Jadwal Perspektif Wimar dikurangi setelah habis kontrak?
Perspektif Online
02 June 2008
Kontrak Perspektif Wimar habis dalam 3 minggu. Bagaimana kelanjutannya?
Acara talk show tiap pagi ini mendapat sambutan luar biasa dari pers (berbagai koran dan baru saja masuk Femina sebagai 1 dari 4 talk show terbaik bersama Silat Lidah, Empat Mata dan Republik Mimpi), dari sponsor yang terus bertambah dan membuat jeda iklan semakin panjang, dan paling penting dari penonton seperti anda yang rela menyesuaikan jadwal pagi anda untuk acara kami, tiap hari ikut melanjutkan diskusi melalui website kami, dan telah menyumbang banyak masukan yang sangat berharga untuk acara harian kami.

Artikel Femina mengenai 4 acara talk show favorit
Tiga minggu lagi masa kontrak habis. Apa yang akan terjadi setelah itu? Itu akan diputuskan manajemen ANTV. Dengan sambutan besar dari pers, sponsor dan penonton tadi, apakah otomatis format yang sekarang akan diteruskan begitu saja? Jawabannya: tidak.
Karena manajemen ANTV mengaku menggunakan rating sebagai tolak ukur utama, dan mereka mengatakan rating Perspektif Wimar tidak sesuai harapan mereka. Untuk opini umum mengenai rating televisi, silakan baca artikel baru dari Koran Tempo dan The Jakarta Post di bawah ini.
Sedangkan untuk nasib Perspektif Wimar, kita nikmati saja 15 episode terakhir ini sambil tunggu kabar dari manajemen. Yang kami dengar, ada niat mengisi waktu tayang 6.00 WIB dengan acara anak-anak, dan kemungkinan besar Perspektif Wimar dikurangi menjadi seminggu sekali dan dipindah ke 23.00 WIB.
Wimar Witoelar sendiri menyerahkan penilaian terhadap Perspektif Wimar kepada anda, para penonton. Acara televisi adalah milik masyarakat juga, selain milik stasiun televisi. Apapun keputusannya, kami mengharapkan usul anda mengenai perpanjangan waktu dan improvisasi set bisa dikabulkan. Any thoughts?
Koran Tempo
Jum'at, 30 Mei 2008
Rating Jadi Momok Jurnalis Televisi
Acara berkualitas rating-nya jeblok.
JAKARTA - Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) menilai peringkat acara menjadi momok bagi jurnalis lantaran manajemen stasiun televisi menjadikan rating sebagai patokan pemasukan iklan.
Menurut Ketua IJTI Imam Wahyudi, sering terjadi pertentangan antara redaksi dan program lain akibat rating versi lembaga riset memacu manajemen semakin berlomba mengejar rating. Akhirnya, program berita tak mendapat perhatian karena rating-nya tak bagus.
"Ini jadi teror bagi jurnalis, jadi perlu ada riset penyeimbang untuk program yang berkualitas," katanya dalam "Seminar Riset Publik Menuju Televisi Ramah Keluarga" di kampus Stikom London School, Jakarta, kemarin. Seminar ini membahas hasil survei kualitatif program televisi yang dilakukan oleh Yayasan Science Etika Teknologi (SET), TIFA, IJTI, The Habibie Center, dan London School Public Relations.
Hasil riset menunjukkan, program yang berkualitas justru rating-nya jeblok. Penelitian ini melibatkan 191 responden di 11 kota di Indonesia. Hasilnya, acara talk show "Kick Andy" di stasiun Metro TV dan acara berita "Liputan 6" di SCTV paling berkualitas. "Program yang paling berkualitas didominasi program berita reguler dan talk show," ucap Koordinator Pelaksana Rating Publik Agus Sudibyo dalam seminar itu.
"Kick Andy" dinilai berkualitas oleh 90 responden (47,12 persen), "Liputan 6" menempati urutan kedua dengan 10,99 persen, "Si Bolang" 2,62 persen, dan "Metro Realitas" 2,09 persen. Empat program ini dalam rating AGB Nielsen menempati rating rendah. "Kick Andy" rating-nya 1,2, "Liputan 6" 4,7, "Si Bolang" 3, dan "Metro Realitas" 0,5.
