Articles

Luruskan Sejarah Tragedi Mei 1998

Perspektif Wimar
12 May 2008

Oleh: Didiet Adiputro

Kalau kita ingat pesan Presiden Soekarno “jas merah” jangan melupakan sejarah, maka hari ini kita mengenang 10 tahun tragedi kemanusiaan yang menjadi salah satu noda hitam dalam perjalanan bangsa kita, yaitu peristiwa mei 98. Hadir di Perspektif Wimar kali ini, Ester Indahyani Jusuf saksi sejarah dan aktivis anti diskriminasi ras- etnis yang ditemani Cathy Sharon sebagai co host.

Mengenai tragedi kemanusiaan Mei 98, Ester dan banyak kalangan lainnya menolak tragedi ini disebut sejarah karena menganggap ini sebuah rekayasa sosial, dimana informasi yang diterima sangat terbatas, karena banyak yang ditutup-tutupi. Jadi tragedi ini adalah sesuatu yang terencana dengan baik dan bukan spontanitas dari masyarakat.

Selain itu, Ester menilai ada sesuatu yang kontradiksi melihat pernyataan orang-orang mengenai tragedi Mei. Misalnya dalam perbincangan atau statement di TV, banyak yang mengatakan bahwa pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan seksual, dll itu tidak pernah ada. Sementara jika diteliti ke masyarakat, kejadian itu jelas ada. “ada kekuatan besar yang memainkan informasi ini”, ujar aktivis yang mengaku sering mendapat teror ancaman ini.

Tentang anggapan bahwa yang menjadi korban terbesar adalah mayoritas etnis tionghoa, Ester meralatnya. Memang terjadi diskriminasi rasial terhadap etnis tionghoa, tapi dari penyelidikannya ternyata bukan masyarakat yang melakukannya. Justru dalam masyarakat timbul solidaritas yang luar biasa, bahkan jumlah masyarakat yang menjaga solidaritas etnis jauh lebih banyak jumlahnya. Begitu juga dengan korban di Yogya plaza, dimana 400 orang diprovokasi untuk masuk ke dalam plaza, yang kemudian dibakar dengan sangat cepat oleh sepuluh orang  tidak dikenal.

Yang diinginkan sekarang adalah penegakan hukum yang jelas meskipun itu sangat susah dilakukan, karena para oknum yang terlibat ditengarai masih berkeliaran di tingkatan elit kekuasaan. Atau paling tidak Presiden sebagai kepala negara harus mengakui dan meminta maaf atas tragedi ini kepada masyarakat.

Untuk mengenang tragedi ini Ester dan kawan-kawan, akan membuat pameran yang menampilkan data dan fakta tentang tragedi mei yang sudah terkumpul selama 10 tahun terakhir. Pameran akan diselenggarakan pada tanggal 13-15 Mei 2008 di Goethe Institut Jl. Sam Ratulangi 9-15, Jakarta Pusat. Semoga dengan makin banyaknya fakta-fakta yeng terungkap, pemerintah dapat secepatnya menuntaskan kasus kemanusiaan ini.

 

Tayang Ulang: Selasa 23.00 WIB


Baca juga:

 

Print article only

46 Comments:

  1. From riris on 12 May 2008 09:23:29 WIB
    Salah satu syarat CAPRES 2009 bersedia tuntaskan Tragedi Mei!
  2. From mansur on 12 May 2008 09:32:59 WIB
    Kebenaran pasti terungkap. Jangan pernah menyerah mengungkap tragedi Mei 1998.

    Kalau bukti sudah terkumpul banyak dan kuat, tapi pemerintah dan aparat penegak hukum masih tidak mau menyeret pelaku kejahatan HAM Mei 1998, maka para korban bisa mengajukan ke pengadilan HAM internasional.
  3. From Wiwik Asnawi on 12 May 2008 09:39:19 WIB
    Benar orang Belanda bilang apa betul orang Indonesia betul-betul bisa merdeka. Benar kata pak Harto apa betul penggantinya mampu memimpin bangsa ini. Untuk menyelesaikan berbagai masalah termasuk rasialisme di Indonesia, butuh revolusi yang radix bukan reformasi. Alasannya Indonesia sudah terlalu crowded dengan banyak problem, cross cutting cleavage. Extreemnya : INDONESIA PERLU DIJAJAH OLEH BANGSA YANG BERPENGALAMAN DI SEGALA BIDANG, Pemerintahannya nyewa aja, lebih murah dan effisien.
  4. From Jaya Salim on 12 May 2008 10:15:12 WIB
    commenting on the show that I watched for the first time from New York:

    This is the first time I saw it and I think it was a cool, entertaining & interesting to watch.
    I really admire Bang WW who stands for what he believes.

    The warm energy from Bang WW & Cathy the co-host was phenomenal.
    Eventhough that she\'s a little bit nervous in front of camera for this one, but I think that is normal & may pass.
    Let\'s give her some credit as she didn\'t stumble, otherwise it\'s a smartly produced show of right learning stuff..absolutely brilliant!

    And I believe that there is a place for a broad range of related ideas, object or values of this talk show for a quality conversation, if it is informed, spitited & emotional.
  5. From UmanK on 12 May 2008 10:17:29 WIB
    Huffhhh.... Emang ngenes bgt dengernya. Siapapun tidak suka diperlakukan tidak adil begini.

