspektif Wimar
05 May 2008

Oleh Hayat Mansur

Selama ini ada salah kaprah di masyarakat. Karena itu ekonom Faisal Basri menyatakan harga BBM harus sering-sering naik, tapi sedikit-sedikit. Saat ini digunjingkan harga BBM akan naik di atas 30% per 1 Juni 2008.  Benarkah? Apakah harga BBM harus naik atau tidak? Guna membahas hal tersebut Wimar Witoelar didampingi Co-host Melissa Karim menghadirkan Faisal Basri di acara Perspektif Wimar.

Faisal berpendapat harga BBM harus naik. Namun tidak setuju kalau BBM harus naik langsung 30% karena beban untuk masyarakat akan sangat berat. Dalam hal ini kalau Indonesia sejak dulu mengikuti mekanisme harga pasar maka kenaikan BBM pun akan secara bertahap. Apa dampaknya bila BBM tidak naik?

Menurut Faisal Basri

  • Subsidi akan mengelembung di atas Rp 200 triliun dari harga minyak internasional sekarang. Bayangkan total APBN kita hanya sekitar Rp 800 triliun, sejumlah Rp 200 triliun lebih untuk subsidi yang hasilnya hanya menjadi asap kendaraan.. Sementara belaja modal seperti untuk membangun sekolah hanya Rp 80 triliun, untuk becana alam dan orang miskin hanya Rp 60 triliun.
  • Akan ada disparitas harga BBM di dalam dan luar negeri sehingga akan memunculkan penyelundupan.
  • Pasar keuangan akan melihat fiskal pemerintah makin berat sehingga terganggu kesinambungan fiskal kita. Kalau mereka makin tidak percaya dengan kondisi kita akan keluar dari Indonesia dan pasar keuangan akan merespon dengan negatif.

Sedangkan kalau harga BBM naik:

  • Orang miskin kemungkinan akan mendapat alokasi anggaran Rp 110 triliun
  • Dana itu bisa dipakai untuk membangun fasilitas pertanian dan menciptakan lapangan kerja 8 juta orang. Bila setiap orang  mempunyai tanggungan tiga, maka akan ada total 32 juta orang produktif.

Kalau boleh memilih, tentu orang ingin BBM murah. Kata Faisal Basri, “Malaikat saja tentu akan  membeli BBM murah, apalagi manusia.”

 

SMS dari Penonton:

6281377826XXX: BBM BOLE NAIK TAPI SEMBAKO JANGAN.HAZTA.PLM

6285256706XXX: TARIK SUBSIDI UTK BBM ALIHKAN SUBSIDI UTK PERTANIAN

6281393753XXX: SY STJ DP KENAIKAN BBM,HUKUM SEBRT2NYA PARA PENYELUNDUP _ ORG YG MENYALAHGUNAKAN SUBSIDI YG MERUGIKAN NEGARA.

62811412XXX: SY SEPENDAPAT PAK BASRI,BHW SUBSIDI BBM MENGUNTUNGKAN ORG KAYA,CTH:1 JT ORG MMILIK 2 MBL X 100 LTR/BLN DGN ASUMSI RP.3 RB

628129048XXX: SY SETUJU DG PENDAPAT BELIAU KRN SY PENGGEMAR PAK FAISAL, IDE2NYA BAGUS

6281805879XXX: SILAKAN BBM NAIK TAPI SEMBAKO JANGAN NAIK YA?

628123328XXX: BBM NAIK , LHA NASIB BURUH TOKO D KOTA KECIL GMN ? JIKA PNS ENJOY AJA IYA KAN ?

6281321606XXX: BBM NAIK SGL KEBUTUHAN IKUTAN,GMN NSB RAKYAT KCL GMN PENGUASA?

6285269484XXX: BAGAIMANA MINJAK SOLAR NGAK MAHAL BANJAK PERUSAHAN BESAR MAKAI SOLAR SUBSIDI DILAMPUNG

6287897316XXX: KATANYA INDONESIA KAYA PENGEBORAN MINYAK DMN2 KMN MINYAKNYA NAEK TRS.

6287868100XXX: RKYT SDH KEBL DNGN KE NAIKAN HRG MINYK

6281344198XXX: HAPUS AJA SUBSIDI PERSOALAN BBM SELESAI.KALAUPUN ADA DAMPAK DISELESAIKAN BERSAMA-SAMA.

6287863312XXX: BBM NAIK GAJI DPR NAIK JU GA?

628170178XXX: MINYAK TANAH MAHAL...GAS SUSAH,GIMANA NI,..DONI

62856457XXX: BBM NAIK RAKYAT MENJERIT..

 

Print article only

78 Comments:

  1. From Yan Haryanto on 05 May 2008 08:38:00 WIB
    Berat nih, harus pilih mana ya? Naik BBM atau tidak? Apapun yang dipilih, pasti rakyat kecil yang tergencet. Kalau BBM naik, apa bisa dipastikan subsidi terhadap rakyat yang membutuhkan akan tersalurkan dengan lancar? Maklum aja, korupsi di negeri ini kan seperti kanker stadium 12 (tinggal ditambah satu, jadi 13: game over).

    Berdoa pun sudah lupa harus bagaimana.
  2. From Handika Aditya on 05 May 2008 09:06:54 WIB
    Terlepas dari jadi atau tidaknya BBM naik, saya sependapat dengan bung Faisal Basri menyoal tidak adanya kebijakan energi nasional di negeri ini. tentunya ini harus menjadi perhatian yang serius dari pemerintah.

    Pengalihan subsidi BBM untuk dialokasikan ke hal lain yang lebih tepat ke masyarakat miskin tentunya harus pula disertai dengan pengawasan yang ketat dan menyeluruh. saya setuju kalau BBM naik, tapi pemerintah bisa menyediakan pelayanan Rumah sakit gratis, pendidikan yang BERKUALITAS gratis. serta perbaikan sarana transportasi yang baik dan murah bagi masyarakat. Rakyat juga jangan mau dibodohin dengan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang jelas-jelas tidak efektif, malahan rawan penyimpangan & kasihan banyak orang miskin yang pingsan waktu ngantri BLT.

  3. From Novita Handayani on 05 May 2008 09:21:28 WIB
    Setuju BBM naik, sehingga orang akan berfikir 2 kali jika ingin menggunakan kendaraan pribadinya, masyarakat akan memilih naik angkutan umum. Dampak nya mudah2an akan berkurang kendaraan pribadi di jalan raya. Sehingga mengurangi kemacetan.
  4. From nugroho on 05 May 2008 09:30:39 WIB
    1. Tak setuju dengan Bantuan Langsung Tunai. Banyak Orang Miskin Mendadak bermunculan.
    2. Lebih baik subsidinya untuk LIPI atau BPPT untuk lebih mengembangkan Bahan Bakar Hayati / Bahan Bakar Alternatif
  5. From Wid on 05 May 2008 09:35:09 WIB

    AAAh ... kalau saja negara ini dikelola dengan baik dan kekayaannya tidak dikorupsi, tentu rakyat menjadi rakyat yang paling bahagia di dunia.