Adapun dari hasil rating public, program yang punya rating dan share tertinggi masih didominasi program hiburan.
Pemimpin Redaksi Metro TV Andy F. Noya--juga host "Kick Andy"--bangga dengan hasil rating ini. Menurut dia, program yang berkualitas tak bergantung pada rating. "Rating tak mencerminkan kualitas acara," katanya. Maka, ia berkeras mengambil jalur program yang tak populer oleh rating. Andy pun mengaku yakin, meski rating tak tinggi, tetap ada pengiklan.
Adapun aktivis perempuan, Nurul Arifin, juga mengaku prihatin dengan tayangan televisi yang dikuasai oleh rating dan iklan sehingga industri televisi berlomba membuat acara yang seragam, seperti sinetron. "Padahal isinya tak mendidik dan menawarkan kekerasan," ujarnya dalam seminar itu.
Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Fetty Fajriati menilai rating masih diperlukan sebagai acuan industri untuk kelanjutan program dan iklan. Tapi ia mengingatkan dampak negatif jika televisi terlalu terpaku pada rating. "Akan membuat program jadi homogen karena berlomba-lomba membuat acara yang sama," katanya.
Fetty pun mendukung lembaga rating lainnya, termasuk hasil riset yang dilakukan Yayasan SET. Tujuannya bukan untuk menyaingi AGB Nielsen, melainkan untuk memperoleh hasil penelitian yang bisa meningkatkan kualitas acara. Dian Yuliastuti
The Jakarta Post
May 30, 2008
Best TV shows low rated: Survey
Television programs considered to be of good quality get poor ratings and a low share of viewers, according to a new survey released Thursday.
The survey, conducted from March to April, involved 191 educated television-lovers in major cities across the country.
The research was undertaken by the Science, Aesthetics and Technology (SET) Foundation in cooperation with the Tifa Foundation, the Habibie Center and the London School of Public Relations.
The respondents considered MetroTV's Kick Andy to be the highest-quality TV talk show (47.12 percent). SCTV's Liputan 6 Petang was considered the best daily news program (10.99 percent), TransTV's Si Bolang the best documentary (2.62 percent) and MetroTV's Metro Realitas the best weekly news program (2.9 percent).
The shows were judged according to criteria such as their informative content, social empathy, critical views, balance, factuality, objectivity and public interest.
But despite their quality, those four TV shows get low ratings and a low share of viewers, according to the latest survey by AGB-Nielsen Media Research.
Agus Sudibyo, public ratings chief researcher with the SET Foundation, said Kick Andy was only rated 1.2 and attracted 5.4 percent of viewers, while Liputan 6 Petang was rated 4.7 with a 17.3 percent share, Si Bolang was rated 1.3 with a 10 percent share and Metro Realitas was rated 0.5 with a 4.0 percent share of viewers.
"The survey shows quality has less influence on ratings and the share of viewers," he said.
Agus said that when the survey was conducted, AGB-Nielsen announced four TV shows with high ratings and a large share of viewers.
They were SCTV's soap operas Azizah and Cinta Bunga, Indosiar's variety show Super Mama and RCTI's soap opera Cahaya.
The survey also found most TV entertainment shows, including soap operas, variety shows and gossip shows, were of poor quality because they failed to increase social empathy, promote nonviolent and nonpornographic roles, explore relevant topics or provide suitable gender-oriented shows for children.
"Previously, we recognized AGB-Nielsen as the only company offering quantitative surveys. All television stations view its surveys as `godlike' because they can guide the way to profits," said Indonesian Broadcasting Commission (KPI) deputy chairperson Fetty Fajriati Miftach.
"As a result, we have a lot of poor quality TV shows, which tend to offer viewers sex, violence and mysticism."
She said the KPI had declared Cinta Bunga a "troubling" soap opera because it contained offensive language. (nkn)




41 Comments: