Articles

Rizal Ramli: Berbahaya Menaikkan Harga BBM

Perspektif Wimar
13 May 2008

Oleh: Didiet Adiputro

Setelah minggu lalu Faisal Basri menyatakan perlunya kenaikan harga BBM secara bertahap, dalam edisi  Perspektif  Wimar kali ini Mantan Menko Perekonomian Dr. Rizal Ramli yang menjadi narasumber, dengan tegas menolak kenaikan harga BBM yang dinilai akan membuat rakyat tambah babak belur karena harga pangan yang juga sudah naik. Wimar Witoelar ditemani Cathy Sharon sebagai co-host akan membahas masalah kenaikan harga BBM dalam perspektif yang berbeda.

Menurut Rizal, persoalan kita sebenarnya sangat sederhana, karena produksi minyak pada pemerintahan Presiden SBY anjlok sampai 300rb barrel. Sementara kita import sampai 300rb barrel melalui mafia di Singapura, dimana para mafia tersebut mengambil untung sampai 2 dollar/barel atau Rp. 6 Milyar sehari. “kenapa Presiden nggak berani sama mafia tapi berani sama rakyat?”, ujar pendiri Econit ini.

Bukan cuma melontarkan kritik tanpa solusi, Rizal juga memberikan berbagai alternatif cara untuk mengatasi persoalan pelik ini tanpa menaikan harga BBM. Antara lain:

  1. Pemerintah harus mengurangi subsidi untuk bank rekapitalisasi sebesar Rp.30 Trilyun. Karena bunga bank rekap hanya dinikmati oleh orang-orang yang super kaya.
  2. Benahi inefisiensi di PLN dan Pertamina, karena biaya produksi Pertamina sangat mahal dan banyak mafianya.
  3. Kita menaikan produksi minyak dengan cara membubarkan BP Migas.
  4. Harus ada visi ke depan, dan tidak bisa hanya memakai visi ala mahasiswa kos-kosan. Karena bagi Rizal, pemerintah sekarang persis mahasiswa kos-kosan yaitu selalu utang, privatisasi BUMN dan menaikan BBM.
  5. Negosiasi utang luar negeri seperti pemerintahan Argentina.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tahun ini sebesar Rp.14-17 Trilyun dan Rp.52 Trilyun pada tahun 2009, dinilai Ketua Komite Bangkit Indonesia ini sebagai ‘suap politik’ supaya Presiden Yudhoyono bisa terpilih kembali. Jika dana BLT itu dibuat irigasi atau membangun jalan, maka akan memiliki nilai tambah sampai 3-4 kali lipat. “jadi ini lebih kental nilai politiknya”, tutur Rizal.

Jadi selama 40 tahun terakhir, yang bangkit itu hanya 20 persen masyarakat kita, sementara 80 persen lainnya jalan di tempat. Sehingga jika dilihat secara komparatif, maka kita masih kalah jauh dari negara-negara Asia lainnya seperti Malaysia, Korea, bahkan China.

Emang susah jadi masyarakat, kalau harga BBM naik, kita bisa repot karena harga-harga jadi tambah tak terjangkau, kalau terus disubsidi maka APBN bakal terancam karena lebih dari Rp.200 Trilyun subsidi yang harus dikeluarkan hanya untuk dibakar menjadi asap kendaraan.

Baca juga:

Print article only

75 Comments:

  1. From Nining NP on 13 May 2008 09:03:08 WIB
    Inilah the real PW.... "obrolan" yang sangat kutunggu...
    Info yang selama ini "nggak" (secara gamblang) dipublikasikan. Lima poin jawaban Rizal itu HARUS JADI KEBIJAKAN pemerintah SBY. Sekaligus BANGKIT dan UNJUK KEBERANIAN (sekalian peringatan 20Mei)..... Bravo PW, bravo WW and Cathy
  2. From febrisupit on 13 May 2008 09:07:46 WIB
    masyarakat bawah punya pertanyaan:
    1. "oom pemerintah, kira2 besok saya masih bisa beli makan gak ya?"
    2. "kira2 di Indonesia kapan premium bisa turun ya oom?"
    3. "aku gak ngerti sama harga minyak per barel atau import minyak indonesia per barel, aku cuma mo tanya harga minyak seliter kapan bisa tetep (stabil) oom??"

    ps.
    jangan omong tinggi oom, kita yg dibawah gak ngerti, wong sekolah aja susah...

    MAJU TERUS INDONESIA !!
    (??)
  3. From zullisaprilla on 13 May 2008 09:11:20 WIB
    Bang Rizal ,saya dukung atas tantangnya untuk adu argumen atas recana kenaikan BBM ,dengan SBY berserta jajarannya.
    Saya berharap ada station TV yang dapat memfasilitasnya, supaya raktyat INDONESIA tahu masalah sebenarnya,atas kebijakan Pemerintah. Selama ini Rakyat Indonesia , menerima saja makananan yang namanya "SUBSIDI".
    Sekali lagi saya berharap ada pihak netral ,yang dapat mempertemukan Bang Rizal Ramli dan SBY ,di forum terbuka.
    Ini semua bukanlah usaha untuk saling menjatuhkan ,tetapi hal lebih besar yaitu untuk "KEBANGKITAN NASIONAL JILID II" .
  4. From agustine fransisca bellamia on 13 May 2008 09:13:19 WIB
    suatu kenyataan memang pahit, jenderal.....
    Gak nyangka aja suntikan subsidi ke yang lain itu malah sangat-sangat besar. Wah....bikin forum terbuka aja deh sebelum keputusan kenaikan BBM dijatuhkan. Yang jelas, saya setuju pajak kendaraan mewah naik. Kan waktu bahas kenaikan BBM dari awal saya sudah bilang, naikan pajak kendaraan bermotor. Entah mobil, entah kendaraan bermotor roda dua. Biar jalanan juga gak terlalu macet. Wong jalan sudah segitu-gitunya, ini mobil & motornya nambah terus. Logika, macet dong.
  5. From ivo vauzi on 13 May 2008 09:14:42 WIB
    Menarik sekali perbincangan dalam perspektif wimar tadi pagi. Saya sebagai masyarakat awam, ternyata menjadi tahu, bahwa ternyata, begitu sangat tidak berpihaknya pemerintah terhadap rakyat kecil, yaitu dengan mengorbankan rakyat kecil demi mengamankan beban APBN melalui rencana kenaikan BBM, yang menurut Bp Rizal bukan hanya satu-satunya cara, tetapi masih ada cara lainnya yang lebih pro-rakyat. Terlebih dengan ucapan Wapres JK di salah satu berita yang menyatakan kenaikan BBM tidak bergantung dengan DPR RI, yang menurutnya, berarti kenaikan BBM merupakan hak sepenuhnya pemerintah. Miris sekali hati rakyat kecil, melihat sikap pemerintah dan fakta lain yang masih mungkin diambil demi mengamankan beban APBN versi Bp Rizal. Kapan kira-kira kita semua (baca:rakyat kecil), sebagai mayoritas bangsa RI, merasakan keadilan dan kemakmuran, seperti hal-nya Singapura yang notabene, tidak memiliki SDA. Anyway, sayang sekali, perspektif wimar hanya 30 menit euy, coba kalo bisa tayang 60 menit, bakal lebih banyak info yang bisa kita terima bukan?
  6. From reza on 13 May 2008 09:17:16 WIB
    Hidup bang rizal... bangkitkan semangatmu... semangat kita..
    Selama ini rakyat hanya jai objek kepentingan penguasa, pemerintah tdk akan pernah merasakan ngantri sembako apalagi minyak, smua yg digunakan adl fasilitas dari rakyat uang rakyat.... pemerintah tdk akan pernah merasakan penderitaan ekonomi karena smua dah disediain rakyat.. tetapi itu tdk pernah dipikirkan, yg ada diotaknya hanya politik gimn bisa menang pemilu... sungguh ironis dan memprihatinkan... kita tunggu aja apakah pemerintah akan membuat kebijakan membunuh massal mahasiswa.. yg menyuarakan rakyat... Hidup mahasiswa.....
  7. From cordelia on 13 May 2008 09:20:04 WIB
    dengan semakin terbukanya fakta melalui berbagai media, harusnya permerintah juga semakin bijak dan transparan karena rakyat bukan hanya pion yang bisa "diapa-apain".