    Informasi yang ditutupi tak lain seperti bangkai yang di coba disembunyikan biar baunya gak tercium. Tapi, semakin ditutupi bangkai akan makin busuk dan makin bau. Ayolah pamerintah, buka saja semua tutupnya itu. Biar bangkainya keliatan dn langsung bisa si buang jauh-jauh. Harumkan istana tuan!!!

    Mungkin nanti bisa dihadirkan para korbannya atau saksi mata, atau orang hobi intelejen yang bisa memberi sedikit informasi mengenai cara kerja EO yang bekerja untuk mei 98. Sehingg dari cara kerja itu bisa masyarakat mengetahui kira-kira ini perbuatan pihak mna?

    Salut untuk Ester.
  6. From doelkar\'s on 12 May 2008 10:32:44 WIB
    kenapa permusuhan etnis sampai terjadi....?
    itu karena kesenjangan sdh semakin menjadi2 di negeri kita ini, kenapa hal tsb tidak terjadi pada etnis lain, padahal mrk lebih minoritas, sdh selayaknyalah hal tsb menjadi hal pemikiran dan menjadikan ini sbg tingkah laku, agar jgn terlalu mempertontonkannya didepan publik. kenapa di jawa rasa nasionalis mrk jauh melebihi kita2 tak lain mrk telah menganggap ini tanah kelahirannya, jauh berbeda dgn medan. persaingan dan ego sentris sangat jauh mencolok, hal ini menjadikan kesenjangan semakin terbuka lebar.
    sudah selayaknyalah kita bersama satu meja, membahas sekaligus mencari solusinya, sdh terlalu lelah para founding father merumuskan ini jauh2 hari, kalau hari ini segalanya musnah, hanya karena kita terlalu ego memilih sepele akan hal yg sangat mendasar tsb.
    semoga menjadi pemikiran dan pertimbangan buat samua yg menghuni republik ini.
    bravo,..reformasi.
  7. From Frans Suroto on 12 May 2008 11:02:06 WIB
    Kalau melihat air muka Mbak Esther Yusuf siapa yang tidak percaya bahwa \\\\\\\"peristiwa\\\\\\\" tragis Mei 98 tidak terjadi.
    Betapa berat beban yang ditanggung Mbak Esther, di satu sisi dia menampung tangisan dan derita para korban di satu sisi yg lain dia tak bisa berbuat banyak menghadapi \\\\\\\"tembok benteng\\\\\\\" yang lebih kokoh dr Great Wall.
    Semoga Mbak Esther tetap teguh dan selamat dalam menegakkan kebenaran di negeri tercinta ini.
  8. From AG. Syam on 12 May 2008 11:24:25 WIB
    Bicara mengenai Tragedi Mei 1998, saya teringat kembali buku Marga T \"Sekuntum Nozomi 3\". Pada entri bulan Mei 2006, bung pada pengantar mengenai buku tsb bung Wimar menulis:
    Bulan Mei 1998 tergores dalam ingatan kita sebagai tragedi yang mengerikan dan amat menyedihkan. Pasti juga memalukan karena pembunuhan dan perkosaan, dengan nada kotor rasisme, ternyata merupakan bagian dari karakter masyarakat kita. Sangat sedih kita melihat bahwa pengalaman bersaudara sebagai sesama warga Indonesia selama puluhan tahun, masih memungkinkan segelintir orang memicu penghinaan dan penganiayaan luar biasa.

    Kalau ada yang masih meragukan kekejaman Orde Baru, silakan baca buku ini. Kalau ada yang kurang menyimak detail peristiwa karena banyaknya simpang siur cerita mengenai perkosaan, pembunuhan, dan kebiadaban Peristiwa Mei, silakan baca buku ini. Lebih dari tulisan dokumenter, buku ini memberikan ulasan yang berkesan mengenai kejadian Mei 98, mulai dari perkosaan di bus kota sampai pada pembunuhan gadis korban yang siap melaporkan pelanggaran HAM ke luar negeri. Dengan perspektif para korban yang terdiri atas orang biasa, peristiwa Mei 1998 ditampilkan secara gamblang sebagai tragedi kemanusiaan, bukan sekedar peristiwa politik.

    Selengkapnya silahkan buka archieve bulan Mei 2006. He he he...
  9. From Juswan Setyawan on 12 May 2008 12:27:05 WIB
    Para aktor pemain kotor atau "actor intelectualis" di belakang layar waktu itu masih gentayangan di negara ini tanpa tersentuh oleh hukum (the untouchables). Mungkin di antaranya masih aktif di dunia perpolitikan, kemiliteran dsb. Elit politik incumbent yang lain juga enggan cari setori dengan para "penjahat kebangsaan" yang berpolitik partisan ini karena menilai tidak ada manfaatnya bagi mereka untuk cari-cari gara-gara atau cari penyakit, mendingan cari kuasa atau cari duit, pikir mereka.

    Mereka itu berharap bangsa ini atau rakyatnya kambuh lagi penyakit amnesia massalnya. Ini baru 10 tahun dan masih banyak yang ingat. Nanti kalau sudah 30 tahun yang ingat sudah pada mati atau putus asa untuk menggugat. Dan yang tergugatpun mungkin sudah menghadap yang Mahakuasa terpanggang di neraka berikut dosa-dosanya.