  6. From agustine fransisca bellamia on 05 May 2008 09:47:35 WIB
    BBM naik? SETUJU!!!!!
    Asal :
    1. Sepakati bersama bahwa penggunaan angkutan kota ditingkatkan. Lumayan mengurangi kemacetan lalu lintas agar tidak terlalu banyak kendaraan di jalan raya.
    2. Naikkan pula pajak kendaraan bermotor secara proporsional agar tidak sampai ada pihak yang dirugikan (gpp kan omzet turun dikit asal rakyat bisa hemat energi?)
    3. Rutinkan program Car Free Day setiap minggu di 5 titik ibukota, serta jalan protokol di 8 kota besar lainnya.Mana nih yang katanya gabung di banyak komunitas pecinta kota? Ini saatnya kita realisasikan program peduli kota.
    4. GAJI PARA ANGGOTA DEWAN (MPR & DPR & DPD) TIDAK USAH IKUT NAIK. Supaya mereka ikut merasakan sulitnya bangsa ini, jangan cuma bahagia di atas penderitaan rakyat miskin
    5. GAJI PRESIDEN, STAF KEPRESIDENAN, DAN PARA MENTERI TIDAK PERLU IKUT NAIK. Rasanya pantas kan setelah selama ini menikmati banyak fasilitas? Kan pemimpin yang baik mengutamakan rakyatnya, baru pribadi mereka masing-masing. Gpp deh, jangan cuma rakyat yg disuruh MENGENCANGKAN IKAT PINGGANG, karena pinggang rakyat sudah kecil. Kalau disuruh lebih kencang lagi, putus lah pak.....
    6. Kenaikan harga kebutuhan bahan pokok didalam pengawasan menteri ekonomi, dan seluruh jajaran jangan hanya indak ke pasar induk saja, tapi juga rutin sering turun ke pasar-pasar tradisional. Jangan hanya terima laporan bawahan yg semua ok aja, padahal rakyat makan senin kemis.
    Good question, Melissa! Selama ini kebanyakan yang ngomong di atas kertas dan kita gak bisa menikmati langsung dampaknya. Salut!
    Trims untuk perspektifnya PW hari ini.
  7. From rangga aditya on 05 May 2008 10:18:02 WIB
    Sering berandai-andai bagaimana jika nilai mata uang kita semakin kuat. Yah jadi 2500 lagi lah terhadap dolar. Mungkin kita enga terlalu sengsara seperti ini.....
  8. From Aziz on 05 May 2008 10:25:32 WIB
    Saya setuju dengan kenaikan harga BBM, karena BBM sekarang sudah jauh membebani anggaran negara, ya otomatis Hutang negarapun akan bertambah. Kasiankan cucu-cucu kita kalau nantiya indonesia jadi bangkrut.
    Selain itu, Listrik buat rakyat juga perlu diganti kebijakanya. karena banyak juga membebanianggaran negara.
    jadi kalau presiden mengumumkan untuk hemat energi saya rasa kurang tepat, yang tepat tuh manfaatkan eneri indonesia dengan bijak dan effisien, karena masih banyak sumber energi yang tidak dikelola oleh pemerintah (yang terbesar adalahenergisurya dan Panas Bumi) atau nuklir juga bolehlah.
  9. From UmanK on 05 May 2008 10:28:26 WIB
    Yupz!!!
    mau gak mau emang bbm kudu bin harus naik. Tapi itu dia masalahnya guys. Pemerintah kita suka poll-pollan kalo ngambil keputusan. Ini sudah menjadi kebiasaan pemerintahan kita. Bisa dilihat dari korupsi yang poll-pollan juga.

    Btw, baru denger tuh break PW ada lagunya segala. Bagus tuh.. Tapi kalo abis penutupan itu pakai salaman antara host, co-host dan pembicara kayknya bagus juga?
  10. From Ramon on 05 May 2008 10:30:41 WIB
    Dari PW hari ini yang dibicarakan cuma dari sudut rakyat ekonomi bawah, menengah-atas dan atas.
    tapi ga pernah dipikirkan dampak untuk kami yang ekonomi menengah-bawah. dibilang susah tidak, dibilang mampu jg tidak.
    Hidup cuma pas-pasan aja, tidak pernah tersentuh bantuan apa-apa, hidup dirumah kontarakan, jadi ga dapet jatah kompor gas dr pemerintah, mau beli tapi masih ada kebutuhan yang lebih mendesak.

    Kapan rakyat seperti ini jg dipikirkan?

    saya adalah mahasiswa dari orang tua yang biasa-biasa saja, uang bulanan dari hasil kerja saya sendiri. kuliah di univ mahal berstatus negeri. masih bisa survive aja dah bagus. golongan seperti kami di univ jadi minoritas semenjak ada PT BHMN, karena sekarang teman2 dari keluarga kaya.

    Kapan rakyat seperti kami bisa meningkatkan taraf hidup?
  11. From nike on 05 May 2008 10:34:16 WIB
    Sebenarnya sebagai rakyat saya merasa berat dengan kenaikan BBM. Tapi mau gimana lagi, kalau memang harus naik. Untungnya belum lama ini saya memutuskan untuk naik transportasi umum saja. jadi selain hemat bahan bakar, juga mengurangi polusi. Tapi kalo BBM naik, biaya transportasi umum juga naik yah? berarti tarif akan naik juga. wah, berat..berat



    http://nikenike.wordpress.com
  12. From zullisaprilla on 05 May 2008 11:04:09 WIB
    Saya merasa terkesima ,kalau SBY mengambil altrenatif terakhir menaikan BBM. Agar negara ini tidak jadi bangktut,tapi 2009 didepan mata ,pertanyaan \\\"Apakah SBY tidak mau jadi Presiden lagi ?\\\".
    Nanti, rakyat indonesia akan mati ,yang hidup adalah mereka yang menikmati subsidi BBM , koruptor , Anggota Dewan ,serta pejabat Negara ( Publik ).
    Semoga Tuhan bertindak adil dengan keadaan ini.
  13. From Ari \\\'Kikim\\\' Kurniawan on 05 May 2008 11:12:51 WIB
    saya bukan seorang ekonom jadi saya tidak begitu memahami strategi-strategi ekonomi yang dijelaskan oleh Bpk Faisal Basri diatas, tetapi keinginan saya dan juga mungkin kebanyakan masyarakat Indonesia yang lain adalah kebijakan-kebijakan pemerintah yang \'pro\' rakyat bukan kebijakan yang hanya untuk mengambil keuntungan pribadi didalamnya. bagi saya pemimpin yang hebat ialah pemimpin yang berani mengambil kebijakan yang baik utk rakyat walaupun akibat dari kebijakan tsb ia tidak populer, dibandingkan pemimpin yang hanya mencari populeritas tetapi mengabaikan kesejahteraan rakyat.
  14. From Bernardo Halim on 05 May 2008 12:07:43 WIB
    Saya pribadi setuju BBM naik, maaf saya bukan praktisi dan mungkin saya sok tahu. Di negara luar menurut saya sudah banyak subsidinya dihilangkan, logika saja. BBM kan kita pakai untuk kepentingan kita sendiri, pribadi dan sesuka kita. Kenapa kalo kita bisa pakai sesuka kita harus disubsidi? Jalan raya dan fasilitas umum sudah sewajarnya ditangani oleh pemerintah, karena kita tidak boleh memakai sesuka hati kita, itu adalah milik publik, yang dibangun dari pajak. Lagian toh subsidi BBM istilahnya tidak bisa dinikmati oleh semua orang, suku-suku di pedalaman tidak perlu kendaraan, mungkin mereka masih berjalan kaki menjelajahi hutan, banyak anak-anak yang hanya bersepeda.

    Penyaluran subsidi BBM lebih baik disalurkan ke tempat yang lain, pendidikan contohnya. Saya pernah baca entah dimana, Indonesia adalah negara yang mengalokasikan anggaran pendidikan ke-3 terendah di dunia. Tentu ini semua harus disikapi dengan optimis, meskipun kenyataannya kadang kita tidak bisa kontrol.

    Membuat manusia keluar dari zona nyaman, akan membuat manusia berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan dan berusaha mencari zona nyaman yang lebih baik.

    Maaf apabila analisa saya kurang, saya masih perlu belajar. Terima kasih atas hadirnya acara ini, meksi saya tidak pernah nonton. Saya selalu berlangganan RSS nya.

    http://www.jeberok.wordpress.com
  15. From Yenn M on 05 May 2008 12:42:15 WIB
    Bersadarkan fakta bahwa salah satu penyebab kenaikan harga BBM biasanya diikuti oleh kenaikan harga lain, adalah karena tarif angkutan umum ikutan naik. Maka bagaimana kalau begini saja:
    harga premium tidak perlu naik, cukup pertamax and petamax plus saja. Namun batasi premium HANYA untuk kendaraan umum aja. Ini berarti juga mengurangi besar premium yang disubsidi, belum tahu besarnya, tapi sepertinya 50% bukan angka yang mustahil. Sebagian dana dari 50% itu, bisa untuk membayar orang2 untuk menjaga tempat pom bensin agar mobil selain angkutan umum tidak mengisi premium. Ini juga sekaligus mengurangi pengangguran.
  16. From anggana bunawan on 05 May 2008 13:36:48 WIB
    jujur,, kenaikan bbm kali ini bener mengkhawatirkan saya,, seperti kata ramon..

    kepentingan yang diusung selalu masyarakat bawah,, dimana selalu jadi bumper agar kebijakan yang dibuat dianggap populer..

    keadaan kali ini saya rasa sungguh akan memukul kalangan menengah seperti saya..

    keadaan ini pasti meningkatkan angka pengangguran dan menurunkan angka pertumbuhan....

    saya melihatnya memang tidak bisa dielakan perkara kenaikan ini,,, tetapi pemerintah tidakk menunjukan itikat bahwa ada keinginnan untuk membangun,, keadaan ekonomi sangat tidak berpihak kepada masyarakat...

    itulah akibat seorang boediono yang menjadi menko ekonomi yang sebentar lagi akan menjadi gubernur BI. perlu ada stimulasi di sektor riil dan penyehatan iklim usaha.

    semoga saja ada kehendak yang lebih besar,, who knows besok harga minyak membaik.,.,,,

  17. From febianto on 05 May 2008 13:58:06 WIB
    Sy rasa para mentri2 SBY punya pemikiran yg mirip dgn bang Faisal Basri (FB), namun krn beberapa alasn jadi harus byk berpikir lagi.