    ayo dong para ahli berkumpul dan bicara lantang kepada pemerintah supaya melakukan hal yang "benar" dan tidak merugikan rakyat lagi..please..please...

    bang WW, tambah durasi doong
  8. From agung gunawan raharja on 13 May 2008 09:26:27 WIB
    betul itu pak rizal, emang selama ini pemerintah kita beraninya hanya pada rakyatnya sendiri=rakyat kecil, yang walaupun jumlahnya sangat banyak (ratusan juta jiwa) tapi tidak akan berani berbuat macam-macam (pikir-mereka/pemerintah)dan sudah pasti kalau ditakut-takuti oleh "aparat" akan langsung melempem=takut. kalau terhadap segelintir orang yang seperti dikatakan oleh pak rizal "mafia" baik itu dari pihak luar(asing) maupun lokal (bangsa kita juga) pemerintah KEOK, ga' ada nyali.
    emang susah sih kalau punya pimpinan yang hanya bisa tebar pesona, mengandalkan postur tubuh (penampilan) saja tapi tidak berani mengambil kebijakan yang SPEKTAKULER dan wakilnya yangberasal dari kalangan pengusaha (konglomerat), ujung-ujungnya dalam mengambil keputusan yang dihitung untung-rugi bagi dia (perusahaan dan komunitasnya=konglomerat) kalau begini terus...........ya lama-kelamaan rakyat kita akan MATI SECARA PERLAHAN...
    untuk itu, dalam masa pemilu yang akan datang, pilihlah calon pemimpin yang benar-benar punya keinginan untuk memperbaiki nasib rakyatnya, bukan nasib keluarga atau golongannya saja. bila tidak ada yang bisa kita anggap pantas........mengapa tidak kita melalukan GOLPUT MASAL.
    rakyat tidak perlu takut, karena memilih itu adalah hak rakyat, jadi bila tidak ada yang bisa memperbaiki nasib rakyat lebih baik rakyat memilih untuk TIDAK MEMILIH...!!! mengapa tidak?
  9. From wid on 13 May 2008 09:33:04 WIB

    Hidup Rizal Ramli ..... Pemerintah harus kreatif dong, jangan hanya cari gampang dengan menaikan BBM.

    Kenaikan BBM memang perlu, tapi saat ini lihatlah kondisi masyarakat menengah bawah.

    btw, Suka nyebelin deh kalo di pom bensin ... Mobilnya mewah ngisi bensinnya Premium juga ....
  10. From Yan Haryanto on 13 May 2008 10:04:46 WIB
    ~
    Tadinya saya agak sesak, semua pemikiran orang pintar mengarah ke kenaikan harga [BBM]. Tapi pagi ini saya merasa agak segar, seperti melihat setitik cahaya di kegelapan, menyaksikan penampilan dan pendapat Bung Rizal.

    Terus terang, saya tidak tahu yang baiknya itu pendapat BBM naik atau tidak, tapi paling tidak, pendapat dari Bung Rizal pagi ini membuka perspektif baru.

    Bravo bung WW dengan PW-nya.
  11. From Yugo Isal on 13 May 2008 10:09:55 WIB
    Wah, episode ini sarat dengan informasi dan sentilan pedas kepada pemerintah. Ketidak'betjoes'annya mengikis inefisiensi di berbagai aspek diwujudkan dalam berbagai ke(tidak)bijakan yang ditimpakan langsung ke rakyat.
    Di luar iklan, setiap menit pada episode ini selalu bernas; dan makin terasa durasi CUMA 30 menit tidak cukup.
  12. From UmanK on 13 May 2008 10:23:12 WIB
    Terlepas dari masalah naiknya BBM, memang ternyata banyak dibutuhkan acara yang BERANI mengambil narasumber yang BERANI bersuara juga!! Sehingga masyarakat tahu apa yang sebenarnya terjadi di lingkungannya... Btw, untuk topik yang satu ini saya setuju kalo durasinya sangat kurang.
  13. From Kusno on 13 May 2008 10:41:52 WIB
    PW hari ini bagus sekali karena memberikan Perspektif baru, setelah beberapa minggu lalu tampil bang Faisal Basri dengan dukungannya terhadap kenaikan BBM yang membuat saya berpikir bahwa apa yang disampaikan bang FB itu benar apa adanya.
    TAPI..bang Rizal Ramli memberikan argument yang bertolak belakang dengan bang FB sehingga saya punya sedikit keyakinan bahwa BBM tidak harus dinaikan.
    jadi untuk PW, bagaimana jika menfasilitasi debat terbuka antaran bang FB dan bang RR ?. Sehingga rakyat bisa melihat mana yang baik di antara argument beliau-beliau di atas ?
  14. From Afif on 13 May 2008 10:46:26 WIB
    mohon utk kedepannya kalau bisa agar setiap acara dibuatkan videonya. seperti acara kick andy
  15. From bennyputera on 13 May 2008 11:04:29 WIB
    Aku baru liat bang WW speachless pagi ini. Biasanya pertanyaan demi pertanyaan meluncur begitu saja, tapi kali ini...Hehehe.... Kita emang gampang digiring pada satu hal saja ya, seolah menaikkan harga BBM adalah jalan terakhir. Ternyata nggak juga ya.... Tambahan lagi, Saya juga dari dulu gak setuju sama BLT. Soalnya kita bisa lihat waktu pemberian subsidi BBM tunai saja ternyata tidak dimanfaatkan yang semestinya dan jadi membuka peluang korupsi. Pandangan Bang Rizal ttg ini sebagai 'suap politik' mengakurkan pikiran saya selama ini. Thanks Bang Rizal yang selalu membuat ekonomi makro jadi mudah buat saya yang awam.
  16. From Jaya on 13 May 2008 11:10:29 WIB
    Bang WW,

    your show need more time, please! I beg you.!

    30 minutes is way too short for this caliber kind of talk show.
  17. From echin on 13 May 2008 11:23:57 WIB
    Naikin aja harga BBM daripada diselundupin ke luar negeri, karena disparitas harga yang tinggi, tetapi kompensasinya jangan BLT, bikin aja sentra-sentra ekonomi di pedesaaan, dan kantung-kantung kemiskinan yang dikelola oleh masyarakat setempat
  18. From dwipo on 13 May 2008 11:52:32 WIB
    saya pikir BBM memang sudah seharusnya naik, karena subsidi tersebut tidak tepat sasaran. Mungkin yang perlu dilakukan adalah subsidi dialihkan pada angkutan umum dan barang sehingga biaya distribusi barang dapat dipangkas.
    Soal subsidi pada bank rekap dapat digunakan untuk pendidikan yang semakin mahal.
    Semua bisa mudah asalkan ada kemauan.
  19. From juswan on 13 May 2008 12:24:53 WIB
    Saya usul minimal pak Rizal Ramli ini kita dukung jadi Wapres 2009-2014 andaikan kurang dukungan oligarki partai-partai besar buat jadi RI I.

    Bagaimana apa ada yang keberatan? Atau pada setuju tidak? Orangnya pintar, punya visi, agamis tetapi tidak radikal, supel, rendah hati, belum kena virus KKN yang terobservasi, memihak rakyat kecil, dan terpenting vokal tetapi punya nyali juga.

    Nanti kalau jadi Wapres segera diutus buat negosiasi untuk amortisasi/pembekuan utang RI dan renegosiasi production sharing dengan perusahaan-perusahaan minyak asing. Batasi ekspor semua jenis bahan energi pokok. Gandeng ketua KPK jadi Jaksa Agung sehingga berani memberantas semua koruptor tanpa tebang pilih.

    Berani tuntaskan peristiwa HAM besar tanpa tersandung pada hukum yang kaku. Berani tindak Pertamina dan PLN agar meningkatkan produksi di samping peningkatan efisisensi dengan cara memangkas habis pemborosan-pemborosan yang tidak pada tempatnya.


  20. From tata yudha on 13 May 2008 12:41:19 WIB
    Sebelumnya saya sudah rada setuju dgn kebijakan naikin harga BBM, tp setelah denger penjelasan Bung Rizal Ramli saya jd punya perspektif yg baru.
    Semoga rencana kenaikan harga BBM msh bisa diselamatkan (dibatalkan).
    Seandainya Bung Rizal Ramli yg jd decision maker dlm hal ini.
    Saya setuju dengan usul Bung Kusno agar PW memfasilitasi debat terbuka antara RR dgn Bung Faisal Basri, kl perlu debat terbuka antara RR dengan SBY & tim ekonomi kabinetnya, he2
  21. From nugroho on 13 May 2008 13:06:28 WIB
    1. Inilah resikonya naik jadi presiden karena dukungan parpol. Jadi lebih sulit ketika menyusun kebijakan, karena mesti ada tawar menawar.

    2. Salut dan respek pada Pak Rizal, gamblang dan tidak pelit memberi ide. Selama ini yang menolak kenaikan BBM cuma bisa menuntut tanpa memberi solusi.

    3. SBY butuh dungan moril untuk membasmi mafia minyak biar ada efisiensi APBN. Ini adalah kesempatan bagi SBY untuk menjadi negarawan yang tegas dan ikhlas. resikonya, dukungan parpol menurun di tahun 2009.

    SELAMATKAN INDONESIA!!!!
  22. From novizal on 13 May 2008 13:30:44 WIB
    Wah ini pendapat yang saya tunggu dari kemarin, yaitu dibukanya wawasan bahwa sebetulnya banyak alternatif yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Memang seharusnya pemerintah tidak (sengaja maupun tidak) untuk berkutat di isu menaikkan BBM. Dan yang paling penting, pemikiran seperti pak Rizal Ramli ini harus disampaikan secara gamblang (dan bertubi-tubi) kepada masyarakat luas, jadi kayaknya 20 menit (10 menitnya iklan) tidak cukup GREGET untuk menyadarkan masyarakat kita. Dilain pihak, perlunya digalang suatu visi bahwa \"rakyat adalah pihak yang memegang kekuasaan\". Jadi jangan sampai disetir oleh pemerintah, DPR maupun partai-partai yang kebijakannya bertentangan dengan kesejahteraan rakyat. Bravo buat om Wimar yang sudah mengajak orang yang mempunyai wawasan lebih jauh. Bravo dua kali kalau om Wimar bisa \"mempublikasikan\" lebih jauh wawasan ini (hehehe... baru kenal udah ngasih \'tugas\').
  23. From Lestari R on 13 May 2008 13:44:07 WIB
    Saya tidak setuju dgn kenaikan harga BBM. Kita lihat saja sekarang BBM belum naik harga barang-barang dan sembako sudah berlomba-lomba naik. Yang merasakan secara langsung adalah rakyat juga.
    Saya setuju usul pak RR supaya dana BLT digunakan utk proyek proyek yang dikerjakan oleh rakyat yang sangat memerlukan pekerjaan sehingga membuat rakyat percaya diri
    dan hasilnya berguna utk orang banyak & jangka waktu yang panjang ( misal : jalan jalan,irigasi, listrik dipedesaan dll )
    BLT sama sekali tidak mendidik rakyat utk mandiri.
    Kitakan punya pepatah : Lebih baik memberi kail daripada memberi ikan.
  24. From Rita Farid on 13 May 2008 14:07:27 WIB
    Very good!!...Menarik sekali perbincangan pagi tadi!! Jadi lebih terbuka mata kita..sayang waktunya kurang. Harusnya besok masih dilanjutkan dengan pembicara yang sama supaya lebih gamblang dan mendetail pembahasan bbm kali ini...
    Setuju, perlu dilakukan diskusi langsung dengan SBY dan jajaran menterinya, supaya lebih terbuka bahwa masih banyak jalan keluar untuk mengurangi subsidi tanpa menyengsarakan rakyat kecil...
    Apa pemerintah tidak melihat kebawah (atau pura-pura tidak lihat), gejolak yang terjadi...belum juga bbm naik, harga sembako, barang-barang sudah mulai naik.
    Cobalah cari solusi yang berpihak pada masyarakat..
    Kasian indonesia.....
  25. From anggana bunawan on 13 May 2008 14:26:36 WIB
    itu yang membedakan sri mulyani, boediono dan rizal ramli...

    pemerintah terutama presiden seharusnya bisa menggunakan perspektif sorang negarawan bukan hanya sebagai eksekutif.

    solusi yang ditawakan rizal ramli sungguh baik, dan semoga bisa di jadikan penjernihan issue bahwa tidak ada solusi selain menaikan harga bbm....

  26. From HASANUDDIN on 13 May 2008 14:59:42 WIB
    BBM VERSI RR TERLALU RADIKAL . BBM VERSI FB TDK REALISTIS . KAUM MENENGAH KEATAS TDK LAYAK DI SUBSIDI DAN PARA PENGENDARA MOTOR LAYAK DI SUBSIDI . RAKYAT MISKIN TDK SEHARUSNYA TERBEBANI KENAIKAN HARGA KEBUTUHAN POKOK . KALAU MAU JADI PEMIMPIN , HARUS MAMPU BUAT MEKANISME YG ADIL DAN TRASPARAN . PASTI ADA JALAN , JANGAN CARI GAMPANG !
  27. From LOGIKA on 13 May 2008 15:08:30 WIB
    BANYAK SOLUSI YG BAIK , VERSI RR , VERSI FB , VERSI DRAJAT WIBOWO DLL . TAPI , TDK ADA YG DAPAT DI REALISIR KARENA SEMUA AGENDA PENGUASA SEKARANG BERORIENTASI KE PILPRES 2009 . MEREKA TAKUT APLIKASIKAN RESEP2 TSB KARENA MUDA DI GOYANG ATAU DI GAGALKAN OLEH LAWAN POLITIKNYA .KESIMPULANNYA : HANYA DIKTATOR YG DAPAT TERAPKAN SOLUSI2 PARA PAKAR2 TSB DIATAS . DILEMA !
  28. From doelkar\'s on 13 May 2008 15:37:16 WIB
    asiiiiik...
    nha ketika bang rizal gak menjabat lagi mulai terbuka nih,.
    ternyata dari import minyak yg kita gunakan selama ini, ada keuntungan atau komisi 2 dollar perbarrel oleh katanya para mafia, (mungkin buat setoran keatas) jika ini benar, tak terbayangkan keuntungan bermain import minyak sampai 6 milyar/hari. enak nian bermain2 minyak, padahal ongkos sosial politiknya tidak mereka pikirkan.

    selamat menikmati untung besarlah bagi kalian para mafioso2.
    biarkan kami menjerit sampai parau.
  29. From Agung Triadi on 13 May 2008 16:23:37 WIB
    Saya melihat pasti sangat sulit untuk jadi Presiden misalnya dalam kasus BBM sekarang ini bagai makan buah simalakama, ditambah dengan masalah-masalh yang lain. Mungkin siapapun presidennya akan sulit mengambil sebuah keputusan. Tapi sulitnya jadi Presiden di Indonesia tidak menyurutkan orang untuk berebut kursi Presiden. Kenapa ya?
  30. From nindityo on 13 May 2008 16:48:15 WIB
    liat omongan pak rizal jadi ingat ama harmoko.
    ,\"kita harus mensukseskan pembangunan.\"
    pembangunan yang mana? caranya gimana? siapa pelakuknya? dimana tempatnya? semua serba gak jelas. kalimat bagus untuk yang mau tidur.
    jika dibilang \"mafia ambil 6 M tiap hari\" kok gak ada yang protes? kemana aja pak rizal selama ini. emang itu jualan dipasar ya? bukannya semua ada perjanjiannya, sebut dong pak sapa yang bikin perjanjian dan buat berapa lama? boleh gak kita potong perjanjian itu, apa konsekwensi buat indonesia kalo perjanjian tadi dibatalkan?
    semua yang bapak sebut membutuhkan penegakan hukum yang kuat sedangkan ke arah sana aja belum. dana masih mengalir buat yang lain pak. salah satunya masih buat subsidi bbm.
    ini jangka pendek pak, besok musti beli minyak ke luar negeri. duitnya mana? kalo nunggu 5 alternatif itu keburu minyak gak ada dipasaran bos..
    menurut saya bahasan pak ramli masih sama dengan yang dulu-dulu. serba menyalahkan yang ada. di sana ada sri mulyani yang jago juga pak budiono. ayo dong pak..
    cari alternatif yang lebih baik. sebut saja, 3 bulan ini musti ngapain supaya bbm gak naik (rakyat senang) dan APBN gak bocor (pemerintah senang).
    oh ya.. yang cepet ya.. 6M tiap hari lari ke mafia lho. kan lebih baik buat rakyat.
  31. From Jendra on 13 May 2008 17:03:16 WIB
    Pandangan Pak Rizal Ramli dgn Pak Faisal Basri bisa dicari titik tengahnya:

    Dari pak FB, harga BBM kalo tidak dinaikkan bisa berbahaya karena memang kenyataannya harga minyak dunia memang naik terus dan seluruh dunia jg mengalami hal serupa.

    Dari pak RR, utk menyelamatkan APBN tidak hanya dgn menaikkan harga BBM tapi juga dengan meningkatkan output dan efisiensi produksi minyak dan menyederhanakan birokrasi perminyakan. Ini semua bisa diambil agar tidak langsung kenaikan besar sampai 30 persen dan jg bisa ada dana lebih utk pembangunan infrastruktur dan pembukaan lapangan kerja.

    Intinya, tidak dinaikkan sama sekali berbahaya namun dinaikkan sebegitu besar tanpa mempertimbangkan langkah2 lain juga tidak boleh.
  32. From tom aries on 13 May 2008 18:43:03 WIB
    bbm, hubungannya dengan kenaikan.

    kejelasan bahwa kemenurunan perekenomian dunia ini dimulai dengan menghilangkan error dari tiap perkembangan demi perbaikan. mengapa terus terjadi peningkatan terus menerus?

    tabiat dari para peneliti yang menyatakan bahwa korelasi dari tiap persentasi error harus dihilangkan demi tercipta suatu hasil yang mantap. wajar bila dihari nanti kita semua akan menjerit. kenapa?

    dasar dari kenaikan adalah pemakaian yang berlebih dan kesediaan barang yang berkurang, kenapa bingung kalau harga bbm harus naik.
  33. From Andana on 13 May 2008 19:34:19 WIB
    Pemerintah itu mikir ndak sih ?, negara mau bangkrut gaji PNS malah dinaikkan dan ditambah lagi harga BBM yang akan dinaikkan juga. Wah bisa Amburadul nih!
  34. From |richard.p.s| on 13 May 2008 23:42:27 WIB
    1. Babat mafia ya pak? \"INDONESIA BANGKIT\" nya babat mafia BLBI juga dong pak. Uang nombok untuk bunga BLBI kan jauh lebih gede dari hasil \"main-mainin BBM\". Begitu banyak ekonom di \"INDONESIA BANGKIT\", pasti memiliki data sampai catatan special soal sepak terjang mafia BLBI. Kok nggak bangkit-bangkit babat mafia BLBI? Sama penakutnya kah? *sesama bis kota dilarang saling mendahului. sama reotnya kah? (tanda tanya loh pak)*

    2. Kok bawa-bawa mahasiswa kos? Dulu pak Rizal mengatakan: \"pengurangan pengangguran adalah indikator perbaikan ekonomi paling penting dari suatu pemerintahan\".
    Kalau saja \"INDONESIA BANGKIT\" mau mencarikan solusi untuk memberikan modal, membina, monitoring, hingga membuka akses ekspor untuk menggalakkan industri mahasiswa di kos kos-an sekalipun, maka peluang eksplorasi akan semakin besar atas alam yang kaya dan letak geografis yang strategis ini. Jangankan mahasiswa kos, mahasiswa yang hidupnya di \"sebuah monitor komputer\" saja bisa mulai merealisasikan tujuan hidupnya, bahkan merekrut SDM. Jangan-jangan, mahasiswa kost kost-an bisa menciptakan pengganti BBM dengan sampah.
    Mahasiswa yang dibina, pasti lebih potensial untuk bermultiplikasi dalam menciptakan pemimpin baru. Itung-itung menciptakan pemimpin masa depan di hari ini, dan mulai memperbaiki cara menghafal menjadi learning by doing.
  35. From Nizar on 14 May 2008 00:17:41 WIB
    Supaya BBM tidak naik keliatanya langkah yang harus diambil adalah : No Export Policy. Tidak ada Export untuk BBM dan GAS, semuanya sepenuhnya untuk kepentingan dalam negri. Andai ada pihak luar negri yang ingin memanfaatkan BBM dan GAS Indonesia mereka bisa memanfaatkanya melalui jalur Investasi, sehingga mereka bisa menikmati BBM murah sekaligus membuka lapangan kerja.

    No Export Policy rasanya gak susah khan ya.
  36. From Edipson on 14 May 2008 00:35:56 WIB
    Ini baru perspektif!!!
    Salut untuk RR.
    Waktu dengar penjelasan FB, sepertinya pil pahit harus kita telan. Tapi ternyata ada sebuah obat lain. Sekarang siapa yang mau minum obatnya?
    Jika boleh, sesekali ada diskusi RR-FB-Pemerintah :)

    Btw, diskusi di PW kok kalah durasi dengan diskusi 4-eyes?
  37. From sen on 14 May 2008 04:48:43 WIB
    Babat mafia dan bank recap : setuju dengan pak Rizal Ramli

    Negosiasi hutang : boleh-boleh saja tapi apa tidak berdampak buruk kalau lain kali perlu pinjam lagi ?



  38. From abdul on 14 May 2008 06:51:27 WIB
    bang ww, saya sangat salut dan setuju banget ama kritik dan solusi bang Rijal R marin, but bang..............susuah kalo pemerintah dah gak punya telinga dan ati nurani digimanain pun tetep aja nyeruduk. mestinya para pejabat penaik dan pendukung mafia tu harus ngerasain susuahnya jadi rakayt kecil yang serba pas-pasan, pa lagi lumpur lapindo yang belum teratasi makin sengsara dan prihatinlah rakyat
  39. From oliviamediru@gmail.com on 14 May 2008 10:11:00 WIB
    hallo chard...
    topik bahasannya BBM, bukan BLBI
    Lo, antek2nya Sri mulyani ya?
  40. From saefullovic on 14 May 2008 10:48:23 WIB
    Thanks Bung Rizal! Aye setuju banget dengan pendapat ente!Emang sih sejak kenaikan BBM pada oktober 2005, kayanye bukan hanya yang kecil-kecil aje yang nganggur, pemerintah pun ikut-ikutan nganggur, alias gak ngapain-ngapain buat antisipasi kenaikan harge minyak dunie dan melonjaknye konsumsi BBM dalam negeri! Coba dari dulu pemerintah buat kebijakan yang membuat orang-orang kaye bayar BBM dengan harge dunie, sementara yang miskin bayar dengan harge sangat murah alias disubsidi, pasti orang miskin sekarang ini gak menderite! Bukannye yang punya mobil tuh beli BBM nya di SPBU yang gampang dikontrol pertamina? Ma\'af juge buat tukang beca...kalo antisipasi kenaikan harge minyak dunie, cuma dengan naikkan harga BBM, Buat ape bayar mahal orang pinter(doktor lagi) untuk ngurus negare, tukang beca aje yang sekolahnya gak tinggi pasti bisa!
    Omong-omong : Bung Rizal, Faisal Basri, Bang Wilmar, para ekonom plus pejabat-pejabat...make premium atau pertamax?
    Salam Sejahtre!
  41. From torro on 14 May 2008 11:38:05 WIB
    om rizal, sebenernya anda tu ikut partai apa ya ?
    tks................
  42. From Calio on 14 May 2008 12:03:14 WIB
    NO COMMENT......becanda ahhh tegang amat
    Akhir2 ini banyak para ahli/pakar ekonomi berikan masukan/comment yg tidak setuju BBM naik. Saya pribadi sgt keberatan BBM naik, yg ujung2-nya semua harga cenderung naik (inflasi) tinggi. Bung Wimar adakan lagi acara "Tolak BBM naik" dengan mendatangkan ahli2 yg notabene berseberangan dengan opsi pemerintah, semisal Rizal Ramli, Ichsanudin Noorsyi, Faisal Basri, Drajad Wibowo dll sekalian buat "kaukus bersama utk menolak BBM naik" dengan memaparkan masing2 argumen yg sekiranya dapat membantu pemerintah. Ingat....jgn asal comot ahli yg bisanya koar-koar saja. Kalau masalah BLT saya kira hanya untuk "gula-gula" bagi rakyat sebelum Pemilu 2009 (seakan-akan pemerintah peduli rakyat= non sense BOSSSS=percuma UUD-nya dibuat beli BBM juga). Yg malah bikin pening harusnya bagaimana pemerintah membuat peluang kerja bagi pengangguran yang semakin tinggi.
  43. From kondeMAS on 14 May 2008 12:15:57 WIB
    Berbahayaaaaaaaaaaa, naikkan BBM. Setuju kang Rizal!
    Kalo cuma nambal APBN dengan cara menaikkan BBM, tukang becak juga bisa ya.....
  44. From |richard.p.s| on 14 May 2008 12:44:04 WIB
    @39 olivia mediru