    Rekonsiliasi tidak mungkin terjadi kalau tidak ada pihak yang mau dan berani mengakui kesalahannya telah bermain kotor dengan memanfaatkan "kartu cina" waktu itu. (Cfr. Hentikan Bermain Kartu! Oleh : Juswan Setyawan; 02-Apr-2008, 14:59:18 WIB - [www.kabarindonesia.com]

    Dengan moralitas elit penguasa seperti pada kondisinya sekarang ini kita tidak dapat banyak berharap. Munir yang gigih berjuang nasibnya bagaimana kita sudah tahu semua. Pejuang seperti bu Ester Indahyani Jusuf juga mengakui kerap mendapat telepon ancaman. Emangnya hantu yang mengancam? tetapi tentu saja pihak (dan antek) mereka yang merasa kenyamanannya terganggulah yang sempat-sempatnya untuk mengancam bukan? Itu logika yang paling ceteklah. Dari situ mentalnya juga jelas yaitu pengecut, yaitu berani mengancam vokal seorang perempuan lewat telepon...

    Apa yang sungguh-sungguh bisa kita harapkan dari para mantan penguasa, penjabat atau elit politik yang bermental preman lempar batu sembunyi tangan seperti ini? Hanya Tuhan saja yang tahu !

    Kita rakyat biasa hanya bisa berdoa agar perjuangan kelompok bu Ester dkk tidak akan sia-sia dan pada waktunya akan memberi dampak yang positif bagi bangsa ini.
  10. From endah on 12 May 2008 12:42:54 WIB
    mmm aku support untuk semua orang yang ingin menuntut keadulan. walaupun waktu itu aku tidak mengalami nya secara langsung.
  11. From ACHMAD SADR on 12 May 2008 13:33:24 WIB
    INILAH MOMENTUM YG TEPAT . TUJUK HIDUNG YG TERLIBAT . HAMBAT MEREKA MENUJU RI 1 PADA PILPRES 2009 .
  12. From febrisupit on 12 May 2008 13:44:29 WIB
    ironis:
    ada beberapa tokoh yg dulu menggulirkan REFORMASI, teriak2 REFORMASI, sekarang adem ayem aja di sebuah gedung yang dulu didudukinya sendiri.
    Mei 98 dulu aktifis tsb teriak2 mengajak mahasiswa untuk demo mengusung REFORMASI, sekarang malah duduk dijajaran elit yg gk peduli (baca=MELUPAKAN) 10 tahun lalu.

    apakah REFORMASI awal dari REPOTNASI??
  13. From agustine fransisca bellamia on 12 May 2008 13:46:54 WIB
    Semoga dalam penyeleksian capres & cawapres 2009 nanti, dimasukan pemeriksaan, apakah ybs terkait kerusuhan Mei 1998. Ngeri juga dipimpin sm mantan penggerak kerusuhan. Korupsi nya bisa lbh parah tuh. Beneran, Indonesia malah setelah reformasi tidak merdeka jiwa & batinnya. Plis dong ah, jgn jadikan Indonesia NOTHING
  14. From agustine fransisca bellamia on 12 May 2008 13:55:58 WIB
    MU MENAAAAAAAAANG
    So sorry, Bang WW......
    I still love you and your showeven you don't like the red devil.
    Yah...paling tidak tetap bisa tersenyum meskipun topik hari ini sangat miris. Sepandai-pandai bangkai disembunyikan, jasadnya akan ditemukan juga. You can run, but you can't hide.
  15. From Qorihani on 12 May 2008 14:03:34 WIB
    Kelambanan penyelesaian bahkan pengingkaran terhadap kasus tragedi Mei 98 tidak hanya melukai warga Indonesia yang beretnis tionghoa.

    Lebih jauh lagi, Indonesia seakan mengatakan bahwa diskriminasi masih diperbolehkan bahkan difasilitasi oleh pemerintah. Begitu juga pelanggaran HAM lainnya.

    Bagaimana masyarakat tidak semakin bodoh jika informasi begitu dikuasai oleh kepentingan politik. Padahal masyarakat yang kritis dan cerdas adalah syarat penyelenggaraan demokrasi yang baik.





  16. From hermawan on 12 May 2008 15:25:15 WIB
    kalo mo ngomong masalah tragedi mei kita jangan lupa juga bahwa ada tragedi yang hampir sama tragisnya dengan tragedi mei.
    mengutip ucapan moderator yang mengatakan kalo kita harus mencegah supaya tragedi yang sama terulang kembali, maka kita patut merenungkan tragedi yang menimpa saudara kita di Sidoarjo, lebih tepatnya di Porong.

    Mereka sebelumnya hidup tentram dan nyaman dengan harta benda mereka, tapi sekarang bisa anda lihat mereka mendapat penggantian saja susah, malah sampai sekarang masih bertahan di pasar yang belum jadi. Pernah saya juga melihat berita bahwa mereka mendapat nasi bungkus yang basi... :(

    Padahal kita tau, aburizal bakrie yang baru kemarin di umumkan sebuah majalah ekonomi sebagai manusia Indonesia yang kaya tetapi mana tanggung jawabnya??
    Lumpur Porong malah dijadikan bencana nasional yang berarti semua biaya untuk menanggungnya diambil dari APBN yang notabene nya adalah uang rakyat.

    Rakyat yang bekerja tiap hari diperas oleh negara dengan pajak, yaitu pungutan kepada negara yang terutang oleh orang pribadi dan badan yang dapat di paksakan dengan UU, tanpa MENDAPAT balas jasa secara langsung, yang digunakan negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
    Masalahnya apakah Pajak tersebut digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuan rakyat?? atau digunakan untuk menambal dosa seorang pejabat??
  17. From cordelia on 12 May 2008 16:34:05 WIB
    selalu semangat bangun pagi nonton bang WW di an teve.

    soal tragedi mei 98 ayo buka sampai tuntas biar anak-anak kita generasi penerus bangsa tahu sejarah yang benar tentang bangsanya, dan bukan rekayasa belaka.



  18. From wimar on 12 May 2008 16:51:06 WIB
    saya sangat respek ester karena dia tidak membuat rancu masalah, tapi menjaga kejernihan dengan melihat peristiwa, pelanggaran, penanganan korban dan pencarian keadilan. tidak perlu mencari pelesetan macam-macam, ini adalah tragedi terberat yang menjadi dasar kondisi sekarang
  19. From ABDUL HALIM on 12 May 2008 17:07:39 WIB
    MAKANYA , TUNJUK HIDUNG !! JANGAN BIARKAN SALAH SATU DARI MEREKA MENJADI RI 1 ....!
  20. From Taufik on 12 May 2008 20:32:43 WIB
    Sungguh merupakan tragedi bangsa ini, dua orang jendral yg diduga terlibat atau justeru mendalangi peristiwa Mei 1998 keduanya akan mencalonkan diri sebagai presiden, sebagai bangsa yg berakhlak dan hati nurani, marilah kita berjuang jangan sampai Indonesia dikuasai oleh monster-monster yg berbicara ramah di TV sementara masa lalunya haus darah
  21. From edwin prasetia zen on 12 May 2008 21:05:24 WIB
    bang WW, tolong sekali-sekali dibahas juga donk, tentang motivasi dan ethos kerja rakyat indonesia yang masih sangat kurang,kalo nggak bisa dibilang hampir tidak ada sama sekali. Biar rakyat punya spirit buat merubah nasibnya sendiri. Jangan cuma ngritik pemerintah melulu. adakalanya rakyat juga mesti introspeksi!, OK! Sukses terus buat Perspektif!
  22. From |richard.p.s| on 12 May 2008 21:59:29 WIB
    Saat itu banyak tertulis: "Milik Muslim". Itu pelecehan berat, seolah-olah pelakunya pemeluk Islam. Para pemimpin Islam perlu bersatu guna mengungkap dalang sesungguhnya.
  23. From djunaedird on 12 May 2008 23:20:50 WIB
    Kira-kira kapan ya para pelakunya sadar diri.
    Kalau tidak, kasihan sekali mereka di akhirat nanti.
    Mungkin, nggak bakalan bisa mencium aroma sorga.....
  24. From handoko wiguna on 12 May 2008 23:20:56 WIB
    saya org daerah , dengar2 aktor2 intelektuanya sdh menjadi rahasia umum , tolong dong diberitahu nama inisialnya , supaya kita tdk terjebak oleh sepak terjang mereka pada pilpres 2009 .
  25. From Rangga Aditya Septaputra on 12 May 2008 23:48:15 WIB
    Jujur saya masih ingusan dan belum tahu peristiwa 10thn itu (terlebih lagi semenjak tahun 1997-2000 saya di negeri oranglain). Saya pertamanya merupakan salah satu dari orang yang menyangkal bahwa \'tidak mungkin saudara-saudara saya melakukan perbuatan bejat terhadap masyarakat etnis\'. Tapi ketika di dunia kampus dan berteman dengan orang yg pernah merasakan kekerasan dan diskriminasi. Itu membuat mata saya terbuka. Bahwa itu memang terjadi. Namun ibu ester lebih memberikan penjelasan yg lebih masuk akal terhadap apa yg terjadi. Bahwa memang ada GRAND DESIGN. Ada yg ngatur agar kita saling membenci satu sama lain.
    Saya jadi memiliki harapan bahwa etnis cina pada umumnya tidak membenci pribumi. Namun rupanya ada pihak yg masih memakai formula dari belanda \'devide et impera\'. Membuat kita terpecah belah.

    Ayo indonesia jangan terperosok di lubang yg sama. Waspada para provokator yg ingin memecah belah negeri kita.
  26. From Juswan Setyawan on 13 May 2008 08:26:30 WIB
    Kala itu gajah bertarung dengan gajah sehingga pelanduk mati ditengah-tengah. Yang penting jangan sampai gajah-gajah ini kembali bertarung sengit dan semakin banyak lagi pelanduk mati. Bahkan bukan hanya pelanduk, segala macam kelinci, trenggiling, celeng, ayam hutan, bahkan bekicot pun remuk semua ditengah-tengah...
  27. From Nes on 13 May 2008 12:46:19 WIB
    bravo, pak wimar =) sudah 10 tahun tragedi ini, dan hanya acara pak wimar yang berani mengupas2 kembali tragedi ini.