    Dugaan saya salah satu alasannya krn belum terlihat dampak instant yang positif yg akan didapat rakyat dan pemerintahan SBY, terutama bagi pemerintahan ini.

    Sementara, jika harga BBM nanti naik dampak instant negatif yg akan terlihat dan terasa justru lebih jelas seperti antrian di SPBU, harga barang yg bertambah naik, tuntutan pemilik kendaraan umum utk menaikan tarif dan seterusnya. Sementara buah pikiran FB tidak akan dapat terlaksana –misalnya- dalam satu hari atau satu minggu.

    Jadi jika usulan FB yg bersifat jangka panjang ini tidak/belum dipilih, hal ini boleh jadi dikarenakan kebiasaan para politisi yg lebih memikirkan hal2 yg bersifat jangka pendek, terutama utk hal2 yg kurang menguntungkan.

    Sy rasa jika telah disiapkan kebijakan alternatif yg memberi dampak instant yg positif bagi rakyat dan walaupun harga BBM dunia masih tinggi, SBY akan lebih mudah menaikkan harga BBM. Tks.
  18. From wahyudi on 05 May 2008 14:29:53 WIB
    Kalau saya melihat maka harga BBM harus naik, cuma yang jadi masalah harga barang dan bahan pokok kalo bisa pemerintah harus menekan agar harga tersebut tidak terlalu melonjak tinggi.
  19. From Alex on 05 May 2008 14:32:01 WIB
    Itu Faisal Basri ngomong apa sudah melihat kondisi masyarakat sampai ke pelosok?

    Atau karena sudah menjadikan hitung-hitungan ekonominya sebagai kebenaran mutlak?

    Kalau mau nyari untung atau tambahan subsidi, nasionalisasi perusahaan asing yang ada di Indonesia, terumata yang keuntungannya jauh melebihi setoran pajak ke negara ini.

    Kebijakan yang aneh. Bisanya cuma menzalimi rakyat sendiri.
  20. From Rita Farid on 05 May 2008 15:02:35 WIB
    Mengurangi subsidi pemerintah terhadap bahan bakar memang perlu dilakukan, saya setuju itu...untuk dialihkan ke tempat lain seperti program pertanian, pendidikan, rakyat miskin..

    Tapi...kenyataannya selama ini :

    1. Banyak penyimpangan yang terjadi thdp pengalihan subsidi tersebut...miris sekali...
    2. Kenaikan Harga BBM diikuti dengan kenaikan harga yang lain, yang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah, yang bikin polemik, bikin gusar, bikin penat...

    Masyarakat menengah seperti saya entah harus berbuat apa lagi..pasrah, hidup menyesuaikan dengan keadaan, banyak berdoa saja...
  21. From kondeMAS on 05 May 2008 16:20:03 WIB
    Hallo...Bung, Bicarakan BBM dengan mengacu pada kondisi riil masyarakat.
    Hitungan matematis kenaikan BBM anda, telah menciderai dan melukai perasaan sosial yg sedang sakit.
    Jangan membuat pernyataan yg bersifat kalkulatif dan mengcompare naiknya BBM dengan kebutuhan APBN.
    Substansi persoalannya justru,Tolong anda wacanakan; 'KENAPA RAKYAT SEKARANG MENJERIT DAN TERHIMPIT"
  22. From R Muhammad Mihradi on 05 May 2008 16:41:31 WIB
    Saya ga ngerti ekonomi, tapi sebenarnya kita memang anomali. BBM ga salah naik, yang salah pendapatan kita dan umrnya terlalu kecil. itu karena, (1) industri ga jalan dan ga oke (2) korupsi dimana-mana dan (3) inefisiensi--termasuk di birokrasi. Lucunya, rakyat lagi yang nanggung. Kapan para pejabat ikut nanggung (misal: mobil pribadi pejabat diganti anter jemput yang rombongan biar efisien)
    Mihradi
    (Orang Kecil Biasa Yang Beneran Tahu Susah Banget Nih Hidup)
  23. From Chandra on 05 May 2008 17:09:24 WIB
    Mereka yang tidak setuju kenaikan BBM perlu sadar bahwa menaikkan atau tidak menaikkan efeknya sama gawatnya. Tetapi menaikkan harga BBM masih bisa menyisakan duit untuk keperluan2 yang lebih penting daripada mensubsidi minyak.Betul juga Faisal, harusnya kita ikuti saja kemana arah pasar,supaya tidak ada kenaikan yang mengejutkan. Dulu waktu kurs dipatok, kita berkali2 mengalami devaluasi yang menyakitkan. Setelah floating, depresiasi rupiah tidak terasa efeknya secara dramatis.
  24. From Jajang Nurjaman on 05 May 2008 17:11:09 WIB
    Negara penghasil minyak koq jadi ngimport minyak? BBM naik ada risikonya tuh,, dampaknya semua bisa naik,, kecuali satu yang turun,, SBY-JK bisa turun di 2009,, he..he..he..
  25. From wak tul on 05 May 2008 17:22:46 WIB
    BBM harus naik ???
    B e n a r . . . .

    Karena dampaknya adalah biaya tinggi karena ongkos transportasi melonjak, maka haruslah dicari alternatif transportasi. Misal KRL, bukan cuma untuk JaBoDeTaBek, tapi juga meluas ke seluruh jaringan KA.

    Artinya pemanfaatan dan peningkatan efisiensi jaringan kereta api. Selanjutnya energie listrik yg dibutuhkan harus dipenuhi dengan pembangkit alternatif dari angin, matahari, panas bumi, pembakaran sampah, pembangkit gas methan dari sampah bio (kotoran ternak n manusia sisa makanan spt. buah busuk, dll).

    Sistem ini memang harus disusun dulu secara jangka panjang. Pertanyaannya :
    Pejabat mana yg mau berpikir jangka panjang ???

    Kereta yg dirancang dengan baik, bukan hanya murah secara jangka panjang, tetapi sangat effisien. Tenaga yg dipakai mengerem, bisa dikembalikan lagi ke jaringan kawat diatasnya dan dipakai oleh KA lainnya.
    Tapi mana itu Doktor-doktor yg maha pinter ???
  26. From Leo Alexander on 05 May 2008 18:20:36 WIB
    Bang WW.. udah lama nich gak berikan tanggapan.. maklum sdh 2 minggu berturut-turut bangun kesiangan. Maklum baru di PHK.. BBM Naik ?? waduh bagaimana nasib saya yang gak punya kerja ?? bagaimana nasib keluarga saya yang tidak punya penghasilan.

    Rumit memang tetapi apa jaminanya kalau dengan naik BBM, uang pendidikan dan kesehatan jadi Gratis karena limpahan dari Subsidi BBM?? gak ada yang bisa memberikan jaminan bahkan Faisal Basri sendiri gak bisa beri jaminan.

    Pemimpin di INdonesia lebih mementingkan diri sendiri jadi jgn heran kalau rakyat Menderita. Kalau BBM naik

    SELAMAT DATANG PENDERITAAN...

  27. From jaya on 05 May 2008 20:04:29 WIB
    pengalaman saya di kamboja dan vietnam BBM udah 10.000 per liternya..gak pernah ada demo tuh..rakyat kecil udah biasa idup sederhana..sepeda berkeliaran dimana-mana. sepeda motor butut...jangan tanya banyak banget..tapi kalo di indonesia..gaji naek dikit aja udah ngredit motor baru..mobil baru..waktu BBM naik..teriak paling keras....hidup sederhana donk...
  28. From Budi on 05 May 2008 22:24:41 WIB
    Itu sih teori kebijakan yang pernah terjadi pada masa pemerintahan komunis: Maoisme, kebijakan-kebijakan yang juga pernah terjadi pada zaman komunis uni sovyet, itu kembali kepada kekuasaan penguasa (DPR)dan pemerintah yaitu presiden, untuk membentuk \"manusia komunis baru\", tetap saja rakyat jadi budak, dana-dana aliran yang dijanjikan tidak pernah benar-benar sampai ke masyarakat, dengan mental korupsi yang tetap membumi di negara ini,apakah pak faisal dapat menjalankan dan bertanggung jawab jika dalam sistem masyarakat yang cenderung sosialis seperti ini mengarah kepada komunisme dikarenakan dana-dana yang tidak sampai itu juga menyebabkan pendidikan tidak memadai, kesehatan buruk, kemiskinan merajalela, ngantri minyak tanah & gas dll.