    Amati pernyataan pak Rizal soal mafia Singapore. Inplisit, pak Rizal mengatakan dirinya pemberani. BLBI? Itu yang saya tanggapi.

    Memang tidak ada kaitan ya, antara BLBI dan mafia Singapore? Bisa jadi, harga kol gepeng yang berfluktuasi punya kaitan dengan BLBI. Sah sah saja kok, memakai kemungkinan untuk suatu perspektif. Kok sewot kayak nenek nenek rewot?
    Saya kok jadi curiga, jangan jangan alumni BLBI punya saham di MAFIA SINGAPORE. T.bk. Sudah lihat korelasinya?

    Kok nuduh antek-antek? Susah ya, curigaaaa terus. Membungkam orang bersuara dengan metode kambing hitam ya? ih kamyu, jadul dey!
  45. From gun_redberret@yahoo.com on 14 May 2008 15:44:30 WIB
    Yang di singapura itu buka Mafia,tapi agen dinas rahasia singapura yg mengancam akan merancang kudeta halus pada SBY jika tidak membeli minyak pada mereka.....
    Lawan saja....rakyat Indonesia pasti akan ikut membela...
  46. From |richard.p.s| on 14 May 2008 21:04:10 WIB
    @kaum pencapir no. 43

    Kayaknya tukang becak jauh lebih bisa deh, dari orang yang sebatas ngomong setuju, berbahayaaaa, tambal...hi hi hi
    konde kan pernah ngomong soal substansi. Bukankah substansi berorientasi pada solusi? Kok hobinya buat polusi? Doyan berkubang sama masalah ya? Biar dibilang vokal ya? keluarga besar Binasa Vokalia ya? he he he konde konde ... jadyul lo ah

    first en-be: solusi yang saya tawarken ada di No.34 tuh *walau solusinya ala mahasiswa kos, setidaknya nggak cuma buat polusi*

    en-be kedua: Pak/Bu Admin tersayang, mohon nickname yang menggunakan alamat e-mail jangan di approve. Bisa jadi ada yang mulai gerah, lalu mancing-mancing IP Address deh .... hi hi hi ... akankah daftar orang hilang di *mode on* kan lagi?
  47. From bakhtiar on 15 May 2008 08:06:10 WIB
    episode FB dan RR sebenarnya menelurkan solusi yang brillian.. tetap cabut subsidi BBM, alihkan untuk memperkuat ketahanan pangan, pendidikan dan lapangan kerja.. soalnya semakin mahal minyak, semakin sedikit pembakaran dan "save earth from global warming".. solusi RR dicombine untuk menjaga asupan BBM dalam negri.. buat penyulingan minyak sendiri di indonesia pake dana subsidi bank rekap.. perbaiki mental dan kinerja pertamina.. kalo perlu gantung aja orang2 rese yang mengerogoti pertamina.. buat shock terapi.. gitu aja ko repot.. hidup bang WW
  48. From kondeMAS on 15 May 2008 10:32:29 WIB
    Hallo, man-Crattt.

    hehe..coba lo liat, para komentator yg posting di topik ini, sebagian besar bersuara sama; Mendukung pernyataan Bung Rizal. kecuali ente....

    ngotot sok membela mahasiswa yg punya kebiasaan gali lobang tutup lobang.
    Idealisme Mahasiswa cuma sebatas di bangku kuliah bung. Klo udah merasakan betapa nikmatnya duduk dikursi birokrasi, luntur oleh kepentingan politik.

    Orientasinya, ya kekuasaan dan kekuatan poltik.
    Solusinya. ya, bisanya menutup APBN-P dengan menaikkan BBM.
    Naif betul....kan?

    Trus apa yg salah klo ikut bersuara "BERBAHAYA"

  49. From Perspektif Online Moderator on 15 May 2008 10:47:16 WIB
    Peringatan untuk yang pakai dua nama palsu untuk mendebat satu orang: Pilih satu nama saja, atau lebih bagus lagi pakai nama asli. Terima kasih.
  50. From |richard.p.s| on 16 May 2008 00:08:49 WIB
    @Perspektif Online Moderator
    Salut buat moderator PO. Brur/Ses, sebutkan saja itu, siapa orangnya yang menggunakan politik \"kepung tender\". Seperti banyak parpol yang mendaftar, nyatanya orangnya itu-itu juga. Brur/Ses Moderator tersayang, kalau ada yang gunakan bypass proxy juga jangan di approve ya. Penakut itu. Kalau orang biasa, harusnya berani. Karena kepentingan orang biasa hanya bersuara untuk Indonesia yang lebih baik, dan berani mempertanggung-jawabkan suaranya. Hidup PO!!!

    kondemas: \"ngotot sok membela mahasiswa yg punya kebiasaan gali lobang tutup lobang. Idealisme Mahasiswa cuma sebatas di bangku kuliah bung. Klo udah merasakan betapa nikmatnya duduk dikursi birokrasi, luntur oleh kepentingan politik.

    richard: ha ha ha... sekarang skeptik sama mahasiswa nih. plok plok plok...makin lama, makin aduhay aja lo n\'de. Punya dendem pribadi sama mahasiswa ya?

    @kondemas: \"hehe..coba lo liat, para komentator yg posting di topik ini, sebagian besar bersuara sama; Mendukung pernyataan Bung Rizal. kecuali ente....\".

    richard: Itulah dirimu n\'de. Dimana popularitas ada, disanalah dirimu masuk untuk (mengharapkan) diagungkan. hi hi hi idealisme bunglon itu. Dan Indonesia sudah terlalu lelah untuk mendengarkan ocehan tipikal anda. hi hi hi...

    kondemas: \"Orientasinya, ya kekuasaan dan kekuatan poltik\".

    richard: pengalaman pribadi, kok jadi doktrin? Katanya empiris. Piye toh sampeyan iku???

    kondemas: \"Solusinya. ya, bisanya menutup APBN-P dengan menaikkan BBM. Naif betul....kan?

    richard: hi hi hi... soal yang itu kan belum lu jawab n\'de. *pertanyaan kedua nih* Kalau nggak naikkan BBM, solusinya gimana? Masa cuma teriak setujuuuu.... hi hi hi... karena yang lain setuju, lalu ikut-ikut setuju ya? takut nggak populer ya?

    kondemas: \"Trus apa yg salah klo ikut bersuara \"BERBAHAYA\".

    richard: Asal, setujunya bukan karena yang lainnya setuju ya. hi hi hi....Kalau semuanya bunuh diri, lu bunuh diri juga ya n\'de? Dasar mental budak. Biarin bernada kasar, karena tipikal lo memang perlu diguncang-guncangin otaknya. *guncanginnya seperti tukang somay menteng yang lagi ngeluarin isi saos dari botol. coba dipraktekkin deh n\'de!
  51. From Mamat on 16 May 2008 02:17:52 WIB
    Kite ga ada yang mau bayar mahal untuk sesuatu yang bisa dibayar murah. Kalo bisa malah pas beli barang kita nawar dulu. Tapi ... ini dia yang susah, untuk perkara minyak: kenyataannya minyak makin dikit, yang pakai makin banyak. Sesuai hukum (bukan teori lho), kalo pasokan kurang tapi yang minta banyak, alhasil harganye kudu naik. Ini berlaku untuk semua jenis barang yang dikonsumsi orang.