    mengenai kesenjangan sosial, saya rasa itu perspektif kuno kalau orang tionghoa= kaya. wong banyak sekali ibu2 pejabat yang terhormat yang jauh lebih kaya sampai2 belanja saja harus ke luar negeri. kalau dibilang etnis tionghoa itu 'memamerkan' kekayaannya, saya rasa itu hak mereka. banyak kita lihat di mal- mal atau jalan- jalan jakarta kaum etnis tionghoa yang 'kinclong' tapi bukan berarti hanya mereka saja toh =)

    yang perlu ditekankan disini bukanlah mengenai kesenjangan ekonomi walau sedikit banyak hal itu mempengaruhi persepsi masyarakat, namun anggapan bahwa kaum tionghoa itu 'asing' dan nasionalisme konyol yang menganggap bahwa 'orang asing kok kaya, kita aja kere' (masih banyak lho orang yang berpikiran seperti ini, walaupun tidak segamblang ini)

    intinya, penerimaan dan apresiasi atas pluralisme (tidak hanya ras tapi juga agama) itu harus diajarkan sejak dini di dalam masyarakat.

    just my 2cents
  28. From Nes on 13 May 2008 12:53:05 WIB
    menambah sedikit, saya heran kok orang- orang masih keukeuh ya pak bilang kalo tidak ada pemerkosaan dan lain sebagainya?

    tahun 1998 - 2000, banyak sekali teman2 saya di luar negeri yang mempertanyakan hal itu kepada saya. apakah benar di Indonesia telah terjadi pelanggaran kesusilaan dan moral yagn sedemikian brutalnya. toh berita tentang ini tersebar pula di negara lain, di internet. dan saya cuma bisa mengiyakan, ya benar itu terjadi.

    bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak malu akan sejarahnya. dan tragedi ini adalah bagian dari sejarah kita. supaya setiap kali kita menoleh ke belakang, kita tidak malu akan tragedi yang tak jelas dan tidak ada penyelesaiannya ini, bukankah seharusnya pemerintah secara tegas mengusut kasus ini? alih2 hanya janji palsu demi menarik simpati rakyat ataupun membiarkan kasus ini agar terlupakan dan jadi 'basi'....

    salut untuk Ester =)
  29. From Bram on 13 May 2008 14:46:50 WIB
    Kepada Saudari Ester,
    Saya ingin agar anda dapat melakukan pameran serupa di berbagai kota di Indonesia agar seluruh Indonesia tahu bahwa kejadian itu adalah rekayasa. Saya harap inti daripada pameran tersebut dapat diberitahu di media massa dan media elektronik. Terima kasih.
  30. From tom aries on 13 May 2008 18:52:13 WIB
    tragedi mei 98.

    ini adalah langkah awal bagi kembalinya peradaban lama, maaf kalau saya tidak terpaku pada mei 98. sama seperti saya tidak terpaku untuk mencari tiap kesalahan harus berasal dari luar.
  31. From Agus Pang on 13 May 2008 23:59:24 WIB
    Kita tidak meminta untuk dilahirkan sebagai keturunan etnis apapun, karena kita tidak dapat memilih dikeluarga mana kita akan dilahirkan.
    Kalau ditanya: Apakah benar ada pemerkosaan pada tragedi Mei 1998?
    Saya yang tidak menyaksikan kejadian itu, tentu akan bilang mungkin tidak.
    Tapi saya sebagai salah satu korban tragedi Mei --- yang saya sebagai pria keturunan Tionghoa yang pada saat itu sepulang kantor, mengendarai sepeda motor, dicegat ditengah jalan di lampu merah cengkareng, disuruh membuka helm, dan diteriaki : \'gara-gara cina kita jadi susah\', dirampas motor, diambil semua milik kepunyaan saya, dan dipukuli dengan batu sehingga kepala saya berdarah dan harus menerima 2 jahitan, harus pulang dengan sekujur tubuh berlumuran darah --- saya dengan yakin katakan PASTI ada kejadian pemerkosaan terhadap kaum perempuan keturunan Tiong Hoa Indonesia.
    Semoga keadilan dapat ditegakkan di negeri kita.
    Doa saya : Semoga orang-orang yang menganiaya saya, semoga Tuhan menggugah hati mereka, melunakkan hati mereka untuk menyesali perbuatannya, dan bertobat dihadapan TUHAN. Amin.
  32. From Darwin Abdullah on 19 May 2008 10:51:42 WIB
    Pemerintah harus mengakui bahwa Tragedi Perkosaan pada Mei 1998 itu adalah benar-benar terjadi, sehingga tidak menjadi beban bagi bangsa ini di masa mendatang. Jika pemerintah masih plin-plan, maka bangsa ini tidak akan beranjak dari kesalahan-kesalahan masa lalu yang mengakibatkan ada duri di dalam daging yang mengganggu jalannya bangsa ini untuk menjadi suatu bangsa yang besar yang berani mengakui kesalahan-kesalahan masa lampau, sehingga bangsa ini bisa menjadi bangsa yang dihormati oleh bangsa-bangsa lain di pergaulan internasional. Semoga ada pemimpin yang punya keberanian untuk mengakuinya.
  33. From Sudarjanto on 20 May 2008 07:39:13 WIB
    Suatu Kerusuhan yang direkayasa oleh pihak penguasa guna mempertahankan kekuasaan dengan mengorbankan rakyat yang tak berdosa.terbukti dengan perekrutan preman2 sebagai provokator oleh para jendral namun tidak pernah terjangkau oleh hukum dan keadilan yang sangat lemah dinegeri ini.
  34. From Fortynine on 21 May 2008 18:35:39 WIB
    Bukan cuma tragedi Mei dan korban korbannya dan fakta sejarahnya yang perlu diungkap dari kegelapan.