    Dengan kebijakan-kebijakan dalam negeri yang diadaptasi dari RRC dan Unisovyet seperti UU ITE dsb. Indonesia zaman SBY terjebak antara \"peperangan\" antara Barat dan Timur sekarang (Amerika Vs Rusia and China)kembali, anehnya malah mengambil contoh-contoh kebijakan-kebijakan yang terjadi di negara komunis, mentang mentang pengusaha dari negara China dan Rusia mau berinvestasi dan hasil dari investasi tsb tidak dirasakan oleh rakyat.Katanya Demokrasi, tapi kok mengarah ke komunis?rakyat butuh pendidikan bukan propaganda.

    Jika pemerintah Indonesia tetap begini terus- setiap kebijakan, sosialisasinya hanya bersifat pemaksaan tanpa pendekatan persuasif yang intensif ke masyarakat. pendekatan persuasif itu bukan pendekatan ke media TV, langsung ke rakyatnya dong, kalau kurang personil, dengan pengangguran sebesar 13%, masa ngga ada perekrutan yang maksimal dari pemerintah dan investor itu. Bibit-bibit komunisme tumbuh karena adanya kesenjangan antara kaum kapital (pemerintah, pejabat,investor termasuk media), bukan antara masyarakat itu sendiri. Rakyat sangat peka akan gap kekuasaan baik ekonomi dan politis sekarang pun sudah merangkak ke arah seni dan budaya, karena adanya upaya-upaya dari pemerintah akan penyeragaman budaya bukan mengakui keaneka-ragaman budaya masyarakat, sangat identik dengan masa orde baru, mengingat kekuasaan masih dipegang oleh sebuah partai yang mempunyai suara 21,6 itu di Dpr.

    Berhati-hatilah ancaman komunisme dan revolusi yang mengancam keutuhan NKRI tercinta ini. Sedikit kecewa dengan para pengamat, mereka ternyata mengambil teori-teori yang tidak melalui analisa secara mendalam akan dampaknya terhadap keutuhan bangsa ini, walhasil teori-teori yang dijalankan bersifat pragmatis, terburu-buru, kelihatan sekali perencanaannya hanya bersifat jangka pendek, sementara rakyat tetap jadi gelandangan, digebukin satpol, dipertontonkan kepada media, sehingga menjadi sebuah komoditas politik jangka pendek bagi para pengamat dan politisi.

    Itu kritik terhadap faisal basri, btw pak wimar, saya melihat acara ini, kira-kira ada 2 tamu, akbar tanjung dan termasuk yang ini, rada-rada kaku dan rikuh mendapat komentar dari seorang selebritis, seakan-akan seleb nggak layak berpendapat apa adanya gitu lho, atau mereka nggak pernah gaul sama seleb kali ya...hehehe...tetap apa adanya aja deh...kalau bisa tidak usah dikonsep-konsep co-host-nya, soalnya lebih dikonsep lebih nggak real dan nggak mengibur..hehehe..saya sangat senang acara ini karena pagi-pagi orang sudah diajak berpikir kritis, membuat kinerja otak berjalan setelah tidur..hehehe

    Btw kapan ada acara off air di Jakarta?Kalau ada acara diskusi ditampilkan dong, ajak-ajak khalayak publik, masa hanya orang-orang yang terbatas saja yang tahu...hehehe

    Dah...ngantri gas dulu ah...:D
  29. From |richard.p.s| on 05 May 2008 22:57:57 WIB
    @ No. 21 masKONDE bersabda:
    \"...Substansi persoalannya justru,Tolong anda wacanakan; \'KENAPA RAKYAT SEKARANG MENJERIT DAN TERHIMPIT\"

    substansi atau sup terasi nih? Ini lagi ngomongin BBM loh, bukan tiket masuk keong mas? Rakyat nyang mana sih nyang masKONDE maksup? Rakyat yang kaya, atau rakyat yang superkaya (bnd. Merrill Lynch & Co; Capgemini Lorenz @ KOMPAS)?
    Rakyat yang ngabisin BBM untuk manasin Bentley, Testarossa, Hummer sampai innovaan buat beli sayur kangkung di pasar ya? *lirak-lirik GAIKINDO dong mas*? Orang kaya atau orang superkaya itu memang logis untuk dipertanyakan.
    Belum lagi rakyat yang hobi ngutang, lalu ngabisin listrik untuk pabrik. eh, nggak taunya paynen lus ril propit deh, atau nekat ngaku bangkrut, yang penting kan udah kecipratan ya. Padahal, listrik kan pake BBM ya? BBM kan disubsidi ya?
    Hi hi hi...masKONDE jangan suka ngomporin ah. Soal menjerit memang ada kok. Tapi skala prioritasnya kan sudah di share sama bang Faisal. Nggak diperhatikan ya? Kebelet komen ya? Komentator ya? Komentar itu hobi atau kebutuhan, hayooo...?
    Kalo nggak ada yang menjerit, sudah di surga namanya.
    Indonesia butuh solusi, bukan polusi masKONDE. masKONDE memangnya sudah buat apa sih buat rakyat yang menjerit? atau setan teriak setan? (tanda tanya loh)

    Tertanda,


    ATAS NAMA RAKYAT*


    _______
    *syarat dan ketentuan berlaku
  30. From Indra Purnama on 05 May 2008 22:58:08 WIB
    Indonesia Dan pemimpin nya selalu terlambat dan salah kaprah, kenapa??????? BBM naik Ribut, senang nya ribut nyalahkan orang lain, bukannya mencari SOLUSI!!!!. Harga BBM Naik, Biarin, Minyak KIta Untuk Ekspor, Kita Mari Ramai-ramai beralih Ke BIO ENERGI.Or Other Energi, Air, Batu Bara, Singkong and LL. Bung Wimar, And HI Pemuda/i Indonesia Please, ber eksperimen dengan otehr energi, Riset, sebelum minyak bumi kita habis, seperti hutan2 dan dan tambang hasil karunia yang maha pemurah habis, seharus nya kita sudah menemukan other energi yang lebih murah dan mudah di dapat.
  31. From andi himawan on 05 May 2008 23:04:46 WIB
    semoga 2009 bang faisal basri nyalon presiden. saat ini kita butuh pemimpin kaya abang yang bisa mengatasi masalah dan kasih penjelasan yang bisa diterima. bukan cuma pemimpin yang gak tegas. bisanya itung2xan doang biar kepilih lagi...........payah
  32. From Jefry on 06 May 2008 08:09:25 WIB
    Seandainya kenaikan BBM bisa dipakai untuk membangun fasilitas pertanian dan menciptakan lapangan kerja 8 juta orang. Bila setiap orang mempunyai tanggungan tiga, maka akan ada total 32 juta orang produktif.
    Program yg sangat bagus! Jika seandainya mau yg strategi jangka pendek, pemerintah dpt membagikan atau mensubsidi solar cell utk rakyat miskin atau prioritas masyarakat desa!
    Akan tetapi itu hal yg mustahil jika presidennya PERAGU!
    Lihat saja respon kebijakan pemerintah td mlm, bahwa lagi2 program Bantuan Langsung Tunai!!!

  33. From Rusmin on 06 May 2008 11:29:31 WIB
    BBM Naik....................Pintar Benar
    Pembatasan dgn Smartcard....Benar benar bodoh

    Kalaupun dgn skema smartcard, malah seharusnya harga di balik. Yaitu dari 0 sampai liter tertentu harga non subsidi (mahal), di atas sekian liter di subsidi.

    Supaya masyarakat miskin tidak tergiur untuk membeli aset yang kontra produktif, penambah kemiskinan yg memperparah kemacetan dan pemborosan BBM. Plus malah memperkaya cukong Jepang yang berupa Sepeda Motor.

    Gunakan penghematannya untuk membangun sarana transportasi massal untuk masyarakat.
  34. From kondeMAS on 06 May 2008 12:16:56 WIB
    hehehe....ikutan nongol yah..,
    _______________________________
    Tak perlu ada penjelasan kedua, cukup anda pahami sendiri kemana arah pembicaraan saya.

  35. From dhones on 06 May 2008 17:09:22 WIB
    ada teman yang berceloteh begini

    teman: seharusnya PERTAMINA ganti nama dan dilakukan ruwatan menjadi PERTAMIRUN
    saya : lho emangnya kenap?
    teman: iya kan minyak tiap tahun naik sesuai dengan namanya PEERTAMINA alias PERtahun MInyak NAik. makanya diganti aja PERTAMIRUN jadi PERtahun MInyak tuRUN
  36. From Ir. Hoo Boen Wie on 06 May 2008 19:19:17 WIB
    Yth. Dr. Faisal Basri & Bung WW.