    Selama belum ada pengganti yang berarti dan masal untuk minyak buat ngejalanin motor, mobil, kapal, pesawat dll dll, bisa dijamin harga minyak bakalan terus naik. Pertanyaannya adalah: apa pemerintah sudah maksimal memangkas cost BBM dan cost2 yang lain yang membebani APBN? Next question is: kondisi masih susah, kapan waktu yang tepat untuk naikin harga BBM? Orang bule kalo ditanya yang beginian pasti bilangnya : wow, that's a good question! Untungnye aye bukan orang bule. Untungnye juga bukan Presiden yang punya banyak tugas2 penting untung ngeberesin ini Republik tapi ga ada dukungan politik. Cuma bisa ngelus dada, lapang dada dan kalo ga setuju dgn pemerintah, ke depan kaga milih die lagi. Itu juga kalo ada pilihan yang JAUH lebih baik.
  52. From ivo vauzi on 16 May 2008 11:53:47 WIB
    sekedar tambahan saja dalam rangka menambah perspektif kita tentang bagaimana para penguasa mengelola negeri ini, dapat disimak lebih lanjut melalui info dan pemikiran Bung RR di www.rizalramli.net, secara pribadi saya mendapatkan banyak perspektif baru, karena info-infonya disajikan dengan sangat gamblang.

    BANGKIT INDONESIA, dgn perspektif yang lebih kaya dan transparan.
  53. From kondeMAS on 16 May 2008 16:02:55 WIB
    Hallo cat....______
    Hahihuhehoaaaaaa....kepancing juga untuk main kasar.
    Keluar aslinya sekarang.
    _____________________________
    ..."bermental budak"
    Dalam kamus; SituGendeng, budak berarti sekolompok masyarakat yg terjajah.
    Dalam kamus Wirosableng, budak adalah kelompok marginal yg diistilahkan untuk merendahkan martabat seseorang.
    Biasanya stigma ini erat kaitannya dengan situasi dan kondisi sosial masyarakat Indonesia.
    Pemberi stigmanya, ya...kelompok kolonial[baca irlander]
    Ah, dasar mental pemjajah..lu!
    _________________________________

    Hei.., placong. [cowok doyan bencong]
    kemaren sok moralis, sekarang kog berubah topeng ya?[tanya dan dijawab] "split karakter ya?"
    Sok nasionalis, punya konsep kenegarawanan ala mahasiswa kos-kosan yg suka gali lobang tutup kutang, ih.., geli deh.
    ____________________-
    terimakasih untuk PO.
  54. From Rangga on 17 May 2008 00:14:52 WIB
    Re: HARGA POKOK PRODUKSI BAHAN BAKAR MINYAK INDONESIA

    Bang Wimar ..

    Kalau bisa, mhn agendakan diskusi dengan DIRUT PERTAMINA, kami ingin tahu, BERAPA SIH harga pokok Bahan Bakar Minyak yang dihasilkan oleh PERTAMINA dan kontraktornya, sepertinya Rakyat tidak pernah diberitahu, padahal ini khan perusahaan negara...

    jangan2 ongkos produksinya yang sesungguhnya cuma 30% dari harga minyak dunia, tapi karena banyak titipan sana sini plus biaya tidak langsung (seperti perawatan kendaraan, rumah dinas, sewa kendaraan, biaya perjalanan pejabat Pertamina dll) yang tidak transparan..makanya dibebankan kepada rakyat seperti kita2 ini yang BUKAN pegawai PERTAMINA..

    Semoga dapat terealisasi
    SALAM
    INDONESIA MERDEKA
  55. From Arif Nurhidayat on 18 May 2008 02:59:36 WIB
    "Benahi inefisiensi di PLN dan Pertamina, karena biaya produksi Pertamina sangat mahal dan banyak mafianya."

    Haduh2.. kenapa PLN dibawa2?!! efisiensi PLN itu sulit untuk dibenahi (sejauh yang saya pelajari). Ditambah lagi pencurian listrik dimana-mana. Jalan yang paling bagus itu kita harus mencari energi alternatif selain minyak. Sekarang solar cell bisa dibangun dengan lebih murah kok...
  56. From Faiza R on 19 May 2008 10:26:27 WIB
    Selain lima langkah dari bang RR, perlu dipikirkan langkah berikut : 6. Negosiasi dengan Perusahaan Minyak Utama, yang beropersi di Indonesia (terutama Asing) untuk MENAMBAH BAGIAN (porsi) Pemerintah (royalti & pajak)dari "windfall profit" (rejeki nomplok) akibat KENAIKAN HARGA MINYAK SEMATA, yang secara nyata dinikmati oleh Perusahaan Minyak tanpa usaha peningkatan investasi, explorasi, maupun usaha meningkatkan produksi lainnya. Silahkan hitung, insya Allah pengurangan subsidi akan signifikan.
    Kalau Amerika, Venezuela bisa memaksa Perusahaan2 minyak untuk membantu; INDONESIA-pun HARUS BISA. DEMI RAKYAT,...ini saatnya politikus bahu-membahu dengan Pemerintah menghadapi Perush. Minyak.....
  57. From Indra Kusuma on 21 May 2008 14:08:42 WIB
    Gue bingung sama Rizal Ramli, dulu waktu dia Jadi menko Ekuin oktober 2000 dia naikin bensin dengan alasan" Subsidi BBM dinikmati orang kaya , dan untuk menutupi Defisit Anggaran. http://www.lesperssi.or.id/report/weekAgus2000.htm
    Ha elu lupa yeee Rizal kalo dulu pernah ngomong kayak gini. Motivasi anda diragukan nih kalo ente bekoar-koar sekarang, Untung ada google. REPUTASI ORANG BISA DICARI DISINI....kalo enggak gue udah percaya aja ama elu Zal...
  58. From Rinaldy Roy on 22 May 2008 09:27:07 WIB
    Indonesia masuk indeks 60 negara gagal 2007 (failed state index 2007) yang disusun Majalah Foreign Policy bekerja sama dengan lembaga think-tank, The Fund for Peace. Majalah itu amat berwibawa, milik The Carnegie Endowment, think-tank dengan jaringan internasional paling luas di Amerika Serikat. Salah satu pendiri majalah itu adalah Profesor Samuel Huntington, ahli ilmu politik senior dari Harvard University.
    Yang hendak dikatakan, Foreign Policy bukan majalah yang diterbitkan dari pinggir got. Indonesia memang betul-betul negara gagal, satu kelompok dengan Sudan, Somalia, Iraq, Afghanistan, Zimbabwe, Ethiopia, atau Haiti. Shalat satu ukurannya: pemerintah pusat sangat lemah dan tak efektif, pelayanan umum jelek, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan ekonomi merosot. Nah, kalau mau jujur, memang begitulah persis potret negeri kita sekarang.
    Data indeks pembangunan manusia (human development index) dari badan PBB, UNDP, memberikan indikator serupa. Indonesia menduduki peringkat 107 dari 177 negara, jauh di bawah Singapore, Arab Saudi, Malaysia, atau Thailand. Malah kita di bawah Filipina, Vietnam, Palestina, atau Srilangka.
  59. From Faisal Maksum on 22 May 2008 10:04:38 WIB
    dear bang Wimar, saya sich setuju-setuju aja dengan Oom Rizal ... tapi kok saya pesimis ya kalau itu bisa direalisasikan ... apalagi kalau harus berburu dengan waktu ... nggak keburu ... apalagi butuh "keberanian" ekstra dari pemerintah ... sama susahnya dengan nagih hutang ke para obligor bi ...
    saya kok heran ya dengan para ekonom kita ... kok suka sekali mewacanakan hal-hal yang kedengarannya enak secara teoritis tapi "nggal ngerti" implementasinya ... belum lagi wacana-wacana yang bikin bingung dan resah masyarakat ... ekonom kita kayaknya sama kayak pemerintah ... nggak mikirin rakyat juga ... tapi masing-masing adu pintar ... padahal hasilnya sudah teruji NOOOOL BESAAAAR .... mending mereka bersatu, nggak usah terkontaminasi dengan politik, bikin konsep ekonomi kerakyatan yang mumpuni, hidupkan pertanian dan home industri ... supaya rakyat kita nggak miskin ... so ... minyak mau 2000 usd per barrel juga ... rakyat kita sanggup "mandi minyak" sekalipun ... dan ini butuh waktu ... jadi ya harus dimulai dari sekarang ...
  60. From Gun Gun Garda Setiawan on 22 May 2008 11:31:33 WIB
    Kok bisa seorang Rizal Ramly yang sebelumnya gue hormati pada saat jadi menteri era Gus Dr bisa beranalisis sempit seperti itu ya?.....(ini rakyat asli nich yang ngomong!!...)
    1. Mafia Minyak????...lho ente waktu jaman Menko ga pernah kutak katik urusan barang satu ini??...
    2.Bunga rekap BLBI??....nah ente juga waktu jamannya ga pernah kutak katik....terus sampai kapan juga kalau ada orang ekonom (asli) bukan politician yang ekonom ya?!!..model Rizal Ramli...bicara ttg fakta dan akibat yang harus ditanggung dari kasus BLBI...ini sama juga beicara nasi sudah jadi bubur...'its stupid things kalau masih kotak katik tuch angka tanggung jawab bunga...kecuali kalau semua pembukuan negera di BI dan semua dta keuangan negara di lembaran negara ada yang bakar, baru tuch angka anga kewajjiban itu bisa hilang!!....