    Masih banyak juga yang lain seperti misalnya fakta jelas tentang G 30 S PKI dan Tragedi Tanjung Priok.

    Sekarang pertanyaan terbesarnya adalah: Mampukah Indonesia?
  35. From Aak palembang on 04 June 2008 15:48:55 WIB
    habizlah negara ini, org komandan nya aja semua jd capres.!!
    gimana mw terungkap,kroni\'2 nya itu hrs d asingkan dlu bung.

    riindu ku,, kpn yah..bung karno reinkarnasi.??????
    bear semua kta2 nya bs smgati kita lg,untuk maju bebas dr semua PENJILAT\'2 yg d produksi oleh ngra kita ini.

    saran saya untuk masy.indonesia jgn prnah lpkan sejarah.!!
    wlwpun sjarah itu byk yg menipu.

    buat pra kluarga korban krusuhan truslah berjuang agar jasad mereka tidak hilang dg sia-sia.
  36. From agus on 11 June 2008 01:30:21 WIB
    Photo dan fakta/kenyataan sudah berbicara jelas dan banyak.
    Tidak bisa dibuktikan karena ditangani secara "heavy handed"
    Yang menangani jelas punya power dan invisible/tidak terlacak/tidak nampak dan tentu "merasa" tanpa kendali dan jelas arrogant/sombong.
    Kita lihat saja bagaimana sejarah membuktikan, bhs.Jermannya :
    Aller Anfang sechwer, Kommt Zeit Kommt R....
    (setiap permulaan sulit,waktu juga yg membuktikan).
    Salam, Merdeka Bung !
  37. From kia on 20 June 2008 20:52:33 WIB
    Selama indonesia dipimpin oleh orang tidak bermoral, maka negara ini... dgn perlahan... tapi pasti.. akan hancurrr!!!
  38. From femy on 17 July 2008 19:54:44 WIB
    peristiwa kerusuhan 1998 proses hukumnya sepertinya menghilang begitu saja para pihak yang terkait sepertinya takut mengungkapkan kembali fakta-fakta yang ada.apa kata dunia terhadap HAM negara indonesia?? mahasiswa kok sukanya menjarah, dan tidak bisa menerima perbedaan etnis? kalo hanya mau hidup dalam golongan sendiri jangan suka cemburu pada etnis lain. apa kita mau disebut sebagai bangsa yang menyukai kekerasan?
  39. From eveline on 22 October 2008 19:58:16 WIB
    lambang indonesia ini kan bhineka tunggal ika yang artinya "beda2 ttpi tetep 1 jg"......
    kayaknya itu harus diganti deh...
    diganti dengan lambang burung gagak ato burung perkutut....
    selama negara ini beda-bedain ras, rasanya kata merdeka itu jauh banget...

    mau beda etnis kek, beda ras kek, toh kita semua sama2 manusia, makan nasi juga, ngehirup udara sama. emangnya kita bisa nentu'in kita mau jadi orang bule, cina,jawa.

    peristiwa pemerkosaan Mei 1998 itu bukannya "kemungkinan bisa diungkap".....
    tetapi "harus diungkap"
  40. From ROBBY on 07 November 2008 13:47:46 WIB
    PADA SAAT TERJADI KERUSUHAN PEMIMPIN MILITER YANG MUNCUL DI TV(YANG TIDAK MELAKUKAN APAPUN)ADALAH WIRANTO DAN DI BELAKANGNYA ADA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO YANG SEKARANG JADI PRESIDEN DAN SAAT SAYA MENULIS INI WIRANTO INGIN MENJADI PRESIDEN,SAYA TIDAK TAHU BERAPA BANYAK LAGI ORANG ORANG YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS KEJADIAN ITU MENJADI PEJABAT TINGGI SEKARANG.TAPI KENYATAAN MEMBUKTIKAN SELAMA SBY MENJABAT PRESIDEN BANYAK BENCANA TERJADI DAN NEGARA MAKIN SUSAH, JADI JANGAN PILIH PARA PENJAHAT TERMASUK YANG WAKTU ITU TIDAK TERLIHAT, HATI HATI !!!
  41. From Sandy on 01 December 2008 18:03:24 WIB
    Saya sebagai warga etnis tionghoa jujur saja terbakar emosinya ketika membaca email2 yang dikirimkan melalui berbagai email provider seperti hotmail, gmail dan lain lain. Kebenaran tragedi Mei 2008 sampai sekarang masih mengambang - ambang. di satu sisi, TPFG menyatakan peristiwa tersebut benar adanya, tapi disisi lainnya (maaf, bukannya ingin membawa2) FPI dengan tegasnya menolak fakta yang disodorkan TPFG tersebut.