    Terima kasih untuk penayangan Soal Harga BBM yg. juga ditulis oleh sdr. Hayat Mansur. Tgl. 5 Mei 2008.
    Sedikit masukan:
    Diketahui:bahwa BBM dari fossil tak akan tersedia sepanjang masa!
    Pertanyaan: apa yang harus dilakukan?
    Jawaban: antisipasi:
    Internasional; dicari bahan baku yg. dapat diperbaharui, dan perusahan international, termasuk petroleum conmpanies pada permulaan th 90-an membeli perusahaan² benih, untuk menguasai hulunya bahan baku renewable enersi.
    Indonesia: Apakah ada usaha kesana?
    Bila ada, maka sebetulnya kita ini sedikitnya sudah terkurangi hiruk pikuk dgn. kenaikan BBM dan banyak biofuel yg. sudah digunakan.
    Sayang, rasanya antisipasi bahwa negara agraria ini seharusnya memanfaatkan keunggulannya tak diperhatikan.
  37. From Menson on 06 May 2008 23:39:14 WIB
    Berat juga nich yang mana mau dipilih, tapi menurut saya kalau menurut pak Faisal Basri BBM harus sering naik : nach ini saya menjadi tidak setuju, pasar akan menjadi kacau. Akibat BBM ini naik, sedangkan pasar yang menjadi tempat tukar menukar rakyat kecil akan menjadi tidak akan pernah stabil - masyarakat kecil lagi yang sangat dirugikan.
  38. From |richard.p.s| on 07 May 2008 00:20:00 WIB
    Yang baik memang belum tentu benar ya. Apalagi menyuarakan anti naik dengan embel-embel peduli rakyat. Plus rakyat terhimpit dan menjerit pula. Baik bak malaikat bukan? Wuihh... bisa populer tuh.
    Bersyukur deh, masih ada yang berani ngomong bener, walau berpotensi tak populer. 32 juta produktifnya ok juga deh, apalagi kalau bermultiplikasi. btw, semoga kucuran ke petani sampai industri rumah tangga nggak minta NPWP, SIUP, sampai LC ya.
    Yang pro anti naik, sampaikan solusinya juga dong. Jangan lupa menjelaskan rakyat yang mana ya, jika menggunakan embel-embel rakyat.
  39. From dvomr on 07 May 2008 00:56:43 WIB
    kalo saya kira, yang bikin pemerintah harus menaikan harga BBM secara bertahap itu agar bisa melakukan antisipasi terhadap perubahan harga minyak dunia yang labil. Faktor lain adalah menipisnya anggaran.
  40. From sujono halim on 07 May 2008 01:20:28 WIB
    saya setuju dgn bung faisal , tapi harga bbm di gunakan untuk kepentingan politik sehingga masyarakat keberatan dgn kenaikannya yg tdk sistematis tapi bernuansa politis !
  41. From aga on 07 May 2008 10:44:56 WIB
    salah klo BBM hrs naik,kalau tidak ada jln kluarnya bagi masyarakat kecil.pemerintah punya cara yang sampai sekarang belum ada realisasinya,yaitu mengalihkan bahan bkr minyak untuk kebutuhan rmh tangga dgn gas atau batu bara.itu cukup baik untuk membantu masyarakat kecil,tp sediakan biar dapat langsung diguakan oleh masyarakat kecil.perhitungannya lebih efisien,bila menggunakan gas terlebih batu bara.bantu masyarakat dgan jln kluar yang tepat!pemerintah harus brgerak cepat, kalau tida mau banyak demo dan masyarakat harus menerima keadaan seperti ini.
  42. From yanti on 07 May 2008 14:19:11 WIB
    Ya... dan semuanya harus bekerja sama ya... sama-sama berhemat
    dari presiden... sampai... rakyat jelata.
    Dan uang hasil kenaikan BBM ini... harus... dikelola dengan baik agar rakyat tidak 2 kali menderita...
    Menderita karena BBm naik dan menderita karena fasilitas sosial yang (katanya) bisa dibenahi dengan uang itu tidak didapat.
  43. From MUDFAR on 07 May 2008 22:02:17 WIB
    KLO HARGA BBM NAIK,KURANGI PRODUKSI PERTAMAX DAN PERTAMAX PLUS,DAN ALIHKAN DANANYA KESUBSIDI PREMIUM,SERTA PENUHI DULU PRODUKSI BBM DALAM NEGERI,BARU DI EXPOR KE LUAR NEGERI,DAN GAK USAH PAKE BLT.MALAH TAMBAH RUGI,BAGUSNYA DANA BLT DI ALIHKAN KESUBSIDI PREMIUM DAN MASUKKAN PERUSAHAAN MINYAK ASING KE SETIAP DAERAH KALAU PERTAMINA SELALU TERLAMBAT PASOKAN MINYAKNYA.KASIHAN RAKYAT!
  44. From a.karim siagian on 08 May 2008 12:11:44 WIB
    buat bung faisal yg DOKTOR....
    benar sih, analisa anda. tapi terkadang doktor2 yg pinter2 di negara yg sedang sakit ini sering keblinger dlm menanggapi isu2 yg berkembang. mo nanya nih, kemaren itu ada opsi smart card, apa masalah knp gak diterusi, padahal menurut kami itu jg ok buat dicoba, apa karena bung faisal jg akan terkena dampaknya, jg para DOKTOR2 yg lain, bisa saja mungkin lho.. mobil anda ada 3 atau lebih yg semuanya buatan jerman, yg kalo dijatah yg bersubsidi cuma dapet 5 liter, cuma habis buat manasin mesin doang, sementara fasilitas mobil tsb pake AC.kalau kami sih yg cuma punya motor butut rasanya jatah 5 ltr sudah cukuplah. coba juga bung faisal saat ini lihat bagaimana kondisi di jalan raya kita rasanya kok enak sekali para pemilik2 mobil tsb wira wiri pake minyaknya disubsidi, sebenarnya kami cemburu, tapi wong mampunya cuma bisa beli motor butut. kalau saja smart card tsb jadi terlaksana, setidak2nya jumlah mobil2 mewah di jalanan berkurang toh...? dapat mengurangi pemanasan global kan,. tapi yah sudahlah kami orang awam pinggiran paling cuma bisa ngurut dada yg sdh lepes(rata) ini. nasib..nasib... orang kecil pinggiran, eh..kok jadi teringat lagu bang iwan.
    malaikat saja setuju jg tuh, kalo pake smart card.

    wassalam,

    orang pinggiran yg tak DOKTOR
  45. From kondeMAS on 08 May 2008 16:24:44 WIB
    Kebenaran itu mutlak diperjuangkan.

    Tak ada yg salah, jika orang ikut mengaspirasikan prinsip2 sosial, karena paham demokrasi memang membutuhkan relasi dan partisipasi politik yg bersifat egaliter.

    Tentang masyarakat mana yg dimaksudkan;
    Hal ini tak perlu penjabaran secara detail.Dan jika anda mempunyai performance anilisis yg kuat, maka anda akan mengerti, paham garis politik yg membenam di otak saya.

    yg pasti, bukan mereka yg berteriak dan terhimpit diantara "Harley dan Hummer"

    Dan bukan sebuah alasan untuk memanas manasi atau mengompori. Tapi inilah prinsip "Moral sense" untuk pembelaan terhadap masyarakat yg terlindas oleh kebijakan bodoh.
  46. From clasi on 08 May 2008 17:06:16 WIB
    secara kalkulatif mgkn bisa dihitung2 seperti itu
    tapi apakah hitung2an anda benar2 akan direalisasikan oleh pemerintah? tidakkah di korupsi?
  47. From Noah on 08 May 2008 22:06:32 WIB
    Setuju naik. Malu saya punya mobil dibilangin makan subsidi tuk rakyat kecil terus. Lagian saya jarang pakai mobilnya kok, kalau kerja dijemput dan diantar. Di Jakarta dlm satu bulan kira2 cuma 4-8 kali menggunakan mobil nemanin anak2 jln2 itu jg krn jarang bertemu seh. 12000/ltr jg oke aja.
  48. From |richard.p.s| on 09 May 2008 03:48:38 WIB
    @45 masKONDE: "...masyarakat yg terlindas oleh kebijakan bodoh".