    3.Dari lima alternatif yang dikasih sama dia itu;
    a. ada yang masuk akal tidak yang kiranya masih bisa nahan harga minyak yang naik tiap hari.
    b. Ada hal yang baru yang dikemukakannya itu?
    c. 5 Alternatif itu, ada yang pernah disinggung tidak pada saat kondisi harga minyak dunia 2004-2005
    d. Kembali lagi, dikuatka katik ga waktu doski jadi Menko?....
    4. Selain dana bantuan darurat (BLT), dana bantuan pinjaman UKM, RSCM gratis (kartu GAKIN), dll, ada alternatif lain yang disinggung sang Rizal?...
    5. Setuju dengan komentar Indra Kusuma No. 57,...ngapain aja ente 'Zal' waktu itu?...
    6. Buat Bung WW, boleh boleh aja sich ngundang pembicara yangbersebrangan, cuma ya dicari yang agak berbobot lho!!...soalnya ga sesuai dengan kapasitasnya sebagi eks sosok Menko....keculai kalau diundang unutk bicar dalam konteks Pilkada daerah dan dampak ekonomi, ya boleh lah!!...tapi belum bisa kita undangn pada level dimana kondisi resesi dunia saat ini yang sangat kompleks...
  61. From Sonrai on 22 May 2008 20:29:15 WIB
    kekekkek

    Yang di atas ku ini baru re act setelah tanggal 22 Mei.
    Jangan gebyar uyah gitu ah. Tahun 2000 angka bensin kita di angka berapa? masa di samain dengan tahun 2008 ya...gak bener. masa seseorang harus mempunyai argumentasi yang abadi....(Yang abadi itu cuma omongan-omongan moral- bukan yang ekonomis dinamis bos).

    SBY, memang payah. Dia enggak kreatif. gak antisipatif. kok udah tau Minyak di mainin ma spekulan kok enggak mulai melihat energi2 alternatif.

    Bener-bener gak kreatif
  62. From Fajar Asikin on 25 May 2008 10:11:40 WIB
    Bang Wimar,

    Ada salah satu senior kita kampiun dalam bidang keuangan global yang saat ini berkantor di Hongkong dan beliau adalah salah satu dibalik keberhasilan ekonomi China, ternyata ada masalah lain yang menurut dia terkait dengan masalah kenaikan BBM ini.

    Mohon mulai diekspose oleh bung Wimar karena beliau adalah satu nasionalis tulen...beliau adalah cucu salah satu pahlawan Indonesia yang namanya dijadikan jalan utama di Jakarta..

    Lihat blog beliau di

    http://culas.blogspot.com/

    lihat topik Hapus subsidi dan berdoalah...mengerikan sekali apa yang disampaikannya ternyata kejahatan kekuatan global itu dalam memporakporandakan Indonesia..

    Profil beliau lebih lengkap di
    http://www.blogger.com/profile/9968780
  63. From roy on 27 May 2008 11:19:12 WIB
    Tambahan komentar utk Bung Fajar ...
    Yang lebih mengerikan lagi adalah jika orang2 yang terzholimi tsb berdo'a...karena do'a mereka tanpa hijab...
    Cepat atau lambat ..karena Demi masa..Kita harus sensitif terhadap kesusahan orang lain...Tapi sangat sedikit sekali orang2 yang seperti ini...dan musuhnya sangat buanyak sekali...dan kalau pake sistem demokrasi kalah suara...
  64. From roy on 29 May 2008 14:59:02 WIB
    Direktur Ekonomi Makro Bappenas Bambang Priambodo mengatakan, meskipun belanja subsidi bahan bakar minyak ikut terkerek, total pendapatan negara dari PNBP Migas, PPh Migas, dan penerimaan lainnya masih lebih besar dari beban subsidi. Setiap US$ 1 dolar kenaikan harga minyak akan meningkatkan pendapatan negara Rp 3,24 triliun sampai Rp 3,45 triliun; subsidinya juga naik Rp 3,19 triliun sampai Rp 3,4 triliun. Artinya setiap kenaikan US$ 1 dolar negara untung Rp 48-50 miliar (Tempointeraktif, 22/10/07).

    Menteri ESDM juga menyatakan, “Setiap kenaikan US$ 1 harga minyak, kita memperoleh `windfall` (keuntungan tambahan) sebesar Rp 3,34 triliun, dengan asumsi kursnya mencapai Rp 9.050 perdolar.” (Antaranews, 23/10/07).

    Kenaikan harga minyak itu juga akan menaikkan cadangan devisa negara. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S Goeltom menyatakan pada akhir Oktober lalu bahwa cadangan devisa negara sebesar US$ 54,3 miliar. Menurutnya, dalam simulasi yang dibuat BI, untuk setiap kenaikan 1 dolar AS perbarel, pada triwulan IV 2007, akan meningkatkan surplus transaksi berjalan 23,3 juta dolar AS dan meningkatkan cadangan devisa 35,6 juta dolar AS setiap triwulannya; dan pada 2008 akan meningkatkan surplus transaksi berjalan 27,1 juta dolar AS dan cadangan devisa 36,3 juta dolar AS setiap triwulannya
  65. From Fajar on 29 May 2008 17:14:53 WIB
    Sayangnya kita yang punya kekuatan doa tidak memfungsikan itu dengan sebaik-baiknya pada skala bangsa karena belum banyak pemimpin kita yang amanah....jadi yang bisa diberi amanah-lah yang seharusnya jadi pemimpin....supaya doa kita sebagai bangsa bisa makbul...