    Kalaupun saya bukan warga etnis tionghoa, seyogyanya mendengar nama FPI saya akan berpikir dua kali untuk percaya... Kenapa? Bagaimana dengan kasus AKKKB di Monas? Bagaimana dengan sweeping2 yang terkesan main hakim sendiri? Bagaimana dengan kasus kasus FPI yang terkesan seperti preman yang berkedok Agama?

    Saya seorang Kristen, dan saya tidak pernah memilih milih teman, Sahabat Baik saya malah orang Batak dan Manado, banyak teman2 saya yang memeluk Islam sebagai jalan hidup mereka dan saya tidak melihat SEDIKITPUN kesan FPI yang melekat di mereka. Islam, Kristen, Buddha, Hindhu, Katolik (ya kristen juga) pada hakekatnya adalah AGAMA YANG BAIK. apa ada agama yang mengajarkan kita membunuh, memperkosa itu baik? di agama Kristen saja ada hukum2 taurat yang bersifat mendidik pemeluk agamanya agar hidup rukun tanpa iri dan dengki. saya YAKIN, di Islam jg ada. Di Buddha juga ada, Di Hindhu juga ada.

    Tragedi Mei 1998, mungkin setara dengan tragedi Hollocaust di Jerman, ketika orang2 Nazi ingin menyapu bersih orang2 Jahudi. tetapi setidaknya mereka mau mencoba memperbaiki kesalahan kesalahan mereka yang lalu. ada klausul di Jerman yang menyatakan \"Ausländergesetz\" yang kasarnya berarti \"Permohonan maaf kepada pendatang/penduduk yang merupakan keturunan asing\".

    Kapan masalah ini akan diluruskan? mungkin itulah yang ada dibenak semua orang yang merupakan korban langsung maupun tak langsung tragedi mei 1998, saya juga. ketika kerusuhan mei 1998, saya masih berusia kurang lebih 13 tahun dan saya sampai sekarang masih takut apabila bisa terjadi lagi peristiwa tersebut, mungkin tidak di jaman sekarang, mungkin nanti kedepannya.

    Saya sangat sadar bahwa di dunia ini, RASISME masih menjadi masalah utama yang sangat sulit untuk di tumpas.

    Ketika jaman orang tua dulu mungkin yang membuat etnis tionghoa tidak dapat hidup rukun (bahkan mungkin dendam atau takut) dengan masyarakat pribumi adalah penganiayaan terhadap pedangang tionghoa pada masa G 30 S PKI.

    Manusia, alaminya memiliki ingatan seperti gajah. NEVER FORGET (tidak pernah melupakan) para orang tua ada juga yang mengatakan agar tidak terlalu berteman dengan masyarakat pribumi, dan demikian juga beberapa masyarakat pribumi juga kalau melihat warga keturunan ada yang menjauhi. Bukankah kita sama2 manusia?

    Sedangkan G 30 S PKI masih segar teringat di benak orang tua kita (tahun 1965) Terjadilah tragedi mei 1998 berselang 33 tahun saja. bayangkan, 60% (hitungan kasarnya) manusia yang hidup (pribumi dan keturunan) di jaman itu masih hidup sampai jaman ini. BAGAIMANA WARGA KETURUNAN BISA SEMBUH LUKA HATINYA ketika terus menerus yang menjadi korban adalah warga keturunan?

    Orang2 yang melakukan kejahatan ini bukan Muslim. Terorisme, pelaku mei 1998, G30S mereka semua orang2 kafir yang mengatasnamakan agama.

    Warga Etnis Tionghoa saya rasa tidak meminta banyak. Kami hanya minta keadilan, diperlakukan sama seperti warga keturunan, bahkan tidak perlu menulis WNI - KA ketika mengisi formulir formulir tertentu.

    Pecahkan lah kasus Mei 1998. siapa pelakunya, jangan alasannya Pelakunya kabur keluar negeri. Bukankah itu menampar departemen Imigrasi tepat dimuka mereka? Kalau dicari pasti dapat - seperti Firman yang berkata \"minta lah maka kamu akan mendapatkannya\" - Imigrasi kan punya data datanya?? Wong Amerika aja bisa nyari teroris sampe ketahuan sembunyi di lobang tikus yang mana? koq kita susah?

    Mungkin kerusuhan yang dulu dulu itu diakibatkan Masyarakat pribumi yang sensi dengan etnis Tionghoa yang PRO BELANDA, tapi nyatanya tidak semua etnis tionghoa itu pro belanda. ada juga yang PRO INDONESIA. saya sendiri 5 tahun diluar negeri namun ketika mendengar Indonesia digunjingkan oleh masyarakat pribumi negara tempat saya tinggal dulu (Australia dan Malaysia) saya malah emosi dan saya langsung membela Indonesia. Ketika orang2 menggunjingkan Indonesia melalui blog blog tertentu saya juga ikut membela negara ini.

    Kaum etnis tionghoa sudah lama tinggal di Indonesia. bukan dari kemarin kok. kami berbicara bahasa Indonesia dengan fasih, kami juga sudah beranak cucu di Negara tercinta ini. masih kurang apa?