    Kalau yang diuraikan bang Faisal itu kebijakan bodoh yang melindas, lalu kebijakan yang cerdas dan tak melindas menurut anda itu yang bagaimana toh masKONDE?
    Jadi ingat serial jadul "si Doel anak sekolahan", saat Mandra mengatakan: "prinsip...prinsip..". Padahal di episode itu dikisahkan, Mandra tak mengerti samasekali makna "prinsip..prinsip.." yang diucapkannya. Jangan-jangan, anda senasib ya dengan itu? (tanda tanya loh)
    Kalau memang mengerti, di share dong garis politik yang terbenam di otak masKONDE itu. Biar kita, atau setidaknya saya dapat mengetahui, sebenarnya yang terbenam itu kepentingan masyarakat Indonesia yang memang perlu diperjuangkan, atau sekedar kepentingan masyarakat Indonesia yang VVIP?

    eN-Be: Jangan-jangan, masKONDE ada sentimen pribadi ya sama bang Faisal, karena bang Faisal nggak bisa pake KONDE mengingat minimnya rambut? Masa mas-mas berKONDE sih? *Jangan marah ya, hanya j/k loh. Tapi saia emang hobbi kok ber j/k sama masKONDE*
  49. From dmitri on 09 May 2008 13:55:17 WIB
    wah, Faisal Basri juga salah kaprah soal masyarakat.

    kalau rakyat mengerti, bahwa dengan dinaikkannya harga BBM, dia beserta teman-teman bisa berproduksi di sektor pertanian, saya yakin mereka tidak akan keberata. hanya saja, sekarang ini orang sudah sulit percaya sama rencana pemerintah.

    usul: mulai aja dulu tarik investor untuk memodali awal sektor pertanian supaya bisa kasih kerjaan buat 8 juta penduduk (which means what you say should have a real business plan, not just out of the blue thinking). kalau sudah jalan, naikin harga BBM, terus kembalikan uang investor, plus bunga. sekalian kasih souvenir berupa Pohon buat ditanem di deket rumah si investor. its a great message. any party who commits to this could get real votes from impressed voters. there you go. there's some work to be done.

    PS. kalau preman diwarung sebelah rumah saya bisa dikasih pacul dan disuruh pulang ke kampungnya, atau ke sulawesi kek, biar bisa macul, saya rela kok jual mobil (actually sudah), dan tentunya lebih nyaman naik bis. yakin, banyak anak muda Jakarta bakal do the same thing.
  50. From To on 10 May 2008 22:04:14 WIB
    Yang saya takutkan ini akan sangat berpengaruh pada daya beli masyarakat ...., gaji masyarakat belum bisa naik tapi BBM naik.

    Kami kesulitan menjual produk kami, sebetulnya ini yang ditakutkan. Perusahaan kesulitan menjual barang karena bahan baku bergerak naik sementara daya beli masyarakat lemah ....

    Akhirnya pajak pun turun .... jadi repot juga
  51. From Immanuel on 11 May 2008 17:49:37 WIB
    BBM boleh naik, tapi jangan yang lain ikut naik juga, misalnya Pangan (Beras), Minyak Goreng, Sayur-sayuran. kalau itu semua naik, dan gaji pegawai, buruh tidak naik, berarti daya beli berkurang atau timbulnya orang miskin baru. Para pengusaha tinggal gampang, biaya produksi naik,barang produksinya juga pasti akan naik, yang susah tetap buruh, pegawai dan orang miskin. Gitu logikanya bosss.
  52. From gosippemilu on 11 May 2008 22:31:10 WIB
    bang wimar, tampilin JK dong ama mahasiswa yang kontra kenaikan harga BBM. biar seru.
  53. From kondeMAS on 12 May 2008 10:51:55 WIB
    Hallo bung,
    Orang VIP juga punya prinsip moral sosial.
    Nalurinya juga dapat tergugah untuk kepentingan masyarakat luas.Dan kenapa Faisal punya statement BBM harus sering naik?
    Apa karena satu almamater dengan Sri Mulyani...hehe, beginilah kalo sikap paternalistisnya ditonjolin
    menutup bolong bolongnya RAPBN itu tak perlu pake rumus njelimeti, nenek nenek pikun juga bisa bung, kalo cuma ditutup oleh kenaikan BBM.
    _____________________-
    jangan sering nonton acaranya mandra, entar ikut monyong loh..!
  54. From djunaedird on 13 May 2008 00:06:28 WIB
    Hah, malaikat beli BBM. Memangnya kendaraannya buatan mana?
  55. From |richard.p.s| on 14 May 2008 00:09:17 WIB
    @53
    Ha ha ha ... masa bang Faisal mempertaruhkan diri jadi tak populer hanya karna jeng Sri? Ha ha ha mas Amin aja ditinggalin. Ha ha ha .... mungkin mata anda ketutup congor, makanya perspektifnya suka kabur. Kalo nggak naikin BBM, terus apa dong? Katanya nenek nenek pikun juga bisa. *ini pertanyaan kedua kali ya*
    konde....konde......SMP Kelas Jauh mana sih n'de?
  56. From kondeMAS on 14 May 2008 08:47:37 WIB
    Hallo...man,Crettt.

    hehe, ente sukanya kontra produktif dengan mengandalkan argument dangkal.kalo enggak, eh, malah balik bertanya.
    Ini pertanda anda tak mempunyai performa analisis yg kuat.

    Faisal menyalahi kaidah partai, dan dia memilih lepas dari posisi sekjen PAN.
    Ini yg menjadi alasan saya. Dulu dia kritis terhadap kebijakan birokratif. eh, sekarang komitmentnya malah bertentangan dengan kemauan arus bawah.

    Jaman sekarang menjadi orang bijak, tak perlu sekolah formal.
    Klo ente emang hebat, namun waktu kecil enyak ente salah netek'in [netek sebelah kiri tereus] ya, gini jadinya "otak pinter, spoken ingrisnya jago, namun punya watak idiot.
    Trus, ampe sekarang punya kebiasaan ngoleksi PD-nya cewek...nenek2 lagi.
    hyperphobia....

  57. From |richard.p.s| on 15 May 2008 00:08:27 WIB
    @56
    maskonde: "Hallo...man,Crettt....anda tak mempunyai performa analisis yg kuat....netek sebelah kiri tereus...ngoleksi PD-nya cewek...nenek2 lagi..."

    richard: iya deh yang performa analisisnya kuat. hi hi hi... tapi kok ngomongnya soal crett, netek, dan pakaian dalam nenek nenek ya? Maksudnya, kuat apanya nih n'de? hua ha ha... badut banget sih lo n'de...

    supaya nggak OOT nih:

    arus bawah yang mana n'de? (arus bawah yang superkaya, yang kaya, atau yang tipikal konde? (bnd. maskonde: "...sekarang komitmentnya malah bertentangan dengan kemauan arus bawah.")

    Yang lainnya nggak usah ditanggapi ah...hi hi hi... badut kayak elo emang enak dimainin n'de... nang ning nang ning nang ning nung .... *sambil ketawa terbahak-bahak nih*
  58. From calio on 15 May 2008 14:22:16 WIB
    Mau naik dikit atau mau naik banyak(=bebek???) POKOKE gak setuju.
    Bung Wimar, co-host diganti dong (kurang sexi otaknya).
    Bung Faisal negara kita ini punya minyak rasanya gak pantes kalo harga kita dipatok negara lain(semisal MOPS). Biarin aja negara lain Premiumnya mencapai >Rp10.000 karena mereka memang gak punya minyak kok(wajar dong). Sekalian aje batasin impor kendaraan ber-cc besar(cc<1300 pake premium : cc>1300 pake pertamax : cc 0 pake air putih alias pake sepeda onthel) cukup adil khan ???
  59. From zamroni on 16 May 2008 08:35:55 WIB
    bung wimar, saya senang dengan program ini (perspektif) banyak permasalahan negara yang dibahas, namun selama ini yang saya lihat hanyalah opini dari pak wimar dan tamu pak wimar, belum pernah ada solusi yang dihasilkan kemudian diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
    memang kalau berbicara teory di atas meja sesungguhnya siapa saja bisa. namun banyak hal yang tidak bisa dieselesaikan dengan teory saja.
    saran saya kenapa tidak dibuat sebuah rekomendasi kepada pemerintah atas teory dan diuji coba dalam kehidupan bernegara.

    semoga kita bukan yang bisa hanya mengkritik tapi bisa memposisikan diri seandainya menjadi pemegang kebijakan.

    salam
  60. From kondeMAS on 16 May 2008 09:44:04 WIB
    hallo, Rinche [malam]....siang, tetap Ricat.

    emang suseh, ngomong ama anak kost yg idealismenya sebatas teori.
    Menggebu-gebu kayak knalpol bajaj lagi ngebut....tatatatatatattttt.
    Komentarnya blunder, bias kayak celana dalamnya nenek nenek.
    Spoken ingrisnya jago, tapi orentasi pemikirannya tak pokus dengan brainstyle idiot...