    Sebenarnya salah satu figur yang bagus adalah pak Muhammad Nuh karena beliau adalah salah satu ulama Jawa Timur sekaligus sebagai mantan rektor ITS yang kuat landasan akademisnya sekaligus keagamaannya ..lihat salah satu bimbingannya http://www.ydsf.or.id/....kegiatan amal salehnya luar biasa dan sudah merambah ke berbagai kota...
    2 sekolah islam - Al Falah dan Al Hikmah adalah merupakan beberapa sekolah terbaik di Jawa Timur juga adalah binaan beliau...

    Berikut kutipan dari website tersebut :

    Didirikan 1 Maret 1987, Yayasan Dana Sosial al Falah (YDSF) telah dirasakan manfaatnya di lebih dari 25 propinsi di Indonesia. Paradigma prestasi YDSF sebagai lembaga pendayagunaan dana yang amanah dan profesional, menjadikannya sebagai lembaga pengelola zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) terpercaya di Indonesia.

    Lebih dari 161.000 donatur dengan berbagai potensi, kompetensi, fasilitas, dan otoritas dari kalangan birokrasi, profesional, swasta, dan masyarakat umum telah terajut bersama YDSF membentuk komunitas peduli dhuafa. Mereka, dengan segala kemampuan terbaiknya, telah memberikan kontribusi, cinta, dan kepedulian dalam membangun negeri ini.

    Mudah-mudahan beliau tidak tergilas oleh politik kekuasaan...



    ..
  66. From roy on 03 June 2008 09:02:03 WIB
    http://www.waspada.co.id/Ekonomi/Bisnis/Harga-Premium-Penyumbang-Inflasi-Terbesar.html
    Selasa, 03 Juni 2008 06:13 WIB
    Harga Premium Penyumbang Inflasi Terbesar
    Inflasi Mei tercatat 1,41 persen dan secara year on year tembus dua digit. Penyumbang inflasi terbesar adalah kenaikan harga premium yang berlaku mulai 24 Mei, yang menyumbang 0,29 persen dari inflasi 1,41 persen.

    Sementara pada Mei, kenaikan harga premium dicatat BPS sebesar 8,59 persen. Angka itu memang tidak sama persis dengan kenaikan harga premium 33,4 persen diumumkan pemerintah 23 Mei lalu.

    Menurut Kepala BPS Rusman Heriawan, kenaikan tersebut belum seluruhnya terhitung. Pada tiga minggu pertama Mei, harga premium masih terhitung Rp4.500, sementara harga Rp6.000 baru diterapkan mulai 24 Mei.

    “Jadi khusus untuk Juni masih berpotensi menaikkan inflasi,” jelas Rusman dalam konferensi pers dikantor BPS, Jalan DR Sutomo, Jakarta, Senin (2/65). Dan setelah Juni, kata Rusman, kemungkinan kekuatan sumbangan premium terhadap inflasi baru akan berkurang.

    Yang menjadi pertanyaan diantaranya adalah kob bisa ya Pak Rusman mengatakan bahwa \"..kemungkinan kekuatan sumbangan premium terhadap inflasi baru akan berkurang..\" padahal sebelum naik aja udah menyumbang inflasi yang tertinggi..?
  67. From Rakhmarina on 26 September 2008 01:18:26 WIB
    Menarik ide dan perspektifnya, tapi ada yang mengherankan bagi saya...
    Pak Ramli, kenapa baru sekarang berbicara ttg solusi BBM? Ketika anda menjadi Menko Perekonomian apa tidak ada kesempatan utk melaksanakan kebijakan2 seperti yang anda kemukakan itu?

  68. From Rully Dj on 01 December 2008 11:53:33 WIB
    Saya mendukung Pak Rizal Ramli Jadi Calon Presiden RI
  69. From Frima Putra Sandi on 09 January 2009 14:12:17 WIB
    Rizal Ramli menjadi trsngka ricuh demo pasca knaikan BBM, andai gw pngacara psti gw akan mmbela dia semampu gw tanpa upah.


    majulah Rizal Ramli mnjadi capres, saatnya perubahan di negara Indonesia...
  70. From Hugeng on 03 March 2009 10:42:47 WIB
    saya nggak habis pikir dengan orang seperti rizal ramli, mereka gak mengambil contoh dari pemilihan gubernur jawa barat, dimana rakyat sudah bosan dengan muka2 lama sehingga tokoh seperti agum gumelar "KEOK" di pemilihan gubernur tersebut. YO mbok ngoco, orang seperti rizal ramli juga termasuk MUKA-MUKA lama, dan kapasitas dia juga masih ECEK-ECEK.
  71. From irvan on 04 April 2009 19:45:55 WIB
    salut untuk Pak Rizal Ramli.. sudah seharusnya bangsa ini punya pemimpin seperti beliau yang pro dengan rakyat kecil, mempunyai terobosan-terobosan yang cemerlang.
    terus terang saya sangat kecewa dengan kepemimpinan SBY-JK yang tidak pro dengan rakyat kecil. dalam setiap kampanyenya terus obral janji. kemarin saya baca di suara pembaharuan bahwa hutang pemerintah ini sudah mencapai 1.600 triliun dan yang lebih parahnya lagi 1 orang yng baru lahir sudah terbebani hutang 12 juta. sungguh sedih saya membaca berita itu.. saya inginkan perubahan untuk bangsa ini agar kita dapat hidup dengan layak. mudah mendapatkan lapangan kerja, dapat membeli sembako murah.
    Maju terus Bung Rizal.. saya dukung bung rizal untuk menjadi CAPRES 2009-2014 agar bangsa ini dapat lebih sejahtera dan terlepas dari pembodohan pemimpin yang selalu janji-janji kosong tapi tidak ada buktinya.
  72. From pelor on 14 April 2009 18:48:52 WIB
    aduh pak rizal jangan terlalu banyak omong.. yang harus bapak pikir itu pemberantasan korupsi di indonseia..
    bapak orang pintar tp kepintaran bpk tidak dpergunakan untuk kebaikan bangsa ini terutama pemberantasan korupsi.. ato jangan2 bpk pendukung korupsi nih..
  73. From Hery on 08 May 2009 03:29:05 WIB
    Saya berharap nanti yang jadi presiden orangnya bersih, minimal tidak jelek-jelekin orang lain, sapa tuh rizal ramli yg katanya pemimpin blog pembaharuan. mau jadi presiden?? bersihin dulu bicaranya dari omongan kotor
    tetep SBY ngga ada tandingan
  74. From Roy Agusta on 13 May 2009 01:51:00 WIB
    Siapa yang mau setuju dengan konsep RR? Pemerintah dan sebagian besar politisi tentu \"menggunting\" habis ide ini. Konsep RR sama juga dengan menghapus \"side income\" mereka. Lebih parah lagi, rakyat \"lebih suka memilih\" untuk MEMAKMURKAN PEJABAT, dari pada memilih Tokoh Pro-Rakyat seperti Rizal Ramli. Saya sudah pelajari \'track-record\" RR, seharusnya RR yang dipilih rakyat. Kemungkinan ini bisa terjadi kalau mekanisme-nya di rombak total. Mekanisme yang ada sekarang ini menjegal tokoh2 sekelas RR untuk bisa tampil ke permukaan. Lihat saja acara2 TV, pro-rakyat atau pro-yang bayar? Khusus Perspektif Wimar memang berbeda. Kecerdasan Wimar memang beda dengan produser2 acara Pemilu lainnya di TV yang \"asal seru aja\". Wimaaaarrr.... beda lah !!!
  75. From kerman sinabutar on 14 May 2009 11:11:00 WIB
    ayo pa rizal sy setuju maju terus jadi no 1 di Ri agar bisa membuat bangsa ini jauh lebih baik dari negara tetangga karena hanya no 1 bisa jadi pemeranutama. kl pemimpin sekarang gaya aja yang rendah hati, bersih, anti korupsi kalau menurud saya ini perekonomian yang paling buruk seharusnya bisa mempertahankan malah utang makin bayakdan dolar us naik jadi 11000 rb an, hah ayo indonesia dukung perubahan...

« Home