    Katakanlah banyak yang suka mengatakan \"banyak orang tionghoa yang masih berkumpul dengan sesama rasnya saja\"

    saya ingin bertanya \"Apakah orang Batak tidak begitu? Apakah orang Manado tidak begitu? Apakah orang Jawa tidak begitu?\" Soal bahasa china, bahasa daerah itu kan memang ciri khas kita?? Kan aneh kalo orang Papua ketemu orang Papua harus berbicara bahasa Indonesia? siapa tahu mereka rindu kampung dan ingin berbicara dengan menggunakan bahasa Ibu mereka? Bagi etnis tionghoa kan itu bahasa daerah juga?

    waktu terus berlalu, yang sudah terjadi tidak bisa dikembalikan, tapi apa yang belum terjadi bisa dicegah. Pemilu 2009 akan menjadi panggung dimana para pelakonnya semua akan berlomba lomba menyatakan janjinya yang nyatanya terbukti B.O.H.O.N.G.

    Gubernur silih berganti, Walikota dan pemimpin daerah pun silih berganti. 10 tahun ini tidak ada perubahan signifikan, jalan - jalan masih rusak, Harga kebutuhan masih rendah, Gaji minimum pun rendah, Terlalu banyak warga miskin, kredibilitas instansi pemerintah pun masih diragukan. Pemimpin pemimpin yang seyogyanya diharapkan tegas ternyata tidak mampu menyelesaikan sengketa pembebasan tanah Kanal Air di Jakarta, Banjir masih dimana mana. Kapan kita sebagai Bangsa Indonesia akan maju?

    Maaf sudah panjang lebar saya menulis ini. Bukan untuk menarik simpati, bukan untuk memancing amarah, bukan juga untuk membela kepentingan kaum tertentu. comment box ini diciptakan kan juga untuk diisi? kan begitu?

    MARI KITA JALANKAN \"UNITY IN DIVERSITY\" (berbeda beda tapi tetap satu jua)

    jangan \"UNITY IN NEED\" (bersatu ketika perlu - ketika ada bencana semuanya baru kelihatan tolong menolong - pengen masuk TV ya??)

    Pada Akhirnya lagu Linkin park terbesit dalam benak saya. \"In the end... It doesn\'t really matter\" namun ingin saya tambahkan - It doesn\'t really matter who\'s who and what\'s our past. Let\'s look forward not backward (artinya tidak begitu dipermasalahkan siapa itu siapa dan apa masa lalu kita - mari melihat ke depan bukannya ke belakang) AMIN saudara2??
  42. From Sandy on 01 December 2008 18:36:21 WIB
    RALAT : Warga Etnis Tionghoa saya rasa tidak meminta banyak. Kami hanya minta keadilan, diperlakukan sama seperti warga keturunan, bahkan tidak perlu menulis WNI - KA ketika mengisi formulir formulir tertentu.

    SEMESTINYA "Warga Etnis Tionghoa saya rasa tidak meminta banyak. Kami hanya minta keadilan, diperlakukan sama seperti warga (PRIBUMI), bahkan tidak perlu menulis WNI - KA ketika mengisi formulir formulir tertentu."

    Mohon maaf yang sebesar besarnya
  43. From oneng on 02 December 2008 04:02:39 WIB
    percuma mengumpulkan data2 dalang kerusuhan mei kalau
    dilaporkan ke komnas indonesia.lapor aja ke amrik seperti irak yang sekarang diduduki oleh amerika.maunya saya juga biar indonesia ini dijajah atau diduduki oleh amerika
  44. From oneng on 02 December 2008 04:03:21 WIB
    percuma mengumpulkan data2 dalang kerusuhan mei kalau
    dilaporkan ke komnas indonesia.lapor aja ke amrik seperti irak yang sekarang diduduki oleh amerika.maunya saya juga biar indonesia ini dijajah atau diduduki oleh amerika
  45. From Teja on 15 March 2009 14:07:40 WIB
    Sudah jadi rahasia umum: Jendral yg SANGAT BERKUASA saat itu yg menculik/membunuh pahlawan reformasi.
    Jendral itu bisa bypass \"SENIOR2NYA\" dlm segala keputusan.
    Semua jendral2 takut ke : DIA.
    Hanya Suharto saja yg DIA segani.
    Dia sangat TEMPERAMENTAL dan KEJAM.
    Sekarang DIA ingin jadi capres 2009.
    Temen deketnya diKopassus...terlibat pembunuhan tokok HAM MUNIR.
    Yang sangat membingungkan, mengapa DIA masih ditakuti sampai sekarang?
    apakah Jendral2, President, Kapolri takut ke DIA?
    Membongkar pelaku2 \"BOMB BALI\" bisa dibongkar...dpt pujian International! Kok kasus Mei 1998...susah banget???
    sejauh ini...hanya Letjendral (Purn) Sintong Panjaitan yg berani menulis tentang DIA!
    Sangat memprihatinkan...tragedi dizaman modern ini, tdk terungkap!
    Apakah memang nasib sejarah NKRI, semua kasus2 berat TDK AKAN TERUNGKAP! Untuk apa pelajaran sejarah ?
  46. From didod on 17 March 2009 20:20:21 WIB
    SUMPEH...jangan sampe tuh orang jadi pemegang kekuasaan di negeri ini, gawat..gawat...semboyan-nya aja mo jadiin Indonesia jd \"macan Asia\" lagi, seolah-olah beliau mo ngembali\'in kejayaan OrBa....aaaaaakkkhhhh.....waspadalah..waspadalah :: bahaya laten !!!!!!

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home