    Hhehehe,,,dasar mantan anak kost, yg bermental ngutang untuk nutup kutang.....
    cat..., cat, playcong luh....alias doyan bencong. Atau otak bencong? sama aja kali...hehehe, geli abis gue, pengen eek.
  61. From irmen sjahranie on 16 May 2008 20:33:41 WIB
    permisi bung....
    sekedar cuma mau nitip kata2 yang sy sndiri tidak tau apakh ini baik.....

    SeKAYA apakh Indonesia ini??? setiap pergantian presiden koQ hanya satu program yang bisa berjalan,itupun hampir smua sama..yang hanya bisa buat rakyat menjerit ketakutan akan nasib mereka yang tercekik...
    masih banyak orang yang mencari sesuap nasi di tong sampah dipinggir jalan,apakh mereka layak seperti itu???jika BBM naik Otomatis dengan sendirinya harga sembako juga akan naik..apakh pemerintah pernah mendengar jeritan rakyat yang kelaparan? atau sibuk menggati tape mobilnya yang suaranya bisa menggetarkan disekitarnya pada saat melintas dijalan yang mulus sehingga tangis jeritan tidak dapat didengar....sungguh hebat & cerdas pemerintah kita!!!!jangan mentang2 punya uang banyak mau se enaknya...itukn uang rakyat juga..jangan egois donk,..

    terpaksa mahasiswapn harus turun kejalan untuk menyuarakan jeritan rakyat yang sesungguhnya,jalanpun harus macet akibat demonstrasi...tapi ingat dijalan ada juga supir angkutan umum yang mencari nafkah untk keluarganya,apakh mereka harus menjerit dua kali ketika uang setoran harus dipotong akibat penghasilan mereka yang sedikit...

    terimakasih pemerintahku yang baik hati.....
  62. From Subagyo on 17 May 2008 10:36:52 WIB
    Wah, Faisal Basri itu ekonom payah.... Teori Ekonominya jelas, kalau negara kaya minyak seperti Indonesia harusnya rakyatnya tidak beli. Analoginya sederhana: "Kalau Anda punya sumber air, untuk minum mandi dan lain-lain apa harus beli? Gratis kan?"

    Kalau ada kekurangan kebutuhan, barulah kita beli, tapi tidak akan keluar uang sebanyak dibandingkan kalau kita nggak punya sama sekali. Iya kan? Sederhana.

    Hanya persoalannya adalah: "Kekayaan migas kita dikuasai asing." Kita dijajah!

    Solusinya: "Ambil kembali kekayaan migas yang dikuasai asing itu!" Nasionalisasi. Kita sejak lahir diajari melawan penjajah, tapi ketika benar-benar dijajah kok klowah-klowoh kayak sapi bodoh?

    Percuma para ekonom dan para doktor, profesor sekolah tinggi sampai ke langit kalau nggak bisa menemukan dasar persoalan itu. Pake acara kuatir penyelundupan BBM akibat disparitas harga BBM.... wah kacau itu cara mikirnya. Lha kalau negara ini serius ya hukum mati para penyelundup yang mengacaukan ekonomi negara yang kacau-balau ini. Karena melawan hukum, memperkaya diri, merugikan negara, ya pakai UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang mengenal hukuman mati ketika ekonomi negara kacau. Kok repot amat?

    Nggak usahlah pakai analisis muter-muter bikin orang sesat pikir! Solusinya jelas: USIR PENJAJAH! GANTUNG KORUPTOR! SIKAT PENJAHAT EKONOMI NEGARA! Supaya rakyat Indonesia bisa hidup normal. Gimana negara ini normal kalau para pengurus dan banyak orang pintarnya keblinger, kowah-kowoh... mbulet seperti benang mbondheti?

    Salam.

    Subagyo, Surabaya.
    cakbagio@gmail.com
    http://masbagio.blogspot.com
  63. From farid hidayat on 18 May 2008 19:20:37 WIB
    Seharusnya Subsidi BBM dicabut dari jaman Pak Harto..
    Bangsa kita harus tegar dan tidak manja. Wahai pendemo anti kenaikan BBM, para penyelundup dan industrialis gelap tetap mendukung demo anda..
  64. From Sondex on 19 May 2008 13:09:25 WIB
    Kenapa rakyat selalu dituntut harus mengerti setiap ada kebijakan yang merugikan rakyat, Trus apa yang dilakukan pemeritah untuk memperbaiki keadaan ini. nol besar.......

    bagaimana mungkin rakyat bisa berfikir kalo perut lapar anak menangis minta susu, istri hutang di warung.

    Seberapa banyak orang kaya di Indonesia ini dan berapa persentasinya dibanding yang miskin. sebutkan dong jangan dihitung yang kaya aja.

    Para ahli hanya bisa ngomong, yang jelas rakyat menanggung derita dan akibatnya, itu yang pasti.
  65. From wong ndeso on 19 May 2008 16:50:20 WIB
    #62: memang indonesia kaya minyak tapi bukan berarti minyaknya ga akan bisa habis kayak air. air aja bisa abis kalau kita, sebagai manusia tdk bisa mengelola nya dg baik.

    danau, sungai saja bisa hilang karena airnya habis.

    memang yang perlu dan segera harus dibenahi mindset nya semua rakyat indonesia tanpa pandang bulu biar tegar & ga manja.
  66. From irwan on 26 May 2008 14:54:26 WIB
    Mas, rakyat yang menjerit tentu rakyat miskin, dan menengah-bawah spt kata ramon, dan menengah, bukan karena naiknya bbm, tapi akibat naiknya bbm, karena biaya hidup akan melonjak naik juga. Paham? Lucu juga ya masak mobil bentley pake premium, vios aja pake pertamax, memangnya ada jaguar, ferrari dan porsche pake premium? Gak jebol tuh mesinnya?

    Yang jelas orang menengah-atas, kaya, sangat kaya, dan superkaya gak pernah menjerit dengan naiknya bbm setinggi apapun, kayak wapres kita itu loh, kan dia superkaya. Saya punya kenalan orang kaya (belum yang superkaya), dia cuma bilang wah bbm naik ya he...he... he... (sambil tertawa, gak ada cemas sekali, tapi dia bilang : bagaimana orang miskin ya..., saya tahu dia punya banyak anak asuh, sudah lama dia menyantuni banyak orang miskin, terutama sekolahin anak2 sekitar, bahkan ada yang sudah tamat. Masih banyak kok orang kaya yang baik).
    Yang kena gencet ya seperti ramon itu, kaya saya juga mungkin, menengah-bawah. Miskin kagak, kaya kagak, ngepas banget juga kagak sih kalo saya, mungkin lebih baik dikit dari ramon, tapi yang tadinya bercita-cita nabung untuk sekolahin anak sampe selesai, sekarang jadi gak bisa nabung, padahal omong kosong katanya daripada subsidi untuk bbm lebih baik untuk pendidikan, juga gak nyampe ke saya, sekolah tetap mahal, dari sd sampe sma tetap mahal (belum lagi kapasitas dan jumlah sekolah yang terbatas, kualitas gak merata), dan univ negeri disulap jadi bhmn, sehingga mahal banget, jadi filter supaya banyak rakyat gak bisa sekolah, supaya 10 tahun lagi gak banyak sarjana kita (konon paa rektor bilang mereka kasih beasiswa untuk anak sangat pintar dari keluarga sangat miskin, wah ini jauh panggang dari api, kecil sekali peluangnya).
    Tah, yang mana rakyat yang bisa ditolong dengan kenaikan bbm tadi, apa yang dapat blt saja (rakyat miskin yang menurut bps penghasilan <154 ribu/bulan), lalu rakyat kaya mana yang subsidinya ditarik? Kalo memang mau naikin bbm, monggo naikin saja, gak usah pake hujat dan ngumpatin orang lain, saya yakin rakyat kita sabar kok, toh kalo pemerintah dan para ekonom merasa benar dengan hal itu, jalankan saja, toh kalo ada rakyat yang terzalimi, itu resiko pemimpin ya, masuk neraka duluan. Kalo gak mau repot ya jangan jadi pemimpin. Sebenarnya cuma ini yang bisa dan berani pemrintah lakukan, mau tinjau kontrak migas gak berani, mau kejar pengemplang blbi gak berani, paling mudah gencet rakyat.
  67. From Frank on 27 May 2008 18:25:25 WIB
    Mr. WW

    Setuju subsidi bbm dikurangi, karena:
    1.biar lebih mikir kalau punya kendaraan, bila perlu subsidi bbm 0 rupaih, biar ada buat dana pendidikan dan kesehatan.
    2. biar penelitian bioenergi dapat berjalan. berdasarkan penelitian TA Teman saya, biaya untuk produksi 1 liter biosolar dan etanol rata2 6000 rupiah, lalu harga jual berapa lagi? jadi biar ketergantungan terhadap minyak fosil semakin berkurang dan pertanian ke arah bioenergi semakin bertambah.biar pengangguran mesin seperti saya lebih mudah bekerja.
    3.supaya semau harga di indonesia ini menjadi normal, dalam artian karena terlalu banyak barang yg di subsidi oleh pemerintah dan menyebabkan banyak penyelewengan barang subsidi dan faktor harga seperti ongkos angkot, atau harga bahan makanan sebenarnya berapa?
  68. From mardi reski on 28 May 2008 14:15:12 WIB
    maaf, bukan aku ngak setuju BBM naik akan tetapi kepada wakil rakyat jagan mengatakan rakyat tidak akan memderita kalau subsidi BBM tidak ada, pak wakil presiden bilang yang menikmati BBM orang kaya" kami setuju. tapi harus di ingat yang mampu memproduksi itu orang kaya yang punya modal. kalau biaya produksi naik maka harga akan naik dan itu yang seharusnya dipertimbangkan? bagaimana solusi supaya walaupun BBM naik masyarakat miskin tidak terlalu merasakan karena pendapatan mereka meningkat. kalau uang 100 ribu dianggab cukup???????/ cukup beli BBM satu bulan iya........!!! tapi kenaikan harga, bagaimana rakyat miskin mengatasinya?/?? ??????
    dan BBM memang harus naik saya setuju !!
  69. From |richard.p.s| on 30 May 2008 03:01:09 WIB
    @60
    BBM udah naek tuh. gw cari-cari lo mulai dari bekasi, depan istana, bunderan grand indonesia, uki, senayan, sampe terus ke slipi, tapi gw nggak liat lu ikutan demo tuh. Emang sepeda lu parkir dimana?
    nggak setuju BBM naek itu bla...bla...bla doang ya nde? lagi sepi tender gambar ya?
    hi hi hi... ad hominem model lu emang kudu dihajar ama ad hominem juga. Harapannya, skala prioritas gw berdiskusi dengan lu ada faedahnya.
  70. From kondeMAS on 30 May 2008 08:43:48 WIB
    hehe... lo gak liat gue naik sepeda yg rodanya tiga......
    Trus....Temen2 lo banyak yg gak setuju BBM naik. Dari UNAS sampe UKI.., semua pada norak dan anrkis tuh... yah maklum mahasiswa lebelnya doang yg intelek, tapi otaknya jeblok...
    Trus, apa reaksi lo terhadap brangsatan kaya gini....
  71. From paul on 30 May 2008 10:40:38 WIB
    Masyarakat sudah terbiasa dimanja oleh berbagai subsidi.
    Giliran BBM dinaikan, langsung teriak... mahal!!
    Saya setuju BBM naik menjadi 12 ribu. toh Pemerintah kaya, kita juga kecipratan BLT.
    Cuman BLTnya kok dikit ya...,
  72. From wawan on 04 June 2008 01:09:33 WIB
    hidup rizal ramli, sby pulang kampung aja jadi pemulung.......... apalagi jk dah jadi pengamen aja bisanya naikin bbm......... mana janji lo katanya gak naikin bbm..
  73. From |richard.p.s| on 08 June 2008 03:05:23 WIB
    Masa sih roda tiga? Sepeda roda tiga, masih bisa digowes 40km/jam untuk keluar masuk warnet? Ah, posting di PO kok sampe segitunya sih? Jangan kecapean, nanti lever loh...

    Kalau BBM naik, masih banyak energi alternatif lainnya.
    Tapi kalo kena lever karna kecapean maen sepeda, masa alternatifnya maen odong-odong sih? Nggak gaul tuh om ....

    he he he ngomong mahasiswa intelek ya? Baca postingan-postingan lu tuh. Di rumah punya kaca?

    Nah, ini kesimpulannya supaya nggak OOT, yaitu:
    Bang Faisal Basri menyuarakan naik, punya konsep. pak Rizal Ramli menyuarakan nggak naik, punya konsep. UNAS-UKI demo BBM naik, punya konsep.
    Nah, elu, maen sepeda tapi nggak mau BBM naik? BBM kan nggak pake sepeda? Eh, kebalik ...
    Apa coba, kalo bukan sekedar bla bla bla doang? Biar dianggap peduli rakyat? Itu yang gw nggak demen dari lu dan manusia tipikal lu. Sok-sok peduli rakyat...Ini 2008 boss.
    Atau jangan-jangan, ada kaitan dengan air rasa solar nih? (tanda tanya loh)

    Yuuuu mang.... yuuuuu mari....salam gowes...
  74. From yayah cihuy on 13 June 2008 23:33:42 WIB
    nasionalisasi perusahaan asing dung.......
    gimana caranya,itu tugas pemerintah
    aku setuju dengan bbm naik.tapi bener ya,pengalihan subsidi untuk kesehatan ma pendidikan?????
    gratis!tapi berkualitas!
    pengen kan?orang indonesia pinter-pinter?
    pelayanan efektif n efisien
    tugas pemerintah tuh klo sampai ada pelanggaran...
    buat sanksi tegas!
    trus gaji anggota dewan juga jangan ikut naik..
  75. From CIKA on 13 June 2008 23:35:58 WIB
    EHHH
  76. From Satochid Sosrodiredjo on 25 September 2008 04:24:28 WIB
    BBM naik pada level nilai tukar uang kita lemah ya memang memberatkan masyarakat ekonmi lemah Sebenarnya kenaikan BBM itu wajar2 saja, hanya jangan sampai membawa dampak domino terhadap 9 bahan pokok, dan nilai tukar rupiah yang lebih baik dari sekarang. Coba kita perhatikan harga BBM dipengaruhi oleh nilai tukar uang kita kan. itulah yang kita harapkan agar harga BBM bisa ditekan dan semoga pemberantasan korupsi cepat2 diatasi dan disesaikan sehingga negara kita tidak miskin lagi Bung.Ini semua gara3 manajemen suharto yang serba korup dimana rakyatnya dinina bobokkan dan ditindas.BBM tidak harus sering naik bila pendapatan negara disektor lainnyapun titingkatkan antara lain disektor perpajakan masih bisa ditingkatkan semuanya ini gara2 koruptor bung.Koruptor harus ditangani dengan tangan besi itu wajar karena mereka membikin saya mlarattttttttttt.
    contohnya apabila nilai tukar rupiah kita katakanlah 3000/ usd dan harga BBM 1,5 usd/ ltr kan masih 4500 rupiah, masih terjangkau lebih dari itu sangat memberatkan. Ukuran yang saya pakai adalah pertama masyarakat berpenghasilan menengah kebawah yang mampunya tidak lebih dari segitu. dan kedua nilai tukar ditekan serendah mungkin dan yang ketiga jangan sampai berdampak pada kenaikan yang lain.(transportasi,sembako dlsb) salam sejahtera semoga rayat kita tidak saling bertengkar.he he he.
  77. From Herson on 26 June 2009 12:36:33 WIB
    Neo liberalisme adalah penjajahan baru. bisa dikatakan ya untuk kacamata orang indonesia. Tapi meurut orang asing tidak mereka justru mau membantu bangsa ini yg tidak becus mengus perusahaannya dan negaranya.
    Bagi Rayat yang penting upah harus dinaikan. siapaun pemiliknya. rakya jenuh dengan kemiskinan dan upah yang sangat rendaH. umr HARUS DISTANDARKAN DENGAN STANDAR iNTERNATIONAL JUGA. kALO PEMIMPIN TIDAK BECUS MENGUS PERUSAHAAN DAN NEGARA. iNGAT RAKYAT BISA KERJA. mAKANYA STANDAR HARUS DIPAKAI STANDAR iNTERNATIONAL JUGA.aPA RAKYAT JUGA HARUS DI LIBERALKAN ???????MAAF TUKANG CUCI/PELAYAN/PERAWAT DI DUNIA INTERNATIONAL TIDAK KECIL LHO GAJINYA. KAMI JUGA BISA KERJA SEPERTI ITU. MAKANYA GAJI HARUS DISTANDARKAN DG STANDAR INTERNATIONAL.
  78. From Herson on 26 June 2009 12:40:51 WIB
    Mau naik berapapun sesuai standar pasar okelllllllll
    Bagi rakyat kecillll
    UPAH/ Gaji harus juga sesuai standar/UMR Internadional.
    Gausah subsidi gaapalah. mau di jual negara ini dan perusahaannya ke orang asing silahkan. yang penting buat rakyat Upah UMR harus standar internasional.....

« Home